Suasana kota lama yang khas mulai terasa saat memasuki jalan Merdeka yang terletak tepat di tepi sungai Cisadane. Jalan ini kalau tidak salah berada tepat di belakang pasar lama Tangerang dan merupakan pemukiman Cina Benteng. Di sisi jalan tepat menghadap sungai, pemerintah kota membangun taman sepanjang sungai yang cukup teduh dan rapi sebagai tempat warga duduk menikmati pemandangan.
18 Februari 2014
Sangego yang legendaris
Suasana kota lama yang khas mulai terasa saat memasuki jalan Merdeka yang terletak tepat di tepi sungai Cisadane. Jalan ini kalau tidak salah berada tepat di belakang pasar lama Tangerang dan merupakan pemukiman Cina Benteng. Di sisi jalan tepat menghadap sungai, pemerintah kota membangun taman sepanjang sungai yang cukup teduh dan rapi sebagai tempat warga duduk menikmati pemandangan.
08 Februari 2014
Tuan Tanah Dramaga di Bogor Barat
Tersembunyi di balik himpitan rumah dengan akses jalan kampung yang sempit dan bergelombang, orang tidak ada yang menyangka bahwa ada satu area dengan pilar-pilar besar yang tegak seakan menyambut tamu.
Di penghujung barisan pilar itu nampak bangunan putih berkubah dengan arsitektur klasik. Mirip bangunan-bangunan di Eropa sana.
Keheningan segera menyergap, tidak ada siapa pun di tempat ini, namun telinga saya menangkap suara tertawa dari arah rumah penduduk sekitar situ. Cuaca yang mendung juga menyumbang kesan suram dari bangunan putih itu.
Di penghujung barisan pilar itu nampak bangunan putih berkubah dengan arsitektur klasik. Mirip bangunan-bangunan di Eropa sana.
Keheningan segera menyergap, tidak ada siapa pun di tempat ini, namun telinga saya menangkap suara tertawa dari arah rumah penduduk sekitar situ. Cuaca yang mendung juga menyumbang kesan suram dari bangunan putih itu.
01 Februari 2014
Kamis Sore ke 339
Kasih Ibu memang sepanjang hayat.
Tak ada ibu mana pun yang tidak penasaran tatkala kematian menjemput sang anak secara tidak wajar. Mati memang teritori mutlak yang empunya Kehidupan, namun tidak dosa rasanya bila mempertanyakan penyebab maut menjemput.
Tidak ada yang salah jika sekelompok orang tua di awal tahun 2007 berdiri tegak dalam diam di depan Istana Merdeka. Wajah mereka yang dihiasi garis-garis pengalaman memandang jauh ke arah gedung agung tersebut.
Gerakan yang terinspirasi oleh aksi serupa di depan Plaza De Mayo di Buenos Aires, Argentina di mana sekelompok Ibu juga melakukan aksi damai tiap Kamis sore sebagai bentuk protes atas penghilangan nyawa anggota keluarga terkasih.
Tak ada ibu mana pun yang tidak penasaran tatkala kematian menjemput sang anak secara tidak wajar. Mati memang teritori mutlak yang empunya Kehidupan, namun tidak dosa rasanya bila mempertanyakan penyebab maut menjemput.
Tidak ada yang salah jika sekelompok orang tua di awal tahun 2007 berdiri tegak dalam diam di depan Istana Merdeka. Wajah mereka yang dihiasi garis-garis pengalaman memandang jauh ke arah gedung agung tersebut.
Gerakan yang terinspirasi oleh aksi serupa di depan Plaza De Mayo di Buenos Aires, Argentina di mana sekelompok Ibu juga melakukan aksi damai tiap Kamis sore sebagai bentuk protes atas penghilangan nyawa anggota keluarga terkasih.
21 Januari 2014
The Act of Killing: Kala Jagal Berkisah
Konvensi
Jenewa itu dibuat oleh pemenang. Di sini karena kita yang menang kalau
perlu kita buat konvensi Jakarta".
Demikian
ketus Adi Zulkadry.
| collider.com |
Dialog
absurb itu merupakan penggalan dari film The Act of Killing, film dokumenter
yang disebut-sebut dinominasikan untuk mendapat Oscar sebagai film asing
terbaik.
Film
ini menambah rentetan panjang catatan tentang pembantaian manusia pasca G30S
sekaligus menyambung polemik yang tak kunjung usai.
Anwar
Congo
tokoh utama dalam film itu menggambarkan bagaimana ia membunuh orang-orang yang
dianggap sebagai anggota PKI di Medan. Dengan lugas ia memperagakan teknik
jeratan agar darah tidak banyak mengalir. Bersama teman-temannya dari Pemuda Pancasila ia menduduki meja
yang kakinya menindih batang leher manusia (diperagakan dengan karung), sambil
berbincang-bincang menunggu orang malang itu mati.
15 Januari 2014
ONRUST : Ingatan Yang Dijarah
18 Juni 1812, Pasukan Sepoy menyerbu Keraton Yogyakarta. Sia-sia para bangsawan dan prajurit keraton bertahan di balik tembok istana yang terus menerus dihantam meriam dari pihak Inggris. Dua hari kemudian istana jatuh.
Seperti halnya kebiasaan perang yang berlaku, pihak pemenang berhak atas harta yang kalah. Para serdadu Sepoy sebagai pemenang nyaris kalap melihat kekayaan keraton yang berlimpah. Intan permata dan barang berharga lainnya habis dipreteli.
![]() |
| Sisa bangunan rumah karantina di pulau Cipir |
Seperti halnya kebiasaan perang yang berlaku, pihak pemenang berhak atas harta yang kalah. Para serdadu Sepoy sebagai pemenang nyaris kalap melihat kekayaan keraton yang berlimpah. Intan permata dan barang berharga lainnya habis dipreteli.
Langganan:
Postingan (Atom)


