TWITTER

20 Agustus 2017

Caringin - Labuan

Sarmunah, perempuan tua yang menjadi pemijat keliling di kawasan Caringin, Carita - Labuan dengan mantap mengurut betis dengan minyak urut. Jemarinya cekatan memilah urat yang tegang, membuat kening saya berkerut-merut.

Semula saya tidak ingin dipijat.  Sudah beberapa orang ibu menawarkan jasa dan saya hanya menggelengkan kepala.  Entah kenapa saat Sarmunah datang dan menawarkan pijatan, kepala saya mengangguk mengiyakan.  Tanpa membuang waktu ia segera membentangkan kain lusuh untuk saya duduki selama ia mengerjai kaki dan tangan.


27 Juli 2017

SATU PELURU SATU MUSUH

Pembebasan atlet Israel yang disandera oleh kelompok Black September pada saat berlangsungnya Olimpiade Munich tahun 1972 berakhir pahit.   Sniper atau penembak runduk yang berasal dari dinas kepolisian Jerman Barat gagal melaksanakan tugas, tembakannya meleset.

Tembakan yang meleset, koordinasi antar tim pembebasan sandera yang buruk membuat para penyandera sempat mengambil tindakan fatal sehingga 11 sandera seluruhnya tewas akibat granat yang dilemparkan.

Hendro Subroto, wartawan perang yang ditugaskan meliput situasi Timor Timur pasca integrasi dengan Indonesia tahun 1975 mengisahkan teror sniper dari pasukan Fretilin saat konvoi kecil panser amfibi pasukan tentara Indonesia melintasi Fatularan.  Ia menyaksikan kopral Rasimin yang jadi pengemudi panser roboh saat satu peluru dari tembakan terbidik menembus topi bajanya.

Banyaknya prajurit dan perwira RI yang menjadi korban penembak jitu Fretilin yang merupakan bekas tentara didikan Portugis dengan pengalaman tempur di sejumlah koloni Portugis membuat Kolonel Edi Sudrajat yang membentuk satuan tugas Pamungkas menarik Tatang Koswara yang baru lulus dari pelatihan The Green Berets, pasukan elite baret hijau milik Amerika Serikat.


16 Juni 2017

Saya dan Pancasila di Museum Nasional

“Apa pendapat mbak tentang tata letak di Museum Nasional? Bagaimana informasi yang disajikan?”

Demikian seorang gadis menyapa sambil membagikan pertanyaan kuesioner. Bukan baru kali ini saja kuesioner diadakan di museum, sudah berkali-kali; namun sepengetahuan saya belum ada perubahan yang berarti di museum.  Saya memberikan jawaban standar, berharap ada pertanyaan yang lebih spesifik namun sia-sia saja.  Pertanyaan hanya menyentuh hal-hal umum.

31 Mei 2017

Bertemu Warto


Dekat jalan Bank, Pinangsia Jakarta Kota  hanya beberapa puluh langkah dari Wonderloft Hostel, tak sengaja  mata saya menangkap pria lansia sedang duduk bersandar pada dinding gedung yang jauh lebih tua dari usianya.  Matanya menerawang mengawasi orang yang berlalu lalang.

Iseng, saya dekati.  Ia mengeluh belum makan, saya menawari biskuit dan air minum yang akan saya beli di Indomaret dekat situ.  Ia mengangguk, saya pun bergegas membeli makanan.  Ia menyambut kantong kresek yang saya ulurkan tak lupa sejumput doa diucapkan, saya aminkan doanya.


Warto namanya, lahir tahun 1942 di Cilacap.  Pindah ke Jakarta sekitar tahun 1954.  Tentulah ia salah satu saksi dari perubahan kota.  Ia mengingat-ingat saat rokok amatlah murah "harganya selawe" katanya.  Tentu saja fisiknya masih bugar kala itu sebagai kuli bangunan.


Di usianya yang lebih dari 70 tahun ini, Warto menjadi pemulung botol plastik.  Karung berisi hasil kerjanya tergeletak di samping.  Ia menaksir beratnya hanya 2 kg.  1 kg dihargai sekitar Rp 13 ribu.  Warto tinggal di bawah jembatan Pasar Pagi,  Ia tidak punya anak.  Gigi depannya yang tanggal terlihat jelas kala ia tertawa menceritakan secuil kisah hidupnya.


Saya pun pamitan, kami saling bertukar doa setelah itu saya melangkah pergi meninggalkan Warto dan karungnya.