Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

27 Juli 2017

SATU PELURU SATU MUSUH

Pembebasan atlet Israel yang disandera oleh kelompok Black September pada saat berlangsungnya Olimpiade Munich tahun 1972 berakhir pahit.   Sniper atau penembak runduk yang berasal dari dinas kepolisian Jerman Barat gagal melaksanakan tugas, tembakannya meleset.

Tembakan yang meleset, koordinasi antar tim pembebasan sandera yang buruk membuat para penyandera sempat mengambil tindakan fatal sehingga 11 sandera seluruhnya tewas akibat granat yang dilemparkan.

Hendro Subroto, wartawan perang yang ditugaskan meliput situasi Timor Timur pasca integrasi dengan Indonesia tahun 1975 mengisahkan teror sniper dari pasukan Fretilin saat konvoi kecil panser amfibi pasukan tentara Indonesia melintasi Fatularan.  Ia menyaksikan kopral Rasimin yang jadi pengemudi panser roboh saat satu peluru dari tembakan terbidik menembus topi bajanya.

Banyaknya prajurit dan perwira RI yang menjadi korban penembak jitu Fretilin yang merupakan bekas tentara didikan Portugis dengan pengalaman tempur di sejumlah koloni Portugis membuat Kolonel Edi Sudrajat yang membentuk satuan tugas Pamungkas menarik Tatang Koswara yang baru lulus dari pelatihan The Green Berets, pasukan elite baret hijau milik Amerika Serikat.


30 Maret 2017

Yang Muda Yang Menggali Sejarah


Sabtu Sore, halaman depan kantor penerbit Komunitas Bambu di Beji-Depok yang tidak seberapa luas itu penuh sesak dengan kehadiran anak-anak muda.

Di depan terdapat satu meja penuh buku-buku yang akan dijual.  Salah satunya adalah tentang Njoto, salah satu tokoh  penting PKI di samping DN Aidit yang ditulis oleh Fadrik Aziz Firdausi.  Di sisi kanan terdapat meja dengan minuman teh, kopi dan pisang goreng untuk yang hadir.

Ada beberapa orang pria dengan usia tergolong senior sedang berbincang-bincang, salah satunya adalah sejarawan senior Peter Kasenda.  Yang namanya Fadrik pastilah salah satu teman berbincang beliau.

Yang hadir segera mengambil tempat duduk saat moderator sekaligus MC mengumumkan acara bedah buku akan dimulai. 

Seorang anak muda bertubuh kurus dan berkacamata ikut duduk di samping moderator, ternyata itulah Fadrik Aziz Firdausi, sang penulis. Pemuda kelahiran 1991 itu duduk di sebelah sejarawan senior mengesankan kelahiran generasi sejarawan muda yang turut memberi warna terhadap tafsir sejarah.


Menjadi semakin menarik karena penulis ini berlatar belakang Nahdlatul Ulama yang sebelum peristiwa 1965 banyak terlibat konflik dengan PKI.
Cerita-cerita tentang konflik itulah yang membuatnya tertarik untuk menggali lebih dalam tokoh-tokohnya.  Dan, Njoto yang menjadi pilihannya.  Judul yang dipilih adalah Njoto: Biografi Pemikiran 1951-1965

16 Maret 2017

Saat Dokter Tentara Menjadi Gubernur


"Biar berapa miliar pun mereka  bayar saya, saya tidak mau jadi gubernur di sini" demikian Azwar Anas yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat berkomentar tanpa basa basi saat diajak meninjau Nusa Tenggara Timur.
Nusa Tenggara Timur (NTT), dulunya merupakan bagian dari Sunda Kecil yang baru diberi mandat untuk menjadi provinsi sendiri pada tahun 1958 merupakan daerah yang amat miskin.  NTT mepunyai puluhan suku dan bahasa yang kadang begitu berbeda sehingga komunikasi antar suku menjadi terkendala.
Ada anekdot getir yang memplesetkan NTT menjadi Nusa (S)engsara Timur, Nanti Tuhan Tolong, Nasib Tak Tentu, menggambarkan betapa provinsi ini seakan ditakdirkan menjadi tanah penderitaan bagi warganya karena topografi yang ekstrim, terbatasnya akses ekonomi dan pendidikan, musim kering yang panjang dan kendala kultural

