Saat amarah dan gelisah lagi lagi mulai menyelinap dalam hati, terbacalah sebuah buku, tampak sedikit kumal, karena saya lupa menyampulnya.
Buku tentang Inggit Garnasih, perempuan tatar Sunda yang sederhana, Sekolah rakyat pun tidak lulus.
Inggit, kekasih Soekarno. Ia masuk ke dalam kehidupan Soekarno sebagai ibu kost di Bandung. Soekarno masih menjadi mahasiswa di Technische Hoogershchool yang sekarang bernama ITB.
Soekarno saat itu telah menikah dengan Oetari, putri HOS Tjokroaminoto, sedangkan Inggit menjadi istri Sanoesi, seorang pengusaha.
Kepada Inggitlah , Soekarno mengeluh mengenai hubungan dengan Oetari yang tidak sesuai dengan harapannya. Inggit duduk mendengarkan dan memberi saran.
Wajar bila cinta perlahan merayap di hati dua orang yang sering bersama sama. Soekarno diam diam mengagumi kecantikan dan kedewasaan ibu kost-nya itu. Inggit pun mulai menaruh perhatian terhadap mahasiswa ganteng yang terpaut 12 tahun lebih muda darinya.
Apa mau dikata, keduanya terikat dengan pasangan masing masing. Keadaan yang meruncing itu berakhir ketika Soekarno mengembalikan Oetari ke Surabaya. Inggit pun meminta cerai dari Sanoesi.
Inggit lebih memilih Soekarno, mahasiswa miskin dengan resiko harus berpisah dengan segala kemapanan sebagai istri seorang pengusaha.
Di sisi Soekarno, Inggit bekerja keras membiayai sekolah dan perjuangan sang kekasih. Dengan batu pipisannya ia membuat alas bedak bernama Sari Pohaci yang disukai oleh pemudi Bandung saat itu. Ia juga menjahit kutang demi membiayai hidup mereka berdua. Menggadaikan satu demi satu perhiasan dan tanah untuk memberikan modal bagi PNI, partai yang baru didirikan Soekarno
Saat Soekarno ditahan di penjara Banceuy dan Sukamiskin, Inggit rela berjalan kaki berkilo meter, membawa makanan untuk kekasihnya. Menyelundupkan buku dan pesan pesan perjuangan dilakoninya dengan gagah tanpa gentar. Atas nama cinta.
Kecintaannya yang besar kepada Soekarno membawanya ke Ende, mendampingi sang pujaan yang lagi lagi dibuang oleh pemerintah kolonial.
Saat Soekarno lebih memilih perempuan lain, Inggit dengan rela dan ikhlas melepas pujaan hatinya. Ia memilih kembali ke Bandung, kembali meramu bedak dan menjahit kutang untuk menyambung hidup.
Cinta Inggit kepada Soekarno tidak pernah pudar, saat Soekarno meninggal Ia segera menuju Jakarta. Tubuh yang ringkih itu mendadak limbung saat ia melihat wajah kekasih hatinya.
Air mata mengalir melintasi pipi keriputnya. Dengan lirih ia mengucapkan sebaris doa untuk Soekarno, kekasih sekaligus teman seperjuangannya.
Air mata saya selalu mengalir saat membaca kisah Inggit, perempuan yang tidak bisa menulis itu mengajarkan kesetiaan cinta dan kasih sayang tanpa pamrih. Di sudut hati, betapa malunya saya terhadap Inggit, saya belum bisa meniru setengah dari wataknya.
Dalam hati saya masih terdapat pamrih pamrih pribadi terhadap kekasih, rasa ingin diperhatikan masih selalu meraja lela dalam hati saya. Rasa cemburu masih saja menyiksa.
Ah Ibu, ijinkan saya memiliki separuh saja dari ketulusan dan kebersihan hatimu....keikhlasan dalam merelakan sang kekasih bersama orang lain. Keikhlasan untuk hanya memberi tanpa mengharap kembali. Kerelaan mencintai seseorang dalam diam.
