Tampilkan postingan dengan label tanpa label. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanpa label. Tampilkan semua postingan
04 September 2018
31 Mei 2017
Bertemu Warto
Dekat jalan Bank, Pinangsia Jakarta Kota hanya beberapa puluh langkah dari Wonderloft Hostel, tak sengaja mata saya menangkap pria lansia sedang duduk bersandar pada dinding gedung yang jauh lebih tua dari usianya. Matanya menerawang mengawasi orang yang berlalu lalang.
Iseng, saya dekati. Ia mengeluh belum makan, saya menawari biskuit dan air minum yang akan saya beli di Indomaret dekat situ. Ia mengangguk, saya pun bergegas membeli makanan. Ia menyambut kantong kresek yang saya ulurkan tak lupa sejumput doa diucapkan, saya aminkan doanya.
Warto namanya, lahir tahun 1942 di Cilacap. Pindah ke Jakarta sekitar tahun 1954. Tentulah ia salah satu saksi dari perubahan kota. Ia mengingat-ingat saat rokok amatlah murah "harganya selawe" katanya. Tentu saja fisiknya masih bugar kala itu sebagai kuli bangunan.
Di usianya yang lebih dari 70 tahun ini, Warto menjadi pemulung botol plastik. Karung berisi hasil kerjanya tergeletak di samping. Ia menaksir beratnya hanya 2 kg. 1 kg dihargai sekitar Rp 13 ribu. Warto tinggal di bawah jembatan Pasar Pagi, Ia tidak punya anak. Gigi depannya yang tanggal terlihat jelas kala ia tertawa menceritakan secuil kisah hidupnya.
Saya pun pamitan, kami saling bertukar doa setelah itu saya melangkah pergi meninggalkan Warto dan karungnya.
05 September 2016
Hutang itu manusiawi asalkan dilunasi
Gaes, soal pinjam meminjam uang itu jamak kok. Semua orang pasti pernah mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam dengan jumlah tertentu kepada orang tua, saudara, pacar, suami atau istri.

Tapi pastikan agar uang yang dipinjam itu dapat dikembalikan sesuai waktu yang dijanjikan atau paling tidak mencicil dengan tertib sampai lunas. Jangan pura-pura lupa sehingga menyusahkan orang yang sudah menolong kita.
Membosankan memang, tapi kelihatannya perkara yang berhubungan dengan uang ini selalu menghantui hidup saya bertahun-tahun. Entah apa yang membuat orang senang sekali meminjam dari saya. Padahal gaya sosialita jauh sekali dari tampilan saya. Menu makanan saya sehari-hari saja juga sangat sederhanan dibanding rekan yang lain. Kemana-mana saya naik angkutan umum, beda dengan sejawat yang selalu turun naik mobil atau bahkan membawa mobil sendiri
Di media sosial saya tidak pernah memajang foto bareng dengan pejabat atau update status sedang meeting dengan pejabat A dan petinggi B. Sumpah, hidup saya biasa-biasa saja. Bukan juga orang yang sering memajang foto-foto liburan dengan keluarga di mana-mana.

Yang seperti itu saja saya kerap dijadikan sasaran peminjaman duit dan lagi-lagi sialnya saya tipe orang yang tidak tega melihat orang kesusahan, mau menolak juga tidak enak, kasihan. Yang bisa saya lakukan adalah menanyakan kapan pinjaman itu dikembalikan.
Heran, kenapa yang suka kemana-mana naik mobil itu malah tidak pernah dimintai pinjaman.
Selesai? wah, andai sesederhana itu. Pinjaman yang dijanjikan akan dikembalikan itu bagaikan layang-layang yang diterbangkan angin, walaupun sudah diperkuat oleh selembar surat bermeterai yang diusulkan oleh peminjam. Ibarat kita naik kopaja dan metromini, sudah bayar sesuai rute namun belum sampai tujuan sudah diturunkan.