13 Februari 2017

Memandang Pelabuhan Makassar di Masa Lalu

Bagaimanakah situasi Makassar pada masa lalu? Bagaimana posisi Makassar saat para penguasa menerapkan beragam kebijakan untuk mempertahankan kepentingan mereka.
Edward L. Poelinggomang, sejarawan dari Universitas Hasanudin mengumpulkan kepingan demi kepingan dari beragam arsip untuk menyampaikan kabar mengenai pelabuhan penting ini di masa lalu.  Dikatakan penting karena melalui Makassar baik VOC maupun pemerintah Hindia Belanda mengontrol perdagangan rempah di Indonesia timur, terutama Maluku.
Makassar di pulau Sulawesi sudah dikenal lama sebagai pelabuhan ramai dan pusat perdagangan.  Letak geografis Sulawesi yang dikelilingi laut Maluku, laut Banda, laut Flores dan selat Makassar.


Beberapa peneliti mengidentifikasi kerajaan Makassar sebagai kerajaan Gowa.  Pelabuhan Makassar dianggap sebagai bandar perdagangan Gowa yang merupakan gabungan dari dua pelabuhan dari dua kerajaan yaitu Pelabuhan Tallo dari kerajaan Tallo dan pelabuhan Sombaopu dari kerajaan Gowa.
Dua kerajaan ini pada tahun 1528 bergabung menjadi satu pemerintahan dimana Raja Gowa memegang tahta kerajaan sedangkan raja Tallo menjadi mangkubumi.
Penjelajah Tome Pires pada paruh awal abad 16 melukiskan sebagai kepulauan Makassar yang penduduknya beragama pagan dan juga prajurit hebat.  Negeri Makassar digambarkan sebagai negeri kaya dan merupakan pasar yang menjual budak hasil tangkapan.
Dataran di Makassar sangat subur, banyak persawahan dengan pohon kelapa berderet rapi.  Demikian kesan seorang Belanda yang mengunjungi Makassar pada permulaan abad 17.
Pelabuhan Makassar terlindung dari gelombang laut dan badai muson barat karena dihalangi oleh sejumlah pulau kecil yang dikenal sebagai  gugusan kepulauan Spermonde.

05 Desember 2016

Melihat Banda Naira melalui buku


Banda Naira adalah sebuah gugusan kepulauan di Maluku yang terletak di tengah laut Banda dengan pemandangan gunung api di tengahnya.  Terdapat 10 pulau dalam gugusan kepulauan tersebut antara lain pulau Banda besar (yang terbesar) dan pulau Run yang sering dikaitkan dengan perjanjian Breda tahun 1667

http://koleksitempodoeloe.blogspot.co.id/2013/03/peta-kuno-abad-17-th1700an-kepulauan.html

Namun pulau yang hampir tidak terlihat di peta ini pada abad ke 16 menjadi incaran utama para pedagang Eropa berkat komoditi yang hanya ada di Banda yaitu Pala (Myristica Fragrans)

18 Februari 2016

HATTA DAN DEMOKRASI

Gerakan Renaissance yang berawal dari Italia mulai melanda Eropa tahun 1450-1650 sekaligus menandai kebangkitan kaum intelektual melawan dominasi Gereja.  Para Filsuf modern seperti Rene Descartes, John Milton dan Erasmus membawa paradigma baru dalam mengelola kehidupan duniawi dan pemanfaatan sumber daya.

Gelombang pemikiran baru di bidang sastra dan ilmu pengetahuan terus berlanjut dan membesar sampai pada abad 18 yang dikenal sebagai abad pencerahan di Eropa yang dicirikan dengan sikap ilmiah terhadap fenomena alam yang menitikberatkan pada eksperimen dan observasi, rasionalitas dan kepercayaan pada hukum alam; keyakinan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta untuk kebaikan umat manusia.

Kebebasan dalam berpikir dan menjalankan perekonomian inilah yang mendorong paham liberalisme pada masyarakat Eropa.