Kedengkian dan amarahku pun perlahan padam. Ah, kekasih, dimanapun kau berada semoga selalu bahagia.
04 April 2010
02 April 2010
KERINDUAN SPIRITUAL
Kamis malam, dengan lelah saya mengayunkan langkah meninggalkan kantor. Lalu lintas padat sekali, saya melewati gereja cantik tak jauh dari kantor saya yang penuh dengan jemaat menjelang Paskah.
Tiba tiba saya teringat dengan percakapan dengan salah satu sahabat sehari sebelumnya. Ia menceritakan kegiatannya di gereja menjelang Paskah.
Mendadak saya rindu dengan suasana spiritualitas itu, jangan salah sangka, saya sama sekali bukan orang yang agamis, agama bagi saya adalah suatu yang privat dan saya tidak berminat mendiskusikan agama dengan orang lain.
Spiritualitas yang saya rindukan lebih terkait dengan rasa. Mirip kisah orang yang merindukan Mekah untuk melaksanakan ibadah Haji. Saya memilih merindukan masjid masjid kuno di Demak, Kadilangu, Cirebon, Kudus dan Ampel sana.
Tuhan memang ada dimana mana, tapi sekali ini saya ingin menemui Tuhan di masjid masjid tersebut. Sekali lagi ini hanyalah rasa. Doa yang akan saya panjatkan di tempat itu belum tentu terkabul.
Rasanya ingin mengadakan perjalanan panjang menelusuri daerah daerah itu, merasakan aroma keagamaan yang berpadu harmonis dengan kebudayaan setempat.
Suatu saat, panggilan itu akan saya penuhi. Saya akan menyiapkan diri untuk perjalanan batin tersebut.
Note :
Tiba tiba saya ingin menyisipkan entry tentang pondok pesantren waria di daerah Notoyudan, Jogja. Entah mengapa saya merasa justru di tengah tengah para waria itu terasa kekhusukan yang kental saat mereka berdoa. Aroma keTuhanan terasa tulus di sana dibanding zikir zikir akbar yang diliput oleh televisi.
Merekalah para pencari Tuhan yang tersisih.
Tiba tiba saya teringat dengan percakapan dengan salah satu sahabat sehari sebelumnya. Ia menceritakan kegiatannya di gereja menjelang Paskah.
Mendadak saya rindu dengan suasana spiritualitas itu, jangan salah sangka, saya sama sekali bukan orang yang agamis, agama bagi saya adalah suatu yang privat dan saya tidak berminat mendiskusikan agama dengan orang lain.
Spiritualitas yang saya rindukan lebih terkait dengan rasa. Mirip kisah orang yang merindukan Mekah untuk melaksanakan ibadah Haji. Saya memilih merindukan masjid masjid kuno di Demak, Kadilangu, Cirebon, Kudus dan Ampel sana.
Tuhan memang ada dimana mana, tapi sekali ini saya ingin menemui Tuhan di masjid masjid tersebut. Sekali lagi ini hanyalah rasa. Doa yang akan saya panjatkan di tempat itu belum tentu terkabul.
Rasanya ingin mengadakan perjalanan panjang menelusuri daerah daerah itu, merasakan aroma keagamaan yang berpadu harmonis dengan kebudayaan setempat.
Suatu saat, panggilan itu akan saya penuhi. Saya akan menyiapkan diri untuk perjalanan batin tersebut.
Note :
Tiba tiba saya ingin menyisipkan entry tentang pondok pesantren waria di daerah Notoyudan, Jogja. Entah mengapa saya merasa justru di tengah tengah para waria itu terasa kekhusukan yang kental saat mereka berdoa. Aroma keTuhanan terasa tulus di sana dibanding zikir zikir akbar yang diliput oleh televisi.
Merekalah para pencari Tuhan yang tersisih.