Sudah berapa lama uang saya terkatung-katung? sepertinya lebih dari 2 tahun. Seperti yang sudah saya bilang, saya tidak tega melihat orang kesusahan apalagi yang masih terhitung kerabat tapi ya itu, lagi-lagi saya berhadapan dengan model bahlul. Tidak ada kabar kapan uang itu dikembalikan, artinya tidak ada kepastian kapan saya dapat menerima hak saya.
Tidak ada pembicaraan dari yang bersangkutan soal cicilan seperti yang dijanjikan. Telepon, sms, message di sosial media tidak pernah dijawab. Padahal saya akan sangat respek apabila beliau yang terhormat itu mengontak saya untuk menjadwalkan kembali cicilan apabila memang ada kesulitan.
Sekedar intermezo, beberapa kali berbincang dengan personil perbankan; dari mereka saya akhirnya tahu bahwa justru orang-orang kecil dengan pendidikan sederhana yang sangat disiplin membayar cicilan kredit usaha kecil yang mereka pinjam dari bank dibandingkan dengan nasabah elitnya. Sama dengan situasi saya kini.
Pembantu rumah tangga saya bulan lalu meminjam sejumlah uang untuk keperluan pernikahan adiknya. Ia dan saya sepakat untuk memotong gajinya untuk pelunasan. Jumlah potongan sesuai kesanggupannya, saya tidak ada masalah dengan itu. Dan tampaknya pelunasan itu berjalan lancar.
Sebaliknya yang berpendidikan tinggi malah terkesan mengelak dari kewajiban. Saya tidak mengerti dengan kredibilitas beliau yang sering dipamerkan di sosial media apabila sekedar memenuhi kewajiban saja tidak becus. Untuk apa menepuk dada sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab apabila hutang terhadap orang yang sudah berbaik hati membantu saat kesusahan dilalaikan seenaknya.
Tidak tahu diri? entah, saya tidak ingin menduga sejauh itu. Masalah hutangnya bukan baru kali ini saja, sering malah kalau mau dihitung yang dulu-dulu.
Agar dia sadar sih, uang yang dinikmati selama ini itu berasal dari keringat perempuan ya....Kalau dia punya sedikit rasa malu loh. Tapi melihat kasus sebelumnya tipis sekali harapan beliau ingat kewajibannya.
Kalau beliau tersinggung gara-gara tulisan ini ya saya lebih tersinggung lagi dengan caranya yang tidak laki-laki itu, Kalau saya tidak mengontaknya lagi bukan berarti dia bebas dari kewajiban melunasi pinjamannya kan. Saya berhenti mengontak karena sudah putus asa. Ditelepon baik-baik tidak pernah membalas ya lama kelamaan capek juga.
Seperti yang pernah saya sampaikan di tulisan sebelumnya, mbak, silakan ambil laki-lakinya, asalkan uang saya kembali.
20 Juli 2016
Punahnya Tradisi Intelektual
Seperti yang telah diketahui umum, tradisi ilmu pengetahuan yang mengakar sangat berperan penting terhadap perkembangan masyarakatnya. Seperti dunia Islam pada masa kekalifahan dinasti Abbasiyah yang mencapai puncak kegemilangan justru karena ilmu pengetahuan benar-benar dihargai. Kitab-kitab filsafat Yunani diterjemahkan, Bait al Hikmah didirikan. Tradisi menghormati ilmu pengetahuan yang demikian membuat dunia Islam surplus cendikiawan, dari dokter, ahli teknik sampai ahli fiqih semua berkumpul di Baghdad.