Jika abad 15 sampai dengan 17 kaum cendikiawan yang bergerak maka pada abad 18 giliran kaum menengah menunjukkan sikap kritis kepada para penguasa absolut yang masih menganut sistem monarki.  Gerakan kaum menengah ini berpuncak pada perubahan kehidupan bernegara.   Gerakan kelas menengah ini mendorong revolusi Amerika tahun 1776 diikuti oleh revolusi Perancis tahun 1789 yang semboyannya paling sering dikutip oleh generasi setelahnya: Liberty, Equality & Fraternity.

Para pemikir arus utama pada masa itu seperti Voltaire, Montesquieu dan Thomas Jefferson memperkuat arti penting paham kebebasan dalam kehidupan manusia.  Kebebasan yang diusung oleh para pemikir abad 18 dan 19 ini mencakup kebebasan moral, ekonomi dan politik.  Adanya nilai-nilai dasar yang diyakini melekat pada manusia sebagai individu dan hak-hak individu inilah yang patut dijaga dimana negara pun tidak boleh melanggar hak-hak tersebut.

Lantas apabila masing-masing individu ini saling berkonflik akibat penerapan konsep kebebasan ini apa yang harus dilakukan?
John Locke, seorang filsuf politik tahun 1690 menyodorkan jawaban berupa kontrak yang dilakukan oleh para individu untuk membentuk suatu kekuasaan.  Kekuasaan ini mengatur hak-hak rakyat yang kemudian disebut negara.

Negara dengan kekuasaan terbatas menciptakan ketertiban umum dalam masyarakat dan melindungi hak-hak dasar individu.

Kemudian JJ Rousseau menyodorkan bentuk demokrasi langsung yang kini disebut kedaulatan rakyat.  Artinya para individu menyerahkan semua haknya kepada kelompok yang menjadi badan otoritas pembuat undang-undang.   Pemikiran Rousseau ternyata membangkitkan kembali kekuasaan absolut.
Namun Rousseau juga memperkenalkan konsep kehendak semua yang merupakan penjumlahan dari semua kehendak individu yang memunculkan kehendak mayoritas sebagai penentu kebijakan.

Keduanya, baik Locke maupun Rousseau berpegang pada prinsip liberal yang merawat kebebasan individu agar tidak diganggu oleh kekuasaan negara.

04 Agustus 2015

Perempuan Yang Berdaya

MENGERNYITKAN kening,
Itulah yang saya lakukan saat tanpa sengaja membaca timeline seorang kawan mengenai feminisme.  Baginya feminisme itu sekedar kecerewetan perempuan yang menuntut terlalu banyak.  Ia menganalogikan jika seorang pria melakukan pekerjaan sebagai pemanjat kelapa maka perempuan juga harus bersedia jadi pemanjat kelapa.

Saya juga bukan orang yang mudeng-mudeng amat dengan teori feminisme.  Namun dari beberapa hal yang pernah saya baca, saya yakin yang menjadi tujuan bukanlah "asal sama".

Bila membaca perjuangan para perempuan, para ibu dari desa Penago dan Pasar Seluma di Bengkulu menghadapi korporasi perusahaan tambang yang berniat mengekploitasi daerah mereka yang kaya akan pasir besi kita akan sepakat bahwa gerakan feminisme menemukan bentuknya dalam tindakan perempuan-perempuan sederhana itu.

Desa Penago dan Pasar Seluma, daerah pedalaman Bengkulu dimana banyak penduduknya mempunyai lahan perkebunan kelapa sawit hasil kerjasama dengan PTPN yang tidak lagi berlanjut.  Letak desa yang berada dekat pantai membuatnya kaya akan hasil laut.  Para ibu terbiasa mencari remis yang melimpah di pinggiran pantai dan menjualnya untuk tambahan penghasilan.

Bengkulu dengan panjang pantai 52 km memiliki kandungan pasir besi berkualitas tinggi yang cocok untuk bahan baku baja.  Lapisan pasir besi yang terkandung itulah yang merupakan penyusun daratan pantai Seluma.  Dengan terdapatnya sumber daya alam yang melimpah tentu saja telah menarik minat pengusaha baja dari luar negeri untuk berinvestasi.  Mereka mendekati kepala daerah untuk mendapatkan ijin explorasi tambang.  Dan dengan alasan untuk menaikkan pendapatan asli daerah tanpa pikir panjang ijin itu diberikan tanpa mempertimbangkan efek jangka panjang bagi masyarakat sekitar.

