17 Juni 2014

Soetartinah : Bangsawan Hati dan Perbuatan

Wajah anak perempuan pribumi itu memerah menahan geram.  Bibirnya bergerak-gerak sementara tangannya terkepal.  Sementara di depannya seorang bocah Belanda totok, Karel namanya terus mengejek. Yang membikin Tinah murka, bocah Belanda pirang itu mengejek ayahnya.

Dan..Plaaak, kepala Karel pun tersentak ke belakang.  Tangan Tinah tanpa ampun menghantam bibir bocah itu hingga berdarah. Beberapa anak Belanda yang sedang menonton keributan itu pun terdiam, melongo.  Tak percaya jika gadis kecil itu berani menampar Karel.  Mana ada ceritanya anak pribumi berani melawan Sinyo.  Anak perempuan lagi.

Tinah memandang Karel dengan tajam, sementara dari sudut matanya ia melihat guru-guru berdatangan melerai.
dari Troppen Museum

Sore itu Tinah menghadap sang ayah. Surat dari direktur ELS tentang kejadian tadi pagi pasti telah sampai ke tangan ayahnya.  Debaran jantungnya sontak mereda begitu melihat wajah ayahnya yang serius namun tidak nampak tanda amarah di situ.

Tinah melangkah ringan keluar dari kamar.  "Keturunan Brandal Diponegoro".  Terngiang-ngiang di kepalanya saat sang ayah mengucapkan kalimat itu dengan sorot mata berbinar penuh kebanggaan.

08 Juni 2014

Sawahlunto: Laku Tandang Kuli Tambang


Sumatera Barat bukan hanya terkenal dengan para cerdik pandai yang hasil pemikirannya melesat melampaui generasi setelahnya tapi sebagian besar dari infrastrukturnya pun dibangun dari cucuran keringat para kuli tak bernama.

Tak  berbeda dengan daerah terpencil di hulu sungai Ombilin, Sawahlunto ternyata menyimpan kekayaan tambang tiada tara.  Jutaan ton batu bara sudah menunggu untuk diekplorasi dan itu butuh tenaga manusia yang tidak sedikit untuk dipekerjakan.

Para pejabat di Batavia tak kekurangan akal, didatangkanlah orang-orang dari Jawa, mereka adalah para narapidana, tahanan yang kehilangan hak-haknya sehingga mudah saja bagi pemerintah kolonial menjebloskan mereka ke dalam tambang, tak peduli latar belakang mereka sebagai petani yang belum pernah berurusan dengan dunia bawah tanah yang gelap. Ke depannya tidak hanya tahanan dari Jawa yang dilempar ke tambang, tahanan dari wilayah lain seperti Sulawesi pun diikutsertakan.

Sisi lain dari Goedang Ransoem

05 Juni 2014

Sawahlunto: Mengenang Kota Tambang

"Ini Silungkang".

Demikian Pak Indra, driver kami selama di Sumatera Barat membangunkan saya yang sedang terkantuk-kantuk menikmati perjalanan panjang dari bandara ke Sawahlunto.

Silungkang, dengan mata setengah terpicing saya memperhatikan tepian jalan raya.  Inikah Silungkang yang dahulu pernah sohor dengan pemberontakan Silungkang tahun 1927? sekarang adalah daerah sepi di ruas jalur lintas Sumatera.

Ketika saya menyebut tentang pemberontakan Silungkang dan Sumatera Tawalib, raut muka pak Indra datar-datar saja demikian juga ketika kata Tambo terucap dari mulut saya.  Dengan tampang bingung ia bertanya "Tambo? apa itu".


Stasiun kereta yang sekarang jadi museum

28 Mei 2014

Petisi 50: Jaman Kowe Ora Penak Blas..

"Isih penak jamanku toh Le", tulisan dengan gambar muka lelaki tua tersenyum ramah memang kerap berseliweran, memancing senyum siapa saja yang melihat.

Sesaat tulisan itu memang seperti lelucon, namun lama kelamaan terasa seperti pariwara tentang jaman di mana sandang-pangan-pendidikan dapat dijangkau oleh rakyat kebanyakan, kira-kira seperti itulah pesan yang ingin disampaikan.  Toh tagline populer itu sempat masuk menjadi tema kampanye Golkar yang mengundang Mamiek Soeharto sebagai juru kampanye

dari google
Bagi Chris Siner Key Timu, mantan dosen Universitas Atmajaya, kalimat bernada olok-olok seperti ini terasa mencemaskan.  Ia masih ingat saat dipecat dari jabatannya sebagai dosen sekaligus  pembantu rektor di Universitas tersebut gara-gara ikut menandatangani Petisi 50 ditahun 1980.

Petisi 50 adalah petisi dari kelompok yang berawal dari forum komunikasi dan studi Angkatan Darat lalu berkembang menjadi Lembaga Kesadaran Berkonstitusi yang diikuti oleh sipil dan para purnawirawan.  Tercatat para penanda tangan Petisi ini adalah sejumlah tokoh negarawan yang amat dihormati integritasnya. Di antaranya adalah Ali Sadikin, Mohamad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, AH Nasution, Burhanuddin Harahap, SK Trimurti dan Hoegeng Iman Santosa.  Nama petisi 50 berasal dari Ali Moertopo

17 Mei 2014

Amir dan Sjahrir : Tragedi Duo Sosialis

Bagaikan 2 orang yang bertemu dalam perjalanan, bersama beberapa saat dan berpisah kala menemukan jalan bersimpang.  Sempat akrab namun berlalu begitu saja.

Kira-kira seperti itulah hubungan antara Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifoeddin.  Dua orang yang sangat berpengaruh dalam kabinet.  Sama-sama orang Sumatera yang mengenyam tradisi pendidikan barat di Leiden, Belanda.

Amir Sjarifoeddin & Sutan Sjahrir di Madiun (dari google)

Sama-sama menganut paham sosialis namun dengan kecenderungan berbeda.  Amir dekat dengan paham komunis sedangkan Sjahrir anti komunis.  

Menurut Soemarsono, tokoh pemuda dalam pertempuran Surabaya dan pemberontakan Madiun, Amir sempat diusulkan menjadi pembaca naskah proklamasi namun batal karena yang bersangkutan masih berada dalam penjara.