09 Mei 2015

Piknik Pemalas: Belitung

Bang Memed, supir travel yang mengantarkan kami hanya tertawa kecil saat saya mulai kepo membanding-bandingkan harga BBM di sini dan di Jawa.  Kami sedang berada di depan warung Hoklopan alias martabak manis, menunggu pesanan.

"Mbak, di musim angin barat harga BBM bisa melonjak jadi Rp 25.000-30.000/liter, bukan cuma seribu, dua ribu dan itu tidak hanya sekali tapi tiap tahun sudah kami akrabi.  Coba kalian di Jakarta sana, naik sedikit sudah teriak".  Ada sindiran tajam dalam gurauan bang Memed.

Ya, saya memang berada di Belitung.  Tidak ada hubungannya dengan misi-misi budaya dan kultural bersama Gelar tapi murni liburan santai.  Biarpun santai tapi saya berusaha mencatat apapun yang saya temui di pulau ini

Belitung bukan sekedar negeri Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata yang mendadak jadi terkenal di tahun 2008.  Ada sejarah panjang yang menyertai tanah yang dulunya bernama Kau Lan.  Beberapa sumber menyebutkan catatan perjalanan para tentara Mongol di jaman Khubilai Khan untuk menaklukkan Singasari.  Pulau asing yang menjadi tempat persinggahan para prajurit itu akhirnya dinamakan Kau Lan.  Mereka meninggalkan anggotanya yang sakit untuk kemudian beranak pinak.

Dalam perjalanan waktu Belitung bersama saudaranya Bangka lebih dikenal dengan hasil timahnya. Tercatat John Francois Loudon, orang Belanda yang merintis pertambangan timah di Belitung tahun 1851.  Timah pertama ditambang di daerah sungai Siburik dan Air Lesung Batang.

Adalah PT Timah yang pada masa kolonial bernama Gemeenschaappelijke Mijnbouw Maatschaappij Billiton (GMB) lalu di tahun 1950 an menjadi PN Tambang Timah Belitung sebelum akhirnya dilebur dengan perusahaan timah di daerah Bangka dan Singkep.  PT Timah inilah sepertinya perusahaan satu-satunya yang mempunyai konsesi penambangan timah di Belitung.


Bagian belakang resto yang dulunya lubang tambang

Menurut bang Memed saat ini pertambangan timah diserahkan pada masyarakat namun hasil yang didapat haruslah dijual pada PT Timah.  Harga timah sekarang ini sekitar Rp 75.000/kg, jauh menurun setelah tsunami melanda Jepang karena Jepang merupakan pengimpor timah terbesar.  Sebelumnya harga timah bisa mencapai Rp 180.000/kg.


Bekas lubang-lubang tambang yang tidak terpakai berubah menjadi danau di musim hujan. Salah satu pengusaha ada yang jeli melihat kesempatan.  Di tepian bekas lubang tambang itulah ia mendirikan rumah makan yang kini berkembang menjadi restoran Fega yang cukup luas di daerah Manggar, Belitung Timur.  Danau bekas tambang itu beralih menjadi tempat bersantai para pengunjung restoran sekaligus warga sekitar untuk menangkap ikan.

Pantai di belakang hotel

Restoran ini telah masuk list wajib kunjung para wisatawan di Belitung. Saya sendiri tidak sempat mencicipi makanan khas Belitung, gangan kepala ikan ketarap di resto tersebut. Bang Memed sempat menunjuk seorang pria yang ternyata adalah pemilik resto tersebut, pak Kondrat namanya.



Siapa putra Belitung yang terkenal? saya tidak akan menyebut Andrea Hirata, standar banget.  Orang itu adalah DN Aidit! Ya Aidit yang ketua CC PKI itu adalah putra Belitung.  Sempat saya tanya apa suasana di Belitung saat ontran-ontran pembasmian anggota PKI tahun 1966, ternyata menurut bang Memed daerah ini tidak terlalu terimbas peristiwa tersebut.  Relatif lebih tenang sepertinya.

