Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

01 Desember 2020

Terpana di Timor

 

Bekas tambang marmer di Mollo

Sudah melewati pertengahan November, Jabodetabek tiap hari hujan.  Banjir pun sudah melanda.

Tapi di wilayah NTT tidaklah begitu.  Matahari tetap menyengat walau terkadang disaput mendung, namun hujan terlihat masih enggan turun di wilayah ini.

Fian, driver kelahiran Soe yang menjemput dan

03 Agustus 2018

Pemeliharaan Bangunan Tua dan Permasalahannya


SAMPAI DETIK INI

Pemeliharaan bangunan tua masih merupakan masalah di Indonesia.

Pemberian label sebagai bangunan cagar budaya tidak berarti semua masalah teratasi terutama bagi bangunan yang dimiliki oleh perorangan sebagai warisan dari leluhurnya karena tidak ada insentif dari pemerintah yang diberikan kepada pemilik bangunan, baik pengurangan pajak maupun bantuan dana perawatan.

Keluhan-keluhan semacam itu yang terungkap saat workshop mengenai pemanfaatan bangunan cagar budaya tanggal 30 Juni lalu.  Rudi, pemilik bangunan tua yang kini menjadi hotel Tiongkok Kecil di Lasem mempertanyakan partisipasi pemerintah daerah dalam pemeliharaan bangunan-bangunan tua di Lasem yang kini menjadi target pariwisata.

Para pengelola mesjid Langgar Tinggi di Pekojan yang merupakan bangunan cagar budaya juga memaparkan masalah kerusakan yang terjadi pada bangunan mesjid yang membutuhkan dana perbaikan tidak sedikit.  Masalah ini pernah diajukan ke dinas pariwisata dan kebudayaan dengan dokumen lengkap baik RAB, foto kerusakan dan design konstruksi namun terbentur oleh masalah biaya.  Dinas hanya sanggup membiayai maksimal Rp 200 juta sedangkan dana yang dibutuhkan mencapai dua milyar.  Masalah ini terkatung-katung hingga sekarang.

09 November 2017

MENGHAMPIRI PANTAR, MENYAPA LEMBATA


Ini kedua kalinya saya menginjak tanah yang dijuluki surga di timur matahari.

Duduk di dekat jendela pesawat membuat saya bebas memandang lautan biru lembut yang membentang di bawah.  Baru pertama kali saya dapat melihat panorama Alor dari kaca jendela.  Pada perjumpaan pertama dahulu saya mendapat kursi di pinggir lorong pesawat.

Alor kali ini menjadi semacam persinggahan sebelum menuju pulau Pantar dan Lembata melalui laut. Pulau Pantar walaupun masih berada dalam kabupaten Alor namun butuh waktu cukup lama dicapai dengan menyeberangi laut 

Karena kapal penumpang sudah berangkat dari jam 8 pagi maka saya menginap semalam di Alor. Cukup untuk sekadar napak tilas dan menjenguk tempat yang belum dikunjungi; apalagi bersamaan dengan adanya pembukaan Expo Alor di lapangan Kalabahi

Menginjak bandara Mali kali ini rasanya amat sangat santai, berbeda dengan saat pertama kali dulu yang agak tegang karena masih belum kenal situasinya.  Saat transit di bandara Kupang saya sudah mengontak pemandu andalan, Om Marlon yang akan mengantar ke Pantar dan Lembata.

03 Agustus 2016

Pandan Berduri di Tenganan

Minggu lalu, dalam 4 hari saya pergi ke Bali, tepatnya daerah Tenganan dan Palembang.

Ada apa di Tenganan? jawabnya: Mekare-kare alias perang pandan.  Mekare-kare adalah tradisi masyarakat di desa Pegringsingan dan Dauh Tukad, dimana untuk menghormati dewa Indra warga kedua desa di Tenganan tersebut mengadakan ritual duel satu lawan satu dengan bersenjatakan ruas-ruas daun pandan berduri.

