06 November 2014

Menanam Harapan Untuk Suramadu

Berbicara tentang daerah sekitar Suramadu (bpws.go.id, saya teringat beberapa waktu menjelang kepergian saya ke Madura.  Mencari kendaraan dari Surabaya ke Madura ( http://plat-m.com/ )Bukan hal yang sulit memang, karena memang bejibun travel dan bis ke Madura.  Namun ada catatan waktu itu yang mendasari pemilihan kendaraan.

Umumnya disarankan agar memilih bis Patas dari terminal Bungurasih dan bukan bis biasa karena bis biasa melewati selat yang berarti melalui pelabuhan; bis Patas langsung melalui jembatan Suramadu dan dari segi waktu lebih cepat karena tidak perlu mengantri.

Dan memang dari jalanan kota Surabaya langsung melaju menaiki Jembatan yang menyambungkan Surabaya dan Madura,  dan dalam waktu singkat sampai sudah.

Sekilas dari atas jembatan terlihat pelabuhan Tanjung Perak yang sepi, ada beberapa kapal yang sedang berlayar di tengah selat.

Ini pertama kalinya saya ke Madura jadi saya tidak pernah merasakan eksotisnya menyeberangi selat Madura.

Ada kejadian lucu 2 minggu sebelum keberangkatan, saat saya menelepon hotel di Pamekasan untuk memesan kamar.  Kedatangan saya memang ingin menyaksikan kerapan sapi piala Presiden di GOR Pamekasan.  Informasi ini saya peroleh dari blogger madura Plat M (http://plat-m.com/ ) dan ketika iseng saya tanyakan event itu pada resepsionis, cukup surprise karena mbak resepsionis malah tidak tahu bahwa akan ada event seseru itu yang cukup banyak menarik perhatian turis asing.

Kejadian lucu kedua adalah saat mengobrol dalam mobil travel yang mengangkut saya dari Surabaya ke Pamekasan.  Para penumpang travel yang semuanya mahasiswa asal Madura tidak mengetahui ada tempat bernama Gili Labak ataupun Kalianget.  Apa yang salah?  Jika penduduk Madura sendiri kurang paham tentang wilayahnya maka itu adalah juga tugas pemerintah daerah untuk secara masif mendorong rakyatnya agar tahu tentang tanah kelahiran mereka.

23 Oktober 2014

MADURA : Kecantikan dari Tanah Gersang

Saya melirik jam tangan, masih jam 5 kurang 10 menit namun langit Surabaya sudah terang layaknya pukul 6 pagi.


Supir taxi yang tadi menemani ngobrol sudah pamit untuk mencari penumpang.  Tinggallah saya di minimarket komplek Pasar Turi menunggu travel ke Pamekasan.  Rasanya perut agak mulas, tapi toilet berada di dalam stasiun yang masih tutup, harus cari toilet umum ini.  Usut punya usut, petugas minimarket menyarankan untuk ke toilet umum di luar komplek stasiun, tak jauh memang.  Ke sanalah saya menuju.  Letaknya dalam perkampungan penduduk; rupanya pengelolanya sadar bahwa banyak penumpang kereta yang datang kepagian kayak saya yang butuh toilet.  Saat saya sampai di sana, beberapa ayam sedang berlompatan di depan toilet.  Masih mending cuma ayam, lah yang di Ujung Kulon waktu itu malah babi yang mondar-mandir depan toilet :)


Setelah selesai, saya kembali duduk di teras minimarket.  Udara Surabaya yang kian memanas membuat saya bergegas masuk ruang keberangkatan yang sudah dibuka, lebih baik menunggu di sana yang ada acnya.

Mobil travel pun datang terlambat 2 jam lebih dari kesepakatan, ah tak apalah toh mereka sudah meminta maaf, saya tak ingin mengganggu perjalanan ini dengan rasa dongkol yang tak perlu.  Saya masuk dan segera bersandar dengan nyaman.

Lewat Suramadu kemudian Bangkalan, pikiran masih sadar saat melewati sejumlah resto bebek yang beberapa diantaranya sudah sangat dikenal.  Namun kesadaran itu tak lama.  Bangkalan belum lagi terlewati saya pun terlelap sampai pintu masuk Pamekasan.

12 Oktober 2014

Auwjong Peng Koen-Hidup Sederhana Berpikir Mulia

Apa yang menarik dari orang Cina, golongan minoritas di Indonesia?  karena yang sedikit ini kadang melakukan sesuatu melebihi mayoritas.  Golongan minoritas identik dengan stigma negatif dan diskriminasi.  Butuh keberanian luar biasa untuk membubarkan prasangka yang telanjur tertanam selama berabad-abad.

