02 September 2014

Traveling yang Gagal

Siapa bilang yang namanya traveling itu selalu mulus, dapat apa yang dicari.  Nggak gitu dehhh....Kalo udah sial ya sial banget dapatnya..
 
Belum lama ini saya ke Bukit Tinggi demi menonton Pacu Jawi, itu loh karapan sapi ala Sumatera, mirip dengan yang ada di Madura, cuma yang ini tempatnya di bekas sawah yang becek.  Sapi-sapi berpacu melintasi jalur berlumpur menciptakan gambar-gambar eksotis kalau difoto.

Begitulah karena Pacu Jawi ini tidak ada jadwal resmi dan berlokasi di kampung-kampung di Tanah Datar, pedalaman Bukit Tinggi sana, jadilah saya mengontak pak Indra, warga asli Bukit Tinggi yang direkomendasikan oleh adik saya.

Pak Indra ini menyewakan mobil dan sudah biasa dipakai oleh stasiun TV tempat adik saya bekerja untuk liputan.  Dari beliau pula saya mendapat jadwal Pacu Jawi dan kampung yang akan menyelenggarakannya.

Singkat kata, tiket sudah dipesan otomatis pula dengan mobil pak Indra yang akan mengantar saya selama di Padang dan Bukit Tinggi dan penginapan,  O ya sebagai pecandu sejarah, saya juga sudah menyertakan Sawahlunto sebagai tempat yang harus didatangi (kisah di Sawahlunto sudah ada di blog terdahulu).

28 Agustus 2014

JEMBER FASHION CARNAVAL : Pawai Yang Mendunia

"Sebentar lagi stasiun Rambi mbak, setelah itu baru Jember"

Demikian petugas KAI menginformasikan stasiun yang akan disinggahi oleh kereta yang kami tumpangi.  Nampaknya ia iba melihat tampang-tampang kusut kami berdua yang duduk gelisah dalam KA Logawa jurusan Jogja-Jember. 

Sebelumnya ia bertanya tujuan kami ke Jember dan mengangguk maklum saat tahu kami datang untuk Jember Fashion Carnaval (JFC).

Jumat jam 21:55 kami berangkat dari Jakarta menuju Jogja dengan KA Bogowonto dan dilanjutkan dengan KA Logawa hingga sekarang hampir jam 19:30 mendekati Jember.  Total hampir 20 jam dihabiskan dalam kereta dengan biaya yang sangat murah, kelas ekonomi.  

ketiduran
Waktu berjalan dengan lambat dalam kereta, bolak-balik mainin ponsel, motretin orang, ngobrol dan terakhir tidur menjadi tindakan pamungkas.  Tempat duduk bernomor 1A & 1B ternyata menjadi teman setia selama pulang dan pergi.  Menjengkelkan karena dekat toilet yang kadang berbau pesing.

Akhirnya, Jember juga.  Legaaa...dan kami pun turun

12 Agustus 2014

Usai Prabowo Mulai Jokowi

Barangkali kita memang patut berterima kasih pada Prabowo dan Jokowi.  

Karena berkat mereka pemilihan presiden kali ini berlangsung meriah, tidak membosankan seperti 5 tahun yang lalu.

Berkat kesediaan kedua tokoh ini untuk menjadi capres tiba-tiba semua orang bergairah mencari tahu dan berpartisipasi baik sebagai voters pasif maupun voters aktif.  Social media begitu hidup dengan banyaknya update dari para sukwan dan sukwati (meminjam istilah tahun '65 untuk akronim dari sukarelawan) tentang capres pilihan mereka.

Deklarasi pencapresan Jokowi tidak akan sefenomenal ini tanpa adanya tokoh Prabowo demikian juga langkah-langkah Prabowo menuju kursi RI1 tidak akan terasa hangat tanpa kehadiran Jokowi.

11 Agustus 2014

Golkar Dulu dan Sekarang

GOLKAR = pohon beringin, Soeharto, kuningisasi.

3 hal itu rasanya cukup mewakili yang terkilas dalam benak orang saat mendengar nama Golkar.

Tidak salah dan memang wajar karena belasan tahun Golkar menjadi pilihan wajib bagi pegawai negeri dan segenap petinggi negara. Golkar menjadi raksasa karena dipelihara dan difasilitasi negara, karena memang partai yang dulunya bukan partai ini sebenarnya dibentuk sebagai antitesis dari partai-partai yang dianggap sering merecoki kinerja kabinet.


gambar dari google


Soekarno yang merasa gerah dengan perselisihan antar partai mengemukakan gagasan untuk mendirikan satu organisasi yang tidak lagi berazaskan ideologi tertentu namun anggotanya mempunyai fungsi-fungsi  yang berbeda yang dipersatukan oleh tujuan.

Perdana Menteri Juanda Kartawidjaja menegaskan bahwa organisasi ini menampung semua orang yang berasal dari beragam

23 Juli 2014

Gugatan Senyap Pranoto Reksosamodra

Takdir memang punya rute sendiri, ia mandiri tak terikat dengan jejak keringat manusia yang menginginkan takdir sesuai dengan impiannya.

Begitu pula dengan perjalanan hidup Mayor Jenderal Pranoto Reksosamodra.

Orang di masa kini mungkin tidak mengenal mantan perwira tinggi ini. Namanya kalah bersaing dengan teman-teman sejamannya baik yang di pihaknya maupun yang berseberangan. Ia pun tidak sevokal rekan-rekannya dalam menuntut keadilan.

foto : Google
Bagi para penonton setia film G30S pasti ingat adegan saat Soekarno memunjuk Pranoto sebagai caretaker Menteri Panglima Angkatan Darat menggantikan Ahmad Yani yang terbunuh namun Soeharto secara halus menolak keputusan itu.  Yang luput dari perhatian bagaimanakah nasib Pranoto pasca penolakan itu karena perhatian kita terfokus pada tokoh-tokoh utama G30S.