27 Maret 2010
Wawancara dengan Soros
Mengikuti wawancara Dessy Anwar dg George Soros di Metro TV hari ini? Soros yang dikenal sebagai penghancur ekonomi tahun 1998. Di Inggris dikenal peristiwa Black Wednesday tahun 1992, dimana ia memborong dan menjual poundsterling sampai senilai 10 milyar pounds. Bisa dibayangkan jika mata uang dikuasai oleh satu orang, apa yang terjadi?
Yang menarik, Soros sebagai seorang Kapitalis radikal sejati yang sudah pasti menganut paham liberalisasi ekonomi dalam wawancara mengomentari bahwa membebaskan pasar untuk mencari keseimbangan adalah langkah yang salah.
Ha,,ha kebayang dong wajah Budiono dan Sri Mulyani penganut setia IMF. Bukankah mereka membiarkan saja harga harga di Indonesia merangkak naik mengikuti harga pasar International.
Bagaimana mungkin Indonesia sebagai salah satu produsen minyak terbesar, sama sekali tidak mempunyai otoritas untuk menjual minyak dari halaman rumahnya dengan harga pantas. Harga minyak dikendalikan dari New York sana; oleh para spekulan yang mungkin hanya menggunakan sedikit minyak goreng untuk kebutuhan pribadinya. Sementara rakyat Indonesia harus membeli minyak goreng dengan harga yang berlipat lipat.
Kenapa pemerintah tidak memenuhi kebutuhan dalam negeri dulu agar rakyat Indonesia memperoleh manfaat lebih dulu dari hasil negaranya.
Pemerintah mem-BHP-kan perguruan tinggi, dengan alasan agar kampus bisa mandiri dan tidak bergantung pada subsidi. Padahal pendidikan adalah kebutuhan vital bagi rakyat. Bayangkan kalau dulu orang miskin masih ada harapan untuk kuliah, sekarang jangan ditanya.
Bahkan amerika yang mbah-nya neolib saja masih mensubsidi pendidikan dan kesehatan bagi warganya.
Jika tidak dicegah, jangan jangan 5 atau 10 tahun lagi angkatan kerja Indonesia kebanyakan akan didominasi oleh lulusan SMK saja karena tidak kuat melanjutkan ke jenjang akademis. Begitu menurut dugaan dari salah satu buku yang saya baca.
Cina dan India yang tidak mengikuti resep IMF terbukti sukses menghadapi krisis demi krisis, bahkan ada dugaan bahwa kini paradigma ekonomi tidak lagi berada di Amerika dan Eropa tapi mulai bergeser ke 2 negara asia tersebut.
Cina, suatu negara dimana warganya hampir tidak bisa bahasa Inggris sama sekali, pemerintahnya masih berhaluan komunis, tapi toh sukses mengelola warga dengan home industrinya yang merambah pasar dunia. India, negara dimana warga miskin bergeletakan di jalanan, kelaparan masih merajalela di beberapa negara bagiannya tapi toh perlahan mereka meretas jalan sebagai macan asia dengan kemampuan ITnya, bukan macan ompong.
Kedua negara itu sukses sebagai produsen, bukannya negara pasar seperti Indonesia. Yah, berkat neolib Indonesia hanya mampu menjadi pasar saja, sekedar konsumen.
Kopi dan Coklat kita terbaik sedunia, toh lagi lagi pasar kopi kita dikuasai oleh starbuck dan coffee bean. Sementara Swiss yang di negaranya tidak terdapat sebatang pun pohon coklat, merupakan produsen coklat mahal terkenal.
Nilai tambah atas barang kita dikuasai oleh negara lain. Pemerintah alih alih memperkuat industri dalam negeri, lebih suka membuka keran impor besar besar.
Yah, kapitalisme-nya Adam Smith hanya mengijinkan liberalisasi atas pabrik dan perdagangan semata. Sementara Hayek dan Friedman memperluas cakupan liberalisasi sampai kepada politik dan kebijakan.