Beberapa memang menonjol dan tercatat dengan tinta emas di lembar-lembar ingatan rakyat Indonesia.  Yap Thiam Hien dan Soe Hok Gie termasuk dua di antaranya.  Tentu masih banyak lagi nama dari berbagai bidang yang membuat kita harus angkat topi, kagum dengan kekonsistenan mereka yang seakan tanpa batas.

Adalah Auw Jong Peng Koen, adalah juga satu dari yang jarang itu.  Pria Cina, Kristiani kelahiran Padang itu kerap disebut dengan penuh hormat oleh Mohammad Roem, mantan wakil perdana menteri pada masa kabinet Ali Sastro Amidjojo.

Suatu hari Mohammad Roem yang sedang meringkuk di penjara Madiun bersama Anak Agung Gde Agung, Sutan Sjahrir, Prawoto Mangkusasmito, Sultan Hamid dan Soebadio Sastrosatomo menerima sepucuk surat dari orang yang baru ia kenal.  Orang itu itu adalah pemimpin harian Star Weekly, Auwjong Peng Koen.

Dalam surat itu, Auwjong menyisipkan daftar buku-buku terbitan para penerbit kelas dunia yang dapat dipilih oleh para narapidana politik itu sesuka mereka.  Bagi tahanan politik sekelas Roem dan kawan-kawan buku adalah makanan rohani.  Maka tawaran Auwjong benar-benar anugerah tak disangka.  Segera setelah judul-judul buku dipilih, Auwjong segera mengirimkan sesuai daftar.  Sejak saat itu terjalin persahabatan hangat antara Mohammad Roem dan Auwjong Peng Koen.

Mohtar Lubis pun dalam tulisannya untuk mengenang Auwjong menyebutkan selama dalam tahanan selain mengirim buku-buku Auwjong juga tak segan-segan memperhatikan keluarga para tahanan.  Pun, saat korannya Indonesia Raya dibredel, Auwjong menanyakan bantuan apa yang diperlukan dan berusaha menampung para karyawan koran itu dalam Star Weekly.

26 September 2014

Jawa Suriname

 
-->
Penghapusan perbudakan yang dikumandangkan oleh Abraham Lincoln tahun 1863 telah sampai gemanya ke negara-negara koloni Belanda seperti Suriname.  Akibatnya koloni yang menyandarkan perekonomiannya pada perkebunan itu mengalami kesulitan mendapatkan tenaga kerja yang murah untuk mengurus ratusan hektar tanah perkebunan.



Pemerintah kolonial pun melirik tanah jajahannya di Hindia Belanda.  Sebagai percobaan, tahun 1890 dikirimkan seratus orang Jawa ke Suriname untuk dipekerjakan di perkebunan Tebu Marienburg.  Para pekerja kontrak asal Jawa itu menandatangani (dipaksa?) kontrak kerja selama 5 tahun dengan upah sekitar 60 sen untuk pria dan 40 sen untuk wanita.



14 September 2014

Andai Ahmad Wahib Masih Hidup

Dari mana saya tahu tentang Ahmad Wahib? Tentu bukan dari guru di sekolah.

Saya baru mengenal nama Ahmad Wahib saat membeli buku Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran yang bertepatan dengan penayangan perdana filmnya sekitar tahun 2005, sembilan tahun yang lalu.
Dalam buku tersebut terdapat tulisan pengantar dari Daniel Dakhidae yang menyinggung pula nama Ahmad Wahid sebagai intelektual muda disejajarkan dengan Gie.

Dari situlah saya mengenal serba sedikit tentang Ahmad Wahib yang disebut-sebut sebagai intelektual muda Islam.  Sampai hari ini pun saya baru sedikit saja membaca tulisan-tulisannya karena bukunya sudah susah saya temukan.  Namun kalau boleh saya deskripsikan Ahmad Wahib adalah versi muda dari Abdurrahman Wahid.  Hanya sayang kita memang tidak akan bisa melihat bagaimana Ahmad Wahib yang gelisah menjalani masa tuanya karena beliau keburu wafat dalam usia 30 tahun. 

Sebagai lulusan pesantren Wahib malah sempat mengenyam pendidikan filsafat di sekolah tinggi Driyarkara.  Langkahnya mengingatkan pada semangat para orientalis barat yang demi mengetahui dan mengupas intisari Islam baik agama dan umatnya mereka menekuni Al Quran, bahkan orientalis kondang seperti Snouck Hurgronye nekat pergi ke Mekah yang terlarang bagi non muslim.  Perbedaannya Wahib melakukan itu demi pemahaman yang lebih baik dalam hubungan antar umat beragama dan memuaskan keingintahuan akan Islam yang sesungguhnya.

sumber: Insist.com