TWITTER

26 April 2017

MELACAK JEJAK INDONESIA LEWAT

“Hati-hati dengan turis asing yang sekarang naik gunung dan memetiki daun karena dengan teknologi tissue culture 1 helai daun bisa perkebunan.  Di Jepang telah tersimpan ribuan daun dari Indonesia, mereka siap membuat perkebunan jika kita tidak bisa menjaga alam”. 

Demikian salah satu peneliti dari IPB memperingatkan saat diskusi di acara Jalur Rempah

Di dalam kitab Taurat dikatakan bahwa Ratu Syeba selain memberikan ribuan kilogram emas kepada Raja Sulaiman, ia juga menyertakan sejumlah besar rempah-rempah.  Dalam jenis yang lebih spesifik Surat Al-Insan ayat 6 memuat kata kapur barus sebagai campuran mata air dalam Surga. 
Kapur barus dihasilkan oleh suatu tempat bernama Barus yang terletak di pesisir Sumatera Utara. 

Kisah perjalanan rempah terus berlanjut.  Segenggam cengkeh ditemukan dalam wadah keramik yang terbakar di gurun pasir Suriah yang kemudian dinamakan situs Terqa.  Para ahli mengidentifikasikan usia cengkeh berdasarkan usia tanah liat yang mengubur stus tersebut yaitu 1720 SM.
Pada era dinasti Han (206 SM-220 SM) cengkeh menjadi sesuatu yang wajib untuk dikunyah para tamu sebelum menghadap kaisar.

Cerita-cerita ajaib tentang rempah dan negeri penghasilnya terus berlanjut.  Di Eropa rempah menjadi simbol status. Toko yang menjual rempah terletak di daerah elit. Orang miskin di Eropa tidak akan sanggup membeli sejumput rempah-rempah untuk menyedapkan makanan mereka.

09 April 2017

Parigi Moutong: Mengintip Keindahan Bawah Lautnya

"Itu dia teluk Parigi"  Suwandi, supir yang menjemput kami dari Palu mengarahkan telunjuknya ke sebelah kiri sambil menghentikan mobilnya.  Saya dan satu orang teman yang sedari tadi menahan mual gara-gara rute jalan Palu-Parigi yang naik turun penuh kelokan tajam sontak memandang ke arah yang ditunjukkan.

Teluk dari kejauhan

30 Maret 2017

Yang Muda Yang Menggali Sejarah


Sabtu Sore, halaman depan kantor penerbit Komunitas Bambu di Beji-Depok yang tidak seberapa luas itu penuh sesak dengan kehadiran anak-anak muda.

Di depan terdapat satu meja penuh buku-buku yang akan dijual.  Salah satunya adalah tentang Njoto, salah satu tokoh  penting PKI di samping DN Aidit yang ditulis oleh Fadrik Aziz Firdausi.  Di sisi kanan terdapat meja dengan minuman teh, kopi dan pisang goreng untuk yang hadir.

Ada beberapa orang pria dengan usia tergolong senior sedang berbincang-bincang, salah satunya adalah sejarawan senior Peter Kasenda.  Yang namanya Fadrik pastilah salah satu teman berbincang beliau.

Yang hadir segera mengambil tempat duduk saat moderator sekaligus MC mengumumkan acara bedah buku akan dimulai. 

Seorang anak muda bertubuh kurus dan berkacamata ikut duduk di samping moderator, ternyata itulah Fadrik Aziz Firdausi, sang penulis. Pemuda kelahiran 1991 itu duduk di sebelah sejarawan senior mengesankan kelahiran generasi sejarawan muda yang turut memberi warna terhadap tafsir sejarah.


Menjadi semakin menarik karena penulis ini berlatar belakang Nahdlatul Ulama yang sebelum peristiwa 1965 banyak terlibat konflik dengan PKI.
Cerita-cerita tentang konflik itulah yang membuatnya tertarik untuk menggali lebih dalam tokoh-tokohnya.  Dan, Njoto yang menjadi pilihannya.  Judul yang dipilih adalah Njoto: Biografi Pemikiran 1951-1965

16 Maret 2017

Saat Dokter Tentara Menjadi Gubernur


"Biar berapa miliar pun mereka  bayar saya, saya tidak mau jadi gubernur di sini" demikian Azwar Anas yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat berkomentar tanpa basa basi saat diajak meninjau Nusa Tenggara Timur.
Nusa Tenggara Timur (NTT), dulunya merupakan bagian dari Sunda Kecil yang baru diberi mandat untuk menjadi provinsi sendiri pada tahun 1958 merupakan daerah yang amat miskin.  NTT mepunyai puluhan suku dan bahasa yang kadang begitu berbeda sehingga komunikasi antar suku menjadi terkendala.
Ada anekdot getir yang memplesetkan NTT menjadi Nusa (S)engsara Timur, Nanti Tuhan Tolong, Nasib Tak Tentu, menggambarkan betapa provinsi ini seakan ditakdirkan menjadi tanah penderitaan bagi warganya karena topografi yang ekstrim, terbatasnya akses ekonomi dan pendidikan, musim kering yang panjang dan kendala kultural

13 Februari 2017

Memandang Pelabuhan Makassar di Masa Lalu

Bagaimanakah situasi Makassar pada masa lalu? Bagaimana posisi Makassar saat para penguasa menerapkan beragam kebijakan untuk mempertahankan kepentingan mereka.
Edward L. Poelinggomang, sejarawan dari Universitas Hasanudin mengumpulkan kepingan demi kepingan dari beragam arsip untuk menyampaikan kabar mengenai pelabuhan penting ini di masa lalu.  Dikatakan penting karena melalui Makassar baik VOC maupun pemerintah Hindia Belanda mengontrol perdagangan rempah di Indonesia timur, terutama Maluku.
Makassar di pulau Sulawesi sudah dikenal lama sebagai pelabuhan ramai dan pusat perdagangan.  Letak geografis Sulawesi yang dikelilingi laut Maluku, laut Banda, laut Flores dan selat Makassar.


Beberapa peneliti mengidentifikasi kerajaan Makassar sebagai kerajaan Gowa.  Pelabuhan Makassar dianggap sebagai bandar perdagangan Gowa yang merupakan gabungan dari dua pelabuhan dari dua kerajaan yaitu Pelabuhan Tallo dari kerajaan Tallo dan pelabuhan Sombaopu dari kerajaan Gowa.
Dua kerajaan ini pada tahun 1528 bergabung menjadi satu pemerintahan dimana Raja Gowa memegang tahta kerajaan sedangkan raja Tallo menjadi mangkubumi.
Penjelajah Tome Pires pada paruh awal abad 16 melukiskan sebagai kepulauan Makassar yang penduduknya beragama pagan dan juga prajurit hebat.  Negeri Makassar digambarkan sebagai negeri kaya dan merupakan pasar yang menjual budak hasil tangkapan.
Dataran di Makassar sangat subur, banyak persawahan dengan pohon kelapa berderet rapi.  Demikian kesan seorang Belanda yang mengunjungi Makassar pada permulaan abad 17.
Pelabuhan Makassar terlindung dari gelombang laut dan badai muson barat karena dihalangi oleh sejumlah pulau kecil yang dikenal sebagai  gugusan kepulauan Spermonde.