Subsidi dan BUMN hanya pemborosan APBN begitu mungkin pikiran mereka. Memang BUMN sarang korupsi, tapi bukan berarti harus dijual kepada pihak asing. BUMN harus disehatkan sehingga dapat berfungsi benar.
Subsidi BBM harus dihapus karena yang menikmati adalah orang kaya. Padahal dengan dicabutnya subsidi BBM, rakyat kecil yang menerima akibatnya karena diikuti oleh naiknya harga kebutuhan pokok. Bagi orang kaya pencabutan subsidi BBM tidaklah terlalu berpengaruh.
Jadi kalau sekarang masih ada Kyai atau pejabat yang berkoar koar tentang bangkitnya komunisme. Harus diperiksa lagi otak mereka, komunisme bagi mereka adalah PKI yang membunuh jenderal jenderal (walaupun belakangan dicurigai bahwa itu perbuatan tentara sendiri), komunisme adalah tidak bertuhan (walaupun yang mengaku berTuhan ternyata melakukan pembunuhan dimana mana). Ternyata komunisme tidak mencekik rakyat kecil sampai mati dalam kemiskinan. Bandingkan dengan konsep neo liberalisme dimana pribadi pribadi bergerak mencari keuntungan tanpa mempedulikan yang miskin.
Masih menurut Soros, harus ada regulator yang mengawasi pasar yang dalam hal ini adalah pemerintah. Lah, terus ngapain aja pemerintah kita sekarang?
Yang menarik, Soros sebagai seorang Kapitalis radikal sejati yang sudah pasti menganut paham liberalisasi ekonomi dalam wawancara mengomentari bahwa membebaskan pasar untuk mencari keseimbangan adalah langkah yang salah.
Ha,,ha kebayang dong wajah Budiono dan Sri Mulyani penganut setia IMF. Bukankah mereka membiarkan saja harga harga di Indonesia merangkak naik mengikuti harga pasar International.
Bagaimana mungkin Indonesia sebagai salah satu produsen minyak terbesar, sama sekali tidak mempunyai otoritas untuk menjual minyak dari halaman rumahnya dengan harga pantas. Harga minyak dikendalikan dari New York sana; oleh para spekulan yang mungkin hanya menggunakan sedikit minyak goreng untuk kebutuhan pribadinya. Sementara rakyat Indonesia harus membeli minyak goreng dengan harga yang berlipat lipat.
Kenapa pemerintah tidak memenuhi kebutuhan dalam negeri dulu agar rakyat Indonesia memperoleh manfaat lebih dulu dari hasil negaranya.
Pemerintah mem-BHP-kan perguruan tinggi, dengan alasan agar kampus bisa mandiri dan tidak bergantung pada subsidi. Padahal pendidikan adalah kebutuhan vital bagi rakyat. Bayangkan kalau dulu orang miskin masih ada harapan untuk kuliah, sekarang jangan ditanya.
Bahkan amerika yang mbah-nya neolib saja masih mensubsidi pendidikan dan kesehatan bagi warganya.
Jika tidak dicegah, jangan jangan 5 atau 10 tahun lagi angkatan kerja Indonesia kebanyakan akan didominasi oleh lulusan SMK saja karena tidak kuat melanjutkan ke jenjang akademis. Begitu menurut dugaan dari salah satu buku yang saya baca.
Cina dan India yang tidak mengikuti resep IMF terbukti sukses menghadapi krisis demi krisis, bahkan ada dugaan bahwa kini paradigma ekonomi tidak lagi berada di Amerika dan Eropa tapi mulai bergeser ke 2 negara asia tersebut.
Cina, suatu negara dimana warganya hampir tidak bisa bahasa Inggris sama sekali, pemerintahnya masih berhaluan komunis, tapi toh sukses mengelola warga dengan home industrinya yang merambah pasar dunia. India, negara dimana warga miskin bergeletakan di jalanan, kelaparan masih merajalela di beberapa negara bagiannya tapi toh perlahan mereka meretas jalan sebagai macan asia dengan kemampuan ITnya, bukan macan ompong.
