12 Mei 2019

Pernikahan Ala Tionghoa di kampung Ciangir

Masih cerita seputar keluarga Tionghoa di Tangerang,  kali ini menghadiri pernikahan dari cucu nyonya Kwee Ris Nyoh.

Pernikahan diselenggarakan di rumah dengan adat Tionghoa.  Di depan halaman rumah yang luas sudah dipasang tenda dan saat kami tiba sudah banyak tamu yang sedang dihibur oleh gambang kromong.  Sepasang pengantin, Anti dan Christian saat itu menggunakan pakaian pengantin gaya Internasional berdiri menyambut para tamu.



Melongok ke dalam tenda sudah tersedia dua meja prasmanan.  Satu untuk hidangan Indonesia, satunya hidangan Tionghoa.  Ada sate babi yang merupakan pembeda antara kedua hidangan tersebut.

Masuk ke bagian belakang rupanya halaman belakang sudah dipasang tenda untuk dijadikan dapur.  Wajan dan panci-panci besar berisikan masakan matang sudah siap.  Beberapa ibu sedang jongkok sambil mengiris sayuran, sementara di sisi lain sedang membuat kue-kue.  Seorang ibu sedang mengangkat tumpukan kue bugis yang berwarna hijau, terlihat berkilau dan memancing selera.
Di sudut lain ada mas-mas yang sedang sibuk menuang kopi panas ke dalam gelas-gelas.  Bebas aja mau ambil teh atau kopi.


29 Maret 2019

Mampir di Ciangir - Komunitas Tionghoa di Tangerang

Mengunjungi teman yang sedang merayakan imlek namun bukan imlek ala kota besar melainkan di kampung Ciangir kabupaten Tangerang.

Kampung ini seperti halnya daerah Cukang Galih juga terdapat komunitas petani keturunan Tionghoa, hanya saja rumah tinggalnya kebanyakan sudah mengalami perubahan bukan lagi rumah kebaya.

Di rumah inilah Kwee Ris Nyoh tinggal bersama almarhum suaminya Gouw Cun Seng sambil membesarkan 10 orang anak mereka.  Kwee Ris Nyoh berasal dari desa Kemuning, pindah ke Ciangir mengikuti suaminya Gouw Cun Seng sekitar 50 tahun yang lalu.

Kini ia tinggal di rumah warisan suaminya. Mereka dikaruniai 10 orang anak, 14 cucu dan 2 cicit. Nyonya Kwee terlihat sehat di usianya yang sudah mencapai 73 tahun.  Sehari-hari ia mengenakan kain batik dengan çorak has peranakan.

Rumah keluarga ini sudah mengalami perombakan bagian depan dan full tembok seluruhnya.  Namun masih terlihat kain digantung di langit-langit rumah yang berfungsi sebagai mantera.

05 Februari 2019

Rumah Petani Tionghoa di Tangerang

Daerah kabupaten Tangerang komunitas Tionghoa hidup dari bertani dengan sawah tadah hujan.  Di daerah Panongan, terdapat beberapa bangunan rumah petani Tionghoa yaang dikenal dengan rumah kebaya.


Rumah keluarga Oen di Panongan
Rumah itu awalnya berdinding kayu nangka dengan rangka atap dari bambu, namun seiring dengan berpacunya jaman maka dinding kayu diganti dengan tembok, lantai yang dulunya tanah kini dilapisi keramik.

22 Januari 2019

Menjelajah Alor Yang Kesekian Kali

Jalur ke Lendola
Selesai rapat di balai desa dan kelar ketemu dengan anak-anak di perpustakaan taman bacaan Pelangi paling bagus ya hilir mudik menyusuri pulau Alor yang masih saja belum terjamah seutuhnya.

Bersama yang mbaurekso Alor, beliau berbaik hati mengantarkan saya dengan motor antiknya dari pagi hingga malam, keluyuran mulai dari Alor barat daya sampai Alor timur menyusuri bagian selatan, mulai tepian pantai sampai perbukitan.  Perkara tamu adalah raja benar-benar dipegang teguh oleh orang-orang Alor ini.

Menuju air terjun di Alila yang berada di kawasan Alor barat laut misalnya, cukup menguras tenaga karena harus berjalan menyusuri sungai.  Naik turun sepanjang tepian, kerap memotong daerah aliran sungai.  Belum lagi nyamuk hutan yang luar biasa galak. Tangan saya sampai pedih karena gatal.  Pohon jambu mete yang terserak di kebun-kebun warga memancing tangan saya untuk usil memetik sekaligus mengunyah buahnya, merasakan cairan asam plus sedikit getir melewati kerongkongan.