Apa yang dirasakan jika duduk di kedai kopi mahal seperti starbuck? menikmati aroma kopi mahal yang dikeluarkan oleh mesin pengolah kopi berkecepatan tinggi yang memakan daya listrik ratusan watt, menjawil banana cake yang nikmat seharga hampir 13 ribu perak per slice.
Ada rasa ada harga, begitu kata orang. Apa iya...sudah berapa kali aku ke starbuck, coffee bean rasa kopinya biasa malah lebih enak kopi sachet menurut selera lidahku atau karena pada dasarnya aku penggemar teh kampung bukannya kopi. Alaaaah..itu karena harus bayar sendiri, coba dibayarin...begitu kata temanku.
Kembali aku mencoba kopi kopi mahal tersebut, kali ini dengan voucher gratis dari kantor. Perubahan rasa yang kuharapkan tidak terjadi. Tetap saja asing dan jauh, tidak membawa kerinduan untuk kembali....seperti kutipan Jenderal MacArthur "I shall return"
Kuamati kembali interior apik, kursi kursi nyaman dan suasana sejuk tetap saja tidak dapat mengikatku untuk berlama lama di tempat itu.
Puas menilai isi gerai, kembali mataku tertuju pada harga harga yang tertera di papan belakang para Barista. Bukan main...pikirku....harga tall late, alias late ukuran paling kecil di atas 30 ribu rupiah. 27 ribu rupiah adalah yang paling murah untuk tall late belum termasuk pajak.
kudengar gaung mesin mesin pengolah kopi berderum halus,,,berapa ratus watt listrik yang dihabiskan untuk sekedar membuat kopi,,aku bertanya tanya
Menyajikan kopi bermutu terbaik dari Indonesia, begitu yang kesan kutangkap dari beberapa reklame yang terpasang. Reklame itu menyebutkan beberapa jenis dan daerah penghasil kopi di Indonesia. Kopi kopi pilihan yang dinikmati oleh orang orang segment tertentu kalau melihat dari harganya.
Kembali aku tercenung melihat gelas kopiku. Uang 34 ribu hanya untuk 1 gelas kopi, kembali batinku mendesah. Kutekan kuat kuat rasa bersalah, baru saja pagi ini aku mendengar berita seorang anak bunuh diri karena orang tuanya tidak sanggup membiayai sekolahnya. Aku juga harus memalingkan muka melihat pengojek payung kecil berdiri kedinginan di luar dengan bibir membiru menunggu orang yang ingin memakai jasanya.
Sudah cukup siksaan ini, pikirku,,,,Tergesa gesa aku berdiri berpamitan pada temanku untuk keluar gerai kopi.
Tersaruk saruk aku berjalan ditemani malam, tak dapat dielakkan kilasan kehangatan warung kopi sederhana di sudut merapi yang dingin yang selalu terlintas di benak. Dimana aku merasa tak berjarak; Sederhana tapi tak kan terlupa.
17 Juli 2010
01 Juni 2010
Refleksi tentang Iran
Week end lalu saya sempat menambah beberapa buku. Satu mengenai Iran dan budayanya, satu lagi tentang sosiologi Islam dan yang lain buku tentang ahmadinejad. 2 buku terakhir belum habis dibaca, karena kelelahan pulang kantor ditambah harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena sudah menyerah menghadapi pembantu yang bertingkah aneh aneh plus harus mengerjakan PR tulisan yang terbengkalai dan dikejar deadline.
Agak unik secara tidak sengaja semuanya menyinggung tentang Islam, saya baru sadar saat mengeluarkan ketiganya ditambah dengan maraknya berita serangan tentara Israel atas kapal Mavi Marmara yang mengangkut para relawan dari berbagai negara menuju Gaza di perairan Internasional.
Kompas sebelumnya juga mengeluarkan laporan tentang Iran, suatu kebetulan yang aneh. Sehari sebelumnya saya sedang mencari buku yang ditulis oleh jurnalis Trias Kuncahyono tentang Jalur Gaza.
Nampaknya minat saya terhadap apa yang terjadi di Timur Tengah plus konflik Israel Palestina mulai mendaki titik kulminasi. Mungkin dari apa yang disajikan di berbagai tulisan media, konflik yang terjadi antara Israel - Palestina bukanlah pertentangan antara Islam, Kristen dan Yahudi namun merupakan konflik kemanusiaan. Di Palestina sendiri warganya juga banyak yang beragama Kristen dan Yahudi terjebak dalam blokade Israel.
