06 November 2013

Ujung Kulon : Perjalanan Panjang

Dermaga Taman Jaya
Saya merebahkan diri di atas kasur tipis tanpa alas di lantai kayu, pegal-pegal di betis dan pundak akibat trekking menyusuri hutan dengan membawa kamera dan perlengkapannya membuat saya tidak menghiraukan jejeran manusia yang memenuhi kamar dan segera terlelap.



mampir beli ikan di kapal nelayan
 Total 12 orang tidur dan bernapas dalam satu kamar.   image

Kebiasaan traveling yang proper dalam arti transportasi beres, hotel/motel sederhana tapi bersih, kamar mandi apalagi, harus bersih kali ini harus dibuang jauh-jauh karena perjalanan yang sekarang ini berbeda.

Sekali ini saya bergabung dengan grup backpacker. Kami ber-12  hari Jumat seusai pulang kantor menumpang bis dari Kampung Rambutan menuju terminal Pakupatan Serang. Sedikit insiden gara-gara bis tidak masuk ke terminal sehingga kami hampir terbawa sampai Merak.  Terpaksa kami turun di Cilegon dan menyetop angkot balik ke terminal. 1 angkot diisi oleh kami ber-12 ditambah 3 penumpang lain  ..kebayangkan bentuknya... ditambah ransel-ransel kami.

Sebuah Elf warna ngejreng menunggu di terminal, memang khusus disewa untuk mengantar kami kami ke Taman Jaya, titik terakhir sebelum menyeberang ke Ujung Kulon.  Waktu menunjukkan jam  02:00 pagi saat Elf kami be
rgerak meninggalkan kota Serang menuju Taman Jaya berjam-jam kemudian.

Saya tertidur pulas di Elf, setelah kelelahan menempuh perjalanan panjang langsung setelah pulang kantor.  Sementara mobil bergerak dengan kecepatan tinggi membabat tikungan maupun lubang-lubang jalan.  

Pagi hari mobil memasuki desa Sumur, plang selamat datang di Ujung Kulon sudah terlihat tapi bukan berarti sudah dekat.  Perjuangan berikutnya dimulai, jalan yang luar biasa jelek membuat kami semua terbanting-banting.  Di tengah jalan kami bertemu mobil Elf lain yang atapnya penuh diduduki oleh siswa-siswa sekolah. Dengan ngeri kami memperhatikan mobil itu terhuyung-huyung melalui jalan, takut anak-anak itu terpelanting dari atap.

Jam 7 pagi akhirnya sampai di kantor administrasi Taman Nasional Ujung Kulon di Taman Jaya.  Setelah beberapa saat mengurus ijin sambil mengisi perut dengan bungkusan nasi uduk, kami pun segera menuju kapal yang disediakan.  Sewa kapalnya sendiri bolak balik sekitar 2 juta rupiah.  Dengan lama perjalanan 3 jam sekali jalan.
Jangan lupa membeli cemilan yang diperlukan sebelum menuju pulau.  Karena di pulau yang akan kita tinggali nanti tidak ada warung, hanya ada semacam kantin dan harganya juga mahal. 

3 jam di tengah laut lepas, membuat kami lagi-lagi tertidur setelah bosan memandangi lautan.  Akhirnya dermaga Pulau Peucang tempat kami akan menginap terlihat juga.  Air laut yang jernih dan pasir putih segera menyambut.  


Yang dinamakan Ujung Kulon itu mencakup Pulau Handeleum, Pulau Peucang, Pulau Panaitan dan wilayah Krakatau serta terletak di paling barat pulau Jawa.  Yang paling terkenal jika mendengar kata Ujung Kulon sudah pasti badaknya.  Namun saya tidak berharap bisa melihat badak, masalahnya satwa ini dikenal sangat pemalu dan sangat kecil habitatnya, paling sekitar 60 ekor saja.  Jadi tetap buka pikiran, dan biarkan saja kita menemukan apa yang ada di sana.


Ternyata iklim di wilayah Ujung Kulon ini sedikit berbeda.  Jika di Jakarta dan Jawa Barat umumnya sedang musim hujan, di Pulau Peucang ini ternyata jarang hujan.  Jadi jangan pakai cuaca Jakarta sebagai tolok ukur ya.

Dengan badan penat, saya menggendong ransel dan tas berisi kamera menuju penginapan. Yang disebut penginapan standar adalah rumah panggung yag disekat jadi kamar-kamar. 1 kamar bisa memuat lebih dari 10 orang dan di salah satu kamar itulah kami menginap. 8 cowok 4 cewek bergabung jadi satu.  Tidak ada apa-apa di dalam kamar itu selain 4-5 kasur busa tipis terhampar di lantai. Kamar mandi di luar bergabung dengan penghuni lainnya. Kondisi kamar mandinya...yah begitulah, yang terbiasa traveling cantik dan keren, jangan deh...

penginapan kita

Listrik di pulau Peucang hanya menyala dari jam 6 sore s/d jam 6 pagi menggunakan genset. Jadi begitu sore hari, kita langsung rebutan colokan listrik untuk mencharge HP/BB.  Penggunaan air bersih juga harap diirit-irit ya.

