17 Agustus 2010

17 Agustus yang menyedihkan

Tahun ini 17 Agustus terasa lesu untuk saya, selain karena puasa tentunya. Tahun ini saya tidak memasang bendera merah putih di depan rumah. Biarlah bendera itu terlipat rapi di tempatnya.

Tahun ini sungguh mengecewakan melihat tingkah Presiden, DPR dan aparat pemerintah lainnya.

Dari Lapindo yang tidak dipedulikan, coba dibandingkan dengan kasus minyak British Petroleum yang bocor sehingga mencemari teluk Mexico, Barack Obama turun tangan menekan BP agar cepat menyelesaikan masalah tersebut. Sedangkan dalam kasus Lapindo, SBY diam seribu bahasa.

Gas elpiji sudah meledak berkali kali, sedang Presiden sibuk curhat tentang rencana pembunuhan seri kesekian. "Pak, rakyat sudah gosong...mau curhat kemana?"

Apakah Presiden masih mempunyai wibawa saya juga kurang jelas,,,yang bisa dilakukan cuma menghimbau...apa kekuatan dari himbauan, tidak ada payung hukum yang kuat.

Pagi tadi upacara di Istana benar benar memuakkan, saya lebih memilih melihat upacara bendera di Tugu Proklamasi yang lebih menarik dan manusiawi.

Buat saya lebih bermanfaat mendengarkan uraian Anhar Gonggong dan Asvi Warman Adam dibandingkan mendengar pidato omong kosong dari Istana Negara.

Bagaimana kalau pilpres dihapuskan? rasanya kita tidak butuh Presiden dan Menteri apalagi DPR.

15 Agustus 2010

Kota yang Terlupakan

Peringatan hari kemerdekaan RI tahun ini jatuh pada bulan puasa, mengingatkan saya bahwa saat proklamasi kemerdekaan tahun 1945 itu pun terjadi di bulan puasa pula.

Diawali dengan penculikan dwitunggal tersebut oleh para pemuda seperti Soekarni dan Wikana. Di Rengasdengkloklah para golongan tua dan golongan muda berdebat tentang cara untuk mendapatkan kemerdekaan.

Proklamasi boleh saja diumumkan di Pegangsaan Timur No 56 Jakarta Pusat namun di Rengasdengkloklah bendera merah putih dikibarkan pertama kali sebagai tanda pernyataan kemerdekaan Indonesia sehari sebelum tanggal 17 Agustus.

Saya kuatir nasib Rengasdengklok, sebuah kota di kabupaten Karawang Jawa Barat akan sama dengan Banda. Dari Bandalah kesadaran akan nasionalisme berawal. Dari kota kecil di sudut Karawang sanalah pernyataan kemerdekaan bermula. Namun 2 kota tersebut nyaris hilang dari ingatan masyarakat.

Lagi lagi Jakarta mengambil alih semua kehormatan yang sebenarnya patut diberikan kepada kota kota terpencil tapi mempunyai jasa luar biasa terhadap keberadaan negara Indonesia.

30 Juli 2010

Kutub Kutub dalam Islam

Beberapa hari yang lalu saya menerima email dari kalyana Mitra berupa tulisan oleh Siti Musdah Mulia berjudul "Melawan Fundamentalis : Memuliakan Perempuan".

Tidak ingin salah persepsi mengenai apa itu fundamentalis, saya berusaha mencari referensi tentang apa arti fundamentalis dalam Islam. Memang dalam wikipedia fundamentalis adalah pemahaman secara literal terhadap teks. Adapula yang memaknai Islam fundamentalis sebagai bentuk perlawanan terhadap ideologi Barat yang cenderung sekuler dengan cara kembali kepada cara cara yang tertulis dalam Quran dan sunnah.

Bahkan belakangan saya menemukan istilah tambahan tentang Islam fundamentalis. Haidar Bagir menyebutkan sebagai Islam fundamentalis liberal dan Islam fundamentalis literal...nah lo!....Rasanya cuma Islam yang memiliki sangat banyak pergulatan internal seperti itu.

Saya pribadi cenderung menganggap Islam fundamentalis semestinya tidak seperti itu. Islam pada masa Muhammad dibangun atas dasar semangat keegaliteran terhadap laki laki dan perempuan. Para istri Muhammad digambarkan sebagai perempuan perempuan yang bebas mengemukakan pendapat di hadapan sang suami.

Entah pada perkembangan selanjutnya, melewati ratusan era pemerintahan selama ribuan tahun, ajaran tentang semangat persamaan derajat dan hak bisa saja tereduksi dengan adanya multi tafsir yang awalnya juga diilhami dari semangat Ijtihad.

Islam dasarnya adalah agama yang ramah dan toleran. Banyaknya aliran dalam Islam pada dasarnya adalah Islam menerima bentuk keragaman sebagai hakikat dari ciptaan Tuhan itu sendiri.

Di negara negara timur tengah seperti Afganistan, Iran dan Sudan, Islam dilukiskan oleh para penulis sebagai agama yang kejam tidak menghargai perbedaan dan kaum perempuan. Sudah tentu ini menjadi mindset yang tertanam sedemikian kuat tentang Islam fundamentalis.

Mungkin mereka akan berpandangan lain, apabila menoleh ke Indonesia. Dimana Islam menampilkan wajahnya yang ramah dan toleran. Dimana para wanitanya bebas berjilbab atau tidak, bebas keluar rumah dan mempunyai jabatan seperti layaknya kaum pria. Setidaknya saya sebagai orang Indonesia, merasakan Islam tidak seseram seperti yang ditulis dalam buku buku.

Penyebaran Islam di Indonesia berlangsung dengan damai sama sekali tidak ada ciri sebagai agama pedang seperti yang tertulis dalam banyak literatur.

Di Indonesia sendiri dikenal juga istilah kaum Islam tradisionalis dan Islam modernis. Yang disebut dengan Islam tradisionalis belum tentu fundamentalis sedangkan kaum modernis belum tentu otomatis menjadi liberal. Contohnya : almarhum Gus Dur yang berasal dari kaum tradisional NU tapi dikenal sebagai pemikir beraliran liberal.

Saya pribadi tidak ingin terjebak pada kutub liberal dan fundamentalis, dimana keduanya ngotot mempertahankan pemahaman mereka atas teks kitab suci. Pada dasarnya saya mempunyai tafsir pemahaman tersendiri terhadap Islam.

Saya setuju bahwa penafsiran terhadap teks kitab suci haruslah dinamis sesuai dengan jaman selama ijtihad yang dilakukan tidaklah bertentangan dengan kodrat kita sebagai manusia dengan segala keterbatasannya. Namun saya juga kurang setuju dengan tulisan tulisan yang mendeskripsikan Islam sebagai agama kasar dan kejam tanpa mempertimbangkan budaya yang berlaku dalam suatu negara yang bisa jadi tercampur saat menafsirkan ayat ayat Quran.

Irshad Manji, penulis kelahiran Canada yang menjadi terkenal gara gara bukunya "A Trouble with Islam today". Atau telah dialihbahasakan menjadi "Beriman tanpa rasa takut"

Sangat banyak respond terhadap buku tersebut dan juga kehidupan pribadi sang penulis. Manji menuliskan bahwa ia mempunyai pengalaman kurang menyenangkan dengan otoritas keagamaan. Sepertinya pengalaman itu yang membentuk kerangka berpikir demikian.
Kalangan liberal seperti JIL menganggap buku Manji membawa pencerahan sementara kalangan lain menganggap sebagai bentuk penistaan terhadap agama.

Saya menganggap buku itu adalah bentuk pendapat pribadi yang harus dihormati tanpa harus membela kaum liberal atau fundamentalis seperti juga saat saya membaca tulisan Siti Musdah Mulia terlepas dari setuju atau tidak.

Mungkin apa yang dikemukakan oleh Jalaludin Rahmad walaupun tidak ada hubungan dengan buku Manji cukup relevan dengan apa yang terjadi saat ini. Bahwa baik kaum liberal maupun fundamentalis harus belajar menerima eksistensi kelompok lain yang berbeda sikap. kaum liberal harus membuktikan bahwa mereka tetap berpegang teguh terhadap syariah sementara kaum fundamentalis juga harus belajar menerima perbedaan.

Bahwa perbedaan dalam Islam haruslah menjadi rahmatan li'l alamin dan dapat mendorong semangat kaum muslim untuk menyongsong perubahan.

17 Juli 2010

Dalam Gerai Kopi

Apa yang dirasakan jika duduk di kedai kopi mahal seperti starbuck? menikmati aroma kopi mahal yang dikeluarkan oleh mesin pengolah kopi berkecepatan tinggi yang memakan daya listrik ratusan watt, menjawil banana cake yang nikmat seharga hampir 13 ribu perak per slice.

Ada rasa ada harga, begitu kata orang. Apa iya...sudah berapa kali aku ke starbuck, coffee bean rasa kopinya biasa malah lebih enak kopi sachet menurut selera lidahku atau karena pada dasarnya aku penggemar teh kampung bukannya kopi. Alaaaah..itu karena harus bayar sendiri, coba dibayarin...begitu kata temanku.

Kembali aku mencoba kopi kopi mahal tersebut, kali ini dengan voucher gratis dari kantor. Perubahan rasa yang kuharapkan tidak terjadi. Tetap saja asing dan jauh, tidak membawa kerinduan untuk kembali....seperti kutipan Jenderal MacArthur "I shall return"

Kuamati kembali interior apik, kursi kursi nyaman dan suasana sejuk tetap saja tidak dapat mengikatku untuk berlama lama di tempat itu.

Puas menilai isi gerai, kembali mataku tertuju pada harga harga yang tertera di papan belakang para Barista. Bukan main...pikirku....harga tall late, alias late ukuran paling kecil di atas 30 ribu rupiah. 27 ribu rupiah adalah yang paling murah untuk tall late belum termasuk pajak.

kudengar gaung mesin mesin pengolah kopi berderum halus,,,berapa ratus watt listrik yang dihabiskan untuk sekedar membuat kopi,,aku bertanya tanya

Menyajikan kopi bermutu terbaik dari Indonesia, begitu yang kesan kutangkap dari beberapa reklame yang terpasang. Reklame itu menyebutkan beberapa jenis dan daerah penghasil kopi di Indonesia. Kopi kopi pilihan yang dinikmati oleh orang orang segment tertentu kalau melihat dari harganya.

Kembali aku tercenung melihat gelas kopiku. Uang 34 ribu hanya untuk 1 gelas kopi, kembali batinku mendesah. Kutekan kuat kuat rasa bersalah, baru saja pagi ini aku mendengar berita seorang anak bunuh diri karena orang tuanya tidak sanggup membiayai sekolahnya. Aku juga harus memalingkan muka melihat pengojek payung kecil berdiri kedinginan di luar dengan bibir membiru menunggu orang yang ingin memakai jasanya.

Sudah cukup siksaan ini, pikirku,,,,Tergesa gesa aku berdiri berpamitan pada temanku untuk keluar gerai kopi.

Tersaruk saruk aku berjalan ditemani malam, tak dapat dielakkan kilasan kehangatan warung kopi sederhana di sudut merapi yang dingin yang selalu terlintas di benak. Dimana aku merasa tak berjarak; Sederhana tapi tak kan terlupa.

01 Juni 2010

Refleksi tentang Iran

Week end lalu saya sempat menambah beberapa buku. Satu mengenai Iran dan budayanya, satu lagi tentang sosiologi Islam dan yang lain buku tentang ahmadinejad. 2 buku terakhir belum habis dibaca, karena kelelahan pulang kantor ditambah harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena sudah menyerah menghadapi pembantu yang bertingkah aneh aneh plus harus mengerjakan PR tulisan yang terbengkalai dan dikejar deadline.

Agak unik secara tidak sengaja semuanya menyinggung tentang Islam, saya baru sadar saat mengeluarkan ketiganya ditambah dengan maraknya berita serangan tentara Israel atas kapal Mavi Marmara yang mengangkut para relawan dari berbagai negara menuju Gaza di perairan Internasional.

Kompas sebelumnya juga mengeluarkan laporan tentang Iran, suatu kebetulan yang aneh. Sehari sebelumnya saya sedang mencari buku yang ditulis oleh jurnalis Trias Kuncahyono tentang Jalur Gaza.

Nampaknya minat saya terhadap apa yang terjadi di Timur Tengah plus konflik Israel Palestina mulai mendaki titik kulminasi. Mungkin dari apa yang disajikan di berbagai tulisan media, konflik yang terjadi antara Israel - Palestina bukanlah pertentangan antara Islam, Kristen dan Yahudi namun merupakan konflik kemanusiaan. Di Palestina sendiri warganya juga banyak yang beragama Kristen dan Yahudi terjebak dalam blokade Israel.

Dalam pemerintahan, Israel dikuasai oleh garis keras dengan paham zionis-nya bahkan Amerika yang katanya negara adi kuasa patut diragukan powernya. Dominasi yang terjadi adalah Dominasi Zionis dan bukan lagi murni Amerika. Bukan rahasia lagi bila senat Amerika dikuasai oleh mayoritas warga Amerika keturunan Yahudi.

Bahkan ada desas desus jika kematian presiden Amerika John F Kennedy didalangi oleh Yahudi mengingat sikap kerasnya terhadap konflik Israel Palestina.

Baru baru ini saya membaca buku tentang Ahmadinejad yang ditulis oleh Kasra Naji, wartawan BBC. Sayang buku yang saya harapkan memberikan wawasan tentang sikap keras presiden Iran sangat mengecewakan karena tampak jelas keberpihakan Kasra Naji terhadap pihak eropa dan amerika. Ia menempatkan Iran sebagai negara yang patut diwaspadai karena berani melawan dominasi barat dan sang presiden yang digambarkan buta politik dengan keyakinan yang aneh tentang Imam Mahdi sebagai penganut Syiah. Surat-surat yang dikirimkan kepada Bush dan Kanselir Jerman, Angela Merkel diolok olok sebagai lelucon dari orang yang dianggap memiliki wawasan sempit tentang situasi luar negeri.

Sungguh berbeda dengan apa yang sering dilaporkan media, Iran digambarkan sebagai negara yang sangat independen dalam menghadapi embargo ekonomi AS, bahkan dalam bidang akademis Iran menduduki peringkat tinggi dalam sains. Walau seperti pemerintahan lain di dunia, Iran juga rawan korupsi yang dilakukan oleh para Mullah.

Walau demikian buku ini memberikan sudut pandang yang lebih jelas tentang carut marut peta perpolitikan negeri para Mullah itu. Dimana masyarakat Iran sangat tunduk kepada pemimpin spiritual mereka, Ayatollah Khomeini dan yang sekarang digantikan oleh Ali Khamenei.

Dukungan sang Ayatollah terhadap siapa pun pemimpin Iran merupakan kunci untuk menduduki jabatan kepresidenan.

Lagi lagi sejarah membuktikan bahwa manusia yang dianggap suci seperti Ayatollah pun bisa melakukan ketidakkonsistenan. Saya teringat dengan skandal Iran kontra di tahun 1980 yang melibatkan presiden AS saat itu, Ronald Reagan.

Reagan sedang berkampanye untuk meraih jabatan presiden melawan Jimmy Carter. Sedangkan Iran sedang bertempur melawan Irak sesama muslim. Pada saat yang bersamaan terjadi penyanderaan terhadap warga AS di Teheran. Yang terjadi adalah pertukaran; AS memberikan senjata buatan Israel untuk melawan Irak ditukar dengan pembebasan seluruh sandera.

Skandal ini terbongkar dan memalukan kedua belah pihak. Hubungan Iran dan AS tidak pernah membaik. AS melarang Iran meneruskan pembangunan industri nuklir yang mulanya justru disponsori oleh AS sendiri saat pemerintahan Shah Reza.


Mungkin kita tidak perlu mencontoh mentah mentah sikap Iran terhadap AS, tapi kita perlu melihat keberanian dan harga diri Ahmadinejad dalam menghadapi dominasi Amerika.

Bagaimanapun keberanian Indonesia mengambil sikap abstain saat voting penerapan sanksi ekonomi atas Iran di rapat Dewan Keamanan PBB tahun 2008 patut dihargai. Indonesia adalah satu satunya yang berani mengambil sikap abstain saat itu saat semua negara dalam sidang Dewan Keamanan menyetujui sanksi tersebut.