21 Februari 2010

My writings

Saya sedang mendata tulisan-tulisan yang pernah dimuat, sialnya cuma 3 yang kebetulan menggunakan nama asli, yang lainnya saya lupa menggunakan nama apa dan judulnya juga lupa jadi tidak bisa digoogle...sedih!

bisa diclick di menu my writings saat membuka blog,


20 Februari 2010

Musim Mencari Sekolah

Tahun ini adalah tahun yang cukup melelahkan bagi Asyar, anak saya dan mendebarkan bagi saya. Bagaimana tidak di tahun ini ia harus meninggalkan Seruni, TK yang dicintainya, meninggalkan bunda bunda guru yang telah mengasuhnya selama 3 tahun sejak playgroup. Ia harus melaju menuju sekolah barunya sebuah SD dengan kondisi yang secara psikologis berbeda dengan TK Seruni.

Mulailah saya menyusun jadwal kunjungan ke SD-SD. Saya juga membaca brosur brosur sekolah yang dijejalkan hampir tiap hari di ransel Asyar. Betapa banyaknya sekolah baru bermunculan. Dari SDIT sampai SBI.

Berbekal hasil psikotest dan pembicaraan dengan psikolog anak dari TKnya yang menjadi panduan saya dalam mencari sekolah, Ibu dan anak ini mengukur jalan mendatangi sekolah demi sekolah nyaris di seantero Depok. Dari SPP yang 20 ribu per bulan (saya menggeleng geleng, tapi kondisi sekolahnya lumayan juga), sampai yang SPPnya 1,8 juta per bulan (menghela nafas, tapi memang fisik bangunannya mewah betul, lebih layak disebut kantor)

Setelah menetapkan beberapa sekolah tujuan. Mulailah pengambilan formulir dari yg Rp 100 ribu s/d Rp 500 ribu (bukan main formulir SD saja mahal sekali).

Kasihan anak itu, ia harus menjalani psikotest selama 2 jam di suatu sekolah sebelum akhirnya diterima (hasil psikotest yang sangat lengkap). Sebuah sekolah yang hanya menerima murid sebanyak 15 anak dalam satu kelas. Dengan fasilitas lengkap dengan biaya yang lengkap juga dalam menguras kantong orang tua, ini bukan yang SPP-nya 1,8 juta loh, tidak sanggup. Sisi baiknya sekolah ini sangat menghargai keunikan bakat tiap anak.

Namun, masih ada keraguan dalam hati saya. Melihat fasilitas selengkap itu ada ketakutan dalam hati bahwa anak ini akan tumbuh menjadi anak manja. Padahal ia adalah anak laki laki. Seorang anak laki laki haruslah mandiri dan tangguh.

Maka berbekal informasi dari Kepala Sekolah TK Seruni, saya meluncur menuju sebuah SD di daerah pondok cabe. Nampaknya situasi sekolah ini lebih sesuai dengan keinginan saya.

Sekali lagi Asyar mengikuti tes penerimaan murid baru di hari Sabtu yang untungnya hanya 30 menit. Untunglah ia menjalani tes ini dengan ceria. Seusai tes saya segera memeluknya dan mengajaknya makan es krim di kantin sekolah untuk sekedar menekan perasaan bersalah atas beban yang harus ditanggung oleh anak yang berumur belum genap 6 tahun. Dalam hal ini ribuan anak seusianya mengalami hal yang sama. Orang tua yang panik berusaha mendapatkan sekolah terbaik untuk anak mereka dan membuat sang anak harus menjalani segala macam ujian masuk yang melelahkan.

Namun lagi lagi saya merasa risau, saat menunggui tes saya mendengar pembicaraan beberapa Ibu yang menceritakan bahwa sekolah ini bagus tapi juga cukup berat penekanannya di sisi akademis.

Tiba tiba saya teringat hasil tes yang saat ini mengacu pada multiple intellegence. Di mana setiap anak mempunyai kecerdasannya sendiri. Tes IQ jaman dulu hanya menggarap sisi logika dan bahasa sementara ada banyak sisi yang bisa dikembangkan seperti musikal, kinetik, interpersonal, intrapersonal, natural dan lain lain.

Ketakutan saya bagaimana jika sekolah ini hanya menekankan sisi akademis yang berpegang pada logika dan bahasa saja dan tidak peduli dengan kemampuan anak yang variatif dan unik. Mampukah anak saya beradaptasi dengan situasi ini. Bagaimana jika di tengah tengah pendidikan ternyata bakat non akademis yang menonjol

Hasil tes pertama sementara ini menunjukkan ia mempunyai minat yang cukup baik terhadap matematika dan musik. Hal ini membuat saya ingin ia mengembangkan otak kanannya sebagai penyeimbang.

Saya tidak ingin memaksannya menjadi seorang yang kuat secara akademis jika ia tidak ingin atau tidak mampu. Impian saya adalah Asyar menjadi orang yang mandiri, dapat menjalani pekerjaan yang dicintainya entah itu menjadi seniman, pemusik atau penari sekalipun dan bisa menghidupi dirinya dengan pekerjaan itu.

Tapi nampaknya jalan masih sangat panjang. Untuk masuk SD saja ia masih harus berada dalam kebingungan orang tuanya.

14 Februari 2010

Di Ufuk Barat

Ada yang berubah pada diriku
Waktu merangkak mendekat
dan aku masih mencari kapal
untuk membawaku ke tujuan

tempat aku bebas dari pandangan sekitar
membaringkan diri dengan khayalan
dimana aku bebas memejamkan mata
tanpa harus terlompat oleh kejaran waktu

Senja di ufuk barat
ke sanalah aku menuju
perjalanan ini terlalu panjang
aku terlahir sendiri
dan akan kembali seorang diri

Senja di ufuk barat
tunggulah aku
akan tiba saat itu
saat aku berbaring di pelukan bumi
saat itulah aku tiba di hadapanmu

26 Januari 2010

MOOEI SOS

Suatu hari di tahun 1917, seorang pemuda berwajah rupawan khas pribumi bergegas memasuki kantor harian The New York Tribune di Wina, di Austria.

Orang muda tersebut ingin mengikuti tes untuk menjadi wartawan perang untuk meliput Perang Dunia 1. Para peserta ujian wajib membaca 1 kolom berita dalam bahasa perancis lalu diperas menjadi 1 paragraf berita yang singkat padat dalam 4 versi bahasa : Spanyol, Inggris, Rusia dan Perancis.

Ternyata ia berhasil menyingkat menjadi 27 kata,sementara peserta lainnya menyingkat menjadi 30 kata.

Pemuda itu adalah mahasiswa Universitas Leiden kelahiran Mayong, Jawa Timur bernama RM Kartono yang kemudian dikenal dengan Sosrokartono kakak kandung RA Kartini.

Setelah resmi menjadi wartawan perang koran tersebut Sosrokartono melanglang meliput negara negara yang berkonflik. Puncaknya ketika pada tahun 1918 Sosrokartono berhasil lulus sebagai penterjemah tunggal untuk perundingan perdamaian antara Jerman yang kalah dan Perancis sang pemenang karena memenuhi kualifikasi sebagai ahli bahasa dan kebudayaan serta bukan orang eropa.

Sosrokartono menguasai 26 bahasa asing secara aktif (17 bahasa timur asing, 9 bahasa barat).

Saat media lain sibuk mereka reka tentang perjanjian rahasia tersebut, ternyata The New York Tribune telah mengeluarkan berita lengkap tentang pertemuan tersebut. Adapun nama penulisnya disandikan dengan tiga bintang. Kode itu telah dikenal di kalangan para wartawan perang sebagai kode dari Sosrokartono.

Sosrokartono yang dikalangan gadis gadis eropa dikenal dengan Mooei Sos (Sos yang tampan)juga pernah menjabat sebagai kepala penterjemah di Liga Bangsa Bangsa yang kelak dikenal sebagai United Nation atau PBB di Genewa.

Dengan gaji US 1.250 menurut Hatta, ia bisa hidup sebagai milyuner di Eropa pada saat itu belum lagi pergaulannya dengan para elit birokrat asing karena tugas tugasnya.

Pemuda bumiputera ini mengalahkan para ahli bahasa dari amerika eropa untuk jabatan prestisius itu. Ia juga pernah menjadi atase kebudayaan perancis di Austria.

Suatu kali Sosrokartono terheran heran setelah seorang anak kenalannya sembuh dari penyakit berat dengan hanya disentuh bagian dahinya saja.

Oleh seorang ahli Psychiatry dan hipnose diterangkan bahwa ia mempunyaI kemampuan magnetis yang besar.

Tertarik oleh cakrawala baru, Sosrokartono berhenti dari pekerjaannya dan pergi ke perancis untuk belajar psychometric di sebuah universitas. Namun karena ia lulusan bahasa dan sastra maka niatnya tidak dapat terlaksana.

Akhirnya ia kembali ke Indonesia dan menetap di Bandung, KH Dewantara dengan gembira menawarkan jabatan kepala sekolah di Taman Siswa Bandung. Ia mendirikan panti sastra di Tegal, perpustakaan Darussalam di Bandung dan ikut serta dalam pergerakan nasional serta ia telah meramalkan bahwa Bung Karno akan menjadi pemimpin bangsa Indonesia kelak. Ia juga memperdalam kemampuan penyembuhnya dengan menjalani puasa sepanjang sisa hidupnya sebagai tanda ikut berprihatin akan kesusahan penduduk saat itu.

Sang genius yang spiritualistik itu terkenal sebagai dokter alif dengan hanya menggunakan air putih sebagai media penyembuhan.

Sampai kini ajaran ajaran spiritualnya tetap dijalankan para pengikut Sosrokartono.

Walaupun dianugrahi wajah rupawan, rupanya Sosrokartono lebih memilih membujang selama hidupnya.

Sang Mooei Sos adalah pribadi kosmopolitan bahkan megapolitan yang terbentuk karena anugrah kecerdasan dan kemauan keras yang jarang ada duanya. Ia menjadi manusia kosmopolit bukan karena sekadar pintar bergaul atau dansa dansi seperti Dewi Soekarno misalnya. Tapi ia memang mempunya kualitas yang sulit untuk dibantah.

Sekali lagi Tuhan memang sedang tersenyum saat menciptakan seorang Sosrokartono, saking girangnya mungkin ia terlupa untuk menciptakan jodoh buat Sos.

25 Januari 2010

Jurnalis yang learning by doing

Apa metode perjuangan rakyat Hindia yang paling tajam sehingga melahirkan bangsa baru yang bebas merdeka bernama Indonesia?

Tentu bukan lagi perjuangan bersenjata yang dilakukan terpisah pisah sebelum abad 20. Menjelang abad 20 para pemuda memilih pena sebagai tempat mencurahkan pikiran dan ide ide tentang kebangsaan.

Tentu mereka bukan wartawan, tidak ada satupun diantara para pemula itu yang berlatar belakang ilmu jurnalistik. Mereka adalah para pelajar kebanyakan yang sedang menempuh pendidikan di STOVIA untuk menjadi dokter Jawa atau bahkan lebih rendah dari itu.

Mereka berbekal semangat menulis untuk memprotes, memberikan ide, mencerahkan dan berdebat dengan pemerintah Hindia Belanda bahkan sesama mereka.

Seorang Djokomono atau yang lebih dikenal dengan Tirto Adhi Suryo bahkan harus merelakan sekolahnya berantakan karena lebih bersemangat menulis di koran.

Tirto mengawali karier jurnalistiknya dengan learning by doing.

Demikian pula dengan Wahidin Soedirohusodo, Douwes Dekker, Tjipto dan banyak anggota pergerakan lainnya. Situasi politik yang membuat mereka menjadi jurnalis secara alami.

Lalu bagaimana mutu tulisan mereka? Yang pasti karena tulisan mereka pemerintah Hindia Belanda nyaris muntah darah. Hukum buang berkali kali dilaksanakan tapi tidak menyurutkan langkah para pemuda tersebut. Bahkan daerah pembuangan dimanfaatkan untuk menggalang kerjasama dan bertukar informasi.

Berangkat dari kemampuan menulis yang learning by doing itulah, seorang Tirto menjadi redaktur Pembrita Betawi sebelum akhirnya berkibar dengan Medan Prijaji pada 1907.

Douwes Dekker seorang Indo Belanda yang sempat menjadi tentara dalam perang Boer sebelum kembali ke Hindia dan menjadi koresponden De Locomotief. Melalui pena tajamnya ia mendesak pemerintah Hindia Belanda untuk merubah kebijakan politik etis yang menurutnya cuma topeng agar Belanda tidak kehilangan wilayah jajahannya.

Orang Indo yang merasa lebih pribumi dari pribumi sendiri ini akhirnya menerbitkan De Express pada tahun 1912 bersama sama dengan 2 orang karibnya dalam Indische Partij, musuh bebuyutan pemerintah.

Seorang Kartini pun hanya berbekal pendidikan sekolah dasar resminya dan secara mandiri belajar melalui buku buku bacaan dibalik tembok pingitan. Ia seorang jurnalis alam dengan bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang.

Belum lagi jika kita berbicara tentang Roehana Koeddoes, pemimpin redaksi Soenting Melajoe yang terbit tahun 1912 di Minangkabau. Ia bahkan belajar membaca dan menulis tidak melalui sekolah formal.

Jika dicermati tidak ada satupun dari mereka dan juga lainnya yang berlatar belakang wartawan. Mungkin kalau sekarang itulah yang disebut Citizen Journalism, mereka mengamati, membaca, bertukar pikiran lalu menuangkan apa yang mereka pikir ke dalam surat kabar. Tentu modal mereka yang penting adalah banyak membaca dan banyak menulis.

Pada saat itu surat kabar butuh sekali tulisan, mengingat tingkat melek huruf yang sangat rendah tidak heran jika siswa siswa sekolah menengah mengambil peranan sebagai koresponden.

Namun apa yang dapat dipetik dari keadaan masa itu? jangan menganggap rendah seorang otodidak. Para jurnalis otodidak pada masa itu dapat mengerakkan semangat kebangsaan suatu negeri untuk meraih kemerdekaannya.

Dengan keluasan wawasan, keberanian dan semangat mereka mengawali karir mereka dalam tulis menulis. Tanpa adanya persatuan wartawan mereka tetap saling mendukung satu sama lain.

Di jaman yang lebih maju kita mengenal Rosihan Anwar, sang Begawan Pers Indonesia dengan latar belakangnya yang lulusan School of Journalism ia memang bercita cita dari wartawan, satu dari sedikit orang Indonesia yang berpendidikan formal sebagai wartawan.

Lalu PK Ojong pendiri Kompas dan Intisari yang berlatar belakang sekolah guru, lagi lagi pengalaman jurnalistiknya bermula setelah langsung menjadi wartawan Keng Po.

Seharusnya para wartawan sekarang dapat belajar dari semangat mereka. Organisasi kewartawanan masa kini lebih banyak saling bentrok antar sesama daripada bekerja sama meningkatkan kualitas wartawan.

Yah, jaman telah berubah. Orientasi juga bergeser, wartawan menjadi karyawan gajian koran; kini pemilik modal memegang peranan sentral dalam pemberitaan. Tulisan dapat menjadi jinak atau galak tergantung orientasi politik dan ekonomi suatu koran dimana seorang wartawan bekerja sebagai karyawan.