Kedua negara itu sukses sebagai produsen, bukannya negara pasar seperti Indonesia. Yah, berkat neolib Indonesia hanya mampu menjadi pasar saja, sekedar konsumen.
Kopi dan Coklat kita terbaik sedunia, toh lagi lagi pasar kopi kita dikuasai oleh starbuck dan coffee bean. Sementara Swiss yang di negaranya tidak terdapat sebatang pun pohon coklat, merupakan produsen coklat mahal terkenal.
Nilai tambah atas barang kita dikuasai oleh negara lain. Pemerintah alih alih memperkuat industri dalam negeri, lebih suka membuka keran impor besar besar.
Yah, kapitalisme-nya Adam Smith hanya mengijinkan liberalisasi atas pabrik dan perdagangan semata. Sementara Hayek dan Friedman memperluas cakupan liberalisasi sampai kepada politik dan kebijakan.
Subsidi dan BUMN hanya pemborosan APBN begitu mungkin pikiran mereka. Memang BUMN sarang korupsi, tapi bukan berarti harus dijual kepada pihak asing. BUMN harus disehatkan sehingga dapat berfungsi benar.
Subsidi BBM harus dihapus karena yang menikmati adalah orang kaya. Padahal dengan dicabutnya subsidi BBM, rakyat kecil yang menerima akibatnya karena diikuti oleh naiknya harga kebutuhan pokok. Bagi orang kaya pencabutan subsidi BBM tidaklah terlalu berpengaruh.
Jadi kalau sekarang masih ada Kyai atau pejabat yang berkoar koar tentang bangkitnya komunisme. Harus diperiksa lagi otak mereka, komunisme bagi mereka adalah PKI yang membunuh jenderal jenderal (walaupun belakangan dicurigai bahwa itu perbuatan tentara sendiri), komunisme adalah tidak bertuhan (walaupun yang mengaku berTuhan ternyata melakukan pembunuhan dimana mana). Ternyata komunisme tidak mencekik rakyat kecil sampai mati dalam kemiskinan. Bandingkan dengan konsep neo liberalisme dimana pribadi pribadi bergerak mencari keuntungan tanpa mempedulikan yang miskin.
Masih menurut Soros, harus ada regulator yang mengawasi pasar yang dalam hal ini adalah pemerintah. Lah, terus ngapain aja pemerintah kita sekarang?
Beneran Awet Muda?
Kuliah dimana mbak? lagi lagi pertanyaan itu mampir untukku. Biasanya saya menerangkan kalau saya sudah bekerja. tapi jika sudah terlalu sering biasanya saya suka iseng mengiyakan saja perkiraan itu. Saya sering geli sendiri mendengar pertanyaan pertanyaan itu.
Kali ini pertanyaan itu ditanyakan (untuk yang kesekian puluh kalinya) oleh mbak dan mas di salon. Biasanya saya santai saja menjawab dengan jawaban yang itu itu saja, sudah bekerja. Kali ini saya merenungkan pertanyaan itu, masa iya sih orang orang salon yang selalu peka akan jumlah kerutan di muka seseorang bisa selalu salah menerka umur saya. Saya sampai meraba kulit wajah untuk memastikan, mungkinkah elastisitas kulit bisa menipu.
Masa sih mereka tidak curiga dengan wajah di hadapannya. Okelah badan saya memang tidak gemuk, tapi masa sih tidak ada yang sadar kalau saya adalah ibu beranak satu dengan umur yang 4 tahun lagi menginjak 40, bukan lagi anak kuliahan. Baiklah saya memang sempat membuat terkejut seisi ruangan seminar saat menyebut tahun kelahiran saya, seorang mentor sempat berkata bahwa semula ia menduga umur saya masih 25 tahun-an...halah..!
Bahkan saat saya turun dari mobil di depan kantor karena diantar suami, salah seorang penjaga kantor sempat bergurau..kirain masih perawan, mbak...waduh..!