Ritual tersebut pada tahun ini diselenggarakan di desa Tenganan Dauh Tukad tanggal 22 Juli 2016 sedangkan di Tenganan Pegringsingan pada tanggal 25 Juni.

Jadi pada tanggal 21 Juli, menggunakan pesawat pagi saya tiba di Ngurah Rai, seorang pria muda bertato menjemput saya di bandara.  Itu lah bli Putu yang selama hari ini dan besok akan mengantar saya.

Karena yang di Pegringsingan sudah lewat, maka saya mengarah pada ritual Mekare-kare yang diselenggarakan di Dauh Tukad.  Daerah Tenganan berjarak cukup jauh dari bandara.  Dengan mobil dibutuhkan waktu 1.5 - 2 jam dengan jalan dalam kondisi lancar untuk mencapai Tenganan.  Mengingat hal itu maka saya memutuskan menginap di sekitar Candidasa.

Karena jarak yang cukup jauh itulah maka daerah Candidasa relatif sepi dari hiruk pikuk wisatawan, walau begitu banyak wisatawan mancanegara yang justru menginap di daerah ini, terlihat dari peginapan kelas menengah yang berderet-deret di sepanjang jalan.

Lorong di desa Dauh Tukad

13 Juni 2016

Kendi Kuno Kini

Kali ini membahas tentang pentingnya tempat air di masa lalu. 

Tentu saja tempat air masih penting di masa kini, dengan bentuk dan bahan yang umumnya dari plastik keras dan dapat dibeli bebas di mana saja.

Di masa lalu kita mengenal kendi sebagai tempat menaruh air.  Kendi dipakai baik dalam kegiatan keseharian maupun dalam kegiatan upacara sakral.  Dari kendi juga tercatat pengaruh budaya berdasarkan bentuk, ukiran/goresan yang tertera di atas permukaan sebagai hiasan.  Kendi pun termasuk dalam muatan kapal yang menyampaikan sepenggal kisah kepada para arkeolog bagaimana dan kemana muatan tersebut akan menuju.  Sekaligus memberitakan betapa masyarakat kita benar-benar menyatu dengan laut pada masa lalu.

04 Maret 2016

Cap Go Meh, Postingan telat

Duh, lupa posting foto-foto Cap Go Meh di Glodok tanggal 21 Februari lalu.

Jadi inilah acaranya.  Dimulai dari depan Lindeteves ke arah Harmoni sebelum sampai Harmoni ada putaran balik lalu pawai balik arah kembali ke arah Lindeteves.

Sudah mulai rame di jalan Gajah Mada


Duduk dulu

16 November 2015

Pentas Komunitas: BARATAYUDA

BARATAYUDA.

Di malam yang basah karena hujan turun tak kenal kompromi, sebuah pentas tari akan dimainkan oleh gabungan beberapa komunitas.  Para dosen, Komunitas Cinta Berkain, Sisingaan, penari Bharata.  Pokoknya orang-orang yang cinta menari.

Di Gedung Pewayangan Taman Mini, dengan penata artistik Elly D. Luthan dan penata musik Blacius Subono, para penggemar tari sekaligus wayang dapat menyaksikan teman dan kerabat tampil membawakan lakon Baratayuda dalam durasi 90 menit.

Yang sedikit berbeda adalah kostumnya.  Biasanya dalam wayang orang, penari perempuan menggunakan atasan kemben, yang sekarang ini menggunakan atasan kebaya, lalu mahkota para tokohnya bukan seperti yang kita lihat dalam pentas wayang orang Bharata, melainkan mirip gelungan kain,

Inilah foto-fotonya:

Abimanyu gugur


Gatotkaca mangkat

26 Februari 2015

IMLEK DI BOGOR - Merayakan Keberagaman

Imlek tanggal 19 Februari kemarin memang ditemani oleh hujan sepanjang hari.

Namun cuaca mendung dan suram itu tidak menyurutkan semangat warga yang terus berdatangan ke klenteng-klenteng untuk memanjatkan doa.

