01 Januari 2017

Sekeping Hati di Alor

"Mukamu terlalu lembut untuk seorang traveler, sering jalan sendirian lagi",  begitu yang diucapkan Marlon setengah menggerutu kepada saya.  Saya yang berjalan di belakangnya hanya cengar-cengir sambil kepanasan menahan terik matahari.  Om Marlon, begitu saya biasa memanggil laki-laki yang berusia 4-5 tahun lebih tua dari saya selama di pulau Alor.

Kampung Takpala
Deddy anak om Kris pemilik homestay Cantik yang merekomendasikan Marlon kepada saya.  "Dia itu the best guide in Alor" demikian katanya.  Jadi di hari kedua saya ditemani Marlon mengubek-ubek Alor dengan motornya menghampiri pantai-pantai sepi berair gradasi biru tosca yang jernih dengan pasir putih.


13 Desember 2016

Melancong dekat rumah

Dari umur 5 tahun tinggal di Depok dan 14 tahun melipir ke Sawangan, wilayah Depok coret tidak juga membuat saya familiar dengan tempat-tempat melancong dengan radius tak terlalu jauh dari wilayah tempat tinggal.

Pemandian air panas Ciseeng yang berjarak tidak sampai 20 km dari rumah misalnya.  Naik mobil hanya butuh waktu maksimal 45 menit untuk sampai di sana.  Tentu saja saya pernah ke tempat itu jauh sebelumnya, saat masih dikelola secara swadaya.  Kesan waktu itu ya, biasa saja.

Bukit kapur di Tirta Sanita
18 tahun kemudian, saya mengangguk saat suami ingin tahu tentang pemandian air panas tersebut.  Yang saya ingat adalah ada bukit batu yang menjulang dan sekaligus sebagai tempat shooting sinetron laga.

05 Desember 2016

Melihat Banda Naira melalui buku


Banda Naira adalah sebuah gugusan kepulauan di Maluku yang terletak di tengah laut Banda dengan pemandangan gunung api di tengahnya.  Terdapat 10 pulau dalam gugusan kepulauan tersebut antara lain pulau Banda besar (yang terbesar) dan pulau Run yang sering dikaitkan dengan perjanjian Breda tahun 1667

http://koleksitempodoeloe.blogspot.co.id/2013/03/peta-kuno-abad-17-th1700an-kepulauan.html

Namun pulau yang hampir tidak terlihat di peta ini pada abad ke 16 menjadi incaran utama para pedagang Eropa berkat komoditi yang hanya ada di Banda yaitu Pala (Myristica Fragrans)

14 November 2016

Pesan dari Liyangan

Warga melintas di sekitar situs

Sugeng Riyanto dari balai arkeologi Yogyakarta mengguratkan jarinya ke lantai batu, ia mencoba menggambarkan tata letak candi. "Umumnya candi itu kosentris, tapi di Liyangan ini berbeda.  Bila dibandingkan dengan komplek Batujaya di Karawang, Liyangan ini bukan hanya sebagai tempat peribadatan tapi juga pemukiman".

01 November 2016

DJOHAN SJAHROEZAH - Sosialis Jaringan Bawah Tanah

Kami bukan pembangun candi,
Kami hanya pengangkut batu
Kami angkatan yang mesti musnah
agar menjelma angkatan baru.....

Bait-bait sajak Henrietta Roland Holst ini mengingatkan pada sosok Djohan Sjahroezah.  Orang akan mengernyit bila ditanya siapa itu Djohan Sjahroezah tapi akan mengangguk bila nama Sutan Sjahrir disebut.

Seperti juga Juanda Kartawijaya yang tidak banyak dikenal begitulah juga halnya dengan Djohan Sjahroezah.  Dalam dunia jurnalistik ia adalah salah satu bapak yang membidani kelahiran kantor berita Antara bersama empat orang rekannya; Adam Malik, Sumanang, AM Sipahutar dan Pandoe Kartawiguna.  Pun, di Antara namanya tidak masuk dalam hierarki melainkan lebih senang berada di belakang layar.  Sebagai jurnalis tulisan-tulisannya kerap masuk dalam koran Indonesia Raya dan Djohan pun merupakan anggota redaksi dari harian Daulat Ra'jat.

Jejak Djohan Sjahroezah pun tidak masuk dalam buku Seratus Jejak Pers Indonesia yang memuat tokoh-tokoh pers Indonesia.  Hal itu semakin menegaskan teka-teki tentang dirinya bagi orang luar.

Djohan Sjahroezah lahir di Muara Enim tahun 1912 dari keluarga Minang dan dari urut-urutan keluarga ibunya, ia adalah keponakan Sutan Syahrir.  Orang Minang pada abad 20 adalah kumpulan para intelektual, berkat diterimanya sekolah-sekolah Belanda di kalangan masyarakat dan digabungkan dengan pendidikan madrasah.  Dari pertalian darah, selain Sutan Syahrir terdapat pula Rohana Kudus, tokoh pergerakan perempuan Minang pertama yang juga bergerak dalam bidang jurnalistik.