Pengerukan pasir besi yang dilakukan di tepi pantai mengakibatkan abrasi parah dan merembesnya air laut ke wilayah pemukiman warga.

Kandungan pasir besi yang terdapat di bibir pantai selama ini mencegah intrusi air laut sehingga banyak sumur penduduk yang terdapat tak jauh dari pantai mengeluarkan air tawar yang jernih.  Wilayah yang memiliki endapan pasir besi relatif mempunyai komposisi kepadatan yang membuatnya bertahan terhadap abrasi.
Dampak lain dari pengerukan pasir besi besar-besaran adalah hilangnya keanekaragaman hayati dan rusaknya ekosistem pantai.  Kegiatan mencari remis di tepi pantai yang dilakukan oleh kaum ibu untuk menambah penghasilan tidak akan dapat dilakukan karena rusaknya pantai.  Belum lagi ancaman tenggelam karena daerah mereka praktis kehilangan pelindung yang kuat akibat penambangan.

26 Juni 2015

Ekspedisi Cengkeh, Merekam Tawa dan Tangis Para Petani dari Timur

Cengkeh, Pala, Kapur Barus, Lada

Terasa kurang afdol penyebutan negeri rempah, jalur rempah tanpa menoleh terhadap keempat komoditi itu.

Identitas ke-Indonesiaan tak lepas dari peranan keempatnya.  Nama wilayah diangkat dalam peta, perjanjian dagang dibuat, monopoli dilakukan, kolonialisme, sampai kisah berlumur darah pun terjadi akibat sihir rempah yang membius bangsa-bangsa dari utara agar berdatangan ke selatan.

Dan dari semua rempah,  cengkeh termasuk rempah yang paling kokoh eksistensinya sampai masa kini.  Fungsinya sebagai pengawet, penyedap dan obat tidak banyak berubah walau mungkin tidak secemerlang dulu kala dunia masih belum mengenal teknologi lemari pendingin.

Dunia selatan yang teduh berubah saat sekelompok orang-orang berhidung mancung dan bermata biru dengan keserakahannya mengenalkan nilai komersial tanaman di kebun para petani lokal.  Seiring dengan kesadaran itu ketenangan pun terkoyak, tatanan nilai berubah.

Sebuah kongsi dagang bernama VOC mulai mengambil alih perniagaan cengkeh.  Dengan wewenang penuh dari negaranya Belanda, mereka mulai membuat perjanjian dengan para penguasa. Cengkeraman pertama adalah Banten, lalu bergeser ke Ambon, Maluku.  Bahkan mereka berani mengusik para pedagang mancanegara yang selama ini bebas bertransaksi dengan penduduk setempat.

Maluku, adalah gudang cengkeh pada masa itu.

26 Maret 2015

Sikap para Sikep

"Baru kali ini punya anak buah wong Samin" begitu kata atasan saya saat kami sedang membicarakan salah satu anak buahnya yang memang rada-rada.

Saya hanya nyengir, kata-kata "wong Samin" itu memang berkonotasi orang yang sifatnya ndablek, kenthir pokoknya yang ngeselin sekaligus menggelikan.  Misalnya kata atasan saya lagi, orang Samin itu kalau diminta manasin motor, ya motornya dijemur di bawah matahari.

Kayak begitu? entah kalau lelucon soal manasin motor jadinya menjemur sih tidak tahu.

Yang saya tahu sikap masyarakat Samin dilandasi oleh alasan yang sama sekali tidak sederhana. Menurut KH. Mustofa Bisri dalam pengantar di buku SAMIN, MISTISME PETANI DI TENGAH PERGOLAKAN, Orang Samin melakukan perlawanan dengan cara yang unik, tidak dengan kekerasan tapi membangkang.  Ibarat permainan teka teki yang kadang menjungkirbalikkan logika.