Vihara Kwan Im

Jarak bandara Hananjoedin dengan Belitung Timur cukup jauh, tak heran jika kami yang datang dengan pesawat siang harus tergopoh-gopoh dari bandara menuju Belitung Timur untuk sekedar melihat vihara Kwan Im, vihara tertua di Belitung yang kabarnya dibangun tahun 1747 dan terletak di bukit kecil, kampung Burung Mandi.  Pengunjung harus melalui tangga-tangga untuk sampai ke bangunan utama.  Tidak terlalu banyak pengunjung saat kami datang waktu itu karena hari telah beranjak sore.  Tidak sempat kemana-mana lagi dari sini selain balik hotel

Hotel kami, Grand Pelangi berada di daerah Tanjung Pendam di Belitung Induk tak jauh dari Tanjung Pandan yang merupakan pusat kota, jadi dari Belitung Timur kami balik lagi menuju Belitung Induk, yang memakan waktu 1.5 jam.  Nampaknya Tanjung Pendam memang dijadikan wilayah perhotelan.
Kepiting kecil di pagi hari,  ribuan jumlahnya berlarian di pasir
Grand Pelangi sendiri membelakangi sisi pantai Tanjung Pendam yang berpasir sehingga batas air laut cukup jauh dari pinggir pantai dengan vegetasi mangrove yang tidak banyak.

Saat tiba di kamar yang sebenarnya cukup nyaman itu ternyata lantainya digenangi air, apa boleh buat terpaksa malam-malam minta petugas hotel menghalau air yang entah dari mana munculnya. Kemungkinan imbas dari hujan angin mengingat kamar ini punya pintu serambi belakang yang menghadap pantai.

Bangun pagi dimanfaatkan dengan jalan menyusuri pantai yang berlumpur di belakang hotel, menyaksikan gerombolan hewan-hewan pasir yang jumlahnya ratusan berlarian menuju pantai. Sayang letak pantai ini tidak dijamah sunset maupun sunrise.

kuburan melayu
Sambil menunggu yang lain siap, saya iseng jalan-jalan di depan hotel.  Ternyata di sampingnya ada kuburan kecil seperti kuburan keluarga.  Saya tertarik dengan dua patok di depan nisan, sepertinya ini adalah ciri khas kuburan melayu di sini.


 Kali ini saya memang mengikuti rombongan santai.  Saya tidak lagi bangun pagi-pagi buta dan bergegas bersiap seperti pada trip sebelumnya, anggota rombongan lainnya malah baru bangun pada pukul 8 pagi sehingga baru jam 9 lewat kami berangkat meninggalkan hotel menuju pantai Tanjung Kelayang.  Walaupun ini weekend panjang bukan berarti Belitung menjadi padat, jalan-jalannya tetap lengang, walaupun memang banyak wisatawan datang.



Tanjung Kelayang
Pantai-pantai di Belitung memang khas dengan batu-batu granit raksasa berserakan seakan dijatuhkan dari langit.  Tak jauh dari tepian pantai telah tegak batu granit dan makin berlayar ke tengah akan terlihat kumpulan batu-batu yang di sebut Batu Berlayar. Ke situlah perahu kami menuju, sampai di sana sudah ada beberapa kapal sedang menunggu penumpangnya yang sibuk berfoto-foto di sekitar batu tersebut.


Batu Berlayar

Batu-batu purba itu menjadi landscape yang cantik, berdiri tegak di tengah-tengah laut dan bukan cuma Batu Berlayar yang menjadi daya tarik, perjalanan di teruskan menuju seberang, yaitu pulau Burung.  Pulau ini dapat dikenali dengan batu raksasa berbentuk burung di depannya.  Di belakang batu berbentuk burung itu terdapat ceruk-ceruk berair jernih dan teduh terhalang oleh bayangan batu.


Ceruk-ceruk batu di Pulau Burung

Antara pantai pulau Burung ke batu berbentuk burung itu memang terpisah jaraknya tapi dekat saja dan kita bisa menyeberangi pantainya yang dangkal dan berair bening.

Masih ada satu pulau lagi yang juga populer sebagai destinasi wisata, Pulau Langkuas.  Dengan mercu suar setinggi 65 meter menjulang di tengahnya, pulau itu ramai sekali pengunjungnya. Sejenak terasa seolah-olah berada di Ancol tapi tanpa bau busuk.

Mercusuar pulau Langkuas
Mercu suar itu hanya satu dari 9 mercu suar yang berada di kepulauan Bangka Belitung. Dengan tinggi 18 lantai, 313 tangga dijamin sendi lutut bakalan goyang jika menyusuri tangga sampai puncak. Sebelum memasuki ruang dalam mercu suar, kit harus lepas alas kaki dan cuci kaki..lalu tidur..:), bukan sih, itu supaya menjaga kondisi lantai mercu suar tetap bersih, tidak dikotori pasir pantai.


Saya sendiri terengah-engah nyaris putus napas kala sampai di puncak menara, sementara Asyar anak saya justru terlihat tidak kenal lelah.