Klenteng Jin De Juan di kawasan Petak sembilan misalnya dipenuhi oleh warga Tionghoa dan juga pengemis di luarnya.

Saya memilih Bogor untuk menyaksikan kemeriahan Imlek, tepatnya di vihara Dhanagun atau klenteng Hok Tek Bio di kawasan Suryakencana.  Gara-gara iseng mengikuti GPS, padahal tidak perlu juga, kita malah nyasar ke kawasan Ciampea,,,di tengah pasar Ciampea memang ada klenteng bernama Ho Tek Bio...hahhaha..Sial!!

  Tapi akhirnya sampai juga di tempat tujuan.walau sudah siang sekali. Namun masih banyak warga yang datang bersembahyang.


30 November 2014

721 Tahun Majapahit : Berpacu Dengan Zaman

"Buku apa itu?"tanya mang Hasan,,sontak saya langsung menunjukkan buku mengenai Rajapatni Gayatri yang membahas peranan putri bungsu Raja Kertanegara dalam menegakkan Majapahit.


Mang Hasan manggut-manggut melihat cover depan buku itu.  Profesor Hasan Djafar yang kerap dipanggil mang Hasan yang juga ahli epigrafi dan arkeologi itu lalu menunjuk gambar arca Pradnya Paramitha yang terdapat di sampul depan.

"Sejauh ini dari bukti tertulis yang terbaca dalam Pararaton, yang dikaitkan dengan Pradnya Paramitha adalah Ken Dedes dan bukan Gayatri.  Arca Paramitha yang ditemukan di candi Singasari sudah pasti bukan mengacu pada Gayatri."  Demikian mang Hasan menegaskan.

Gapura Bajang Ratu
Dalam kesempatan memperingati 721 tahun Majapahit.  Mojokerto , terutama dusun Jati Sumber yang masyarakatnya banyak menjadi pembuat arca secara guyub membuat acara khusus.  Penduduk dusun meyakini bahwa pusat kerajaan Majapahit berada di Tanah mereka. Begitulah yang terasa dari sambutan salah tokoh saat rombongan kami tiba.  Dusun itu menjadi tempat dibangunnya Mandala Majapahit sebuah tempat untuk berkumpulnya para pemerhati Majapahit merangkap juga balai desa dengan perpustakaan kecil di sampingnya.


Mandala Majapahit di dusun Jati Sumber

06 November 2014

Menanam Harapan Untuk Suramadu

Berbicara tentang daerah sekitar Suramadu (bpws.go.id, saya teringat beberapa waktu menjelang kepergian saya ke Madura.  Mencari kendaraan dari Surabaya ke Madura ( http://plat-m.com/ )Bukan hal yang sulit memang, karena memang bejibun travel dan bis ke Madura.  Namun ada catatan waktu itu yang mendasari pemilihan kendaraan.

Umumnya disarankan agar memilih bis Patas dari terminal Bungurasih dan bukan bis biasa karena bis biasa melewati selat yang berarti melalui pelabuhan; bis Patas langsung melalui jembatan Suramadu dan dari segi waktu lebih cepat karena tidak perlu mengantri.

Dan memang dari jalanan kota Surabaya langsung melaju menaiki Jembatan yang menyambungkan Surabaya dan Madura,  dan dalam waktu singkat sampai sudah.

Sekilas dari atas jembatan terlihat pelabuhan Tanjung Perak yang sepi, ada beberapa kapal yang sedang berlayar di tengah selat.

Ini pertama kalinya saya ke Madura jadi saya tidak pernah merasakan eksotisnya menyeberangi selat Madura.

Ada kejadian lucu 2 minggu sebelum keberangkatan, saat saya menelepon hotel di Pamekasan untuk memesan kamar.  Kedatangan saya memang ingin menyaksikan kerapan sapi piala Presiden di GOR Pamekasan.  Informasi ini saya peroleh dari blogger madura Plat M (http://plat-m.com/ ) dan ketika iseng saya tanyakan event itu pada resepsionis, cukup surprise karena mbak resepsionis malah tidak tahu bahwa akan ada event seseru itu yang cukup banyak menarik perhatian turis asing.