Gerakan Samin lahir di tengah kesengsaraan akibat cengkeraman pemerintah kolonial, masyarakat melihat dan merasakan tatanan hidup yang semakin jungkir balik.

Kekuasaan bukanlah milik para raja Jawa tapi diambil alih oleh orang bule.  Perlawanan bersenjata yang bersifat sporadis ternyata tidak mampu mengalahkan penjajah.  Perang Diponegoro yang panjang telah menguras habis energi rakyat Jawa dan tetap berakhir dengan kekalahan sang pangeran yang dianggap sebagai Eru Cokro.

Di sisi lain pemerintah kolonial menerapkan pajak-pajak baru yang kian memberatkan, kepemilikan tanah yang bukan lagi komunal melainkan dihitung sebagai milik individu sebagai obyek pajak dan apabila penduduk tidak bisa menunjukkan bukti

07 Maret 2015

Tak Kenal Tunduk: Liber Amicorum Jusuf Ishak

Perlawanan itu tak pernah berhenti walau hampir seluruh pihak tiarap.

Melawan tidak selalu harus berwajah garang, kadang dengan senyum kegigihan itu makin tertancap.

Begitulah kiranya yang dilakukan oleh Jusuf Ishak.  Lelaki tua berkaca mata tebal yang ternyata adalah "dalang" utama terbitnya buku-buku milik Pramoedya Ananta Tour.

Mungkin hari ini tidak istimewa karena sekarang kita melihat buku-buku Pram berjejer di rak-rak toko buku.  Namun jika waktu bisa diputar ke 30 tahun yang lalu tidak bisa tidak kita harus meletakkan hormat setinggi-tingginya kepada orang ini.

Sebagai tokoh utama dunia pers jaman Soekarno, Jusuf Ishak sudah kenyang akan pahit manisnya politik.  Demikian pula saat bandul politik bergulir ke kanan.  Jusuf yang dianggap Soekarnois ditangkap dan dipenjarakan 12 tahun di penjara Salemba.


Keluar dari penjara, bukannya kapok Jusuf malah membantu Pramoedya menerbitkan naskah-naskah yang ditulisnya di Pulau Buru bersama Hasjim Rahman sahabatnya.  Cap ex tapol di KTPnya tidak menyurutkan langkah Jusuf untuk berbuat.  Pram

12 Oktober 2014

Auwjong Peng Koen-Hidup Sederhana Berpikir Mulia

Apa yang menarik dari orang Cina, golongan minoritas di Indonesia?  karena yang sedikit ini kadang melakukan sesuatu melebihi mayoritas.  Golongan minoritas identik dengan stigma negatif dan diskriminasi.  Butuh keberanian luar biasa untuk membubarkan prasangka yang telanjur tertanam selama berabad-abad.

Beberapa memang menonjol dan tercatat dengan tinta emas di lembar-lembar ingatan rakyat Indonesia.  Yap Thiam Hien dan Soe Hok Gie termasuk dua di antaranya.  Tentu masih banyak lagi nama dari berbagai bidang yang membuat kita harus angkat topi, kagum dengan kekonsistenan mereka yang seakan tanpa batas.

Adalah Auw Jong Peng Koen, adalah juga satu dari yang jarang itu.  Pria Cina, Kristiani kelahiran Padang itu kerap disebut dengan penuh hormat oleh Mohammad Roem, mantan wakil perdana menteri pada masa kabinet Ali Sastro Amidjojo.

Suatu hari Mohammad Roem yang sedang meringkuk di penjara Madiun bersama Anak Agung Gde Agung, Sutan Sjahrir, Prawoto Mangkusasmito, Sultan Hamid dan Soebadio Sastrosatomo menerima sepucuk surat dari orang yang baru ia kenal.  Orang itu itu adalah pemimpin harian Star Weekly, Auwjong Peng Koen.

Dalam surat itu, Auwjong menyisipkan daftar buku-buku terbitan para penerbit kelas dunia yang dapat dipilih oleh para narapidana politik itu sesuka mereka.  Bagi tahanan politik sekelas Roem dan kawan-kawan buku adalah makanan rohani.  Maka tawaran Auwjong benar-benar anugerah tak disangka.  Segera setelah judul-judul buku dipilih, Auwjong segera mengirimkan sesuai daftar.  Sejak saat itu terjalin persahabatan hangat antara Mohammad Roem dan Auwjong Peng Koen.

