13 Desember 2016

Melancong dekat rumah

Dari umur 5 tahun tinggal di Depok dan 14 tahun melipir ke Sawangan, wilayah Depok coret tidak juga membuat saya familiar dengan tempat-tempat melancong dengan radius tak terlalu jauh dari wilayah tempat tinggal.

Pemandian air panas Ciseeng yang berjarak tidak sampai 20 km dari rumah misalnya.  Naik mobil hanya butuh waktu maksimal 45 menit untuk sampai di sana.  Tentu saja saya pernah ke tempat itu jauh sebelumnya, saat masih dikelola secara swadaya.  Kesan waktu itu ya, biasa saja.

Bukit kapur di Tirta Sanita
18 tahun kemudian, saya mengangguk saat suami ingin tahu tentang pemandian air panas tersebut.  Yang saya ingat adalah ada bukit batu yang menjulang dan sekaligus sebagai tempat shooting sinetron laga.

05 Desember 2016

Melihat Banda Naira melalui buku


Banda Naira adalah sebuah gugusan kepulauan di Maluku yang terletak di tengah laut Banda dengan pemandangan gunung api di tengahnya.  Terdapat 10 pulau dalam gugusan kepulauan tersebut antara lain pulau Banda besar (yang terbesar) dan pulau Run yang sering dikaitkan dengan perjanjian Breda tahun 1667

http://koleksitempodoeloe.blogspot.co.id/2013/03/peta-kuno-abad-17-th1700an-kepulauan.html

Namun pulau yang hampir tidak terlihat di peta ini pada abad ke 16 menjadi incaran utama para pedagang Eropa berkat komoditi yang hanya ada di Banda yaitu Pala (Myristica Fragrans)

14 November 2016

Pesan dari Liyangan

Warga melintas di sekitar situs

Sugeng Riyanto dari balai arkeologi Yogyakarta mengguratkan jarinya ke lantai batu, ia mencoba menggambarkan tata letak candi. "Umumnya candi itu kosentris, tapi di Liyangan ini berbeda.  Bila dibandingkan dengan komplek Batujaya di Karawang, Liyangan ini bukan hanya sebagai tempat peribadatan tapi juga pemukiman".

01 November 2016

DJOHAN SJAHROEZAH - Sosialis Jaringan Bawah Tanah

Kami bukan pembangun candi,
Kami hanya pengangkut batu
Kami angkatan yang mesti musnah
agar menjelma angkatan baru.....

Bait-bait sajak Henrietta Roland Holst ini mengingatkan pada sosok Djohan Sjahroezah.  Orang akan mengernyit bila ditanya siapa itu Djohan Sjahroezah tapi akan mengangguk bila nama Sutan Sjahrir disebut.

Seperti juga Juanda Kartawijaya yang tidak banyak dikenal begitulah juga halnya dengan Djohan Sjahroezah.  Dalam dunia jurnalistik ia adalah salah satu bapak yang membidani kelahiran kantor berita Antara bersama empat orang rekannya; Adam Malik, Sumanang, AM Sipahutar dan Pandoe Kartawiguna.  Pun, di Antara namanya tidak masuk dalam hierarki melainkan lebih senang berada di belakang layar.  Sebagai jurnalis tulisan-tulisannya kerap masuk dalam koran Indonesia Raya dan Djohan pun merupakan anggota redaksi dari harian Daulat Ra'jat.

Jejak Djohan Sjahroezah pun tidak masuk dalam buku Seratus Jejak Pers Indonesia yang memuat tokoh-tokoh pers Indonesia.  Hal itu semakin menegaskan teka-teki tentang dirinya bagi orang luar.

Djohan Sjahroezah lahir di Muara Enim tahun 1912 dari keluarga Minang dan dari urut-urutan keluarga ibunya, ia adalah keponakan Sutan Syahrir.  Orang Minang pada abad 20 adalah kumpulan para intelektual, berkat diterimanya sekolah-sekolah Belanda di kalangan masyarakat dan digabungkan dengan pendidikan madrasah.  Dari pertalian darah, selain Sutan Syahrir terdapat pula Rohana Kudus, tokoh pergerakan perempuan Minang pertama yang juga bergerak dalam bidang jurnalistik.

13 Oktober 2016

Batavia dan Pergaulan Sosialnya

Adalah menarik melihat perkembangan Jakarta jika ditarik jauh ke belakang, saat masih bernama Batavia. Saat batas-batas negara belum seperti sekarang dan para migran dari berbagai belahan dunia lebih leluasa berdatangan mengadu nasib serta mengambil peranan dalam terciptanya beragam komunitas yang ada di Batavia, terutama komunitas sosial yang berusaha diciptakan oleh VOC

Jean Gelman Taylor dalam tulisannya mengenai kehidupan sosial di Batavia di mana para pendatang yang berasal dari Eropa khususnya Belanda menciptakan kelas-kelas pergaulan lengkap dengan aturan resminya.

Picture: Adolf Heuken, SJ
Yang unik, interaksi sosial di Batavia tidak bisa lepas dari kehadiran para perempuan yang meskipun dianggap nomor dua namun sulit disangkal menimbulkan jalinan kekerabatan yang menguntungkan antara keluarga saudagar dengan para pejabat yang akhirnya berpengaruh pada karir suami dan keturunan mereka.

Dalam pergaulan di Batavia terdapat kaum Mestizo yang orang-orangnya merupakan hasil kawin campur antara Asia dan Eropa.  Ada pula orang Indies, yang mengacu pada orang-orang eropa yang mengikuti budaya Mestizo.  Yang dimaksud dengan orang Eropa adalah mereka yang lahir di daratan Eropa.

Sementara istilah komunitas Eropa digunakan dalam pengertian hukum yang mencakup orang-orang yang lahir di Eropa maupun Asia dan orang campuran keturunan Eropa.

Sebutan Kreol digunakan untuk anak yang lahir di Asia dari orangtua asal Eropa dan menempati kasta tinggi di Batavia.

Batavia sebelum kedatangan Cornelis de Houtman dengan armadanya merupakan daerah pelabuhan di bawah kekuasaan kerajaan Banten dan masih bernama Jacatra dengan penduduk mayoritas dari suku Sunda.  Kedatangan de Houtman pada tahun 1596 disusul oleh kedatangan kapal dagang Belanda lainnya sehingga orang-orang Belanda yang tergabung dalam VOC tersebut diijinkan oleh Pangeran Wijayakrama sebagai penguasa Jacatra pada saat itu untuk membangun pemukiman.

Para personil VOC diikat kontrak kerja selama lima tahun; ada yang sebagai pedagang atau pegawai administrasi misalnya sebagai juru tulis, jabatan yang paling rendah atau menjadi tentara VOC.  Merekalah yang paling banyak berbaur dengan masyarakat lokal terutama dengan perempuan-perempuan setempat yang menjadi gundik atau istri mereka.