Dalam pemerintahan, Israel dikuasai oleh garis keras dengan paham zionis-nya bahkan Amerika yang katanya negara adi kuasa patut diragukan powernya. Dominasi yang terjadi adalah Dominasi Zionis dan bukan lagi murni Amerika. Bukan rahasia lagi bila senat Amerika dikuasai oleh mayoritas warga Amerika keturunan Yahudi.
Bahkan ada desas desus jika kematian presiden Amerika John F Kennedy didalangi oleh Yahudi mengingat sikap kerasnya terhadap konflik Israel Palestina.
Baru baru ini saya membaca buku tentang Ahmadinejad yang ditulis oleh Kasra Naji, wartawan BBC. Sayang buku yang saya harapkan memberikan wawasan tentang sikap keras presiden Iran sangat mengecewakan karena tampak jelas keberpihakan Kasra Naji terhadap pihak eropa dan amerika. Ia menempatkan Iran sebagai negara yang patut diwaspadai karena berani melawan dominasi barat dan sang presiden yang digambarkan buta politik dengan keyakinan yang aneh tentang Imam Mahdi sebagai penganut Syiah. Surat-surat yang dikirimkan kepada Bush dan Kanselir Jerman, Angela Merkel diolok olok sebagai lelucon dari orang yang dianggap memiliki wawasan sempit tentang situasi luar negeri.
Sungguh berbeda dengan apa yang sering dilaporkan media, Iran digambarkan sebagai negara yang sangat independen dalam menghadapi embargo ekonomi AS, bahkan dalam bidang akademis Iran menduduki peringkat tinggi dalam sains. Walau seperti pemerintahan lain di dunia, Iran juga rawan korupsi yang dilakukan oleh para Mullah.
Walau demikian buku ini memberikan sudut pandang yang lebih jelas tentang carut marut peta perpolitikan negeri para Mullah itu. Dimana masyarakat Iran sangat tunduk kepada pemimpin spiritual mereka, Ayatollah Khomeini dan yang sekarang digantikan oleh Ali Khamenei.
Dukungan sang Ayatollah terhadap siapa pun pemimpin Iran merupakan kunci untuk menduduki jabatan kepresidenan.
Lagi lagi sejarah membuktikan bahwa manusia yang dianggap suci seperti Ayatollah pun bisa melakukan ketidakkonsistenan. Saya teringat dengan skandal Iran kontra di tahun 1980 yang melibatkan presiden AS saat itu, Ronald Reagan.
Reagan sedang berkampanye untuk meraih jabatan presiden melawan Jimmy Carter. Sedangkan Iran sedang bertempur melawan Irak sesama muslim. Pada saat yang bersamaan terjadi penyanderaan terhadap warga AS di Teheran. Yang terjadi adalah pertukaran; AS memberikan senjata buatan Israel untuk melawan Irak ditukar dengan pembebasan seluruh sandera.
Skandal ini terbongkar dan memalukan kedua belah pihak. Hubungan Iran dan AS tidak pernah membaik. AS melarang Iran meneruskan pembangunan industri nuklir yang mulanya justru disponsori oleh AS sendiri saat pemerintahan Shah Reza.
Mungkin kita tidak perlu mencontoh mentah mentah sikap Iran terhadap AS, tapi kita perlu melihat keberanian dan harga diri Ahmadinejad dalam menghadapi dominasi Amerika.
Bagaimanapun keberanian Indonesia mengambil sikap abstain saat voting penerapan sanksi ekonomi atas Iran di rapat Dewan Keamanan PBB tahun 2008 patut dihargai. Indonesia adalah satu satunya yang berani mengambil sikap abstain saat itu saat semua negara dalam sidang Dewan Keamanan menyetujui sanksi tersebut.
Agak unik secara tidak sengaja semuanya menyinggung tentang Islam, saya baru sadar saat mengeluarkan ketiganya ditambah dengan maraknya berita serangan tentara Israel atas kapal Mavi Marmara yang mengangkut para relawan dari berbagai negara menuju Gaza di perairan Internasional.