Lalu sinyal telepon hanya ada milik Telkomsel, karena ada 2 menara Telkomsel di pulau Peucang, sinyal milik provider lainnya sudah wafat sejak masuk Taman Jaya.

Jadi saat masih berada di daerah Labuan sebaiknya segera berpamitan dengan keluarga sebelum hilang kontak.


Namanya juga taman nasional sudah pasti binatang dilepas bebas. Di depan kamar yang berbentuk panggung sudah berkeliaran rusa dan monyet dengan santainya.  Tadi begitu menginjak dermaga, sudah ada babi yang menyambut kedatangan kami.  Beberapa turis bule terlihat sedang bermain-main di pinggir pantai.


Hati-hati menaruh barang-barang kecil karena monyet-monyet itu cekatan sekali menyambar saat kita meleng.  Tak jarang mereka masuk ke kamar yang kebetulan terbuka.

 Kegiatan pertama sesudah makan siang sudah pasti snorkeling.  Tapi jangan terlalu berharap banyak, walaupun jernih, namun karang dan ikannya tidak sebagus Lagon Cabe di perairan sekitar Krakatau.

Puas snorkeling, kami kembali.  Sambil menunggu kegiatan selanjutnya saya mengobrol dengan Kang Dayat pendamping kami selama di Peucang.  Kang Dayat bercerita tentang pemeliharaan hutan, kondisi penginapan dan macam-macam seputar Ujung Kulon.  Menurutnya tempat ini besok akan kedatangan sekitar 100 tamu bule yang menumpang kapal pesiar. Jadi mereka harus mempersiapkan segala sesuatunya. 


Di sisi lain pulau ada spot yang sering didatangi untuk melihat matahari terbenam, disebut Karang Copong. Nah ke situlah kami setelah snorkeling.  Untuk menuju Karang Copong harus melintas hutan sejauh 3 km kurang lebih lalu menaiki bukit untuk mendapat pandangan ke arah laut lepas.  Disarankan membawa senter karena pulangnya melalui jalur yang sama namun setelah matahari tenggelam sehingga gelap gulita.  Di dalam hutan ada pohon yang umurnya berabad-abad, besar sekali, cocok untuk acara Dunia Lain sepertinya.

Tersaruk-saruk melalui hutan sepanjang berkilo-kilo meter memang bukan hal yang mudah. kaki terasa kebas, keringat mengucur deras, jangan lupa membawa persediaan air minum.

Sepanjang jalan Kang Dayat yang memandu perjalanan bercerita tentang keadaan wilayah sekitar Taman Jaya yang menjadi tempat tinggalnya.

Taman Jaya yang berada di wilayah Banten termasuk daerah terpencil.  Sepanjang penglihatan saya saat perjalanan pagi tadi hanya ada satu sekolah dasar dan menengah.  Anak-anak dari Taman Jaya yang ingin menempuh SMU harus pergi ke daerah Sumur, memakan waktu 3 jam sekali jalan karena kondisi ruas jalan yang parah.

Para pejabat yang meninjau Ujung Kulon lebih suka berangkat dengan kapal dari Anyer daripada melalui jalan darat, pantas saja kondisi wilayah pelosok sepanjang arah Ujung Kulon tak terpantau.


Di balik keindahan Ujung Kulon memang tersimpan kisah-kisah getir anak-anak yang berjuang ingin mengubah nasibnya.  Demi untuk sekolah mereka rela menaiki atap-atap mobil Elf butut dan terguncang-guncang tanpa pengaman.  Sementara kami yang di kota sibuk memboroskan waktu dan uang untuk perilaku konsumtif.

Rasanya kita hanya berada di Karang Copong sekitar 20 menit, lebih lama perjalanannya.  Sampai di kamar kita semua terkapar kelelahan.  Setelah makan tidak ada lagi kegiatan, yang lain ngobrol-ngobrol, ada juga yang mulai berbaring di kasur.  Saya sendiri setelah membersihkan badan memilih memejamkan mata.

Rasanya saya tertidur pulas sampai pukul 4 pagi, dan segera mandi mumpung listrik masih menyala dan air masih banyak, daripada rebutan nanti.  Tepat saat membuka pintu kamar mandi seusai mandi pagi, seekor babi sedang mendengus-dengus tepat di depan pintu.  Babi beneran ini, bukan babi ngepet. Babi ini juga hobi sekali menggulingkan tempat sampah untuk mencari makanan sehingga isi tempat sampah berceceran.

Saya duduk-duduk di dermaga menikmati pagi, sayang sekali pulau ini terhalang bukit sehingga menghalangi matahari terbit.  Tampak Elang Jawa melayang anggun, bukan hanya satu tapi tiga ekor Elang Jawa terbang salip menyalip.

Seekor biawak merayap di pinggir pantai, begitu juga beberapa ekor babi dan monyet ikut berkumpul di pantai.

Hari ini kita akan pulang, tapi akan mampir dulu ke Cibom untuk melihat padang savana tempat banteng berkumpul lalu lanjut ke pulau Handeleum.  

Sebenarnya ingin ke Tanjung Layar namun untuk menuju ke sana harus menyewa lagi kapal seharga 250 ribu dan itu di luar budget jadi tidak dilakukan.

Rasanya badan masih pegal, tapi sudah harus membereskan barang-barang.  Akhirnya kami menaiki perahu dan menuju Cibom.  Perjalanan hanya sekitar 15 menit untuk tiba di Cibom.  Cibom juga dipakai sebagai tempat camping.  Sudah ada beberapa tenda terpasang di sana.  Pasir di Cibom juga berbeda dengan Peucang, lebih hitam, mirip pasir di pulau Krakatau.

Jarak dari dermaga Cibom ke padang penggembalaan banteng tidak jauh.  Di padang terbuka itu sekelompok banteng sedang asyik merumput.  Perlahan-lahan kami mendekat, tentu saja para banteng itu langsung waspada, namun kelihatannya mereka dapat meraba bahwa tidak ada niat jahat jadi mereka hanya sedikit bergerak namun tetap siaga.  Selama kita tidak mengganggu mereka tidak akan menyeruduk kok.

Beberapa saat kami menghabiskan waktu di sana, sekedar memotret kawanan banteng itu dan habis itu menuju pulau Handeleum.

Butuh waktu 2 jam untuk mencapai pulau itu.  Di Handeleum kami akan menyusuri sungai Cigenter dengan kano.  Perjalanan ke sana ternyata melawan arus ombak, sehingga kapal sedikit terguncang-guncang.  Catatan untuk yang membawa perlengkapan kamera, sebaiknya membungkus kamera dengan plastik atau lebih bagus lagi menggunakan dry bag karena percikan air benar-benar membikin badan basah kuyup.

Sampai Handeleum, panas kian menyengat...jangan lupa memakai sunblock SPF maksimal karena panasnya benar-benar bikin kulit pedih.  Sungai Cigenter yang berada di Handeleum sebenarnya merupakan berujung pada muara.  Dengan kano kami menyusuri Cigenter yang kanan kirinya terdapat bakau dan nipah.  tampak ubur-ubur berseliweran di antara ayunan dayung kano.  Air sungai yang hijau terasa sejuk di tengah sengatan panas matahari.  Kepiting rawa juga terlihat berlarian di pinggir sungai.  Lebih baik ke Cigenter pada pagi hari, dimana hewan-hewan masih berkumpul di tepian sungai.
susur sungai Cigenter

Puas menyusuri Cigenter, akhirnya kami benar-benar kembali ke Taman Jaya dan di sana menunggu Elf yang akan membawa kami ke terminal Pakupatan.

Ternyata perjalanan pulang tidak semulus perginya.  Kami beberapa kali tertahan karena ada pengecoran jalan sehingga sampai di terminal jam lebih dari jam 11 malam, padahal kami meninggalkan Taman jaya sekitar jam 4 sore.  Meleset jauh karena semula saya memprediksi akan sampai rumah maksimal jam 11 malam

Lalu karena tidak ada bis ke Kampung Rambutan setelah menunggu 2 jam di pinggir jalan dekat terminal, akhirnya kami naik bis jurusan Bandung dan turun di tengah tol UKI.  Benar-benar di tengah tol!!!!.  Onion12

Menyusuri tol, akhirnya menyelusup di pagar tol yang bolong dan menuruni undak-undakan dinding tol sampai akhirnya tiba di jalan raya Cawang di bawahnya...bukan main!!!!...

Sampai di tepi jalan, saya segera berpamitan dan menyetop taxi menuju Depok.  Sampai rumah jam 3.30 di Senin pagi, mandi, persiapan sarapan anak dan tetap ngantor....beneran warrior princess deh...





3 komentar:

Sigit Prayitno mengatakan...

waah baru ngeh ada blog nyaaa mbak

wahyu eka nurkarim mengatakan...

Bro mau nanya, kalau mau ke pulau peucang tanpa menyebrang dari sumur bisa ?

Perempuan Itu mengatakan...

To Wahyu,

Harus menyeberang dari Sumur mas, sepengetahuan saya tidak ada jalan yang lain