Wajah anak perempuan pribumi itu memerah menahan geram. Bibirnya bergerak-gerak sementara tangannya terkepal. Sementara di depannya seorang bocah Belanda totok, Karel namanya terus mengejek. Yang membikin Tinah murka, bocah Belanda pirang itu mengejek ayahnya.
Dan..Plaaak, kepala Karel pun tersentak ke belakang. Tangan Tinah tanpa ampun menghantam bibir bocah itu hingga berdarah. Beberapa anak Belanda yang sedang menonton keributan itu pun terdiam, melongo. Tak percaya jika gadis kecil itu berani menampar Karel. Mana ada ceritanya anak pribumi berani melawan Sinyo. Anak perempuan lagi.
Tinah memandang Karel dengan tajam, sementara dari sudut matanya ia melihat guru-guru berdatangan melerai.
![]() |
| dari Troppen Museum |
Sore itu Tinah menghadap sang ayah. Surat dari direktur ELS tentang kejadian tadi pagi pasti telah sampai ke tangan ayahnya. Debaran jantungnya sontak mereda begitu melihat wajah ayahnya yang serius namun tidak nampak tanda amarah di situ.
Tinah melangkah ringan keluar dari kamar. "Keturunan Brandal Diponegoro". Terngiang-ngiang di kepalanya saat sang ayah mengucapkan kalimat itu dengan sorot mata berbinar penuh kebanggaan.