Kompas sebelumnya juga mengeluarkan laporan tentang Iran, suatu kebetulan yang aneh. Sehari sebelumnya saya sedang mencari buku yang ditulis oleh jurnalis Trias Kuncahyono tentang Jalur Gaza.
Nampaknya minat saya terhadap apa yang terjadi di Timur Tengah plus konflik Israel Palestina mulai mendaki titik kulminasi. Mungkin dari apa yang disajikan di berbagai tulisan media, konflik yang terjadi antara Israel - Palestina bukanlah pertentangan antara Islam, Kristen dan Yahudi namun merupakan konflik kemanusiaan. Di Palestina sendiri warganya juga banyak yang beragama Kristen dan Yahudi terjebak dalam blokade Israel.
Dalam pemerintahan, Israel dikuasai oleh garis keras dengan paham zionis-nya bahkan Amerika yang katanya negara adi kuasa patut diragukan powernya. Dominasi yang terjadi adalah Dominasi Zionis dan bukan lagi murni Amerika. Bukan rahasia lagi bila senat Amerika dikuasai oleh mayoritas warga Amerika keturunan Yahudi.
Bahkan ada desas desus jika kematian presiden Amerika John F Kennedy didalangi oleh Yahudi mengingat sikap kerasnya terhadap konflik Israel Palestina.
Baru baru ini saya membaca buku tentang Ahmadinejad yang ditulis oleh Kasra Naji, wartawan BBC. Sayang buku yang saya harapkan memberikan wawasan tentang sikap keras presiden Iran sangat mengecewakan karena tampak jelas keberpihakan Kasra Naji terhadap pihak eropa dan amerika. Ia menempatkan Iran sebagai negara yang patut diwaspadai karena berani melawan dominasi barat dan sang presiden yang digambarkan buta politik dengan keyakinan yang aneh tentang Imam Mahdi sebagai penganut Syiah. Surat-surat yang dikirimkan kepada Bush dan Kanselir Jerman, Angela Merkel diolok olok sebagai lelucon dari orang yang dianggap memiliki wawasan sempit tentang situasi luar negeri.
Sungguh berbeda dengan apa yang sering dilaporkan media, Iran digambarkan sebagai negara yang sangat independen dalam menghadapi embargo ekonomi AS, bahkan dalam bidang akademis Iran menduduki peringkat tinggi dalam sains. Walau seperti pemerintahan lain di dunia, Iran juga rawan korupsi yang dilakukan oleh para Mullah.
Walau demikian buku ini memberikan sudut pandang yang lebih jelas tentang carut marut peta perpolitikan negeri para Mullah itu. Dimana masyarakat Iran sangat tunduk kepada pemimpin spiritual mereka, Ayatollah Khomeini dan yang sekarang digantikan oleh Ali Khamenei.
Dukungan sang Ayatollah terhadap siapa pun pemimpin Iran merupakan kunci untuk menduduki jabatan kepresidenan.
Lagi lagi sejarah membuktikan bahwa manusia yang dianggap suci seperti Ayatollah pun bisa melakukan ketidakkonsistenan. Saya teringat dengan skandal Iran kontra di tahun 1980 yang melibatkan presiden AS saat itu, Ronald Reagan.
Reagan sedang berkampanye untuk meraih jabatan presiden melawan Jimmy Carter. Sedangkan Iran sedang bertempur melawan Irak sesama muslim. Pada saat yang bersamaan terjadi penyanderaan terhadap warga AS di Teheran. Yang terjadi adalah pertukaran; AS memberikan senjata buatan Israel untuk melawan Irak ditukar dengan pembebasan seluruh sandera.
Skandal ini terbongkar dan memalukan kedua belah pihak. Hubungan Iran dan AS tidak pernah membaik. AS melarang Iran meneruskan pembangunan industri nuklir yang mulanya justru disponsori oleh AS sendiri saat pemerintahan Shah Reza.
Mungkin kita tidak perlu mencontoh mentah mentah sikap Iran terhadap AS, tapi kita perlu melihat keberanian dan harga diri Ahmadinejad dalam menghadapi dominasi Amerika.
Bagaimanapun keberanian Indonesia mengambil sikap abstain saat voting penerapan sanksi ekonomi atas Iran di rapat Dewan Keamanan PBB tahun 2008 patut dihargai. Indonesia adalah satu satunya yang berani mengambil sikap abstain saat itu saat semua negara dalam sidang Dewan Keamanan menyetujui sanksi tersebut.
15 Mei 2010
Hati Hatilah Amerika
Beberapa hari ini di FB cukup heboh dengan topik ditariknya Sri Mulyani menjadi Direktur Eksekutif di World Bank.
Siapa sih yang gak kenal World Bank? kembarannya IMF yang bermarkas di DC. Rata rata pemilik FB terutama perempuan mengaku bangga dengan terpilihnya SMI. Saya juga bangga karena memang tidak mudah menjadi salah satu pimpinan organisasi kelas dunia. SMI memang memiliki kualitas unggul. Latar belakang kariernya memang mendukung. Sebelumnya ia menjabat Direktur Eksekutif IMF.
Tak pelak SMI jauh lebih unggul dibanding Kwik Kian Gie si tukang kritik. Dan saya cukup yakin bahwa SMI cukup bersih dari tindak korupsi.
Di luar itu semua saya berharap andai SMI merubah mindsetnya dari IMF sentris yang neolib tentu ia akan lebih diakui. Andai ia berani mengikuti cara Mohamad Yunus, mulai fokus kepada ekonomi mikro, dan berani bersikap kritis terhadap Bank Dunia berani jamin, namanya akan melonjak sejajar dengan Ahmadinejad dan Evo Morales. Sayang memang SBY terlihat seperti bubur lembek jika dibandingkan 2 orang pemimpin itu.
World Bank tidak pelak lagi membawa kepentingan Amerika sama seperti PBB. Bukankah negara itu merupakan donor utama. Dengan markas yang terletak di Washington tentu akan lebih mudah bagi pemerintah Amerika mengontrol tiap kebijakan yang dibuat baik oleh IMF maupun World Bank.
Negara adi kuasa itu membutuhkan resources sumber daya alam yang kebanyakan dimiliki oleh negara negara dunia ketiga. Cara yang paling halus adalah menggelontorkan dana pinjaman dengan syarat syarat tertentu yang pada akhirnya membuat negara tersebut membuat peraturan peraturan akomodatif terhadap kepentingan Amerika. Salah satunya mengijinkan perusahaan berskala internasional milik Amerika masuk dan berinvestasi.
Bagus jika negara dunia ketiga mempunyai daya tawar yang kuat dan tidak begitu saja menerima syarat syarat dari Amerika. Tapi banyak yang seperti Indonesia yang pemerintahnya malas menganalisa dan lebih memilih menerima mentah mentah.
Peranan World Bank sebenarnya sangat diperlukan untuk memberikan advis dan bantuan terhadap negara negara dunia ketiga secara profesional apabila sesuai dengan porsinya; apalagi mereka didukung oleh dana yang hampir tak terbatas. Hanya sangat disayangkan intervensi kepentingan Amerika yang sangat kentara disana. Sehingga resep resep ekonomi yang diberikan bukannya mengeluarkan negara tersebut dari krisis tapi lebih kepada bagaimana Amerika bisa masuk dan bermain di negara itu. Pada akhirnya negara sial itu terlibat hutang yang sangat besar sementara kemajuan yang didapat tidaklah signifikan.
Namun nampaknya Amerika kini harus berhati hati karena banyak negara yang mulai bersikap kritis terhadap berbagai kebijakannya. Salah satunya Iran dan Bolivia.
Iran dibawah kepemimpinan Ahmadinejad terang terangan menolak campur tangan Amerika terhadap industri nuklirnya. Evo Morales dari Bolivia mengecam kecongkakan Amerika yang secara sepihak melarang penanaman kokain. Karena di Bolivia sendiri seperti halnya di Aceh dengan pohon ganjanya, pohon koka dibutuhkan untuk pembuatan obat obatan tradisional dan merupakan tumbuhan yang turun temurun ditanam oleh rakyat Bolivia.
Belum lagi Hugo Chavez, Presiden dari Venezuela. Kita tentu belum lupa terhadap jagoan tua yang menolak tunduk kepada Amerika seumur hidupnya. Fidel Castro, El Commandante dari Cuba.
Tidak ada alasan bagi SBY untuk merunduk runduk kepada Amerika atau Inggris. Mereka membutuhkan sumber daya alam kita, pemerintah kitalah yang harus pintar pintar memanfaatkan daya tawar ini. Mungkin bisa dimulai dari kedutaan. Kedutaan Amerika di sini sebaiknya tidak lagi diistimewakan dengan adanya kawat kawat berduri dan larangan untuk memberhentikan kendaraan begitu juga dengan Kedutaan Inggris yang entah atas ijin siapa bisa menutup sepotong ruas jalan disamping gedungnya. Aparat Pemda DKI dimana sih otaknya, kok kotanya bisa diacak acak oleh orang asing.
Kapan ya kita bisa seperti Iran, yang penuh harga diri jika berhadapan dengan negara adi kuasa
Siapa sih yang gak kenal World Bank? kembarannya IMF yang bermarkas di DC. Rata rata pemilik FB terutama perempuan mengaku bangga dengan terpilihnya SMI. Saya juga bangga karena memang tidak mudah menjadi salah satu pimpinan organisasi kelas dunia. SMI memang memiliki kualitas unggul. Latar belakang kariernya memang mendukung. Sebelumnya ia menjabat Direktur Eksekutif IMF.
Tak pelak SMI jauh lebih unggul dibanding Kwik Kian Gie si tukang kritik. Dan saya cukup yakin bahwa SMI cukup bersih dari tindak korupsi.
Di luar itu semua saya berharap andai SMI merubah mindsetnya dari IMF sentris yang neolib tentu ia akan lebih diakui. Andai ia berani mengikuti cara Mohamad Yunus, mulai fokus kepada ekonomi mikro, dan berani bersikap kritis terhadap Bank Dunia berani jamin, namanya akan melonjak sejajar dengan Ahmadinejad dan Evo Morales. Sayang memang SBY terlihat seperti bubur lembek jika dibandingkan 2 orang pemimpin itu.
World Bank tidak pelak lagi membawa kepentingan Amerika sama seperti PBB. Bukankah negara itu merupakan donor utama. Dengan markas yang terletak di Washington tentu akan lebih mudah bagi pemerintah Amerika mengontrol tiap kebijakan yang dibuat baik oleh IMF maupun World Bank.
Negara adi kuasa itu membutuhkan resources sumber daya alam yang kebanyakan dimiliki oleh negara negara dunia ketiga. Cara yang paling halus adalah menggelontorkan dana pinjaman dengan syarat syarat tertentu yang pada akhirnya membuat negara tersebut membuat peraturan peraturan akomodatif terhadap kepentingan Amerika. Salah satunya mengijinkan perusahaan berskala internasional milik Amerika masuk dan berinvestasi.
Bagus jika negara dunia ketiga mempunyai daya tawar yang kuat dan tidak begitu saja menerima syarat syarat dari Amerika. Tapi banyak yang seperti Indonesia yang pemerintahnya malas menganalisa dan lebih memilih menerima mentah mentah.
Peranan World Bank sebenarnya sangat diperlukan untuk memberikan advis dan bantuan terhadap negara negara dunia ketiga secara profesional apabila sesuai dengan porsinya; apalagi mereka didukung oleh dana yang hampir tak terbatas. Hanya sangat disayangkan intervensi kepentingan Amerika yang sangat kentara disana. Sehingga resep resep ekonomi yang diberikan bukannya mengeluarkan negara tersebut dari krisis tapi lebih kepada bagaimana Amerika bisa masuk dan bermain di negara itu. Pada akhirnya negara sial itu terlibat hutang yang sangat besar sementara kemajuan yang didapat tidaklah signifikan.
Namun nampaknya Amerika kini harus berhati hati karena banyak negara yang mulai bersikap kritis terhadap berbagai kebijakannya. Salah satunya Iran dan Bolivia.
Iran dibawah kepemimpinan Ahmadinejad terang terangan menolak campur tangan Amerika terhadap industri nuklirnya. Evo Morales dari Bolivia mengecam kecongkakan Amerika yang secara sepihak melarang penanaman kokain. Karena di Bolivia sendiri seperti halnya di Aceh dengan pohon ganjanya, pohon koka dibutuhkan untuk pembuatan obat obatan tradisional dan merupakan tumbuhan yang turun temurun ditanam oleh rakyat Bolivia.
Belum lagi Hugo Chavez, Presiden dari Venezuela. Kita tentu belum lupa terhadap jagoan tua yang menolak tunduk kepada Amerika seumur hidupnya. Fidel Castro, El Commandante dari Cuba.
Tidak ada alasan bagi SBY untuk merunduk runduk kepada Amerika atau Inggris. Mereka membutuhkan sumber daya alam kita, pemerintah kitalah yang harus pintar pintar memanfaatkan daya tawar ini. Mungkin bisa dimulai dari kedutaan. Kedutaan Amerika di sini sebaiknya tidak lagi diistimewakan dengan adanya kawat kawat berduri dan larangan untuk memberhentikan kendaraan begitu juga dengan Kedutaan Inggris yang entah atas ijin siapa bisa menutup sepotong ruas jalan disamping gedungnya. Aparat Pemda DKI dimana sih otaknya, kok kotanya bisa diacak acak oleh orang asing.
Kapan ya kita bisa seperti Iran, yang penuh harga diri jika berhadapan dengan negara adi kuasa
08 Mei 2010
Nggak Asik Ah
Sabar..sabar...demikian aku berusaha menahan diri begitu membaca message sore tadi. Kan harusnya sudah mulai terbiasa dengan jawaban jawaban seperti itu.
Sebenarnya gak apa apa sih kalo memang belum bisa mengembalikan apalagi sedang ada kesusahan kayak gitu, tapi kok ya gak ada informasi sebelumnya begitu lewat tanggal, malah guenya yang harus sms tanya tanya. Awalnya sih berusaha sopan,,,tapi lama lama emosi juga ya.
Yee, emangnya dia doang yang punya anak, gue juga punya, wajar dong gue ngamuk anak gue kan jg punya keperluan..Males juga sih harus sms nanyain soal uang,,berasa kayak rentenir aja. Tapi apa boleh buat setelah mengamati perilakunya. Semua orang dibantu,,lah kok gue yang punya hak malah dipinggirin dengan berbagai macam alasan. Setelah gue ngotot baru deh tergopoh gopoh,,kemarin kemarin kemana aja sih?
Hebatnya aku masih bisa maklum, tapi lama lama gila juga ya. Serba susah deh, kalo keseringan sms nanti istrinya nyangkain aku minta minta uang sama suaminya...Masa sih aku harus bilang,,,"Mbak, mbak,,,sorry nih sebelumnya,,tapi suami elo yang minjem duit gue dari 2 tahun yang lalu. Nggak kok, gue gak bakal ngambil suami elo, buat elo aja deh, yang penting uang balik"...he..he
Ya udah...ikhlasin aja kali ya,,,daripada gak enak nagih nagih terus, bisa bisa hubungan persaudaraan rusak gara gara uang. Insya Allah untuk anak sih udah bisa tercover (lagi lagi ya booww,,,gue yang harus puter otak, gara gara jawaban simple : maaf belum bisa,,lg ada bla,,bla,). btw, elo kemana aje kalo gue lagi susah, bro?..ih, boro boro elo sms nanya kabar...ngumpet yang ada.
Yaaa dosa deh gue,,orang lagi kesusahan gue omel omelin...lah gue kan manusia wajar dong kalo punya perasaan jengkel.
Terpaksa deh keluh kesah gak penting ini masuk blog, daripada perang sms ya kan....bisa berasap kepala gue.!!
Sebenarnya gak apa apa sih kalo memang belum bisa mengembalikan apalagi sedang ada kesusahan kayak gitu, tapi kok ya gak ada informasi sebelumnya begitu lewat tanggal, malah guenya yang harus sms tanya tanya. Awalnya sih berusaha sopan,,,tapi lama lama emosi juga ya.
Yee, emangnya dia doang yang punya anak, gue juga punya, wajar dong gue ngamuk anak gue kan jg punya keperluan..Males juga sih harus sms nanyain soal uang,,berasa kayak rentenir aja. Tapi apa boleh buat setelah mengamati perilakunya. Semua orang dibantu,,lah kok gue yang punya hak malah dipinggirin dengan berbagai macam alasan. Setelah gue ngotot baru deh tergopoh gopoh,,kemarin kemarin kemana aja sih?
Hebatnya aku masih bisa maklum, tapi lama lama gila juga ya. Serba susah deh, kalo keseringan sms nanti istrinya nyangkain aku minta minta uang sama suaminya...Masa sih aku harus bilang,,,"Mbak, mbak,,,sorry nih sebelumnya,,tapi suami elo yang minjem duit gue dari 2 tahun yang lalu. Nggak kok, gue gak bakal ngambil suami elo, buat elo aja deh, yang penting uang balik"...he..he
Ya udah...ikhlasin aja kali ya,,,daripada gak enak nagih nagih terus, bisa bisa hubungan persaudaraan rusak gara gara uang. Insya Allah untuk anak sih udah bisa tercover (lagi lagi ya booww,,,gue yang harus puter otak, gara gara jawaban simple : maaf belum bisa,,lg ada bla,,bla,). btw, elo kemana aje kalo gue lagi susah, bro?..ih, boro boro elo sms nanya kabar...ngumpet yang ada.
Yaaa dosa deh gue,,orang lagi kesusahan gue omel omelin...lah gue kan manusia wajar dong kalo punya perasaan jengkel.
Terpaksa deh keluh kesah gak penting ini masuk blog, daripada perang sms ya kan....bisa berasap kepala gue.!!
02 Mei 2010
Suatu hari ditanggal 1 Mei
"Dari skala 1 sampai 10 dalam hal kesejahteraan, dimana skala perusahaan mas ada?" tanyaku kepada seorang pria berblangkon biru. "Wah, rendah sekali mbak." Kata si mas tersebut.
Matahari sedang bersinar dengan terik walau kadang disaput dengan awan. Aku mengarahkan pandang kepada ribuan buruh yang sedang berdemo menuju istana presiden. Sambil berjalan tersaruk saruk di sepanjang Thamrin, aku kembali melirik melalui lensa kamera Lumix memotret buruh buruh wanita yang berbaris menggunakan berkaca mata hitam, eh coklat ding,,,mereka sadar mode rupanya. Para pedagang minuman setia mengikuti dari pinggir jalan. Pengeras suara bergemuruh memutar lagu lagu tentang buruh yang terkadang bersyair kocak.
Kembali kami berbincang, kali ini tentang SJSN yang tak kunjung diterapkan; mas itu adalah salah seorang buruh pabrik baja di kawasan Bekasi sana, ia terbahak saat kutanyakan tentang SPSI. Tak terasa langkah kami sudah mendekati Monas dan sebentar lagi istana megah itu akan terlihat.
Di trotoar jalan yang teduh, di depan gedung gedung kuno pemerintahan yang anggun yang pada hari hari biasa dilewati oleh mobil mobil mewah, hari ini ditempati oleh buruh buruh yang kelelahan berjalan kaki. Mereka duduk menikmati makan siang baik yang dibagikan oleh koordinator atau membeli dari para pedagang yang dengan segera memenuhi sisi jalan yang biasanya terlarang buat mereka. Mirip piknik.
Saya kembali menyelinap diantara kerumunan di depan istana negara. Seorang tua berpakaian hitam dengan rambut digelung, kumis dan cambang putih menghiasi wajahnya tampak sedang diwawancarai. Penampilannya seperti paranormal.
Aku tersenyum geli mendengarnya berapi api menyampaikan pendapat. Lagi lagi seorang Soekarnois. Beberapa pendapatnya agak bertentangan dengan fakta sejarah, tapi biarlah mumpung kita berada di alam kemerdekaan semua bebas berpendapat. Tanpa membuang waktu kuarahkan kameraku kepada kakek paranormal itu.
Iseng, kuarahkan kakiku ke arah bis bis yang mengangkut para demonstran. Beberapa dihiasi dengan poster poster provokatif yang kembali membuatku membuka lensa kamera.
Para pendemo yang baru datang kemudian mengusung poster poster besar. Ah, rupanya ada yang memajang foto Karl Marx besar besar dengan tulisan Bapak Buruh Indonesia....
Demo buruh kali ini juga diikuti oleh penduduk asal Rumpin, Bogor yang sedang bersengketa dengan Badan Pertahanan Nasional.
Tidak ketinggalan para PRT asal Ciganjur juga berpartisipasi. Sayang aku lupa menanyakan gaji mereka perbulan, saat mereka membentangkan poster dan memintaku memotret.
Ah, jika PRT juga ikutan protes celakalah aku....bisa jadi gaji pembantuku juga berada di bawah UMR.
Aku merasa tungkaiku pegal luar biasa, tentu saja berjalan kaki dari bundaran HI sampai Istana bukanlah hal yang enteng buatku. Saat pergi tidak terasa karena banyak moment menarik sepanjang jalan.
Cukuplah pengembaraan saya hari ini. Pengalaman menarik untuk memuaskan rasa ingin tahu. Sejenak aku menengadahkan wajah, bersyukur atas apa yang kualami hari ini, atas bertambahnya wawasan mengenai carut marut negeri ini.
Matahari sedang bersinar dengan terik walau kadang disaput dengan awan. Aku mengarahkan pandang kepada ribuan buruh yang sedang berdemo menuju istana presiden. Sambil berjalan tersaruk saruk di sepanjang Thamrin, aku kembali melirik melalui lensa kamera Lumix memotret buruh buruh wanita yang berbaris menggunakan berkaca mata hitam, eh coklat ding,,,mereka sadar mode rupanya. Para pedagang minuman setia mengikuti dari pinggir jalan. Pengeras suara bergemuruh memutar lagu lagu tentang buruh yang terkadang bersyair kocak.
Kembali kami berbincang, kali ini tentang SJSN yang tak kunjung diterapkan; mas itu adalah salah seorang buruh pabrik baja di kawasan Bekasi sana, ia terbahak saat kutanyakan tentang SPSI. Tak terasa langkah kami sudah mendekati Monas dan sebentar lagi istana megah itu akan terlihat.
Di trotoar jalan yang teduh, di depan gedung gedung kuno pemerintahan yang anggun yang pada hari hari biasa dilewati oleh mobil mobil mewah, hari ini ditempati oleh buruh buruh yang kelelahan berjalan kaki. Mereka duduk menikmati makan siang baik yang dibagikan oleh koordinator atau membeli dari para pedagang yang dengan segera memenuhi sisi jalan yang biasanya terlarang buat mereka. Mirip piknik.
Saya kembali menyelinap diantara kerumunan di depan istana negara. Seorang tua berpakaian hitam dengan rambut digelung, kumis dan cambang putih menghiasi wajahnya tampak sedang diwawancarai. Penampilannya seperti paranormal.
Aku tersenyum geli mendengarnya berapi api menyampaikan pendapat. Lagi lagi seorang Soekarnois. Beberapa pendapatnya agak bertentangan dengan fakta sejarah, tapi biarlah mumpung kita berada di alam kemerdekaan semua bebas berpendapat. Tanpa membuang waktu kuarahkan kameraku kepada kakek paranormal itu.
Iseng, kuarahkan kakiku ke arah bis bis yang mengangkut para demonstran. Beberapa dihiasi dengan poster poster provokatif yang kembali membuatku membuka lensa kamera.
Para pendemo yang baru datang kemudian mengusung poster poster besar. Ah, rupanya ada yang memajang foto Karl Marx besar besar dengan tulisan Bapak Buruh Indonesia....
Demo buruh kali ini juga diikuti oleh penduduk asal Rumpin, Bogor yang sedang bersengketa dengan Badan Pertahanan Nasional.
Tidak ketinggalan para PRT asal Ciganjur juga berpartisipasi. Sayang aku lupa menanyakan gaji mereka perbulan, saat mereka membentangkan poster dan memintaku memotret.
Ah, jika PRT juga ikutan protes celakalah aku....bisa jadi gaji pembantuku juga berada di bawah UMR.
Aku merasa tungkaiku pegal luar biasa, tentu saja berjalan kaki dari bundaran HI sampai Istana bukanlah hal yang enteng buatku. Saat pergi tidak terasa karena banyak moment menarik sepanjang jalan.
Cukuplah pengembaraan saya hari ini. Pengalaman menarik untuk memuaskan rasa ingin tahu. Sejenak aku menengadahkan wajah, bersyukur atas apa yang kualami hari ini, atas bertambahnya wawasan mengenai carut marut negeri ini.
Langganan:
Postingan (Atom)