Tapi rasa lelah itu terbayar lunas begitu menyaksikan pemandangan dari puncak menara. Terlihat perairan Belitung yang jernih dengan perahu-perahu di pinggir pantai dan serakan batu-batu granit yang terlihat kecil.

Seorang pengunjung laki-laki nampak gemetar saat harus berpose di pinggiran puncak mercu suar, tampaknya penderita phobia ketinggian, pikir saya.  Puncak mercu suar yang merupakan tempat lampu sorot memang mengerucut lebih sempit dari bagian bawah sedikit disesaki orang-orang yang ingin berfoto ria.
Tangga dalam mercu suar

Di seberang mercu suar, terdapat museum kecil.  Tak banyak isinya, hanya uang-uang kuno di Belitung dan foto-foto kuno.  Salah satunya sejarah pulau Langkuas, ternyata gara-gara orang Belitung tidak dapat menyebut light house, berubahlah jadi Langkuas :).
Kamar Lampu

Kelar makan siang di pulau Lengkuas, gak afdol kalo gak snorkeling, jadilah perahu diarahkan ke tengah-tengah laut tak jauh dari pulau.  Di satu titik perahu pun berhenti, tak jauh dari perahu kami juga ada beberapa perahu membawa penumpang dengan tujuan sama.

Tanpa membuang waktu lagi kami pun berceburan ke air, Kondisi bawah airnya masih cukup baik, ikan-ikannya banyak, terumbu karang juga masih lumayan terjaga.

Dari atas menara
Ikan-ikan kecil tersebut merubungi remah-remah roti yang sengaja dibawa.  Yang membuat saya kaget saat awak kapal kami melemparkan beberapa roti yang masih terbungkus, maksudnya tentu baik, agar kami yang sedang snorkeling bisa mengambil dan memberikannya pada ikan-ikan, tapi plastik pembungkusnya dibuang begitu saja oleh beberapa orang dalam rombongan kami.  Beberapa diantaranya mengambang di dekat saya, buru-buru saya ambil dan segera berenang ke arah perahu untuk menaruh plastik pembungkus tersebut sekaligus memperingatkan agar jangan membuang barang apapun ke laut.

Puas snorkeling masih ada satu pantai lagi yang akan dikunjungi, pantai Tanjung Layar yang menjadi lokasi shooting Laskar Pelangi.  Sebenarnya saya agak kurang berminat mengunjungi tempat-tempat yang pernah menjadi lokasi shooting karena biasanya pasti penuh orang.

Benar saja, bukan saja lokasi yang sebenarnya tak terlalu besar itu penuh orang tapi juga sudut-sudutnya mulai dipenuhi warung, mimpi buruk ini,,,hik..hik.

Banyak orang, banyak warung biasanya berpotensi juga menghasilkan sampah, dan memang itu yang terlihat.  Botol-botol air mineral terselip di sela-sela batuan.  Bahkan di antara batu-batu purba itu dijembreng gulungan kopi sachet, mirip jemuran.  Tidak nyaman memang, untuk para pencinta kesunyian saya sih tidak merekomen tempat ini ya....tapi terserah untuk yang doyan foto-foto narsis di depan tugu penanda kalo ini bekas tempat shooting, kalo saya mah...haram hukumya menampilkan foto diri..hahaha...takut pada pingsan yang liat..:)

Dagangan digantung seenaknya di pantai Tanjung Layar
Balik lagi nih ke sumber daya alamnya, sebenarnya apa saja sih yang diekspor oleh Belitung selain wisata dan timah?  Timah memang tersebar di tiap jengkal tanah dan laut
Belitung, ibarat kata meniru kalimat bang Memed kalau tidak punya uang, tinggal masuk hutan dan nambang di lubang yang telah tersedia, tapi memang di musim hujan ini aktivitas pertambangan nyaris terhenti.

Tidak banyak yang tahu pulau ini adalah pengekspor lada putih terbesar di Indonesia.  Ribuan ton lada putih didistribusikan dari daerah-daerah produsen seperti Badau.  Jika lapisan timah semakin menipis dari bumi Belitung maka memang hasil perkebunan dan pariwisata akan menjadi andalan utama pendapatan daerah.