Kejadian lucu kedua adalah saat mengobrol dalam mobil travel yang mengangkut saya dari Surabaya ke Pamekasan.  Para penumpang travel yang semuanya mahasiswa asal Madura tidak mengetahui ada tempat bernama Gili Labak ataupun Kalianget.  Apa yang salah?  Jika penduduk Madura sendiri kurang paham tentang wilayahnya maka itu adalah juga tugas pemerintah daerah untuk secara masif mendorong rakyatnya agar tahu tentang tanah kelahiran mereka.

26 September 2014

Jawa Suriname

 
-->
Penghapusan perbudakan yang dikumandangkan oleh Abraham Lincoln tahun 1863 telah sampai gemanya ke negara-negara koloni Belanda seperti Suriname.  Akibatnya koloni yang menyandarkan perekonomiannya pada perkebunan itu mengalami kesulitan mendapatkan tenaga kerja yang murah untuk mengurus ratusan hektar tanah perkebunan.



Pemerintah kolonial pun melirik tanah jajahannya di Hindia Belanda.  Sebagai percobaan, tahun 1890 dikirimkan seratus orang Jawa ke Suriname untuk dipekerjakan di perkebunan Tebu Marienburg.  Para pekerja kontrak asal Jawa itu menandatangani (dipaksa?) kontrak kerja selama 5 tahun dengan upah sekitar 60 sen untuk pria dan 40 sen untuk wanita.



07 Desember 2013

SEREN TAUN GURU BUMI

Menginjak lagi stasiun Bogor setelah bertahun-tahun kemudian menyeret semua kenangan semasa saya bersekolah di kota Bogor dan mengakrabi stasiun tua ini.

Tentu saja saya sering ke Bogor setelah itu tapi tidak dengan kereta.

Turun dari kereta dan melintasi rel kemudian keluar stasiun.  Saya dibuat tercengang melihat jalan kecil di depan stasiun. 
Sepanjang ingatan, jalan ini dulunya ruwet dan macet oleh angkot, ojek, serta pedagang kaki lima, namun kini, saya tolah toleh kebingungan karena angkot dan motor tidak lagi menyesaki tempat ini, pedagang kaki lima tetap ada tapi duduk dengan tertib di sisi jalan dan tidak tumpang tindih.

Jalan yang dulunya semrawut kini menjadi pedestrian dimana para pejalan kaki bisa berjalan santai di tengah-tengah tanpa takut tertabrak kendaraan.


Lumbung

12 September 2013

Terlunta-lunta demi Candra Naya




Deuuhhhh!!!....jalan di bawah matahari terik ditambah polusi adalah hal yang paling dibenci perempuan manapun, walaupun yang mengaku paling tomboy dan gak peduli dengan tetek bengek kecantikan.


Termasuk saya yang cuma setengah tomboy setengah pesolek.  Sepanjang kaki melangkah, saya tak henti bersumpah serapah..dalam hati.

24 Agustus 2013

Mampir di Festival Jalan Jaksa

Pernah dengar tentang festival jalan Jaksa?  



Yah, event ini mungkin memang tidak seheboh seperti Kemang Festival atau festival lain yang ada di Jakarta, tapi ini beneran ada loh, sudah dari tahun 1994.

Jalan Jaksa itu sendiri tidak begitu panjang sebenarnya.  Bila masuk dari arah Jalan Kebon Sirih Raya, tepat di samping Sate Senayan lurus sampai ke hotel Morrisey, paling hanya butuh waktu tidak sampai 10 menit jalan kaki santai.

24 Juni 2013

Jakarta Berpesta

Di bawah sinar bulan Purnama, hati susah tak dirasa, 
Gitar berbunyi riang gembira
Jauh malam dari petang.

Suara biduan Keroncong Tugu mendayu-dayu, mengajak siapa pun yang lewat ikut merasakan elusan suara biola dan bas yang dibunyikan secara ritmis.