Mohtar Lubis pun dalam tulisannya untuk mengenang Auwjong menyebutkan selama dalam tahanan selain mengirim buku-buku Auwjong juga tak segan-segan memperhatikan keluarga para tahanan.  Pun, saat korannya Indonesia Raya dibredel, Auwjong menanyakan bantuan apa yang diperlukan dan berusaha menampung para karyawan koran itu dalam Star Weekly.

23 Maret 2014

Lembaga Anti Korupsi, Dulu dan Kini

Korupsi dan Gratifikasi.

Ribut-ribut pemberitaan itu selalu menemani hidup kita sehari-hari dari pagi hingga malam.  Mata dan kuping kenyang dibombardir berita para pejabat dan petinggi anu dari daerah A atau partai B yang dipanggil KPK untuk menghadapi sejumlah pertanyaan tentang asal muasal harta dan uang yang berseliweran di rekeningnya.


Tak heran jika penyelidikan tak pernah mulus tuntas karena melibatkan begitu banyak orang penting dengan skenario yang njelimet dan bertele-tele walaupun baunya sudah kemana-mana. Tidak ada kasus yang berdiri sendiri.


Ah ya, soal orang dekat Presiden yang disebut-sebut terlibat, tak usah heran.  Kalau mau ditelisik, Presiden pertama kita pun tak luput, disadari atau tidak terlibat dalam hal-hal yang berbau gratifikasi yang berujung pada intervensi kasus-kasus korupsi yang melibatkan orang dekat di lingkup kekuasaannya.  

06 Maret 2014

Perang Ideologi dan Kekerasan Budaya

Kebudayaan merupakan pusat kehidupan suatu bangsa dan juga akumulasi perjalanan hidup yang dinamis dimana seluruh energi dan pikiran manusia dikeluarkan untuk menghadapi tantangan.

Barang siapa dapat mempengaruhi dan mengarahkan kebudayaan maka dialah pemenangnya. Jangan heran bila negara-negara maju tak segan menggelontorkan dana, mendirikan pusat-pusat kebudayaan di negara-negara dunia ketiga, dari pemberian beasiswa pendidikan, pekan film, distribusi buku-buku sampai cara berpakaian dan musik yang nantinya akan berpengaruh terhadap gaya hidup dan identitas masyarakat.

Kebudayaan pun dapat diarahkan berdasarkan situasi politik yang berlaku pada masa itu. Nah, pengaruh kebijakan politik itulah yang nantinya menentukan hidup matinya suatu ideologi yang berimbas pada segala sesuatu yang berhubungan kebudayaan.

Khususnya pasca tahun 1965.
Bagaimana peran-peran agen kebudayaan asing CCF (Congress for Cultural Freedom) dalam mensponsori gerakan anti komunis di Indonesia. Dana CCF yang ditanggung hampir tanpa batas oleh CIA memungkinkan untuk mereka melakukan infiltrasi terhadap para cerdik pandai.  Saat Soekarno makin cenderung bergeser ke kiri, para cendekiawan dari PSI dan Masyumi serta aktivis kebudayaan mulai membangun jaringan dengan Amerika. Tak bisa dilepaskan nama populer Ivan Kats yang disebut-sebut sebagai orang CIA yang menyusup sebagai staf CCF.

dari google

04 Januari 2014

YAP THIAM HIEN : Advokat Lurus di Jalur Berliku

Ia adalah orang Cina, Kristen dan jujur. Minoritas dalam minoritas.

Saya sesungguhnya amat risih mendengar kalimat-kalimat yang berbau rasis dan tendensius seperti itu.  Dengan pernyataan itu pola pikir kita memang diset untuk menganggap mayoritas orang Cina pasti Kristen dan penipu.  Lalu siapa yang berani menjamin bahwa pribumi pasti muslim dan jujur


Namun apa boleh buat, rasanya kita memang masih akan tetap terjebak pada model-model praduga seperti itu bila menyangkut ras.