Kala Eropa masih bergelut dengan pengusiran setan ala gereja, Dunia Islam sudah memamerkan kemampuan berlogika. Namun sayang seiring dengan runtuhnya dinasti Abassiyah, tradisi intelektual ini surut bahkan nyaris hilang. Penghancuran Bait Al Hikmah, perpustakaan megah di Baghdad oleh Hulagu Khan, pemimpin bala tentara Mongol sepertinya menjadi faktor pemicu menjauhnya ilmu pengetahuan. Sementara Eropa perlahan merangkak meninggalkan masa kegelapan dan menyerap tradisi yang semula dimiliki umat Islam
Di Indonesia sendiri, pembaharuan tradisi pengajaran dengan menggabungkan metode barat dipelopori salah satunya oleh ulama Muhamadiyah, KH Ahmad Dahlan. Langkah ini terbukti jitu memajukan pendidikan pada masa itu. Abad ke 20 para intelektual pribumi bermunculan, salah satunya juga berkat politik etis yang dijalankan pemerintah kolonial pada masa itu.
Monumen penghargaan terhadap jasa mereka dapat dilihat di buku-buku sejarah, patung bahkan film untuk beberapa tokoh tertentu. Tapi apakah semua penghargaan itu juga sekaligus pertanda tradisi intelektual yang dipunyai para tokoh tersebut diwariskan? belum tentu.
Dalam perjalanan selanjutnya yang berkembang adalah kepopuleran atau lebih parah lagi ke-eksis-an seseorang. Tak heran bila "Vickinisasi"sempat populer, merangkai kalimat ala Vicki, mantan pacar pedangdut Zaskia Gotic. Atau mantan asisten Farhat Abbas yang mendadak tenar gara-gara memacari Farhat Abbas sehingga Farhat menceraikan Nia Daniati.
Belum lagi acara-acara macam "Alayers" atau berantem-beranteman orang pacaran yang di-shoot kamera.
Saat mengurusi pameran Jalur Rempah tahun lalu, kami sebagai team content tentu harus selalu berhubungan dengan narasumber yang terdiri dari sejarawan, arkeolog dan antropolog. Selain membimbing, meminjamkan buku-buku dan selalu bersedia ditanyai macam-macam, mereka juga menjadi pembicara di acara berbagi, membagikan pengetahuan mereka pada khalayak umum. Dengan tugas dan keahlian yang mumpuni.
Berapa honor mereka? Saya hampir menangis saat menyerahkan amplop kepada bapak dan ibu, profesor dan doktor itu. Malu dan jengkel, bagaimana tidak, sesuai aturan ternyata honor mereka berkisar antara Rp 1.000.000,- s/d 1.500.000. Tidak sebanding dengan keahlian dan jerih payah dalam membantu suksesnya program ini. Sementara artis yang berfungsi hanya sebagai icon, well, gak ngaruh sih sebenarnya ada artis atau nggak, wong cuma senyum-senyum doang di acara pembukaan, honornya bisa puluhan kali lipat.
![]() |
Pameran Para Pemelihara |
03 Mei 2016
Reklamasi di Mata Awam
Sebagai warga Twitterland dengan follower secuprit tapi mem-follow banyak akun selebtwit yang rajin berkicau, beberapa di antaranya adalah aktivis membuat dunia saya gaduh dalam sepi. Anteng di dunia nyata riuh di dunia maya.
Yang sedang hangat menuju panas, atau malah sedang mendidih tentu saja masalah reklamasi teluk Jakarta. Tentu saja dengan kapasitas pribadi yang bukan siapa-siapa, warga Jakarta juga bukan membuat saya lebih senang memantau twitter atau media massa. Pun, saya juga masih belum tahu dengan dampak reklamasi pastinya akan seperti apa bagi Jakarta
Pendukung reklamasi teriak-teriak tentang Jakarta yang akan tenggelam dan juga rencana wajah Jakarta ke depan yang demikian keren bila dilihat dari maketnya sementara yang kontra tak kalah seru menyodorkan berbagai argumen mengenai kemudharatan reklamasi bagi para nelayan dan ekologi teluk Jakarta
07 Februari 2016
Kembara Lampau Para Penjelajah
Traveling
- It leaves you speechless, then turns you into a storyteller.