Bukan Jakarta kalo tidak ada pesta Hut yang meriah. Demikian juga hari ini, Sabtu bertepatan dengan Hut ke 486 bila dihitung sejak penaklukan oleh Fatahillah di tahun 1527.

Serentetan acara diadakan. Dari pagi panggung-panggung disiapkan di sepanjang Thamrin, dari Imam Bonjol sampai Monas.



11 Desember 2012

Pergulatan Tionghoa Muslim


Jika masih teringat pasca kerusuhan tahun 1998, banyak toko, warung atau ruko yang ditempeli tulisan "100% milik pribumi dan Islam".  Hal-hal yang mendasari pikiran si pemilik usaha untuk menuliskan hal tersebut tak lepas dari kondisi psikologis masyarakat terutama dari etnis Tionghoa yang menjadi sasaran amuk masa.

Menjadi Tionghoa di Indonesia sebelum tahun 1998 harus diakui penuh dengan diskriminasi politik.  Negara beserta aparatnya justru menjadi agen utama yang secara sadar merumuskan sejumlah peraturan yang mengebiri hak warga negara dari etnis tersebut.  Larangan menjadi pegawai negeri dan berpartisipasi aktif dalam politik diterapkan selama puluhan tahun.

Asimilasi yang dipaksakan menjadi keharusan.  Mereka bahkan diharuskan memilih satu dari lima agama yang diakui oleh pemerintah dengan mengabaikan budaya asal.  Tidak peduli mereka telah tinggal di Indonesia ratusan tahun sehingga tidak mengenal lagi negeri Cina, tetap diwajibkan memiliki SKBRI.

Pemberontakan PKI 1965 menjadi dasar pembalasan dendam terhadap segala sesuatu yang berbau Cina.

06 November 2012

OngHoKham - Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina

Sebuah buku lama, bukan terbitan terbaru, sudah dibaca berulangkali namun tidak rugi untuk dibaca kembali.

Onghokham, seorang ahli sejarah yang kebetulan keturunan Cina menguraikan tentang peranan orang Tionghoa dalam sejarah keberadaan Indonesia.

Orang Cina memang mendapat peranan sebagai perantara dalam hubungan produsen dan konsumen, setelah sebelumnya warga Cina berbondong-bondong datang ke nusantara untuk berdagang.  Niat yang sama juga dipunyai oleh Belanda.

Setelah diotak-atik dengan picasa 3
Belanda memerlukan mitra maka jadilah orang Cina sebagai mitra untuk mendistribusikan barang-barang. Posisi yang sesuai dengan kemampuan dasar orang Cina.

Kedudukan sebagai pemungut pajak diberikan kepada orang Cina, sehingga makin memudahkan pergerakan mereka dalam ekonomi.  Kedudukan pemungut pajak seringkali dilelang dan berkat koneksi dengan para pejabat, Keluarga tertentu dapat meraih posisi tersebut dan sering berlanjut sampai keturunannya

15 Oktober 2009

Keagungan Sebuah Mandala

Kunjungan terakhir ke Borobudur sangat berkesan. Kunjungan pertama saat SMA dulu sama sekali tidak terekam jelas mungkin karena masih belum mengerti.

Saat terlihat keagungan mandala tersebut dari kejauhan, hatiku berdegup keras. Seolah lambaian dari masa silam berdiri tegak menampakkan wujudnya. Seakan melihat sendiri sosok Rakai Pikatan, Raja Agung dari wangsa Sanjaya sedang melambaikan tangan di anak tangga Kamadhatu. Sosok yang menyatukan dua dinasti besar saat itu, Syailendra dan Sanjaya.

Sambharabudhara yang kelak dikenal dengan Candi Borobudur membawa ajaran Budha bermazab Mahayana. Dimana pada abad ke 9 kerajaan Mataram Kuno yang masih berkedudukan di Jawa Tengah menganut agama Budha Mahayana di bawah pemerintahan Samarattungga dari wangsa Syailendra.

Diperkirakan pada masa Samarattungga inilah pembangunan Borobudur dimulai, yang kalau dikatakan memakan waktu 1 abad berarti dimulai pada abad ke 8 dan diselesaikan saat kekuasaan pindah ke tangan Rakai Pikatan, suami dari Pramodawardhani yang berarti menantu Samarattungga.

Boleh dikatakan pada masa Rakai Pikatan inilah 2 candi masyur yaitu Borobudur dan Prambanan diresmikan. 2 Candi yang membawa peradaban berbeda : Budha dan Hindu.

Borobudur diresmikan oleh sang permaisuri Pramodawardhani yang beragama Budha sedangkan Prambanan didirikan atas prakarsa Rakai Pikatan sang Maharaja Mataram Kuno yang memeluk Hindu Syiwa.

Menyusuri tingkatan Candi yang melambangkan 4 tingkatan kehidupan (Kamadhatu, Rupadhatu, Arupadhatu dan Arupa) mengingatkan aku pada 4 tingkat nafsu dalam ajaran Sufi Islam : Ammarah, Lawwamah, Mulhamah dan Muthma'inah.

Mengelilingi candi laksana memberikan salam penghormatan terhadap sang arsitek Gunadharma yang berhasil menampilkan religiusitas sekaligus mistis abadi. Memandangi ukiran sekeliling candi berusaha menyerap aroma kehidupan lebih dari 1000 tahun lampau. Mengira ngira bagaimana mengikat batuan ini dengan kuat hanya dengan sistem kait antara batu.

Candi ini terlupakan berabad abad setelah Mataram Kuno berpindah ke Jawa Timur pada jaman Mpu Sindok. Apakah letusan merapi yang menyebabkan perpindahan itu? masih belum jelas.
Yang pasti Candi ini terkubur menjadi bukit dan ditemukan kembali pada jaman Gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles di abad 19.

Cukup aneh karena pujangga pujangga kerajaan tidak mewariskan warta tentang kebesaran candi ini kepada Raja raja setelahnya.

Kebesaran Mataram kuno terputus pada jaman Dharmawangsa Teguh. Runtuh setelah serangan dari Wurawari. Kerajaan baru Kahuripan yang didirikan oleh menantunya Airlangga boleh dibilang lepas dari wangsa Syailendra maupun Sanjaya.

Bukankah hal jamak raja baru tidak ingin kebesarannya tertutup oleh raja pendahulunya. Tidak heran bila para Mpu membuat cerita yang menonjolkan raja yang berkuasa pada saat itu dan menghilangkan peran para pendahulunya.

Kita tidak akan menemukan tulisan tentang candi Prambanan pada rontal kitab Desa Vernana atau yang lebih dikenal dengan Negarakertagama karya Pancaksara nama sandi dari Mpu Prapanca pada jaman Majapahit. Padahal Majapahit menganut pula ajaran Hindu Syiwa, namun bisa dimengerti karena Majapahit sebenarnya telah terputus dengan Mataram kuno. Trah Girindrawangsa tidak ada hubungan lagi dengan wangsa Sanjaya, Syailendra atau Isyana.

Budaya tulis saat itu hanya dimiliki oleh kaum Brahmana dan Ksatria. Kalangan sudra yang merupakan kalangan terbanyak tidak diijinkan memiliki pengetahuan seperti halnya 2 kasta atas tersebut. Sehingga bila suatu kerajaan musnah, musnah pulalah jejak dan pengetahuan tentang keberadaannya kecuali jika meninggalkan prasasti di tempat lain.

Sejenak aku berusaha merekam utuh citra sambharabudhara, seperti halnya mencoba merangkum sosok Rakai Pikatan ke dalam mimpi mimpi tentang masa silam dimana tanah ini masih berwujud jatidiri yang berbeda.

10 Oktober 2009

Trilogi Dukuh Paruk

Ingat Novel Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari yang memikat itu? Sebuah trilogi budaya yang telah diterjemahkan ke dalam 5 bahasa asing.

Kalau dimasa remaja dulu saya tidak sengaja menemukan novel tersebut di perpustakaan sekolah dan segera terbenam dalam budaya Banyumas di era tahun 1960-an walau nalar beliaku yang belum genap 14 tahun masih terbengong bengong takjub membaca tradisi bukak klambu yang menggambarkan upacara pelepasan kegadisan seorang ronggeng.

Setelah dewasa saya bersyukur bisa menyelesaikan 2 buku lainnya dari trilogi Dukuh Paruk yaitu Lintang Kemukus Dinihari dan Jentera Bianglala.

Ahmad Tohari melukiskan dengan jeli sebuah padukuhan kecil, terbelakang dan melarat bernama Dukuh Paruk yang terletak di Banyumas sana. Dukuh Paruk yang kusam seakan akan mendapatkan energinya kembali saat roh penari ronggeng dipercaya menitis pada Srintil seorang gadis kecil yang kehilangan kedua orang tuanya akibat keracunan tempe bongkrek.

Srintil yang memang memiliki kelebihan fisik dari gadis gadis sekampungnya telah dipersiapkan oleh dukun ronggeng Ki dan Nyai Kartareja. Seorang ronggeng haruslah mempunyai kelebihan daya tarik seksualitas dari wanita lain dan itu dimiliki oleh Srintil. Srintil dihormati oleh setiap wanita di Paruk dengan panggilan Jeng Nganten.

Saya dibuat terpaku dengan kemiskinan yang diperlihatkan dengan gamblang. Rumah rumah dari bilik dengan atap rumbia, halaman yang digunakan untuk buang hajat bahkan sudut kamar tidur yang masih beralaskan tanah sering dipakai untuk buang air kecil. Demikian pula dengan penggambaran seksualitas yang nyaris tanpa tedeng aling aling namun tidak porno.

Tradisi penghormatan terhadap leluhur ditunjukkan dengan pembakaran menyan di makam Ki Secamanggala setiap akan mementaskan tayub.

Srintil tidak meminta untuk menjadi Ronggeng, ia hanya ingin menjadi seorang istri. Cinta terhadap Rasus, teman sepermainan dari kecil membuatnya menyalahi kodrat seorang Ronggeng.

Pada akhirnya penghuni Dukuh Paruk dengan kelompok ronggengnya tidak dapat menghindar dari huru hara berdarah tahun 1965. Kepolosan seni ronggeng dimanfaatkan oleh ketua dari perkumpulan pemuda rakyat sebagai alat propaganda yang berakibat para sesepuh desa termasuk Srintil harus mendekam di penjara tanpa mengerti salah mereka.

Pada akhirnya Srintil tidak kuat menanggung derita. Srintil yang masih tetap cantik dan menjadi primadona setelah bebas justru terganggu syarafnya setelah impiannya menjadi seorang istri dihancurkan oleh Baljus, pria yang dianggap sebagai kekasih dalam usahanya melupakan Rasus.

Membaca Trilogi ini aku merasa dihempaskan ke dalam kepahitan. Betapa kita merasa sebagai manusia kota besar yang berbudaya tapi sebenarnya berhati serigala. Melihat penduduk desa yang melarat tertatih tertatih berusaha bangkit dari kehancuran desa akibat serbuan tentara. Muak melihat kelakuan manusia manusia kota besar yang tega memanfaatkan kenaifan penduduk desa.

Dalam novel ini tergambarkan budaya, gender, cinta, kemanusiaan dan politik yang berpadu dengan indah namun tidak mendayu dayu.

Pada akhirnya muncul kerinduan untuk menjenguk masa lalu dengan kacamata yang bening. Sayang aku telah menjadi produk masa kini. Produk manusia kota yang sering kejam dan dengki dengan alam dan sesamanya.

26 September 2009

Mudiknya Orang Indonesia

Mudik.....sebagai warga muslim Indonesia tentu sudah sangat akrab dengan kata itu. Bisa dibilang mudik selalu berkorelasi dengan Lebaran. Di saat hari raya itulah puluhan bahkan mungkin ratusan ribu warga berduyun duyun kembali ke tanah leluhur, kembali ke asal sebagaimana fitrahnya sebagai manusia yang kelak kembali kepada pencipta-Nya.

Mengharukan melihat ribuan manusia yang kebanyakan sedang berpuasa itu serentak melakukan perjalanan panjang yang sering tersendat di tengah teriknya surya. Demi mereguk kembali kesegaran dan kebersihan spiritual di tempat asal. Di tanah leluhur itulah mereka me-recharge batin sebagai bekal menghadapi kembali siksaan rohani di tanah asing Jakarta.

Mudik memang milik Indonesia, sebuah kultur unik yang tidak akan ditemui di tanah Arab sebagai asal Islam. Sebuah kebudayaan yang nyaris menjadi ibadah wajib setelah sholat Ied dan zakat fitrah.

Mudik juga bisa berubah dari merekatkan tali silaturahim menjadi ajang pemanjaan nafsu komsumtif hasil didikan kota besar namun juga merupakan penggerak putaran ekonomi yang luar biasa bagi kampung halaman. Kuatnya panggilan untuk mudik bisa dilihat dari moda transportasi yang digunakan, bukan hal yang aneh perjalanan ke pelosok Jawa yang memakan waktu lebih dari 10 jam dilakukan oleh ayah ibu bersama 2 anak dengan motor, bahkan kadang ditambah dengan tas berisi pakaian yang diletakkan di belakang dengan bantuan sambungan bambu. Tidak jarang 10 orang mudik bersama dengan menggunakan mobil pick up terbuka yang hanya ditutupi terpal. Semua hanya demi bersilahturahmi dengan kerabat di kampung halaman.

Memang moment pulang kampung juga dikenal di negara barat seperti saat Thanksgiving atau Christmas hanya mungkin tidak sefenomenal di negara kita ini. Di Amerika misalnya kota kota termuka tidak hanya Washington sebagai ibu kota tapi juga ada LA, California, Ohio, Chicago, Seatle, Miami dan kota kota modern lainnya dimana penduduk negara adikuasa tersebut tidak perlu tumplek blek hanya di ibu kota untuk belajar atau mencari nafkah. Hal itu ditambah dengan infrastruktur antar kota bahkan negara bagian yang sangat baik.

Sekarang bandingkan dengan Indonesia, Jawa dengan Jakarta sebagai pusat dari segala pusat kegiatan baik ekonomi, pendidikan, pemerintahan dan bahkan juga kemaksiatan. Jakarta adalah tempat ratusan ribu bahkan jutaan rakyat Indonesia dari berbagai pulau untuk tinggal, mencari nafkah dan juga menuntut ilmu. Kota kota seperti Surabaya, Bandung, Yogyakarta masih berfungsi hanya sebagai penyangga. Apalagi kota kota di luar jawa, SDM mereka tersedot ke jawa sehingga perkembangan kota mereka sendiri mandeg.

Jakarta yang hanya setitik kecil di peta Indonesia ternyata harus menampung para manusia dari pulau yang bahkan lebih besar dari Jawa; tidak heran infrastruktur di Jawa tidak pernah mampu mengejar angka urbanisasi yang mengikuti deret ukur. Saat kaum urban serentak bergerak saat itu pula kemacetan luar biasa melanda jawa. Bukankah fantastis keterlaluannya jika Jakarta-Yogya harus ditempuh selama 30 jam perjalanan darat, melebihi lamanya perjalanan Jakarta-Paris dengan pesawat.

Selama pemerintah Indonesia masih tetap mengikuti gaya VOC yang menempatkan Jawa sebagai sentra model pembangunan selama itu pulalah kesemrawutan akan terus berlangsung.

Mudik adalah suatu keindahan spiritual, alangkah dahsyatnya kekuatan mudik apabila pemerintah meninjau kembali kebijaksanaan pembangunan kota kota di jawa dan non jawa. Jangan sampai kota kota itu menjadi seragam karena para pemudik hanya mengenal satu kebudayaan. Kebudayaan Jakarta.