Dalam hal ini, suka atau tidak Yap Thiam Hien memang masuk dalam klasifikasi minoritas ganda seperti di atas.

Lahir di Kutaraja, Aceh Yap memang berasal dari keluarga Tionghoa yang cukup berada namun akhirnya bangkrut sehingga Yap harus membiayai sekolahnya sendiri beserta adik-adiknya, beruntunglah ia mendapat kesempatan menimba ilmu hukum di Leiden untuk kemudian menjadi ahli hukum, Meester in de rechten.

Yap memang bukan orang yang suka ikut arus.  Segala sesuatu selalu ia pertimbangkan dari aspek legalitas, bukan sekali dua kali Yap harus berseberangan dengan sejawatnya.  Bahkan ia tak jeri berhadapan dengan Presiden Soekarno karena menentang keputusan untuk kembali pada UUD 1945 dan juga konsep demokrasi terpimpin.

18 Desember 2013

Masyumi : Catatan Perjalanan Demokrasi



22 Juli 1960, Mendung menggantung di wajah Prawoto Mangkusasmito, ketua Masyumi.

Tak mungkin berkelit lagi dari badai seperti yang telah dilakukan selama ini dengan susah payah.  Soekarno yang sejak lama menahan geram menemukan alasan bagus untuk mengubur oposisi yang dari dulu menjadi duri dalam daging dalam pemerintahannya.

Terutama dengan partai Masyumi yang kerap bersilang pendapat dengannya.  Diawali dengan perdebatan tentang azas negara 15 tahun yang lalu.  Masyumi terpaksa menelan pil pahit kekalahan dari kelompok nasionalis sekuler.  Kekecewaan yang membuat beberapa pemimpinnya gelap mata dan mengangkat senjata melalui Darul Islam dan gerakan PRRI.

Sungguhpun sikap resmi yang dikeluarkan oleh Masyumi adalah mereka tidak mendukung pemberontakan, namun Soekarno dapat mencium simpati di belakang pernyataan resmi itu.

18 Oktober 2013

Polemik : Soekarno vs Natsir

Ada perdebatan klasik namun tetap merupakan tema sensitif, sampai saat ini.

2 tokoh utama pelaku debat ini telah lama meninggal dan mereka meninggalkan poin-poin yang akan dilanjutkan oleh para pendukungnya baik secara politik maupun dengan kekuatan bersenjata. Dan sekarang polemik negara Islam muncul dalam bentuk tesis dan dibukukan.

Soekarno dan Natsir, dua orang yang lahir di jaman yang sama namun dibesarkan dengan cara yang sama sekali berbeda. Lingkungan dan kondisi berbeda itulah yang menyebabkan cara pandang dan pola pikir berlainan dalam menyikapi negara Islam.


Soekarno dikelilingi oleh budaya Jawa yang kental dimana wayang menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi masyarakat penganut kejawen.  Hal itu pun berlaku bagi Soekarno. Ayahnya merupakan penganut kejawen dan juga Teosof. Ia mengenalkan wayang pada putranya dari usia dini.

Dalam pengaruh lingkungan kejawen tradisional dan Teosof Soekarno tumbuh. Pun, ia menjalankan masa pendidikan formalnya dalam sekolah Belanda. Soekarno berkembang dalam perpustakaan yang memuat karya-karya para pemikir Barat.  Ia memiliki kegemaran membaca karya-karya mereka dan mengembangkan dalam polanya sendiri.

12 Mei 2013

Langit Kresna Hariadi dan Fiksi Sejarah

"Menjodohkan Kusumawardhani dengan menyembunyikan dariku benar-benar lancang dan tak menghormati aku sebagai ayah kandungnya".  

"Dipikirnya aku sudah mati dan telah menjadi bangkai yang oleh karenanya boleh diabaikan. Lebih-lebih perjodohan ini dengan sepupunya sendiri, dengan harapan Wikramawardhana yang akan ditunjuk mewarisi kursiku".

"Mereka semua berpikir Prabu Hayam Wuruk sudah tidak ada sehingga urusan perkawinan anaknya harus diambil alih?"


Potongan dialog dalam sidang Pahom Narendra  tersebut hanya sebagian kecil dari ratusan adegan yang dilukiskan dengan penuh penghayatan dalam Perang Paregrek 1 & 2 dan akhirnya disatukan dalam Menak Jinggo, Sekar Kedaton oleh si pengarang, Langit Kresna Hariadi (LKH).

24 Maret 2013

TIGA PEMUKA JAMAN

Pagi selalu didahului oleh fajar sebagai pembuka jaman.

Dan jaman selalu melahirkan sekelompok orang yang memegang kunci peradaban.  Para pemegang kunci tersebut kadang berpikir, berbicara dan bertindak mendahului masanya.

Savitri Scherer melalui bukunya yang mengetengahkan pemikiran para nasionalis yang juga adalah para priyayi Jawa.  Dalam tulisannya, Savitri mengambil 3 orang pemuka yaitu Soewardi Soeryaningrat, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soetomo.

Buku ini dicetak pertama tahun 1985, dan cetakan berikutnya baru muncul lebih dari 20 tahun kemudian.  Beruntung akhirnya sempat menemukan karya klasik ini.


Selama ini kita terbiasa Soewardi, Tjipto dan Douwes Dekker dalam 3 serangkai.  Namun kali ini Savitri justru memasukkan Soetomo menggantikan Douwes Dekker. 

Tidak ada yang salah dengan keputusan tersebut, bahkan bisa jadi ini makin memperjelas garis perbedaan gaya pemikiran

27 Februari 2013

Slamet Muljana dan Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa

Beberapa hari ini saya mengulang-baca sebuah buku klasik karya Profesor Slamet Muljana tentang Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa.

Slamet Muljana mendasarkan tulisannya pada catatan dari Klenteng Sam Po Kong yang dibandingkan dengan Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda.  Nampaknya Slamet Muljana tidak melihat sendiri catatan-catatan tersebut.  Dalam pengantarnya ia menyebut nama Ir. Mangaradja Onggang Parlindungan sebagai salah satu referensi.

Adanya catatan atau kronik dari klenteng Sam Po Kong nampaknya tidak dilihat langsung oleh Slamet Muljana, ia mendasarkankannya pada buku Tuanku Rao yang ditulis oleh Ir. Mangaradja. Di buku tersebut Ir. Mangaradja mencantumkan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Residen Poortman yang ditugaskan menyelidiki asal usul Raden Patah.

Siapakah Raden Patah tersebut?

Umum telah mengetahui jika Raden Patah berayah Raja Majapahit beribukan putri Cina.  Namun tentu bukan itu yang menjadi satu-satunya pembahasan.

Bahwa Wali Songo merupakan sekumpulan ulama Tionghoa muslim, itulah yang menjadi sumber protes dari berbagai kalangan.

11 Desember 2012

Pergulatan Tionghoa Muslim


Jika masih teringat pasca kerusuhan tahun 1998, banyak toko, warung atau ruko yang ditempeli tulisan "100% milik pribumi dan Islam".  Hal-hal yang mendasari pikiran si pemilik usaha untuk menuliskan hal tersebut tak lepas dari kondisi psikologis masyarakat terutama dari etnis Tionghoa yang menjadi sasaran amuk masa.

Menjadi Tionghoa di Indonesia sebelum tahun 1998 harus diakui penuh dengan diskriminasi politik.  Negara beserta aparatnya justru menjadi agen utama yang secara sadar merumuskan sejumlah peraturan yang mengebiri hak warga negara dari etnis tersebut.  Larangan menjadi pegawai negeri dan berpartisipasi aktif dalam politik diterapkan selama puluhan tahun.

Asimilasi yang dipaksakan menjadi keharusan.  Mereka bahkan diharuskan memilih satu dari lima agama yang diakui oleh pemerintah dengan mengabaikan budaya asal.  Tidak peduli mereka telah tinggal di Indonesia ratusan tahun sehingga tidak mengenal lagi negeri Cina, tetap diwajibkan memiliki SKBRI.

Pemberontakan PKI 1965 menjadi dasar pembalasan dendam terhadap segala sesuatu yang berbau Cina.