Begitulah
sang pengembara Ibnu Battuta mendeskripsikan seorang pejalan pada abad ke
14. Ibnu Battuta sendiri pernah singgah ke Samudra Pasai pada masa
kejayaannya. Melalui kisah Ibnu Battuta gambaran kemajuan kerajaan Samudra Pasai dapat terekam
Jaman
sekarang tentu kita kenal dengan yang namanya Traveller Blogger yang melengkapi
tulisannya dengan foto serta mengupdate sesegera mungkin tiap informasi yang
ditemukan di media sosial.
Hampir 7
abad sebelum Battuta seorang biksu pengembara asal Cina I-Tsing telah melakukan
hal-hal tepat seperti yang dilukiskan oleh Battuta. Dalam perjalanannya
untuk mempelajari agama Budha di Nalanda, India ia singgah di beberapa tempat
di antaranya adalah Sriwijaya yang saat itu dinamakan Shih-li-Fo-Shih, lalu
Ka-Cha (Kedah) sebelum tiba di Tan-Mo-Lo-Ti yang merupakan tapal batas India
Timur.
14 November 2015
Museum Week-Jalur Rempah: Sebelum dan Sesudah
Museum Week baru saja berlalu...ups,,sudah beberapa minggu sih, namun saya baru sempat membahasnya sekarang setelah menyelesaikan kerjaan yang tertunda plus memulihkan kondisi badan yang letih dan lesu seusai pameran. Letih dan puas tepatnya.
Ya, saya memang terlibat di dalam proyek Museum Week ini, keterlibatan tak sengaja sebenarnya dikarenakan Gelar, komunitas tempat saya bergabung ditunjuk untuk menjadikan proyek dari yayasan Bina Museum ini berjalan sukses sekaligus berbeda dari tahun sebelumnya. Dan, karena saya penyuka sejarah, otomatis saya jadi salah satu anggota team content. Sesederhana itu.
13 September 2015
Cengkeh dan Tembakau di Mata Puthut EA
Turun di stasiun Gondangdia, saya langsung naik bajaj menuju jl. Wahid Hasyim. Kafe Phoenam yang menjadi tujuan sebenarnya tidak terlalu jauh, namun di bawah panas matahari yang membara enggan rasanya melihat kulit saya yang coklat kian mengelam.
Tak sampai 5 menit bajaj sudah berhenti di lokasi. Ada satpam dan beberapa pria di halaman sementara di jendela terlihat sign board Phoenam berkelip-kelip. Setelah bertanya pada mereka untuk sekedar meyakinkan diri, saya pun menaiki tangga tua menuju ruangan kafe.
Saya belum pernah ke kafe Phoenam, begitu saya melangkah masuk ke ruangan yang sedikit suram akibat asap rokok, langsung tersadar ternyata pengunjungnya lelaki semua dan langsung menoleh melihat kehadiran entitas yang lain dari mereka.
Hampir sepuluh menit setelah pukul 11 siang, pesan saya tidak direspond oleh orang yang sudah ada janji temu. sementara mbak Ratih yang juga akan bertemu sudah mengabarkan akan datang telat. Tiba-tiba dari arah belakang seseorang menyapa, ternyata pria yang duduk diam-diam di belakang itulah yang janjian dengan saya.
Puthut EA, pendiri situs mojok.co yang kerap menampilkan tulisan-tulisan nakal dan cerdas dari para kontributornya. Namun yang terpenting adalah buku-buku yang dihasilkan dari perjalanan dan penelitiannya. Bukan buku tentang travelling tentu saja. Kegelisahan akan nasib para petani cengkeh dan tembakau menghasilkan tutur yang memukau. Sebut saja Kretek, Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, lalu ada Ekspedisi Cengkeh. Belakangan baru saya sadar beliau adalah seorang cerpenis dan novelis(?). Berhubung saya bukan penggemar cerpen dan tidak update dengan novel-novel masa kini jadi memang tanpa sadar saya men-skip informasi bagian ini.
