15 Agustus 2015

Sunyi di Kebon Jahe Kober

Perkara pergi ke kuburan tua saya memang termasuk doyan, untuk itulah niat nengok Kebon Jahe Kober dieksekusi di hari Jumat keramat ini.

Dengan ojek hanya butuh kurang lebih 15 menit dari kantor di kawasan Kuningan ke makam Kebon Jahe Kober yang letaknya di sebelah kantor Walikota Jakarta Pusat di jalan Tanah Abang 1.  Di jalan Abdul Muis kita melewati kali Krukut yang dulunya berfungsi sebagai jalur angkut jenazah

Hanya ada beberapa anak muda dengan tongsisnya sedang berfoto di teras depan makam yang sekarang bernama Museum Taman Prasasti itu.  Seorang laki-laki dengan safari warna gelap tampak duduk diam-diam nyaris tak terlihat di meja dekat pintu penghubung antara teras dengan makam.



Harga tiket masuk hanya Rp 5.000.  Suasana makam sepi, hanya ada saya.  Tentu saja siapa juga yang ingin main-main ke makam tua saat siang bolong dan juga di waktu-waktu lainnya.

Nisan-nisan besar yang tingginya sama bahkan melebih tubuh manusia segera menyambut dalam kebisuan.  Suara yang riuh terdengar dari atas pohon sana, burung-burung sedang hinggap di dahannya.

Tulisan berbahasa Belanda terkadang bahasa Inggris terukir di permukaan nissan.  Dari makam-makam itu tertera pekerjaan mereka yang terbaring di sana.  Yang bisa saya tangkap adalah arsitek, perwira militer, uskup, pendeta sampai pemilik perkebunan dan pemberontak.

Ada makam HF. Roll, direktur STOVIA, nisannya berbentuk buku terbuka, melambangkan kedudukannya sebagai akademisi.    Di seberangnya terdapat nisan Pieter Ebervelt, pemberontak di Batavia yang dihukum mati, berupa tembok kokoh dengan untaian kalimat-kalimat berbahasa Belanda.

Keturunan tuan tanah di Jawa Barat, Van Motman dan Boscha juga dapat ditemukan makamnya di sini.  Nampaknya memang Kerkhoflaan, nama aslinya di jaman Belanda adalah tempat pemakaman para tokoh terhormat, para kaum elit Batavia. Jangan lupa istri Thomas Stanford Raffles yang pertama, Olivia Marianne pun dimakamkan di sini.


Di sudut yang lain, di bagian belakang terdapat patung Pastur Belanda, lebih mirip patung penyambutan di pintu gerbang seminari dibanding sebagai batu nisan.

Tidak cuma orang Belanda yang dimakamkan di sini ada juga sekelompok tentara Jepang yang di nisannya terukir nama mereka yang gugur.

Tapi hampir semua jenazah sudah dipindah, jadi sebenarnya yang tersisa hanya penanda saja berupa nisan itulah.

Suasana antik dalam makam bagus untuk fotografi, tapi tidak untuk foto pre-wed yah, kecuali ingin sesuatu yang lain mungkin.

Ada dua orang pengurus makam yang sedang duduk-duduk di salah satu kuburan, di sisi nisan yang telah pecah diletakkan botol Aqua dan gelas.  Salah satu di antara mereka ternyata telah bekerja lebih dari 10 tahun di sini.


Dua anak perempuan berpakaian pramuka menyelinap masuk dari pagar di salah satu sisi makam.  Cukup lama saya di sana dan tidak ada lagi pengunjung yang datang.  Jadi cuma saya saja yang wira-wiri di sana.  Takut? tidak kok.  Biarpun tidak ada pengunjung tapi ada para pengurus makam di sana.  Dan pagarnya pun berjeruji terbuka dengan jalan yang ramai.

Saya sendiri pun sempat duduk-duduk di salah satu cungkup sekedar melepas lelah.   Sambil mengamati patung-patung malaikat yang sepertinya banyak dipakai sebagai penanda nisan di makam anak.



Catatan khusus, makam-makam ini agak kurang terurus sepertinya, terlihat dari rumput yang tumbuh tak rata, kadang ada kadang gundul.

Mau ngopi atau nge-teh cantik di sini?

Makam ini telah ditutup dalam arti tidak ada lagi aktivitas pemakaman sejak tahun 1975 dan dijadikan museum.  Namun pengelola tidak menyiapkan keterangan apapun berupa leaflet yang bisa dibagikan pada pengunjung.

Nisan yang pecah, kadang diinjak begitu saja
Museum Taman Prasasti sepertinya adalah satu dari sekian banyak museum di Indonesia yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah.

Ia berdiri kesepian dalam kemegahan luarnya.

Tidak ada komentar: