Hari terakhir sebelum libur lebaran. Saya masih menyelesaikan pekerjaan kantor dengan earphone berisi lagu lagu Ismail Marzuki yang diaransemen ulang. Saya jatuh cinta dengan syair syair lagunya. Dan aransemen ulang dengan gaya orkestra masa kini membuat lagu lagu lawas itu semakin kinclong. Saya tidak suka lagu lagu pop jadul tapi khusus Ismail Marzuki, itu lain cerita.
O ya pulang kantor saya berniat menonton "Sang Pencerah" di bioskop Pondok Indah. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 6 sore, tergesa gesa saya membereskan tas dan mencegat taksi menuju Pondok Indah. Jalan radio dalam macet sekali, tapi akhirnya tiba juga di lobby mall setengah jam menjelang jam 7 malam.
Saya melompat, loh kok tubuh saya ringan sekali...baru ingat hari ini saya memakai rok selutut dengan sepatu hak. pantesan, enteng sekali. biasanya dibalut celana jeans, kali ini hanya rok ringan. Tapi dengan rok, beberapa mata terlihat melirik saat berpapasan,,,,astaga,,mudah mudahan bukan karena saya terlihat aneh memakai pakaian feminim ini. Tapi pakaian ini juga membuat saya kedinginan dalam bioskop. Cantik namun sengsara,,,ha,,,ha.
Well, untunglah filmnya sesuai dengan harapan. Film sejarah tentang Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Saya menyukai topik dan setting kota Yogya di abad 19. Tak pelak cukup membuka wawasan mengingat minimnya data tentang Ahmad Dahlan dan jarang sekali film Indonesia tentang sejarah.
Profil Ahmad Dahlan cocok dengan apa yang saya baca di salah satu buku koleksi yaitu "Marhaenis Muhammadiyah" sebagai orang yang toleran dengan budaya.
Kalau boleh saya perbandingkan.. Roma punya Ordo Fransiskan yang bergerak dalam bidang pendidikan, umat Islam di Indonesia punya seorang Ahmad Dahlan, dari tanah jajahan yang mempelopori pendidikan Islam di Indonesia.
10 September 2010
04 September 2010
Tentang Bung Karno
Akhir pekan ini, saat berbuka puasa sambil menonton Metro TV seperti biasa saya mengobrol panjang lebar dengan ayah.
Kebetulan Metro sedang membahas pidato Presiden tentang masalah perselisihan dengan Malaysia. Obrolan berpindah ke masa Bung Karno.
Ayah adalah pengagum si Bung. Sedangkan Embah adalah wartawan senior dari harian Merdeka yang sangat dekat dengan Bung Karno. Ayah bercerita bahwa BM Diah bisa menjadi duta besar di Inggris gara gara usulan Embah.
Saat saya bertanya apakah Bung Karno itu ganteng ...serta merta ayah menjawab Ya!...ganteng sekali. Beliau sangat cerdas dan berwibawa. Tapi diatas semua itu si Bung sangat pemberani. Tidak ada kata minder berhadapan dengan bangsa asing. Kata ayah satu satunya orang yang dapat mengalahkan Bung Karno berpidato tanpa teks adalah Fidel Castro, Presiden Cuba. Saat ayah bercerita, ia menggambarkan dengan detil postur Bung Karno yang tegap dengan baju yang selalu tersetrika licin. Asal pecinya jangan dilepas, kata ayah kepalanya botak parah.
Ayah bercerita saat ia ada di Roma, Italy untuk sekolah sekaligus menemani Embah yang bertugas di Kedubes RI sana, Soekarno selalu menginap di Grand Hotel di kamar yang sama. Saat itu ada Presiden Afrika yang menempati kamar favorit si Bung. Bung Karno berkeras ingin memakai kamar tersebut. Embah yang kebingungan terpaksa berterus terang kepada sang Presiden bahwa Bung Karno ingin memakai kamar tersebut. Di luar dugaan Presiden Afrika itu rela mengalah dan pindah ke kamar lainnya.
Kejadian lain lagi saat Bung karno bertemu anggota parlemen Italy dari partai buruh, sosialis dan lainnya. Ia berbicara dengan fasih dalam bahasa Perancis. Bahasa kedua negara Italy. Dengan lancar ia menguraikan hal hal tentang Italy yang bahkan tidak diketahui oleh para pemimpin yang bersangkutan. Tentu saja pidatonya mendapat tepukan panjang. Bahkan anggota parlemen belakangan menyatakan jika saja Italy mempunyai 5 Bung Karno tentu negara mereka akan aman.
Tidak akan pernah ada Presiden seperti Soekarno, kata ayah.
Kejadian lain yang lucu, saat si Bung membawa istrinya yang terbaru, Haryati. Haryati yang masih belia cukup merepotkan ibu ibu kedubes di Roma. Salah satu yang sering dicurhati oleh Haryati tentu saja nenek. Dengan polos Haryati curhat tentang hubungan intimnya dengan sang suami. Otomatis curhatan itu menjadi gosip tersendiri di kalangan ibu ibu. Dengan geli ayah bercerita tentang group kesenian istana karena ingin menyenangkan Haryati jika tampil pasti selalu membawakan lagu "Aryati" -nya Ismail Marzuki.
Lalu ada lagi kisah tentang tukang setrika pakaian istana yang ngambek lalu curhat kepada Embah karena dimarahi Bung karno gara gara hasil kerjanya kurang rapi di mata si Bung yang selalu tampil perlente.
Waktu ontran ontran G30S kabarnya nama Embah masuk dalam daftar bunuh sehingga terpaksa keluarga Munawar mengungsi ke Roma.
Saat saya bertanya apakah Embah melayat saat Bung Karno meninggal, ayah hanya menggeleng karena saat itu Embah diawasi hingga tidak bebas bepergian.
Dengan miris saya mendengarkan kisah ayah, bahwa tak satupun dari ratusan dokumentasi foto foto soekarno dengan Embah, Embah dengan Ratna Sari Dewi atau lainnya yang berhubungan Soekarno dapat ditemukan kembali. Semua hilang, tinggal 1 foto yang kini tergantung di rumah kami di Depok. Saat Soekarno dengan Embah dan Cindy Adams, penulis buku "My friend, the Dictator".
Foto foto itu lenyap dengan misterius, sama seperti cincin, keris dan tongkat embah yang langsung lenyap tanpa bekas begitu embah meninggal.
Saya hanya dapat mengusap dada, begitu inginnya saya memiliki foto foto bersejarah tersebut.
Kebetulan Metro sedang membahas pidato Presiden tentang masalah perselisihan dengan Malaysia. Obrolan berpindah ke masa Bung Karno.
Ayah adalah pengagum si Bung. Sedangkan Embah adalah wartawan senior dari harian Merdeka yang sangat dekat dengan Bung Karno. Ayah bercerita bahwa BM Diah bisa menjadi duta besar di Inggris gara gara usulan Embah.
Saat saya bertanya apakah Bung Karno itu ganteng ...serta merta ayah menjawab Ya!...ganteng sekali. Beliau sangat cerdas dan berwibawa. Tapi diatas semua itu si Bung sangat pemberani. Tidak ada kata minder berhadapan dengan bangsa asing. Kata ayah satu satunya orang yang dapat mengalahkan Bung Karno berpidato tanpa teks adalah Fidel Castro, Presiden Cuba. Saat ayah bercerita, ia menggambarkan dengan detil postur Bung Karno yang tegap dengan baju yang selalu tersetrika licin. Asal pecinya jangan dilepas, kata ayah kepalanya botak parah.
Ayah bercerita saat ia ada di Roma, Italy untuk sekolah sekaligus menemani Embah yang bertugas di Kedubes RI sana, Soekarno selalu menginap di Grand Hotel di kamar yang sama. Saat itu ada Presiden Afrika yang menempati kamar favorit si Bung. Bung Karno berkeras ingin memakai kamar tersebut. Embah yang kebingungan terpaksa berterus terang kepada sang Presiden bahwa Bung Karno ingin memakai kamar tersebut. Di luar dugaan Presiden Afrika itu rela mengalah dan pindah ke kamar lainnya.
Kejadian lain lagi saat Bung karno bertemu anggota parlemen Italy dari partai buruh, sosialis dan lainnya. Ia berbicara dengan fasih dalam bahasa Perancis. Bahasa kedua negara Italy. Dengan lancar ia menguraikan hal hal tentang Italy yang bahkan tidak diketahui oleh para pemimpin yang bersangkutan. Tentu saja pidatonya mendapat tepukan panjang. Bahkan anggota parlemen belakangan menyatakan jika saja Italy mempunyai 5 Bung Karno tentu negara mereka akan aman.
Tidak akan pernah ada Presiden seperti Soekarno, kata ayah.
Kejadian lain yang lucu, saat si Bung membawa istrinya yang terbaru, Haryati. Haryati yang masih belia cukup merepotkan ibu ibu kedubes di Roma. Salah satu yang sering dicurhati oleh Haryati tentu saja nenek. Dengan polos Haryati curhat tentang hubungan intimnya dengan sang suami. Otomatis curhatan itu menjadi gosip tersendiri di kalangan ibu ibu. Dengan geli ayah bercerita tentang group kesenian istana karena ingin menyenangkan Haryati jika tampil pasti selalu membawakan lagu "Aryati" -nya Ismail Marzuki.
Lalu ada lagi kisah tentang tukang setrika pakaian istana yang ngambek lalu curhat kepada Embah karena dimarahi Bung karno gara gara hasil kerjanya kurang rapi di mata si Bung yang selalu tampil perlente.
Waktu ontran ontran G30S kabarnya nama Embah masuk dalam daftar bunuh sehingga terpaksa keluarga Munawar mengungsi ke Roma.
Saat saya bertanya apakah Embah melayat saat Bung Karno meninggal, ayah hanya menggeleng karena saat itu Embah diawasi hingga tidak bebas bepergian.
Dengan miris saya mendengarkan kisah ayah, bahwa tak satupun dari ratusan dokumentasi foto foto soekarno dengan Embah, Embah dengan Ratna Sari Dewi atau lainnya yang berhubungan Soekarno dapat ditemukan kembali. Semua hilang, tinggal 1 foto yang kini tergantung di rumah kami di Depok. Saat Soekarno dengan Embah dan Cindy Adams, penulis buku "My friend, the Dictator".
Foto foto itu lenyap dengan misterius, sama seperti cincin, keris dan tongkat embah yang langsung lenyap tanpa bekas begitu embah meninggal.
Saya hanya dapat mengusap dada, begitu inginnya saya memiliki foto foto bersejarah tersebut.
29 Agustus 2010
Marhaenis Muhammadiyah
Marhaenisme & Muhammadiyah....Itu tema buku yang saya ambil dari toko buku hari Sabtu kemarin. Sedikit tergesa gesa karena harus mengantri panjang di gerai roti dan harus menempuh padatnya jalur Depok-Sawangan menjelang berbuka puasa.
Judul itu menarik, karena sepengetahuan saya Muhammadiyah mengambil aliran Islam murni dan anti TBC, Takhayul, bi'dah dan churafat. Sementara aliran Marhaenisme yang kebanyakan dianut oleh para petani justru dianggap sebagai abangan dan tercampur dengan agama lama.
Bahwa KH Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dilukiskan sebagai orang yang sangat toleran terhadap praktek budaya. Penerapan Islam murni hanya diaplikasikan bagi dirinya dan keluarga serta orang orang yang sepandangan.
Tak heran dalam perjalanan selanjutnya, Muhammadiyah terpetakan menjadi 4 aliran sebagai akibat dari perkembangan sosial politik yang berpengaruh besar terhadap keberhasilan Muhammadiyah masuk ke daerah pedesaan.
Ah, saya masih belum selesai membaca. Nantilah dilanjutkan.
Judul itu menarik, karena sepengetahuan saya Muhammadiyah mengambil aliran Islam murni dan anti TBC, Takhayul, bi'dah dan churafat. Sementara aliran Marhaenisme yang kebanyakan dianut oleh para petani justru dianggap sebagai abangan dan tercampur dengan agama lama.
Bahwa KH Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dilukiskan sebagai orang yang sangat toleran terhadap praktek budaya. Penerapan Islam murni hanya diaplikasikan bagi dirinya dan keluarga serta orang orang yang sepandangan.
Tak heran dalam perjalanan selanjutnya, Muhammadiyah terpetakan menjadi 4 aliran sebagai akibat dari perkembangan sosial politik yang berpengaruh besar terhadap keberhasilan Muhammadiyah masuk ke daerah pedesaan.
Ah, saya masih belum selesai membaca. Nantilah dilanjutkan.
17 Agustus 2010
17 Agustus yang menyedihkan
Tahun ini 17 Agustus terasa lesu untuk saya, selain karena puasa tentunya. Tahun ini saya tidak memasang bendera merah putih di depan rumah. Biarlah bendera itu terlipat rapi di tempatnya.
Tahun ini sungguh mengecewakan melihat tingkah Presiden, DPR dan aparat pemerintah lainnya.
Dari Lapindo yang tidak dipedulikan, coba dibandingkan dengan kasus minyak British Petroleum yang bocor sehingga mencemari teluk Mexico, Barack Obama turun tangan menekan BP agar cepat menyelesaikan masalah tersebut. Sedangkan dalam kasus Lapindo, SBY diam seribu bahasa.
Gas elpiji sudah meledak berkali kali, sedang Presiden sibuk curhat tentang rencana pembunuhan seri kesekian. "Pak, rakyat sudah gosong...mau curhat kemana?"
Apakah Presiden masih mempunyai wibawa saya juga kurang jelas,,,yang bisa dilakukan cuma menghimbau...apa kekuatan dari himbauan, tidak ada payung hukum yang kuat.
Pagi tadi upacara di Istana benar benar memuakkan, saya lebih memilih melihat upacara bendera di Tugu Proklamasi yang lebih menarik dan manusiawi.
Buat saya lebih bermanfaat mendengarkan uraian Anhar Gonggong dan Asvi Warman Adam dibandingkan mendengar pidato omong kosong dari Istana Negara.
Bagaimana kalau pilpres dihapuskan? rasanya kita tidak butuh Presiden dan Menteri apalagi DPR.
Tahun ini sungguh mengecewakan melihat tingkah Presiden, DPR dan aparat pemerintah lainnya.
Dari Lapindo yang tidak dipedulikan, coba dibandingkan dengan kasus minyak British Petroleum yang bocor sehingga mencemari teluk Mexico, Barack Obama turun tangan menekan BP agar cepat menyelesaikan masalah tersebut. Sedangkan dalam kasus Lapindo, SBY diam seribu bahasa.
Gas elpiji sudah meledak berkali kali, sedang Presiden sibuk curhat tentang rencana pembunuhan seri kesekian. "Pak, rakyat sudah gosong...mau curhat kemana?"
Apakah Presiden masih mempunyai wibawa saya juga kurang jelas,,,yang bisa dilakukan cuma menghimbau...apa kekuatan dari himbauan, tidak ada payung hukum yang kuat.
Pagi tadi upacara di Istana benar benar memuakkan, saya lebih memilih melihat upacara bendera di Tugu Proklamasi yang lebih menarik dan manusiawi.
Buat saya lebih bermanfaat mendengarkan uraian Anhar Gonggong dan Asvi Warman Adam dibandingkan mendengar pidato omong kosong dari Istana Negara.
Bagaimana kalau pilpres dihapuskan? rasanya kita tidak butuh Presiden dan Menteri apalagi DPR.
15 Agustus 2010
Kota yang Terlupakan
Peringatan hari kemerdekaan RI tahun ini jatuh pada bulan puasa, mengingatkan saya bahwa saat proklamasi kemerdekaan tahun 1945 itu pun terjadi di bulan puasa pula.
Diawali dengan penculikan dwitunggal tersebut oleh para pemuda seperti Soekarni dan Wikana. Di Rengasdengkloklah para golongan tua dan golongan muda berdebat tentang cara untuk mendapatkan kemerdekaan.
Proklamasi boleh saja diumumkan di Pegangsaan Timur No 56 Jakarta Pusat namun di Rengasdengkloklah bendera merah putih dikibarkan pertama kali sebagai tanda pernyataan kemerdekaan Indonesia sehari sebelum tanggal 17 Agustus.
Saya kuatir nasib Rengasdengklok, sebuah kota di kabupaten Karawang Jawa Barat akan sama dengan Banda. Dari Bandalah kesadaran akan nasionalisme berawal. Dari kota kecil di sudut Karawang sanalah pernyataan kemerdekaan bermula. Namun 2 kota tersebut nyaris hilang dari ingatan masyarakat.
Lagi lagi Jakarta mengambil alih semua kehormatan yang sebenarnya patut diberikan kepada kota kota terpencil tapi mempunyai jasa luar biasa terhadap keberadaan negara Indonesia.
Diawali dengan penculikan dwitunggal tersebut oleh para pemuda seperti Soekarni dan Wikana. Di Rengasdengkloklah para golongan tua dan golongan muda berdebat tentang cara untuk mendapatkan kemerdekaan.
Proklamasi boleh saja diumumkan di Pegangsaan Timur No 56 Jakarta Pusat namun di Rengasdengkloklah bendera merah putih dikibarkan pertama kali sebagai tanda pernyataan kemerdekaan Indonesia sehari sebelum tanggal 17 Agustus.
Saya kuatir nasib Rengasdengklok, sebuah kota di kabupaten Karawang Jawa Barat akan sama dengan Banda. Dari Bandalah kesadaran akan nasionalisme berawal. Dari kota kecil di sudut Karawang sanalah pernyataan kemerdekaan bermula. Namun 2 kota tersebut nyaris hilang dari ingatan masyarakat.
Lagi lagi Jakarta mengambil alih semua kehormatan yang sebenarnya patut diberikan kepada kota kota terpencil tapi mempunyai jasa luar biasa terhadap keberadaan negara Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)