Ah, saya jadi curiga jangan jangan ini siasat si mbak aja yang ingin menyenangkan hati pelanggan. Tahu kan, perempuan selalu senang dianggap awet muda.
Jangan jangan semua dugaan itu sebenarnya hanya basa basi, sekedar menunjukkan keramahan. Tentu saja saya tidak berani menyampaikan itu kepada suami. Nanti malah dianggap ge-er.
Ya sudahlah, untuk sementara terima saja dulu,,,toh gak rugi ini.
Kali ini pertanyaan itu ditanyakan (untuk yang kesekian puluh kalinya) oleh mbak dan mas di salon. Biasanya saya santai saja menjawab dengan jawaban yang itu itu saja, sudah bekerja. Kali ini saya merenungkan pertanyaan itu, masa iya sih orang orang salon yang selalu peka akan jumlah kerutan di muka seseorang bisa selalu salah menerka umur saya. Saya sampai meraba kulit wajah untuk memastikan, mungkinkah elastisitas kulit bisa menipu.
Masa sih mereka tidak curiga dengan wajah di hadapannya. Okelah badan saya memang tidak gemuk, tapi masa sih tidak ada yang sadar kalau saya adalah ibu beranak satu dengan umur yang 4 tahun lagi menginjak 40, bukan lagi anak kuliahan. Baiklah saya memang sempat membuat terkejut seisi ruangan seminar saat menyebut tahun kelahiran saya, seorang mentor sempat berkata bahwa semula ia menduga umur saya masih 25 tahun-an...halah..!
Bahkan saat saya turun dari mobil di depan kantor karena diantar suami, salah seorang penjaga kantor sempat bergurau..kirain masih perawan, mbak...waduh..!
Ah, saya jadi curiga jangan jangan ini siasat si mbak aja yang ingin menyenangkan hati pelanggan. Tahu kan, perempuan selalu senang dianggap awet muda.
Jangan jangan semua dugaan itu sebenarnya hanya basa basi, sekedar menunjukkan keramahan. Tentu saja saya tidak berani menyampaikan itu kepada suami. Nanti malah dianggap ge-er.
Ya sudahlah, untuk sementara terima saja dulu,,,toh gak rugi ini.
21 Maret 2010
Selubung Kabut sang Frater
Sekitar bulan November Presiden Soekarno menerima surat terbuka dari seseorang bernama Dadap Waru yang isinya mengecam kedekatan sang Presiden dengan komunis. Saat itu memang Soekarno ingin menyatukan golongan nasionalis, agama dan komunis dengan konsep Nasakom-nya.
Tidak cukup dengan mengecam, ternyata Menurut Jos Hagers dalam artikelnya di surat kabar De Telegraaf bulan Juli tahun 1993 sang Frater disebut sebagai salah satu otak kudeta 1965 yang bertujuan memuluskan langkah Soeharto mendongkel Soekarno.
Kepalang basah dengan langkahnya memusuhi komunis, Beek makin dalam terlibat dalam politik praktis. Dengan kepiawaiannya ia berhasil memukul komunis dan Islam sekaligus. HMI, GMNI, pemuda Muhammadiyah tanpa sadar ikut dalam permainan politik, memburu dan mengeksekusi orang orang yang dicurigai sebagai anggota PKI di pelosok desa yang kebanyakan adalah muslim juga, bahkan umumnya mereka tidak tahu menahu tentang pembantaian para Jenderal
Kedekatannya dengan Ali Moertopo sang ketua Opsus mendorongnya terlibat dalam pembentukan sekber GOLKAR. Ia juga terlibat aktif dalam pendirian CSIS tahun 1971 yang menjadi think tank perumus kebijakan Orba.
Menurut beberapa tulisan yang dikumpulkan, Beek melihat ancaman terhadap Katholik selain Komunis adalah Islam dan Militer. Namun dengan prinsip Minus Malum ia menganggap ancaman Militer lebih kecil dibandingkan Islam.
