Kapan kamu punya tabungan? Begitu pertanyaan suami setiap aku mentransfer sejumlah uang bulanan untuk orang tuaku. Kalimat itu telah menjadi retorika, terlalu sering diungkapkan, toh tidak membuatku kebal, setelah itu kebiasaan diamku makin bertambah tambah. Kapan kita bisa menikmati hasil kerja kita,? Lagi lagi pertanyaan itu membuatku jadi pemurung seharian penuh.
Seperti biasa aku membisu menekan perasaan dalam dalam, saat orang tuaku saling mengeluh tentang biaya hidup dan tentang mereka sendiri. Semua tentang materi dilemparkan kepadaku.
Kenapa tidak ada yang bertanya, apakah aku tidak lelah bekerja keras bertahun tahun atau bagaimana perasaanku atau kesehatanku. Atau bolehkah aku mengeluhkan hal yang sama kepada mereka.
Apakah aku punya tabungan? Uang masuk sekolah anak dari playgroup sampai SD menggunakan tabunganku. Aku juga menggunakan tabunganku untuk keperluan keluarga.
Aku hanya bisa mengelus dada, saat seorang Ibu teman anakku mengomentari perempuan yang bekerja biasanya hanya sibuk mengejar karir dan tidak memperhatikan anak anaknya. Ibu itu tidak sadar alangkah beruntungnya ia, keluarganya berkecukupan dan suaminya mungkin mampu menanggung biaya hidup sekeluarga sehingga sang istri cukup memfokuskan diri untuk keluarga. Ia tidak perlu repot pergi pagi pulang malam kadang pagi, berdesak desakan di bis, kepanasan atau kehujanan, berkawan akrab dengan polusi asap kendaraan demi mengejar rupiah. Aku teringat saat aku selalu pulang kerja dini hari, tidur 2 jam kemudian bangun lagi karena anakku yang masih bayi selalu bangun pukul 3 pagi dan tidak tidur lagi sampai matahari terbit.
Aku cuma bisa menggelar sajadah, dan menumpahkan air mata kepada Mu ya Penguasa alam semesta. Tersedu sedan mengeluhkan semua, menumpahkan rasa iriku dalam gelap. Aku lelah tapi aku tidak ingin menyerah.
PadaMu aku bersyukur, Kau anugerahkan kesehatan yang sangat baik untukku sehingga uang tidak terbuang untuk biaya dokter. Kau berikan mata yang berfungsi baik sehingga tidak perlu membuang uang untuk kacamata, walaupun mataku sering tampak kuyu dan lelah.
Kau berikan fungsi lambung yang unik, sehingga aku cukup makan sayur sayuran tanpa nasi dan daging untuk bertahan hidup sehingga jatahku bisa dialihkan untuk hal yang lebih penting.
Aku bersyukur karena Kau tidak memberiku kegemaran akan barang mahal, sehingga bisa berhemat.
Di atas itu semua aku bersyukur karena Engkau memberiku ujian sehingga menjadi diriku sekarang, jangan biarkan rasa dengki akan kehidupan istri orang lain yang nyaman merusak keikhlasanku.
Semoga dengan anugerahMu aku bisa bekerja lebih keras demi kesejahteraan keluarga dan orang tuaku. Mudah mudahan Kau limpahkan kelancaran rezeki pada keluarga kami.
Saat ini aku hanya bisa melantunkan nyanyi sunyi di malam hari.
Semoga nanti pada saatnya akan ada yang menyapaku dengan hangat, sekedar menanyakan kesehatan dan mengkhawatirkan aku dan bukannya menghubungiku dengan tujuan materi. Amin
14 Maret 2010
12 Maret 2010
NONTON KONTES BAKAT
Berhubung sedang kelelahan, maka copy paste aja tulisan saya yang pernah dimuat detik.com sekalian utk file:
Tergila gila dengan American Idol? Siapa yang menurut anda justru menjadi pusat daya tarik dari acara itu. Apakah peserta, juri atau segala tragedi tawa dan tangis saat acara itu berlangsung.
Lalu pada saat penjurian apakah anda benar benar mengharapkan kontes dihadiri oleh peserta dengan kualitas suara bagus sehingga acara berlangsung tenang layaknya kontes nyanyi atau justru malah mengharapkan ada peserta yang bertingkah aneh, yang pe-de dengan kualitas suara pas pas-an tapi heboh tidak karuan sehingga memancing Simon Cowell si lidah silet mengeluarkan komentar yang terdengar lucu buat penonton tapi menyulut emosi bagi yang dikomentari.
