TWITTER

09 April 2017

Parigi Moutong: Mengintip Keindahan Bawah Lautnya

"Itu dia teluk Parigi"  Suwandi, supir yang menjemput kami dari Palu mengarahkan telunjuknya ke sebelah kiri sambil menghentikan mobilnya.  Saya dan satu orang teman yang sedari tadi menahan mual gara-gara rute jalan Palu-Parigi yang naik turun penuh kelokan tajam sontak memandang ke arah yang ditunjukkan.

Teluk dari kejauhan
Dari ketinggian terlihat teluk Parigi yang biru permai.  Kami memang sedang dalam perjalanan ke Parigi Moutong untuk diving.  Rekan-rekan yang lain sudah lebih dahulu berangkat sehari sebelumnya.

Parigi Moutong merupakan suatu kabupaten di Sulawesi Tengah.  Tempat ini sudah mulai dikenal oleh para penyelam walau belum sepopuler Wakatobi atau Bunaken.   Hanya ada satu dive center merangkap resort yang terletak di desa Tandaigi, sekitar satu jam dari kota Parigi, yaitu Equator Dive Resort yang dimiliki oleh orang luar Sulawesi.  Dibutuhkan waktu sekitar 2 jam berkendara dari bandara Sis Al Jufri di Palu menuju desa Tandaigi.

Dalam acara Sail Tomini yang diadakan tahun 2015 lalu Parigi Moutong yang terletak di salah satu sisi Teluk Tomini  dan merupakan lintas segitiga yang menghubungkan Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah digadangkan menjadi tujuan pariwisata baru terutama dalam bidang bahari.

Instruktur selam kami yang sudah beberapa kali menyelam di Parigi sempat memperlihatkan foto-foto bawah air.  Video dari beberapa titik penyelaman pun sudah tersedia di youtube, dan memang cukup memukau.

Tidak ada papan petunjuk apapun ketika mobil berbelok masuk ke jalan kecil dan berhenti di depan komplek yang terdapat rumah-rumah panggung terbuat dari kayu persis di tepi pantai.  Pantai yang akhirnya saya tahu bernama Pantai Kucing.

Kamar kami

Air laut di depan mata tampak sangat tenang, tidak ada debur ombak yang menggelegar menghantam pasir.  Ya, arus di Parigi Moutong ini memang nyaris tak bergejolak karena berada di dalam teluk yang besar.  Satu keuntungan untuk para penyelam yang ingin menikmati keindahan bawah laut tanpa diganggu arus yang kuat.

Karena baru tiba jam 12 siang, kami sudah melewatkan satu sesi penyelaman.  Jadi hari ini kami akan ikut satu sesi yang tersisa setelah makan siang.  Dari kejauhan tampak titik perahu bergerak mendekat, ternyata itu rekan-rekan yang baru selesai menyelam.

Pukul 14.30 penyelaman sesi terakhir hari pertama pun dimulai.  Karena tambah dua personil lagi, maka digunakan dua perahu.  Yang disebut perahu di sini berbeda dengan perahu yang biasa digunakan di laut lepas.  Perahu di sini mempunyai permukaan datar tanpa lunas. Mungkin karena laut yang tenang nyaris tanpa ombak jadi memang lebih nyaman dengan bentuk seperti ini.  Para penyelam pun bisa turun dengan gaya back roll atau side roll, tidak perlu melompat seperti dari perahu umumnya.

Foto dari rekan divers

Ke 14 penyelam pun turun bersama di satu titik yang dinamakan Rose Coral Uevolo, kenapa namanya berbau latin seperti itu? saya juga lupa tanya. Tapi memang airnya jernih sekali dan sedikit hangat.  Kami turun sekitar 20 meter lebih, visibility sangat jelas.  Hampir tidak ada arus.  Saya masih berusaha menyesuaikan diri, karena paling junior di antara semua penyelam.  Sesuai namanya, koral-koralnya berbentuk bunga mawar raksasa.

Foto dari rekan sesama divers

Sekitar 40-50 menit kami berkeliaran di bawah air sebelum akhirnya satu-persatu naik ke permukaan.   Kapal pun segera diarahkan menuju penginapan.  Awan mendung mulai mendatangi tempat kami.  Dan memang hujan rintik menemani kami saat makan malam.

Ternyata mendung itu berlangsung sampai pagi.  Semburat merah hanya muncul malu-malu di horizon lalu menghilang diganti warna kelabu.  

Pagi hari



Hari kedua ada tiga titik penyelaman yaitu Pasi Tandaigi, Rose Tandaigi dan Pasi Ujuna.  Semuanya memukau.  Namun yang paling diunggulkan ada di hari ketiga yaitu Ampibabo Coral Garden, Point 38 dan Canyon.  Di Ampibabo dengan kedalaman sekitar 30 meter terdapat kelompok koral-koral berbentuk mawar di bidang seluas lapangan bola. Kelompok fire coral yang berbahaya juga melambai-lambai minta disentuh.

Foto dari Ob3lifix

Di point 38 terdapat perairan dangkal jernih sehingga perahu biasa berhenti untuk beristirahat selama jeda penyelaman, dari situ para penyelam bisa berenang perlahan menuju semacam cekungan dalam laut.

Sementara Canyon, sesuai dengan namanya, mungkin lebih sesuai disebut sebagai palung. Para penyelam bergerak melayang melewati tebing-tebing, menyelinap dalam gua dan merayapi dinding karang dengan mahluk laut berwarna-warni.  Seekor Napoleon berukuran besar melesat di depan mata.

Masih ada Anto Point dan R Point, dua titik lain yang masuk dalam daftar tapi memang masih di bawah Ampibabo dan Canyon.