Ada sebuah tulisan yang yang mengatakan sebagai berikut :
Di sebuah kantor di Jalan Gunung Sahari 88, Jakarta, Van den Heuvel sempat mewawancarai Pater Beek. Pada kesempatan itu, Pater Beek menyatakan keprihatinannya tentang komunisme dan menganggap Islam sudah membahayakan. Ia berambisi ‘menyelamatkan’ minoritas pemeluk agama Katholik saat itu.
Pater Beek berpendapat, hal itu dapat diwujudkan dengan memberi dukungan dan penyuluhan ke TNI. Ia tak segan mengirim satuan tentara untuk memperkuat Orde Baru di bawah pimpinan Jenderal Soeharto. Van den Heuvel sendiri mencap Pater Beek sebagai ‘dalang wayang politik’ di Indonesia.
Sebetulnya, Van den Heuvel sudah menyinggung peran misterius Pater Beek dalam sejarah Indonesia di sebuah roman (1991) dan wawancara (1993). Bahkan, di tahun 1993 Van den Heuvel menyebut Beek sebagai otak genius penggagalan kudeta PKI di tahun 1965 dan makar-makar lainnya setelah itu.
Van den Heuvel sendiri menyaksikan di tahun 1966 Pater Beek sedang menyusun naskah pidato di mesin tik tua merek Remington dan keesokan harinya pidato tersebut dibacakan oleh Soeharto. Selain itu, Van den Heuvel melihat beberapa catatan Beek di tahun 1963 mengenai rencana pembentukan Golkar.
Dengan kedudukannya sebagai kepala asrama Realino di Yogyakarta, ia menerapkan program Kasebul (Kaderisasi Sebulan) dengan metode pelatihan ala militer untuk membentuk kader kader militan pendukung sepak terjangnya. Disebutkan salah satu anak didiknya adalah intelektual muda Ahmad Wahib dan Hasan Basri.
Entah benar atau tidak disebut sebut Benny Moerdani adalah salah satu mentor Kasebul.
Aktivitas militannya tidak pernah mendapat pujian menyeluruh dari Gereja di Indonesia. Ia bahkan berseberangan dengan Romo Mangun. Lokomotif Basis, Romo Dick Hartoko terkesan menghindar saat diwawancara Tempo mengenai Beek.
Akhirnya Vatican memindahkan Beek dari Indonesia atas permintaan Soetopo Yoewono Kabakin waktu itu. Walau tahun 1974 ia kembali ke Indonesia.
Ia wafat tahun 1983 dan dimakamkan di Girisonta, Ungaran.
Beek tercatat sebagai 100 dari orang yang mempengaruhi kondisi politik di Indonesia.
Menurut beberapa kalangan Frater Beek dinilai sebagai seorang dengan kepribadian unik, menarik : tegas, disiplin, logis, realistik, sportif, konsekuen dan saleh.
Kalau memang Beek terlibat dengan kudeta dan kegiatan politik praktis sangat disayangkan seorang panutan dalam agama melakukan hal hal seperti itu.
Saya memang selalu menaruh curiga terhadap pemimpin umat yang terlalu dekat dengan penguasa. Entah itu pemimpin umat muslim ataupun nasrani.
Tidak cukup dengan mengecam, ternyata Menurut Jos Hagers dalam artikelnya di surat kabar De Telegraaf bulan Juli tahun 1993 sang Frater disebut sebagai salah satu otak kudeta 1965 yang bertujuan memuluskan langkah Soeharto mendongkel Soekarno.