Oh ya, tentang Puthutnya sendiri, ternyata lebih muda dari fotonya. Saya sangka seorang peneliti dan pengembara seperti itu pastilah berkulit legam, tapi yang duduk di hadapan saya ternyata berkulit bersih, lebih cocok dipanggil mas daripada pak. Sementara anak muda yang bersamanya adalah Adit, salah seorang punggawa dari komunitas kretek yang baru saja menyelenggarakan acara Tribute to Kretek.
27 Januari 2015
Sekali Lagi KPK
Dengan santai saya berjalan kaki dari kantor menuju gedung KPK. Untung sore ini udara cerah setelah tadi seharian diguyur hujan.
Setelah tadi pagi tersiar kabar penangkapan wakil ketua KPK Bambang Widjoyanto oleh Bareskrim, saya berniat, mumpung kantor berdekatan untuk mampir di gedung KPK.
Bukan, saya tidak ingin sok-sok ikutan demo bareng aktivis untuk #SaveKPK tapi sekedar mendokumentasikan kejadian ini. Jangan kuatir, tidak ada selfie muka saya dalam foto-foto :). Tentu saja saya bersimpati tapi kalo ikut-ikutan demo untuk sekedar gaya-gayaan sih, Nehi ya..
Saya kurang menyukai Abraham Samad karena terlalu sering tampil memenuhi undangan talk show di TV Swasta. Mengingat kasus yang bertumpuk rasanya kurang elok kalau beliau sibuk dengan acara-acara di luar tugas utamanya. Harusnya sih Bambang Widjayanto yang menjadi ketua KPK ya.
![]() |
Ini bukan saya |
14 September 2014
Andai Ahmad Wahib Masih Hidup
Dari mana saya tahu tentang Ahmad Wahib? Tentu bukan dari guru di sekolah.
Saya baru mengenal nama Ahmad Wahib saat membeli buku Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran yang bertepatan dengan penayangan perdana filmnya sekitar tahun 2005, sembilan tahun yang lalu.
Dalam buku tersebut terdapat tulisan pengantar dari Daniel Dakhidae yang menyinggung pula nama Ahmad Wahid sebagai intelektual muda disejajarkan dengan Gie.
Dari situlah saya mengenal serba sedikit tentang Ahmad Wahib yang disebut-sebut sebagai intelektual muda Islam. Sampai hari ini pun saya baru sedikit saja membaca tulisan-tulisannya karena bukunya sudah susah saya temukan. Namun kalau boleh saya deskripsikan Ahmad Wahib adalah versi muda dari Abdurrahman Wahid. Hanya sayang kita memang tidak akan bisa melihat bagaimana Ahmad Wahib yang gelisah menjalani masa tuanya karena beliau keburu wafat dalam usia 30 tahun.
Sebagai lulusan pesantren Wahib malah sempat mengenyam pendidikan filsafat di sekolah tinggi Driyarkara. Langkahnya mengingatkan pada semangat para orientalis barat yang demi mengetahui dan mengupas intisari Islam baik agama dan umatnya mereka menekuni Al Quran, bahkan orientalis kondang seperti Snouck Hurgronye nekat pergi ke Mekah yang terlarang bagi non muslim. Perbedaannya Wahib melakukan itu demi pemahaman yang lebih baik dalam hubungan antar umat beragama dan memuaskan keingintahuan akan Islam yang sesungguhnya.
Sebagai lulusan pesantren Wahib malah sempat mengenyam pendidikan filsafat di sekolah tinggi Driyarkara. Langkahnya mengingatkan pada semangat para orientalis barat yang demi mengetahui dan mengupas intisari Islam baik agama dan umatnya mereka menekuni Al Quran, bahkan orientalis kondang seperti Snouck Hurgronye nekat pergi ke Mekah yang terlarang bagi non muslim. Perbedaannya Wahib melakukan itu demi pemahaman yang lebih baik dalam hubungan antar umat beragama dan memuaskan keingintahuan akan Islam yang sesungguhnya.