Selain tempat menyelam, air terjun Likunggavali yang terletak tak jauh dari Pantai Kucing juga layak dikunjungi.  kita dapat menyusuri sungai yang berair jernih untuk sampai pada air terjun yang tidak terlalu besar.

Likunggavali


Pulau Kelelawar yang berjarak sekitar 13 km dari Pantai Kucing tepatnya di desa Tomoli juga layak dikunjungi bagi pecinta alam.  Banyak orang Bajau yang menghuni desa ini. Mereka bersedia mengantar ke pulau Kelelawar yang berjarak sekitar 15 menit menyeberang dengan perahu menuju hutan bakau di mana ratusan bahkan ribuan kelelawar bertengger di atas pohon.

Nelayan desa Tomoli

Kelelawar

Menembus hutan mangrove

Suwandi, supir yang mengantar saya berputar-putar keliling Parigi berasal dari suku Kaili, suku asli di Sulawesi Tengah yang merupakan kelompok terbesar.  Sementara para pendatang banyak berasal dari Bugis dan Bali.  Dalam perjalanan ke desa Tomoli kami melewati desa Buranga yang dikenal sebagai kampung Bali.

Jemuran coklat


ATM satu-satunya yang ada di desa Tandaigi adalah  ATM BRI yang berjarak kurang lebih 10 km dari penginapan, dan sedang rusak saat saya mampir untuk mengambil uang tunai. 

Rully Nasution, pemilik Equator Dive Resort yang kami inapi sempat bercerita tentang orang Bali yang cukup kuat dalam segi ekonomi.  Mereka rajin sekali ke kebun demikian Suwandi menambahkan.  Sementara orang Jawa banyak yang berdagang makanan seperti bakso dan sate sedangkan orang Bugis banyak berdagang bumbu dan sembako di pasar tradisional.  Saya sempat mengobrol dengan ibu pedagang yang berasal dari Bugis.  Beberapa orang yang tampaknya seperti anggota keamanan pasar tampak curiga melihat saya membawa kamera.  Ternyata saya disangka wartawan.  Baru setelah saya bilang saya tamu yang menginap di Tandaigi untuk menyelam dan sedang iseng jalan-jalan keliling Parigi barulah kecurigaan itu surut.


Pasar Parigi

Seperti biasa pertentangan antara pendatang dan masyarakat penduduk setempat selalu terjadi walaupun tidak berujung pada keributan.  Pendatang memandang penduduk lokal dengan pandangan sedikit negatif yaitu kemalasan sementara penduduk lokal memandang para pendatang dengan kecurigaan. 

Kembali pada acara Sail Tomini dua tahun yang lalu.  Apakah memberikan pengaruh terhadap sektor pariwisata?  Sepertinya belum.  Tidak semua "happy" dengan gelaran acara itu dengan bermacam-macam sebab.  Tidak semua setuju dengan adanya "mass tourism" terutama yang berhubungan dengan kelestarian dunia bawah laut.

Kebiasaan mengebom bawah laut untuk mencari ikan masih menjadi ancaman.  Parigi Moutong terkenal dengan Whale Shark-nya namun seperti yang dikeluhkan oleh Rully, kehadirannya semakin jarang karena ulah manusia yang merusak alam.  Begitu juga dengan kumpulan lumba-lumba yang sering terlihat melompat-lompat pun semakin langka. Ada kesan ketidakpedulian pemerintah daerah dengan aset wilayahnya.

Suwandi dengan bergurau mengatakan bahwa cara masyarakat Parigi memilih pemimpin daerah adalah berdasarkan siapa yang paling royal memberikan uang selama kampanye. 
"Kita tahulah bahwa setelah beliau jadi kepala daerah tidak akan ada perubahan, jadi kita ambil uangnya saja" demikian kata Suwandi.

Beberapa kali saya melihat gelaran biji coklat sedang dijemur.  Coklat memang merupakan andalan Parigi selain bawang goreng tentunya.  Namun menurut Suwandi masyarakat sekarang sedang senang menanam cengkeh, karena lebih mudah diurus katanya.  Saat menuju air terjun Likunggavali memang melewati kebun coklat yang tampak terbengkalai, padahal tengah berbuah lumayan banyak. Buah coklat yang matang terasa asam manis saat dikulum.  Asam manis seperti kehidupan..:)

Coklat

Saat menyusuri jalur utama Parigi-Ampibabo ternyata beberapa titik sudah dimiliki oleh investor, hanya memang belum tahu kapan akan dibangun.  Lucu juga cara menghitung harga tanah bukan per meter persegi namun seperti sistem borongan.  Saya menggeleng-geleng saat ditunjukkan sebidang tanah yang cukup luas di pinggir pantai dihargai hanya Rp 30 juta. Entah benar atau tidak.

Problem di Parigi tampaknya memang sama seperti di tempat lain yang baru diangkat menjadi tujuan pariwisata.  Sampai di mana kesiapan masyarakatnya menerima orang luar pertama sebagai wisatawan yang akan memenuhi jalan-jalan sekitar Parigi dengan membawa kebiasaan masing-masing, kedua sebagai investor yang akan segera mencaplok tanah-tanah masyarakat.  Belum lagi akan banyak orang luar yang akan datang untuk ikut menikmati kue pariwisata dengan membuka rumah makan, menjadi pegawai resort bahkan instruktur selam di dive center.

Semoga Parigi tidak menjadi Gili Terawangan berikutnya.

1 komentar:

Baktiar Sontani mengatakan...

Ah dari kapan mau belajar menyelam sampai hari ini tidak kesampaian juga.. liat foto-foto bawah laut bikin ngiri pol pengen ngerasain menyelam