Kepalang basah dengan langkahnya memusuhi komunis, Beek makin dalam terlibat dalam politik praktis. Dengan kepiawaiannya ia berhasil memukul komunis dan Islam sekaligus. HMI, GMNI, pemuda Muhammadiyah tanpa sadar ikut dalam permainan politik, memburu dan mengeksekusi orang orang yang dicurigai sebagai anggota PKI di pelosok desa yang kebanyakan adalah muslim juga, bahkan umumnya mereka tidak tahu menahu tentang pembantaian para Jenderal
Kedekatannya dengan Ali Moertopo sang ketua Opsus mendorongnya terlibat dalam pembentukan sekber GOLKAR. Ia juga terlibat aktif dalam pendirian CSIS tahun 1971 yang menjadi think tank perumus kebijakan Orba.
Menurut beberapa tulisan yang dikumpulkan, Beek melihat ancaman terhadap Katholik selain Komunis adalah Islam dan Militer. Namun dengan prinsip Minus Malum ia menganggap ancaman Militer lebih kecil dibandingkan Islam.
Ada sebuah tulisan yang yang mengatakan sebagai berikut :
Di sebuah kantor di Jalan Gunung Sahari 88, Jakarta, Van den Heuvel sempat mewawancarai Pater Beek. Pada kesempatan itu, Pater Beek menyatakan keprihatinannya tentang komunisme dan menganggap Islam sudah membahayakan. Ia berambisi ‘menyelamatkan’ minoritas pemeluk agama Katholik saat itu.
Pater Beek berpendapat, hal itu dapat diwujudkan dengan memberi dukungan dan penyuluhan ke TNI. Ia tak segan mengirim satuan tentara untuk memperkuat Orde Baru di bawah pimpinan Jenderal Soeharto. Van den Heuvel sendiri mencap Pater Beek sebagai ‘dalang wayang politik’ di Indonesia.
Sebetulnya, Van den Heuvel sudah menyinggung peran misterius Pater Beek dalam sejarah Indonesia di sebuah roman (1991) dan wawancara (1993). Bahkan, di tahun 1993 Van den Heuvel menyebut Beek sebagai otak genius penggagalan kudeta PKI di tahun 1965 dan makar-makar lainnya setelah itu.
Van den Heuvel sendiri menyaksikan di tahun 1966 Pater Beek sedang menyusun naskah pidato di mesin tik tua merek Remington dan keesokan harinya pidato tersebut dibacakan oleh Soeharto. Selain itu, Van den Heuvel melihat beberapa catatan Beek di tahun 1963 mengenai rencana pembentukan Golkar.
Dengan kedudukannya sebagai kepala asrama Realino di Yogyakarta, ia menerapkan program Kasebul (Kaderisasi Sebulan) dengan metode pelatihan ala militer untuk membentuk kader kader militan pendukung sepak terjangnya. Disebutkan salah satu anak didiknya adalah intelektual muda Ahmad Wahib dan Hasan Basri.
Entah benar atau tidak disebut sebut Benny Moerdani adalah salah satu mentor Kasebul.
Aktivitas militannya tidak pernah mendapat pujian menyeluruh dari Gereja di Indonesia. Ia bahkan berseberangan dengan Romo Mangun. Lokomotif Basis, Romo Dick Hartoko terkesan menghindar saat diwawancara Tempo mengenai Beek.
Akhirnya Vatican memindahkan Beek dari Indonesia atas permintaan Soetopo Yoewono Kabakin waktu itu. Walau tahun 1974 ia kembali ke Indonesia.
Ia wafat tahun 1983 dan dimakamkan di Girisonta, Ungaran.
Beek tercatat sebagai 100 dari orang yang mempengaruhi kondisi politik di Indonesia.
Menurut beberapa kalangan Frater Beek dinilai sebagai seorang dengan kepribadian unik, menarik : tegas, disiplin, logis, realistik, sportif, konsekuen dan saleh.
Kalau memang Beek terlibat dengan kudeta dan kegiatan politik praktis sangat disayangkan seorang panutan dalam agama melakukan hal hal seperti itu.
Saya memang selalu menaruh curiga terhadap pemimpin umat yang terlalu dekat dengan penguasa. Entah itu pemimpin umat muslim ataupun nasrani.
Langganan:
Postingan (Atom)