![]() |
sumber: Insist.com |
Sedekah dengan Prasangka
Anak kecil itu duduk di pedestrian yang menghubungkan jalan Margonda dengan Mall Margo City.
Saya yang baru saja kisruh berjalan kaki dari Gramedia menuju Margo City menyusuri jalan Margonda yang kusut langsung terhenti langkah bukan karena tertarik tapi karena anak itu duduk di tengah jalan.
Di depannya terdapat sekarung besar berisi tissue yang biasa dijual di kaki lima seharga dua ribu-an.
Sekilas terlihat anak itu berambut merah seperti lazimnya anak jalanan. Dia memang anak jalanan sih.
Yang menarik perhatian adalah teriakan anak itu..teriakan apa jeritan ya...Begini jeritannya:
"Kak, tolonggg kak, adik saya kena demam berdarah. Tolong beli kaaakkk".
udah gitu aja dan diulang-ulang. Karena sudah sering bertemu yang tipe begini jadi saya lewati saja sama seperti pejalan kaki lainnya.
12 Agustus 2014
Usai Prabowo Mulai Jokowi
Barangkali kita memang patut berterima kasih pada Prabowo dan Jokowi.
Karena berkat mereka pemilihan presiden kali ini berlangsung meriah, tidak membosankan seperti 5 tahun yang lalu.
Berkat kesediaan kedua tokoh ini untuk menjadi capres tiba-tiba semua orang bergairah mencari tahu dan berpartisipasi baik sebagai voters pasif maupun voters aktif. Social media begitu hidup dengan banyaknya update dari para sukwan dan sukwati (meminjam istilah tahun '65 untuk akronim dari sukarelawan) tentang capres pilihan mereka.
Deklarasi pencapresan Jokowi tidak akan sefenomenal ini tanpa adanya tokoh Prabowo demikian juga langkah-langkah Prabowo menuju kursi RI1 tidak akan terasa hangat tanpa kehadiran Jokowi.
01 Februari 2014
Kamis Sore ke 339
Kasih Ibu memang sepanjang hayat.
Tak ada ibu mana pun yang tidak penasaran tatkala kematian menjemput sang anak secara tidak wajar. Mati memang teritori mutlak yang empunya Kehidupan, namun tidak dosa rasanya bila mempertanyakan penyebab maut menjemput.
Tidak ada yang salah jika sekelompok orang tua di awal tahun 2007 berdiri tegak dalam diam di depan Istana Merdeka. Wajah mereka yang dihiasi garis-garis pengalaman memandang jauh ke arah gedung agung tersebut.
Gerakan yang terinspirasi oleh aksi serupa di depan Plaza De Mayo di Buenos Aires, Argentina di mana sekelompok Ibu juga melakukan aksi damai tiap Kamis sore sebagai bentuk protes atas penghilangan nyawa anggota keluarga terkasih.
Tak ada ibu mana pun yang tidak penasaran tatkala kematian menjemput sang anak secara tidak wajar. Mati memang teritori mutlak yang empunya Kehidupan, namun tidak dosa rasanya bila mempertanyakan penyebab maut menjemput.
Tidak ada yang salah jika sekelompok orang tua di awal tahun 2007 berdiri tegak dalam diam di depan Istana Merdeka. Wajah mereka yang dihiasi garis-garis pengalaman memandang jauh ke arah gedung agung tersebut.
Gerakan yang terinspirasi oleh aksi serupa di depan Plaza De Mayo di Buenos Aires, Argentina di mana sekelompok Ibu juga melakukan aksi damai tiap Kamis sore sebagai bentuk protes atas penghilangan nyawa anggota keluarga terkasih.
Langganan:
Postingan (Atom)