Kalau pertanyaan itu disodorkan kepada saya, dengan jujur saya berkata bahwa saya lebih tertarik melihat tayangan audisi yang berkat kerja keras team produksi dan bagian editing berhasil mengeksploitasi penampilan para peserta yang sering sekali aneh dan lucu. Bayangkan jika reality show ini berlangsung aman dengan kata lain semua peserta tampil sesuai standard, pasti garing jadinya. Buat saya ekspresi aneh dan komentar para juri saat menyaksikan penampilan kacau peserta audisi malah menjadi highest point acara ini. Walaupun saya senang juga melihat penampilan para peserta yang memang berbakat nyanyi.
Ingatkah dengan penampilan William Hung di season 3 American Idol, betapa ia membuat bengong para Juri dan penonton dengan lagu She Bangs nya Ricky Martin saat audisi dan komentar Simon yang keras “You can’t sing, You can’t dance, so what do you want me to say” setelahnya membuat adegan ini sangat populer saat ditayangkan. Saya yakin ribuan penonton saat itu gempar melihat caranya bernyanyi dan justru bagian inilah yang menangguk rating sangat tinggi .
Setelah dipermalukan seperti itu, William Hung justru menjadi bintang dengan adanya permintaan dari ribuan pemirsa agar ia balik ke AI sehingga dibuatkan episode tersendiri dengan judul Uncut, Uncensored and Untalented. Bagi saya bintang AI 3 adalah William Hung dan bukan Fantasia Barinno sang juara pertama.
Masih ada lagi Sanjaya Malakar, kontestan AI season 6 yang menyulut kontroversi . Pemuda bersuara ngepas, cederung cempreng tapi bisa melaju sampai 10 besar karena besarnya dukungan penonton.
Juri sekejam Simon Cowell pun sampai kehilangan kata kata. Wajah memelas Malakar menghadapi serangan para juri tampaknya mengundang simpati para warga keturunan India. Suka atau tidak, kenyataannya para penonton menunggu moment itu walaupun akhirnya Malakar tertendang juga. Lah, siapa sih pemenang AI season 6, saya nggak ingat.
Jangan lupa, juri pun menjadi daya tarik tersendiri. Simon Cowell dan Randy Jackson setia menjadi juri dari AI 1 sampai sekarang. Cowell mempunyai nilai jual tinggi justru karena lidahnya selain kapasitasnya sebagai seorang eksekutif di recording company terkemuka sedangkan karakter Jackson yang sopan merupakan antithesis-nya.
Walaupun memang kontes AI akhirnya benar benar menemukan bibit bibit baru berkualitas secara cepat, tapi kita selalu mengingat dan mengharapkan drama drama konyol saat peserta dan juri berinteraksi. Dan setelah acara ini berakhir para pemenang 1 dan 2 kemungkinan besar akan beredar di panggung musik dunia, bahkan meraih Grammy seperti Kelly Clarkson, yang sekedar finalis mungkin akan kembali ke hidup masing masing atau mungkin bernasib baik dilirik oleh produser rekaman.
Sukses American Idol tentu saja berlanjut dengan dijualnya license right acara ini ke berbagai Negara, salah satunya Indonesia dengan format sama namun tentu disesuaikan dengan kultur setempat.
Bagi saya Indonesia Idol season 1 merupakan yang terbaik dibanding season berikutnya. Terlalu banyak bakat bagus di II 1. Namun tetap saja yang membuat seru adalah penampilan seorang peserta pria yang bergaya seperti Inul Daratista saat audisi.
Seperti juga kontes Idol lainnya, finalis Indonesia Idol hanya beberapa saja yang exist, mungkin saya kurang mengikuti, tapi nama nama seperti Delon dan Joy mulai tenggelam. Mungkin ini yang disebut Easy Come Easy Go. Kontes bakat ini memang gabungan dari reality show dan pencarian bakat baru secara instant sehingga harus fun, dramatis, heboh dan mungkin juga konyol serta dangkal; bayangkan dari bukan siapa siapa menjadi pribadi yang diekspos habis habisan oleh media hanya dalam beberapa minggu saja. Maka tidak heran kalau mental mereka terkadang tidak siap untuk cepat terkenal dan juga tidak siap untuk cepat padam.
Apa boleh buat pasar Indonesia cepat melupakan mereka begitu season berikutnya dimulai dan pemenang baru diumumkan. Atau mungkin juga banyak tipe penonton yang seperti saya tidak begitu peduli dengan pemenangnya (secara banyak penyanyi lain yang lebih bagus tanpa ikut ikutan Idol).
Tapi bagi sebagian besar anak muda inilah cara cepat untuk merubah nasib, tanpa harus susah susah membuat demo rekaman. Tapi cara instant seperti itu juga mempengaruhi kualitas. Ada musim dimana hampir semua peserta yang lolos kualifikasi mempunyai mutu yang bagus, tapi di musim berikutnya lebih banyak peserta yang bersuara biasa biasa saja sehingga juri tidak punya pilihan.
Sukses kontes Idol ini sudah pasti menjadi lokomotif bagi munculnya sejumlah kontes bakat seperti Got Talent, Mama Mia, KDI, dll yang selalu dipenuhi oleh para pemuda yang ingin mencicipi ketenaran dalam waktu singkat. Memang ada idiom anak muda harus selalu bermimpi, tinggal bagaimana cara meraih impian tersebut, apakah mereka lebih suka jalan pintas atau memilih pelan tapi mantap dan pasti.
Bagaimana untuk anak kecil?..oh, tidak perlu kuatir,,,bagi Ibu Ibu yang ngebet ingin melihat anaknya ngetop ada kontes Idola Cilik dan lagi lagi bakat yang disodorkan adalah bakat yang tinggal buka mulut alias nyanyi. Tapi jangan berharap kita melihat anak kecil menggemaskan dengan nyanyian murni kanak kanak.
Bersiaplah melihat orang dewasa dalam tubuh mini. Yup, anak kecil yang didandani dan bertingkah laku seperti orang dewasa, serta menyanyikan lagu lagu dewasa. Jangan harapkan mendengar lagu lagu AT Mahmud, Ibu Soed atau lagu anak lainnya. Yang terdengar adalah lagu GIGI, Peterpan dan lagu dewasa lainnya.
Herannya jurinya kok diam saja ya.....KPI juga adem ayem aja tuh, dalam hal ini sungguh saya sangat prihatin. Yah…ini memang hanya kontes sekaligus reality show, tapi tidak ada salahnya bila juri juga lebih ketat dalam menyeleksi kontestan sehingga penonton mendapatkan bakat yang bermutu dan entertainment yang berkualitas. Untuk kontes bakat dengan peserta anak anak sebaiknya sesuaikan lagu dan penampilan dengan umur mereka.
Setidaknya acara TV kita mendapat variasi selain sinetron, hanya saja jangan sampai aspek drama terlalu mendominasi sehingga tidak jatuh menjadi sinetron Idol.
07 Maret 2010
Drama Kematian Para Pahlawan
Seorang besar kadang kematiannya tidak mencerminkan kebesarannya. Tidak selalu kematiannya diiringi oleh upacara megah, diliput oleh media, dihadiri oleh petinggi negara.
Tidak jarang mereka mati dalam kesendirian, terkucil dan kemudian dilupakan oleh sejarah. Pengucilan yang disengaja akibat perbedaan pandangan atau ketakutan tidak masuk akal dari para penguasa saat itu.
Rachmawati dan Hartini Soekarno harus berkali kali menahan air mata kesedihan melihat ayah dan suami mereka dipencilkan dan diperlakukan tidak layak hingga saat saat meninggalnya. Orang yang selama ini berjuang untuk kemerdekaan bangsanya, terbaring lemah akibat komplikasi penyakit hanya dirawat oleh Dokter hewan. Hatta pun tidak mampu menahan haru, kedua dwitunggal itu pun terisak saat bertemu, tidak mengerti mengapa mereka diperlakukan seperti musuh oleh anak bangsanya.
Seorang Tirto Adhi Soerjo terpaksa harus kehilangan semua miliknya yang berharga. Koran Medan Priaji yang tersohor galak dalam mengawal pendapat umum pada masa kolonial dimandulkan. Terakhir ia dibuang ke Ambon dan dikenai tuduhan menipu. Hotel Medan Priaji miliknya diambil oleh sahabatnya sendiri. Tirto pun tumbang, ia meninggal dan pemakamannya hanya diiringi segelintir orang.
Susah dibayangkan bagaimana Seorang Tan Malaka menemui ajalnya di Selo Panggung yang terpencil. Apakah ia sempat berdoa sebelum pistol menyalak menjemput nyawa. Kematian yang misterius dari seorang legenda negeri yang sepanjang hidupnya selalu hidup berpindah pindah dari negara satu ke negara lain. Tidak ada sanak keluarga yang mendampingi saat ajal menjemput pun kuburan yang sampai saat ini masih misteri. Namanya pun berusaha dihapus dari riwayat negeri ini.
Atau bayangkanlah sekelumit adegan bekas Perdana Menteri RI, Amir Syarifuddin dalam menghadapi detik detik akhir hidupnya karena dituduh terlibat peristiwa Madiun 1948. Di stasiun yang kosong sambil menunggu kereta yang akan membawanya ke Solo, ke hadapan regu tembak ia memilih membaca buku Romeo dan Juliet. Dalam roman itu ia hanyut sejenak, di keheningan senja melupakan keadaan dimana ia tidak akan melihat matahari esok pagi. Akhir tragis dari seorang mantan Perdana Menteri.
Poppy Syahrir yang tersedu di samping jenazah sang suami, pupus sudah impiannya untuk hidup sorangan wae dengan Syahrir. Setelah kasus PRRI hubungan Soekarno dan Sutan Syahrir memburuk, Syahrir ditangkap dan dipenjara tanpa diadili hingga menderita stroke. Ia pun diijinkan berobat ke Zurich dengan status tetap sebagai tahanan dan meninggal setahun kemudian setelah mengalami koma dalam keterasingan. Jenazah mantan Perdana Menteri itu kembali ke Indonesia dengan pergantian status menjadi Pahlawan Nasional.
Atau simak kisah Raden Mas Ontowiryo, nama kecil Pangeran Diponegoro. Ia menyerah pada panggilan takdir nun jauh di Makasar pengasingannya terakhir ditemani oleh sang istri Retnaningsih, anak dan sebagian kecil pengikutnya. Malang tak dapat ditolak, perjuangan sang Pangeran yang termasyur itu dianggap oleh keraton Yogyakarta sebagai pemberontakan. Keluarga pahlawan nasional tersebut sempat dilarang menginjak keraton sebagai akibatnya. Perlakuan mengenaskan yang baru berakhir saat Sultan Hamengkubuwono IX memberikan amnesti. Walaupun tidak jelas alasan mengapa diberikan amnesti dan bukannya rehabilitasi.
Tidak gampang menjadi seorang pendobrak, saat kawan kawannya tertidur kekenyangan menikmati suguhan membius para penguasa ia harus tetap terjaga menajamkan nalar mengasah nurani, menyabarkan diri demi menyadarkan bangsanya yang tertidur seperti mati.
Jika penjajah memperlakukan para pendiri negara dengan kejam, masih dapat dimengerti. Yang memiriskan perasaan adalah jika kita para penikmat kemerdekaan mematikan hati nurani demi kekuasaan menafikan peranan mereka yang telah berdarah darah berusaha melepaskan tanah ini dari kolonialisme.
Yah, sejarah memang milik pemenang. Tapi hidup sang pemenang tidaklah abadi sehingga selalu ada saatnya sejarah ditelaah ulang dan sang pemenang menjadi tergugat.
Tidak jarang mereka mati dalam kesendirian, terkucil dan kemudian dilupakan oleh sejarah. Pengucilan yang disengaja akibat perbedaan pandangan atau ketakutan tidak masuk akal dari para penguasa saat itu.
Rachmawati dan Hartini Soekarno harus berkali kali menahan air mata kesedihan melihat ayah dan suami mereka dipencilkan dan diperlakukan tidak layak hingga saat saat meninggalnya. Orang yang selama ini berjuang untuk kemerdekaan bangsanya, terbaring lemah akibat komplikasi penyakit hanya dirawat oleh Dokter hewan. Hatta pun tidak mampu menahan haru, kedua dwitunggal itu pun terisak saat bertemu, tidak mengerti mengapa mereka diperlakukan seperti musuh oleh anak bangsanya.
Seorang Tirto Adhi Soerjo terpaksa harus kehilangan semua miliknya yang berharga. Koran Medan Priaji yang tersohor galak dalam mengawal pendapat umum pada masa kolonial dimandulkan. Terakhir ia dibuang ke Ambon dan dikenai tuduhan menipu. Hotel Medan Priaji miliknya diambil oleh sahabatnya sendiri. Tirto pun tumbang, ia meninggal dan pemakamannya hanya diiringi segelintir orang.
Susah dibayangkan bagaimana Seorang Tan Malaka menemui ajalnya di Selo Panggung yang terpencil. Apakah ia sempat berdoa sebelum pistol menyalak menjemput nyawa. Kematian yang misterius dari seorang legenda negeri yang sepanjang hidupnya selalu hidup berpindah pindah dari negara satu ke negara lain. Tidak ada sanak keluarga yang mendampingi saat ajal menjemput pun kuburan yang sampai saat ini masih misteri. Namanya pun berusaha dihapus dari riwayat negeri ini.
Atau bayangkanlah sekelumit adegan bekas Perdana Menteri RI, Amir Syarifuddin dalam menghadapi detik detik akhir hidupnya karena dituduh terlibat peristiwa Madiun 1948. Di stasiun yang kosong sambil menunggu kereta yang akan membawanya ke Solo, ke hadapan regu tembak ia memilih membaca buku Romeo dan Juliet. Dalam roman itu ia hanyut sejenak, di keheningan senja melupakan keadaan dimana ia tidak akan melihat matahari esok pagi. Akhir tragis dari seorang mantan Perdana Menteri.
Poppy Syahrir yang tersedu di samping jenazah sang suami, pupus sudah impiannya untuk hidup sorangan wae dengan Syahrir. Setelah kasus PRRI hubungan Soekarno dan Sutan Syahrir memburuk, Syahrir ditangkap dan dipenjara tanpa diadili hingga menderita stroke. Ia pun diijinkan berobat ke Zurich dengan status tetap sebagai tahanan dan meninggal setahun kemudian setelah mengalami koma dalam keterasingan. Jenazah mantan Perdana Menteri itu kembali ke Indonesia dengan pergantian status menjadi Pahlawan Nasional.
Atau simak kisah Raden Mas Ontowiryo, nama kecil Pangeran Diponegoro. Ia menyerah pada panggilan takdir nun jauh di Makasar pengasingannya terakhir ditemani oleh sang istri Retnaningsih, anak dan sebagian kecil pengikutnya. Malang tak dapat ditolak, perjuangan sang Pangeran yang termasyur itu dianggap oleh keraton Yogyakarta sebagai pemberontakan. Keluarga pahlawan nasional tersebut sempat dilarang menginjak keraton sebagai akibatnya. Perlakuan mengenaskan yang baru berakhir saat Sultan Hamengkubuwono IX memberikan amnesti. Walaupun tidak jelas alasan mengapa diberikan amnesti dan bukannya rehabilitasi.
Tidak gampang menjadi seorang pendobrak, saat kawan kawannya tertidur kekenyangan menikmati suguhan membius para penguasa ia harus tetap terjaga menajamkan nalar mengasah nurani, menyabarkan diri demi menyadarkan bangsanya yang tertidur seperti mati.
Jika penjajah memperlakukan para pendiri negara dengan kejam, masih dapat dimengerti. Yang memiriskan perasaan adalah jika kita para penikmat kemerdekaan mematikan hati nurani demi kekuasaan menafikan peranan mereka yang telah berdarah darah berusaha melepaskan tanah ini dari kolonialisme.
Yah, sejarah memang milik pemenang. Tapi hidup sang pemenang tidaklah abadi sehingga selalu ada saatnya sejarah ditelaah ulang dan sang pemenang menjadi tergugat.
21 Februari 2010
My writings
Saya sedang mendata tulisan-tulisan yang pernah dimuat, sialnya cuma 3 yang kebetulan menggunakan nama asli, yang lainnya saya lupa menggunakan nama apa dan judulnya juga lupa jadi tidak bisa digoogle...sedih!
bisa diclick di menu my writings saat membuka blog,
bisa diclick di menu my writings saat membuka blog,
20 Februari 2010
Musim Mencari Sekolah
Tahun ini adalah tahun yang cukup melelahkan bagi Asyar, anak saya dan mendebarkan bagi saya. Bagaimana tidak di tahun ini ia harus meninggalkan Seruni, TK yang dicintainya, meninggalkan bunda bunda guru yang telah mengasuhnya selama 3 tahun sejak playgroup. Ia harus melaju menuju sekolah barunya sebuah SD dengan kondisi yang secara psikologis berbeda dengan TK Seruni.
Mulailah saya menyusun jadwal kunjungan ke SD-SD. Saya juga membaca brosur brosur sekolah yang dijejalkan hampir tiap hari di ransel Asyar. Betapa banyaknya sekolah baru bermunculan. Dari SDIT sampai SBI.
Berbekal hasil psikotest dan pembicaraan dengan psikolog anak dari TKnya yang menjadi panduan saya dalam mencari sekolah, Ibu dan anak ini mengukur jalan mendatangi sekolah demi sekolah nyaris di seantero Depok. Dari SPP yang 20 ribu per bulan (saya menggeleng geleng, tapi kondisi sekolahnya lumayan juga), sampai yang SPPnya 1,8 juta per bulan (menghela nafas, tapi memang fisik bangunannya mewah betul, lebih layak disebut kantor)
Setelah menetapkan beberapa sekolah tujuan. Mulailah pengambilan formulir dari yg Rp 100 ribu s/d Rp 500 ribu (bukan main formulir SD saja mahal sekali).
Kasihan anak itu, ia harus menjalani psikotest selama 2 jam di suatu sekolah sebelum akhirnya diterima (hasil psikotest yang sangat lengkap). Sebuah sekolah yang hanya menerima murid sebanyak 15 anak dalam satu kelas. Dengan fasilitas lengkap dengan biaya yang lengkap juga dalam menguras kantong orang tua, ini bukan yang SPP-nya 1,8 juta loh, tidak sanggup. Sisi baiknya sekolah ini sangat menghargai keunikan bakat tiap anak.
Namun, masih ada keraguan dalam hati saya. Melihat fasilitas selengkap itu ada ketakutan dalam hati bahwa anak ini akan tumbuh menjadi anak manja. Padahal ia adalah anak laki laki. Seorang anak laki laki haruslah mandiri dan tangguh.
Maka berbekal informasi dari Kepala Sekolah TK Seruni, saya meluncur menuju sebuah SD di daerah pondok cabe. Nampaknya situasi sekolah ini lebih sesuai dengan keinginan saya.
Sekali lagi Asyar mengikuti tes penerimaan murid baru di hari Sabtu yang untungnya hanya 30 menit. Untunglah ia menjalani tes ini dengan ceria. Seusai tes saya segera memeluknya dan mengajaknya makan es krim di kantin sekolah untuk sekedar menekan perasaan bersalah atas beban yang harus ditanggung oleh anak yang berumur belum genap 6 tahun. Dalam hal ini ribuan anak seusianya mengalami hal yang sama. Orang tua yang panik berusaha mendapatkan sekolah terbaik untuk anak mereka dan membuat sang anak harus menjalani segala macam ujian masuk yang melelahkan.
Namun lagi lagi saya merasa risau, saat menunggui tes saya mendengar pembicaraan beberapa Ibu yang menceritakan bahwa sekolah ini bagus tapi juga cukup berat penekanannya di sisi akademis.
Tiba tiba saya teringat hasil tes yang saat ini mengacu pada multiple intellegence. Di mana setiap anak mempunyai kecerdasannya sendiri. Tes IQ jaman dulu hanya menggarap sisi logika dan bahasa sementara ada banyak sisi yang bisa dikembangkan seperti musikal, kinetik, interpersonal, intrapersonal, natural dan lain lain.
Ketakutan saya bagaimana jika sekolah ini hanya menekankan sisi akademis yang berpegang pada logika dan bahasa saja dan tidak peduli dengan kemampuan anak yang variatif dan unik. Mampukah anak saya beradaptasi dengan situasi ini. Bagaimana jika di tengah tengah pendidikan ternyata bakat non akademis yang menonjol
Hasil tes pertama sementara ini menunjukkan ia mempunyai minat yang cukup baik terhadap matematika dan musik. Hal ini membuat saya ingin ia mengembangkan otak kanannya sebagai penyeimbang.
Saya tidak ingin memaksannya menjadi seorang yang kuat secara akademis jika ia tidak ingin atau tidak mampu. Impian saya adalah Asyar menjadi orang yang mandiri, dapat menjalani pekerjaan yang dicintainya entah itu menjadi seniman, pemusik atau penari sekalipun dan bisa menghidupi dirinya dengan pekerjaan itu.
Tapi nampaknya jalan masih sangat panjang. Untuk masuk SD saja ia masih harus berada dalam kebingungan orang tuanya.
Mulailah saya menyusun jadwal kunjungan ke SD-SD. Saya juga membaca brosur brosur sekolah yang dijejalkan hampir tiap hari di ransel Asyar. Betapa banyaknya sekolah baru bermunculan. Dari SDIT sampai SBI.
Berbekal hasil psikotest dan pembicaraan dengan psikolog anak dari TKnya yang menjadi panduan saya dalam mencari sekolah, Ibu dan anak ini mengukur jalan mendatangi sekolah demi sekolah nyaris di seantero Depok. Dari SPP yang 20 ribu per bulan (saya menggeleng geleng, tapi kondisi sekolahnya lumayan juga), sampai yang SPPnya 1,8 juta per bulan (menghela nafas, tapi memang fisik bangunannya mewah betul, lebih layak disebut kantor)
Setelah menetapkan beberapa sekolah tujuan. Mulailah pengambilan formulir dari yg Rp 100 ribu s/d Rp 500 ribu (bukan main formulir SD saja mahal sekali).
Kasihan anak itu, ia harus menjalani psikotest selama 2 jam di suatu sekolah sebelum akhirnya diterima (hasil psikotest yang sangat lengkap). Sebuah sekolah yang hanya menerima murid sebanyak 15 anak dalam satu kelas. Dengan fasilitas lengkap dengan biaya yang lengkap juga dalam menguras kantong orang tua, ini bukan yang SPP-nya 1,8 juta loh, tidak sanggup. Sisi baiknya sekolah ini sangat menghargai keunikan bakat tiap anak.
Namun, masih ada keraguan dalam hati saya. Melihat fasilitas selengkap itu ada ketakutan dalam hati bahwa anak ini akan tumbuh menjadi anak manja. Padahal ia adalah anak laki laki. Seorang anak laki laki haruslah mandiri dan tangguh.
Maka berbekal informasi dari Kepala Sekolah TK Seruni, saya meluncur menuju sebuah SD di daerah pondok cabe. Nampaknya situasi sekolah ini lebih sesuai dengan keinginan saya.
Sekali lagi Asyar mengikuti tes penerimaan murid baru di hari Sabtu yang untungnya hanya 30 menit. Untunglah ia menjalani tes ini dengan ceria. Seusai tes saya segera memeluknya dan mengajaknya makan es krim di kantin sekolah untuk sekedar menekan perasaan bersalah atas beban yang harus ditanggung oleh anak yang berumur belum genap 6 tahun. Dalam hal ini ribuan anak seusianya mengalami hal yang sama. Orang tua yang panik berusaha mendapatkan sekolah terbaik untuk anak mereka dan membuat sang anak harus menjalani segala macam ujian masuk yang melelahkan.
Namun lagi lagi saya merasa risau, saat menunggui tes saya mendengar pembicaraan beberapa Ibu yang menceritakan bahwa sekolah ini bagus tapi juga cukup berat penekanannya di sisi akademis.
Tiba tiba saya teringat hasil tes yang saat ini mengacu pada multiple intellegence. Di mana setiap anak mempunyai kecerdasannya sendiri. Tes IQ jaman dulu hanya menggarap sisi logika dan bahasa sementara ada banyak sisi yang bisa dikembangkan seperti musikal, kinetik, interpersonal, intrapersonal, natural dan lain lain.
Ketakutan saya bagaimana jika sekolah ini hanya menekankan sisi akademis yang berpegang pada logika dan bahasa saja dan tidak peduli dengan kemampuan anak yang variatif dan unik. Mampukah anak saya beradaptasi dengan situasi ini. Bagaimana jika di tengah tengah pendidikan ternyata bakat non akademis yang menonjol
Hasil tes pertama sementara ini menunjukkan ia mempunyai minat yang cukup baik terhadap matematika dan musik. Hal ini membuat saya ingin ia mengembangkan otak kanannya sebagai penyeimbang.
Saya tidak ingin memaksannya menjadi seorang yang kuat secara akademis jika ia tidak ingin atau tidak mampu. Impian saya adalah Asyar menjadi orang yang mandiri, dapat menjalani pekerjaan yang dicintainya entah itu menjadi seniman, pemusik atau penari sekalipun dan bisa menghidupi dirinya dengan pekerjaan itu.
Tapi nampaknya jalan masih sangat panjang. Untuk masuk SD saja ia masih harus berada dalam kebingungan orang tuanya.
Langganan:
Postingan (Atom)