Yang membuat saya salut adalah ketegasan Pemda dan masyarakatnya untuk tidak mengijinkan kapal pengeruk timah beroperasi di wilayah perairan Belitung.  Mungkin mereka belajar dari saudaranya, pulau Bangka yang kini kondisi ekologi perairannya rusak gara-gara pengerukan timah di laut. Aktivitas pengerukan timah di laut memang menyebabkan musnahnya ikan serta terumbu karang, pada akhirnya nelayan juga yang dirugikan karena laut mereka tidak lagi menghasilkan.

Ada lagi yang menarik dari Belitung yaitu kerjasama antara etnis Melayu dan Tionghoa. Ada 2 etnis Tionghoa yang ada di Belitung yaitu Cina Kek yang banyak menghuni daerah perkotaan dan Hokian yang lebih banyak di perkebunan.  Itu kata bang Memed loh...:). Adapula kaum Tionghoa yang didatangkan oleh Belanda khusus untuk menjadi buruh timah, karena penduduk Belitung yang masih sangat sedikit waktu itu.


Mari ngopi

Kelar dari Tanjung Layar, langsung persiapan makan malam di restoran terletak di bukit Berahu. Dari atas bukit kita bisa memandang ke arah laut, sayang pemandangannya terganggu kabel listrik..hahaha.  Di bawahnya ada pantai yang bisa dihampiri dengan menuruni 97 anak tangga.  Turun gampang, naiknya males :)  tapi masih mending dari pada harus naik lagi 313 anak tangga kayak di mercu suar.

Dan, terakhir nih tapi penting, gak sah ke Belitung tapi gak nongkrong di warung kopinya. Maka berbondong-bondonglah kami ke warung kopi Ake yang ada di ruko tengah kota di Tanjung Pandan.
Seperti biasa dong, saya bisik-bisik kepo..
Ïni warung kopi baru ya?..."Bukan, mbak, warung Ake ini udah 4 generasi"...balas bang Memed.
Saya mengangguk puas :).  Go to hell lah with Starbuck dan sebangsanya.  Eh, kalo lihat saya lagi di Starbuck pasti itu bukan saya yang pilih tapi lagi diajak bos loh..catet yaahh..#Prinsip...halah! :)

Belitung memang bukan daerah penghasil kopi layaknya Aceh, tapi uniknya budaya minum kopi masyarakatnya cukup berurat akar, terlihat dari kedai-kedai kopi yang dipenuhi pengunjung.  Denger-denger ada 2 jenis kopi racikan asli daerah ini yaitu Manggar dan Badau.  Kopi didatangkan dari daerah-daerah lain seperti Lampung, Aceh dan lain-lain.  Nah, tiap warung kopi mempunyai racikan sendiri-sendiri.

Saya memilih kopi susu, ihiyyy...enak bener loh, ada rasa-rasa khas dari kopinya yang berbeda dari tempat lain.  Rata-rata kedai kopi di Belitung dimiliki oleh orang Tionghoa.

Batu Satam alias batu meteor alias Billitonite
Sambil nunggu yang lain menghabiskan kopi kami berkeliaran ke toko-toko sekitar. Bila di Jakarta sedang demam batu akik, di Belitung pun begitu pula.  Batuan asli Belitung disebut batu kinyang dengan varian jenisnya, misalnya Kinyang Kopi dan Kinyang Mutiara. Tapi batu yang benar-benar terkenal adalah batu meteor. Ya, jaman dahulu kala ada meteor yang menumbuk Belitung.  Maka dari itu warga kerap menemukan pecahan batu-batu berwarna hitam legam tersebut saat menggali timah.  Tapi menurut beberapa sumber batu yang dianggap pecahan meteor itu adalah serpihan batu dari dalam bumi yang terbakar akibat tumbukan meteor.

Pecahan batu meteor yang dinamakan batu Satam atau Billitonite itu banyak dijual di toko-toko perhiasan dengan harga cukup mahal. Bahkan batu yang sedikit lebih besar dari 2 jempol disatukan dihargai Rp 2.000.000.  Kebanyakan batu Satam yang kecil-kecil diikat begitu saja di cincin atau leontin tanpa diasah agar tuahnya tidak hilang.  Umumnya warga Belitung percaya khasiat batu Satam untuk menolak bala.

Makin malam kedai kopi ini makin ramai.  Kami mulai capek dan segera bergegas kembali ke hotel untuk siap-siap kembali ke Jakarta esok harinya.

Pulangnya tidak ada masalah apa-apa, perjalanan dari hotel ke bandara hanya memakan waktu 15 menit dengan kondisi jalan yang lengang. Jadwal pesawat juga tidak terlambat.  Smooth lah pokoknya.  

Tidak ada komentar: