Tampilkan postingan dengan label sosial dan ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial dan ekonomi. Tampilkan semua postingan

24 April 2013

Sekali lagi tentang Kartini


Untuk kesekian kalinya kita merayakan hari Kartini.  Dulu waktu SD, hari Kartini identik dengan kain, kebaya serta sanggul.

Sekarang pun relatif sama hanya mungkin lebih modern, dalam arti semua aktivitas ekonomi terlibat di dalamnya.  Mall-mall mengadakan discount khusus produk perempuan di hari Kartini, walaupun tidak jelas hubungan antara discount dengan emansipasi.  Televisi kembali menayangkan file-file tentang gerakan emansipasi wanita terkait dengan kekartinian di Indonesia.
Dari kunokini

28 November 2009

Negara Truly Maling

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat undangan cause untuk bergabung dalam "Truly Malingsia". Ho..ho rupanya masih ada yang panas sehingga membuat cause ini di facebook.

Dari sisi nasionalisme dengan semboyan "right or wrong is my country" tentu ini wajib didukung. Tapi kok saya merasa kurang sreg dengan cause ini.

Kurang sreg karena dengan situasi negara seperti ini kok julukan maling itu rasanya seperti menunjuk diri sendiri.

Malaysia memang bersalah karena mengaku ngaku asal batik dan tari pendet. Tapi mereka sudah meminta maaf. Batik dan tari pendet tetap milik Indonesia. Sisi baiknya tiba tiba pemerintah jadi memperhatikan kebudayaan miliknya sendiri.

Kembali ke sebutan maling itu. Maling maling lain yang lebih merugikan karena menyelewengkan uang rakyat bebas berseliweran di Indonesia, bahkan Polisi dan Jaksa seakan tutup mata. Antara maling dan pejabat hampir susah dibedakan. Maling belum tentu pejabat, tapi pejabat hampir sebagian besar merangkap maling. Orang orang yang berniat memberantas para maling justru harus siap siap kemalingan nyawanya sendiri.

Daripada menuduh negara lain maling, mbok ya lihat dulu diri sendiri jangan jangan sebutan Truly Maling itu lebih pantas disandang Indonesia karena pejabatnya terkenal suka melindungi para maling yang telah mencoleng uang negara. Jangan jangan nanti Republik Indonesia lebih dikenal dengan Republik Maling.
Maling teriak maling kan jadinya

Saya lebih memilih nasionalisme dengan akal sehat daripada nasionalisme membabi buta. Karena kita bukan babi toh?

17 September 2009

Antara Noordin dan Munir

Wajah Kapolri Bambang Hendarso Danuri berseri seri, betapa tidak karena bintangnya seakan makin moncer belakangan ini. Kabar terbaru anak buahnya berhasil membunuh Noordin M. Top, teroris paling top se Asia. Tuntas juga akhirnya perburuan jaringan teroris yang memakan waktu bertahun tahun. Perburuan yang nyaris serupa dengan reality show.

Keberhasilan yang disambut gempita saat konferensi Pers karena bagaimanapun perang melawan terorisme adalah jargon yang paling populer saat ini.

Masih ingat tayangan bom Bali dan Marriot 2 dimana para korban yang umumnya orang asing bergelimpangan.

Anggaplah saya rasis, namun tidak bisa tidak ada sesuatu yang menggelitik syaraf usil saya. Apakah harus bule yang jadi korban baru polisi kita jor jor-an memburu para pelaku.

Bagaimana dengan kejahatan lain seperti misteri pembunuhan Munir misalnya, tampaknya polisi bermalas malasan dalam mengungkap pelakunya. Belum lagi kasus hilangnya Wiji Thukul.

Justru dalam bidang kejahatan kemanusiaan, Polisi tampak abai dengan kasus 2 pendekar hak asasi manusia itu.

Bagi saya pribadi pemecahan pembunuhan dua orang penerima penghargaan Yap Thiam Hien award tersebut lebih berharga dibanding pengejaran 100 orang Noordin M. Top. Kematian dua orang yang sangat menghargai kehidupan sangat menyakitkan dibandingkan kelakuan Noordin M. Top yang menghargai murah nyawa manusia. Satu Noordin mati masih ada Noordin lain, namun belum tentu ada pengganti Munir.

Kelakuan Noordin memang menjijikkan menebar teror sekaligus benih keturunan dimana mana, tapi yang paling mengecewakan nampaknya media terpancing untuk mengekspos habis habisan dan polisi akhirnya menjadi banci tampil.

Tampak luar kejahatan telah ditumpas tapi sebenarnya kejahatan dalam bentuk lain telah lahir. Pengkhianatan terhadap rasa kemanusiaan dan keadilan. Aib yang jelas terlihat tapi tidak dirasakan.

Betapa tragisnya, nyawa Munir dan Wiji Thukul seperti tidak ada apa apanya dibanding nyawa bule bule tersebut. Kematian mereka tetap tersembunyi rapat tanpa niatan untuk menguaknya.

20 Agustus 2009

Atas nama perubahan

Perubahan hampir selalu identik dengan kemajuan. Jaman selalu bergerak selalu berubah mengikuti kodrat sifat manusia yang selalu ingin lebih. Hanya saja perubahan tersebut ibarat pisau bermata dua, baik disatu sisi namun belum tentu di sisi lain.
Indonesia sebagai negara berkembang tentu membutuhkan banyak perubahan sebagai alat transisi mengejar kemajuan agar setara dengan negara lain.
Dari sekian banyak bidang, ada satu yang sedang digalakkan yaitu infrastruktur untuk transportasi alias jalan. Sejak Daendels berupaya menghubungkan sudut sudut pulau Jawa dengan Jalan Raya Posnya, pemerintah Republik pun memperluas usaha Daendels tidak saja di pulau Jawa tapi juga menghubungkan pulau Jawa dengan pulau sekitar.
Tak pelak jalan jalan yang dibangun di Jawa membuat kota kota utama menjadi metropolitan dan rejeki perubahan yang semula diharapkan juga dapat dinikmati oleh kota kota kecil sekitarnya apa boleh buat tinggal harapan. Dari buku Ekspedisi Anyer Panarukan dapat dibaca nasib kota kota kecil yang dilalui jalan raya tersebut.
Kota kota tersebut menjadi kota penyangga bagi kota besar, timbulnya urbanisasi besar besaran, investor kota besar yang akhirnya menjarah tanah kota kota kecil itu dan menyisakan problem bagi penduduk setempat.
Yang terbaru adalah pembangunan jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Madura. Di hari pertama jembatan itu beroperasi pelabuhan laut Kamal Madura dan Tanjung Perak Surabaya mendadak sepi, yang berimbas kepada pendapatan kapal laut dan pedagang sekitar pelabuhan. Seretnya rejeki tentu akan berkelanjutan di hari hari setelahnya.
Entah apa rencana pemerintah untuk pelabuhan pelabuhan itu agar tidak terbengkalai. Di sisi lain masyarakat Madura menghadapi tantangan langsung terhadap para pendatang yang menyerbu pulau Mereka. Para pendatang yang lebih berada dan canggih maupun para pendatang yang lebih gigih dalam kegiatan berekonomi. Jangan sampai perekonomian Madura diambil alih oleh Jakarta dan penduduk asli hanya menjadi penonton di kampung sendiri. Mereka masih tetap pontang panting mengais remah remah yang ditinggalkan pendatang,
Belum habis kehebohan akibat Suramadu, tiba tiba telah disiapkan pula pembangunan Jembatan Selat Sunda. Suramadu jelas tidak ada apa apanya dibanding Selat Sunda. Jembatan sepanjang sekitar 30 km ini akan menghubungkan Jawa dengan Lampung melalui selat sunda yang terkenal berombak ganas dengan resiko gempa laut dan letusan gunung api Krakatau. Pelabuhan Merak dan Bakauheni harus bersiap siap menghadapi keadaan ini. Mungkin saja pelabuhan pelabuhan itu bisa beralih menjadi pelabuhan wisata misalnya.
Timbul pertanyaan perlukah jembatan jembatan itu dibangun? Siapakah yang paling menikmati kemudahan tersebut, penduduk asli ataukah lagi lagi Jawa dengan kata lain Jakarta yang paling diuntungkan?
Kemarin ini Kompas menurunkan laporan mengenai pulau pulau perbatasan yang berkondisi mengenaskan. Apakah tidak sebaiknya dana 100 trilyun untuk jembatan Selat Sunda dialihkan untuk membangun daerah daerah tersebut agar penduduk asli turut dapat menikmati 64 tahun kemerdekaan RI.
Akan kemanakah pelabuhan pelabuhan kita? apakah nasibnya akan meniru Lasem, bekas pelabuhan kuno yang dahulu begitu masyur. Bagaimana nasib pelabuhan Tanjung Perak Surabaya yang dulu bernama Ujung Galuh tempat pemusatan armada kapal perang Majapahit, relakah kita kehilangan lagi satu lambang identitas sebagai negara kepulauan?
Hanya sekedar pertanyaan.

16 Agustus 2009

Gerakan Rakyat Dunia Ketiga

Membaca buku mengenai Gerakan Rakyat Dunia Ketiga terbitan INSIST diantara sekian banyak gerakan massa saya tertarik dengan gerakan Narmada Bachao Andolan yang menentang pembangunan waduk Sardar Sarovar di India. Waduk yang dibangun dari dana pinjaman Bank Dunia ini direncanakan akan mengairi 1,8 juta ha tanah tapi di sisi lain akan menenggelamkan 37 ribu ha tanah termasuk di dalamnya 13 ribu ha hutan primer.

Proyek ini akan mengenyahkan secara paksa ribuan keluarga yang tinggal di lembah Narmada. Mereka dicabut secara paksa dari lingkungan mereka tanpa mendapatkan kompensasi yang memadai.

Pengenyahan secara paksa ini mengingatkan pada peristiwa pembangunan waduk Kedung Ombo sekitar tahun 1989 yang entah kenapa sama persis keadaannya. Proyek ini juga dibangun dengan pinjaman Bank Dunia. Penghuni Kedung Ombo juga dienyahkan secara paksa, keluarga keluarga yang bertekad mempertahankan haknya diintimidasi oleh aparat.

Rakyat dari 2 negara yang sama sama merupakan negara dunia ketiga mengalami nasib serupa; kehilangan hak mereka atas penghidupan dan tempat tinggal.

Hanya jika Kedung Ombo minim sekali dukungannya akibat pemerintahan represif orde baru sedangkan gerakan Narmada didukung luas oleh para Intelektual, profesional, pemimpin masyarakat. Gerakan ini juga menyajikan analisis dampak lingkungan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Gerakan gerakan rakyat diberbagai negara tersebut menunjukkan penentangan atas ekonomi Kapitalis yang menghancurkan ekonomi dan budaya kaum pedesaan.

05 Agustus 2009

Grameen dan Ekonomi Kerakyatan

Isu yang dibawa Prabowo tentang ekonomi kerakyatan (sekarang dia masih inget gak ya..?) mengingatkan pada salah satu buku yang saya miliki, sangat inspiratif sehingga tetap menyenangkan walau dibaca berulang ulang. Tentang Bank Kaum Miskin.

Sekedar kilas balik, Saat munculnya sekelompok ekonom di tahun 1970-an, kemudian disebut Mafia Berkeley yang dikomandani oleh Widjojo Nitisastro yang membuka keran besar besar untuk pinjaman asing guna kegiatan makro ekonomi di Indonesia, Profesor Muhammad Yunus seorang dosen ekonomi dari Universitas Chittagong Bangladesh justru merasa frustrasi dengan cara kerja Bank Dunia dan kegiatan makro ekonominya. Segala teori ekonomi canggih yang diajarkannya sama sekali tidak berpengaruh untuk merubah kemiskinan akut disekelilingnya.

Saya membayangkan bahwa sistem laissez faire maupun teori invisible hand nya Adam Smith justru memperburuk kondisi masyarakat akar rumput di Bangladesh. Bandul keseimbangan cenderung bergerak ke arah pemilik modal.

Proyek proyek ekonomi yang didanai oleh Bank Dunia sama sekali tidak menyentuh rakyat miskin, sama seperti di Indonesia justru yang diuntungkan adalah pemilik alat produksi.

Di saat yang sama Bank juga menerapkan sistem diluar jangkauan kaum miskin yang kebanyakan buta huruf untuk meminjam uang.

Yunus terkejut saat mengetahui bahwa hanya USD 27 ,pinjaman yang dibutuhkan oleh 42 keluarga termiskin Bangladesh untuk dapat berwirausaha.

Dengan pemahaman itu, Yunus bergerak menemui bank bank konvensional dengan jaminan dirinya sendiri guna mendapat pinjaman yang akan dipinjamkan kembali kepada keluarga miskin. Bagaikan bola salju dari USD 27, akhirnya Grameen Bank didirikan khusus untuk memberikan pinjaman kepada keluarga miskin di Bangladesh. Pinjaman dengan bunga sangat rendah dan sangat fleksibel.

Usaha Yunus menggerakkan wirausaha skala kecil, bukanlah mudah..ia harus menghadapi kendala dari otoritas keagamaan, budaya dan intimidasi lainnya, termasuk diremehkan oleh Bank Dunia. Setelah berhasil pun ia harus menghadapi Bank Dunia yang mengklaim hasil kerja Grameen Bank sebagai kesuksesan mereka.

Yunus sebagai dosen yang menggeluti teori ekonomi tahu benar bahwa makro yang kuat berasal dari mikro yang baik. Bahwa mengabaikan mikro hanya akan merapuhkan sendi sendi ekonomi makro.

Bahwa orang miskin jangan disuapi dengan donasi tapi berilah mereka kesempatan dengan pinjaman modal. Pemberian tunjangan kesejahteraan hanya akan merampas hak mereka untuk berusaha.

Mungkin Indonesia harus menoleh ke Bangladesh, jika ternyata USA juga belajar ke Bangladesh hal itu nyata mencerminkan bahwa negara adi kuasa itu sebenarnya sangat rapuh. Kegiatan ekonomi mereka dikuasai hanya oleh segelintir orang.

Saatnya menguatkan yang mikro, jika orang orang kecil itu menjadi kuat, bandul ekonomi akan tetap berdiri di tengah tengah.

30 Juni 2009

Negeri bernama Indonesia

Indonesia, negara kerdil, birokrasi yang korup, manipulasi dalam tata pemerintahan...!

Apa yang terlintas di benak kita mendengar tudingan tersebut, Pedih!,,,,,karena menyadari kemungkinan 90 persen apa yang ditudingkan itu benar.

Diantara kepedihan, menyeruak pula pertanyaan; apakah negara ini seburuk itu, benarkah tidak ada kebaikan dari negara ini dan apakah tidak ada negara lain yang sama buruk atau bahkan lebih buruk dari Indonesia.

Indonesia modern baru akan menginjak ulang tahun kemerdekaannya yang ke 64 pada Agustus tahun ini, negara yang masih sangat muda dengan garis pantai terpanjang di dunia, bayangkan dengan analogi seorang anak kecil dengan aset pulau berpencaran yang dipaksa harus mandiri pada 17 Agustus 1945 dengan skill dan sumber daya manusia yang minim. Peperangan dengan pihak asing maupun saudara sebangsa telah meninggalkan puing puing kehancuran dan luka mendalam di hati setiap anak negeri.

Dalam perjalanannya negeri ini pun tercabik cabik oleh bencana alam silih berganti. Seakan Tuhan mengirimkan karunia dan bencana secarabersamaan dengan kelahirannya.

Negeri ini tertatih tatih melangkah, sementara tetangganya Malaysia yang baru merdeka pada tahun 1957 telah melompat jauh demikian pula dengan Singapura. Apa yang salah dengan Indonesia?

Banyak jawaban untuk pertanyaan tersebut: salah urus, SDM yang tidak kompeten, pemerintahan yang tidak kredibel dan sekian ratus jawaban lainnya.

Yap, memang Indonesia masih tersaruk saruk melangkah, dengan wilayah seluas ini kita seakan tidak punya cukup daya untuk mengurusnya. Diluar masalah dalam negeri kita masih menghadapi masalah dengan negeri tetangga mengenai batas wilayah di pulau pulau terluar seperti Ambalat, Miangas, pencurian hasil laut dan tenaga kerja.

Tapi kalau kita mau jujur, kita tidak dapat membandingkan dengan negara lain yang jauh lebih dulu merdeka. Negara lain mempunyai kondisi alam dan situasi yang berbeda dan mereka telah lebih dulu melalui perjalanan berat yang mungkin saja sama dengan yang kita hadapi sekarang. Adapun Negara yang baru saja merdeka seperti Malaysia, kondisinya lebih mudah dengan wilayah sempit dan etnis yang tidak begitu banyak ragamnya.

Tidak semua orang Indonesia sabar menerima ujian ini, para intelektual yang sudah mencicipi nikmatnya hidup di negeri orang yang serba well organized, stabil dan bersih ramai ramai mencibir melihat kondisi dan situasi politik Indonesia, banyak yang menyatakan tidak akan kembali selama negeri ini masih rusak.

Saya hanya bisa menghela nafas, jika semua cendekiawan Indonesia yang sedang menuntut ilmu di luar negeri berpikir seperti itu bagaimana nasib Indonesia. Tiba tiba saya seperti melihat perempuan cantik yang berjalan terseok dalam kesepian karena semua anaknya pergi tanpa pernah berpaling, tanpa pernah merasa bahwa berkat air susunyalah mereka dapat hidup dan tumbuh. Perempuan yang tubuhnya dipenuhi oleh tumor ganas yang berharap agar anak anaknyalah yang kelak kembali untuk menyembuhkan penyakit itu.

Pada pundak merekalah lokomotif negara ini diletakkan, mereka yang diharapkan kembali untuk memimpin perubahan dalam masyarakat. Apa jadinya apabila mereka menjauh tanpa ingat bahwa negeri ini telah memberikan nafas kehidupan pada mereka, tanpa ingat pada para pendahulu mereka yang telah memberikan keringat dan darah untuk fondasi negara.

Beruntunglah masih ada sekelompok orang-orang sederhana berpendidikan lokal yang tekun membimbing saudaranya untuk maju walaupun dengan segala keterbatasan. Orang orang sederhana yang berseliweran di sekitar kita tanpa kita sadari.

Tiba tiba saya merasa optimis Indonesia akan dapat melalui masa masa sulit ini. Negeri indah ini akan tetap memancarkan kemilaunya yang sarat dengan perjuangan darah dan airmata.

13 Juni 2009

Hak Kaum Terpinggirkan

Melihat para capres cawapres bergiliran tampil di TV dan surat kabar kadang kadang membikin geli tapi toh menghibur juga. Bahkan jika dulu cawapres hampir tidak dianggap sebagai poin penting dalam kampanye, sekarang justru berbeda, para cawapres juga mempunyai acara khusus di TV bahkan seakan bersaing dengan Capres mereka.

Kita sebagai rakyat tentu boleh boleh saja menilai, menertawakan, menimbang nimbang untuk memilih atau tidak memilih mereka, terutama masyarakat yang selama ini terpinggirkan.

Ada banyak kelas kelas dalam masyarakat : kelas atas, menengah dan bawah. Bahkan mungkin sekali dalam masing masing kelas tersebut masih bisa diklasifikasikan menurut kecenderungannya, ada menengah atas atau kelas bawah menjurus ke fakir miskin.

Kelas atas dan menengah masih bisa bebas berekspresi karena mereka mengenal dan menguasai penggunaan teknologi komunikasi seperti HP, internet dan surat kabar; dengan kata lain mereka memiliki hak atas akses teknologi komunikasi yang diperoleh dengan menukarkan sejumlah uang. Dengan alat itulah kita bebas mengirim email, membuka facebook, membuat blog atau mengirim comment ke surat kabar yang berisi keluhan, cacian atau pujian yang berpotensi didengar atau lebih bagus lagi direspon oleh institusi bersangkutan. Kalangan ini tidak mendapat kesulitan yang berarti untuk memperoleh hak haknya.

Namun jangan lupa ada suatu kaum dari masyarakat yang boleh dikata tidak mendapatkan hak yang sama karena keterbatasan ekonomi. Dengan kata lain segala penderitaan mereka bagaikan tersekap ruang kedap suara, tidak akan didengar apabila tidak ada orang yang kebetulan membantu menyampaikan keluhan mereka. Golongan ini bagaikan ilalang yang tumbuh tanpa ada yang peduli. Bahkan mereka pun tidak yakin apakah mereka mempunyai hak yang sama sebagai warga negara.

Jika ada yang berhak menuntut kinerja dan janji dari masing Capres dan Cawapres, justru orang orang kolong langit inilah yang paling berhak mendapatkannya. Mereka harus kita letakkan di shaf paling depan. Sementara kita, golongan masyarakat yang terbiasa berteriak di ranah publik harus rela dan dengan besar hati mundur ke belakang menunggu agar orang orang ini mendapatkan hak hak dasarnya terlebih dulu.

Bukan itu saja mungkin para pelaku infotainment bisa merelakan untuk menghentikan sementara liputan mereka atas kehidupan para artis dan mengalihkan fokus kepada golongan fakir ini.

Daripada mengundang pengamat politik dan komunikasi bicara ngalor ngidul tentang pencitraan, jargon dan sampah lainnya mungkin TV swasta dapat mempertimbangkan untuk mengundang sejumlah penghuni gorong gorong dan kolong jembatan untuk bicara dalam format yang lebih baik dibanding liputan sesaat. Mumpung masih dalam kampanye, ajak mereka untuk berteriak sekeras kerasnya.


Ini untuk membayar hutang kita kepada mereka, hutang karena kita tidak cukup peduli dan setia kawan atas nasib sesama rakyat.

Jika selama ini suara mereka tidak terdengar, maka orang orang yang mempunyai akses inilah yang wajib menjadi corong mereka entah menyebarkan melalui facebook, milis, blog dan lain lain. Mungkin saja mereka masih tetap harus berjuang bertahan hidup tapi setidaknya suara mereka telah berkumandang.

01 Juni 2009

Ribut Ribut Neo Lib

Ribut ribut tentang cawapres yang berpaham Neo liberal, membuat saya bertanya tanya kayak apa sih sebenarnya neo lib itu.

Kalau dilihat sekilas definisinya memang cukup mengkuatirkan. Bayangkan sekelompok pemodal menguasai alat alat produksi sehingga praktis juga menguasai ekonomi suatu negara, tanpa pemerintah bisa berbuat apa apa di dalamnya. Namun dari segi logika, jika pemerintah tidak berdaya mencegah sekelompok orang tersebut, maka legitimasi apa yang dipunyai negara terhadap rakyatnya.

Sebenarnya berapa lama paham neo lib tersebut bisa bertahan, bayangkan jika ekonomi dikuasai oleh segelintir orang bukankah hal itu bisa menimbulkan gejolak sosial dan berdampak sekaligus pada situasi politik.

Jika kita lihat Cina, sebagai negara yang berpaham komunis yang seharusnya berprinsip sama rata sama rasa dan mengabaikan hak hak individu namun malah menjadi tujuan utama negara neo lib yang justru mengutamakan hak hak individu untuk berinvestasi.

Memang paham neo lib membutuhkan keadaan dimana inflasi rendah namun pengangguran tinggi sehinga upah buruh menjadi murah. Tidak heran di Cina sekarang banyak terdapat pabrik dari negara negara maju. Barang barang buatan Cina pun menembus pasar luar negeri.

Paham ini juga mengharamkan segala bentuk subsidi yang dianggap sebagai kegiatan ekonomi berbiaya tinggi. Di Indonesia subsidi yang seharusnya untuk rakyak kecil malah jatuh ke tangan yang tidak berhak. Sudah berbiaya tinggi tidak tepat sasaran pula,,,malah lebih parah.

Mungkin yang patut diwaspadai bukan masalah neo liberal atau tidak tapi niat para penyelenggara negara yang terkenal tidak bisa lepas dari sifat korup.

Seperti juga gembar gembor akan paham sosialisme religius, yang sebenarnya sudah tercantum dalam UUD'45 yang dianggap sempurna bagi Indonesia. Namun bagi saya nyaris utopis karena paham tersebut hanya tercantum puluhan tahun tapi tidak diimplementasikan.

Sebenarnya baik Neo lib, sosialis, kapitalis dan komunis hanyalah berupa paham. Suatu paham bisa berubah tergantung kondisi negaranya. Seperti halnya paham komunis yang hancur akibat peranan negara yang terlalu sentralistik sehingga menafikan pencapaian individu.


Sekarang ini kelihatannya Neo lib yang merupakan lawan dari komunisme malah bisa bergandengan tangan seperti terlihat di Cina.

Tidak ada paham yang abadi, yang ada hanya kepentingan untuk meraih suatu keadaan yang dianggap ideal.

Negara negara yang berpaham neo lib pun mungkin didalamnya juga mengandung azas sosialisme, seperti penggunaan pajak untuk kepentingan bersama, jaminan kesehatan dan pendidikan bagi warganya tanpa kecuali.

Jika kita cukup kuat, bisa saja Indonesia menjadi negara sosialis religius ke dalam namun neo lib atau kapitalis ke luar dalam arti terhadap negara lain.


Benar benar suatu keinginan yang utopis.

13 April 2009

Pemilu

Pemilu Legislatif telah berlalu, partai pemenang sepertinya sudah diketahui walau penghitungan real count belum selesai.

Untuk Depok ternyata PKS meraih suara terbanyak, nampaknya cukup banyak loyalis PKS tapi tidak cukup mengantarkan partai tersebut meraih posisi 3 besar.

Namun nampaknya cukup banyak Pemilik suara mengambang seperti saya...mengambang terus sampai akhir. Kertas suara cukup diintip, lalu dicoret coret semaunya, hasilnya ya tidak sah!...

Saya tidak ingin menetapkan pilihan jika saya masih ragu ragu, lagipula dengan adanya 44 partai dipastikan tidak akan ada yang meraih 50% suara, pasti akan ada koalisi yang berujung pada bagi bagi jabatan.

Apakah sikap mengambang itu etis? menurut saya iya...Dengan maraknya skandal anggota Dewan dan Caleg dari beragam partai wajar jika pemilih mengalami keragu raguan luar biasa. Dan saya tidak ingin mengabaikan perasaan itu dengan dalih memilih yang terbaik di antara yang buruk. Jika dalih itu dibiarkan maka selalu akan ada excuse dari partai politik.

Kenapa harus kami sebagai empunya hajat yang dibebani untuk memilih sekeranjang telur busuk, justru kami seharusnya diberikan sekeranjang telur yang bagus sehingga kami merasa uang yang telah dikeluarkan tidak sia sia. Telur busuk seharusnya disingkirkan dan tidak dijadikan pilihan.

Masih ada waktu sampai Pilpres Juli mendatang, semoga kualitas telur yang disodorkan mengalami perbaikan

08 April 2009

Pasar Tradisional dan Produk Dalam Negeri

Hari ini adalah hari terakhir minggu tenang sebelum Pemilu, tapi masih tertarik dengan iklan GERINDRA yang lampau mengenai himbauan untuk belanja di pasar tradisional untuk meningkatkan perekonomian rakyat.

Walaupun saya kurang yakin jika Prabowo juga belanja di pasar tradisional tapi memang iklan itu bagus. Salut untuk team kampanyenya.

Mungkin sama dengan iklan "Cintailah produk dalam Negeri" mudah dikatakan tapi sulit dilakukan.

Ibu ibu sekarang lebih suka belanja di Carrefour dibanding pasar tradisional, termasuk saya....Tapi kini saya benar benar membatasi item yang dibeli di Hypermart. Jika barang kebutuhan tersebut dijual di warung Nenek di komplek maka saya lebih memilih membelinya di warung itu seperti beras, sabun, odol, shampo. Demikian juga dengan sayur dan daging, saya lebih memilih membeli di tukang sayur keliling. Tapi saya percaya tukang sayur keliling dan pasar tradisional punya pangsa pasar sendiri. Kalau kita membaca tabloid kuliner disebutkan bahwa supply bahan bahan untuk suatu rumah makan diperoleh dari pasar tradisional.

Miris juga melihat hypermart dimana mana. tapi serba salah pegawai hypermart adalah orang Indonesia juga..jika tidak ada pembeli bisa terkena PHK ratusan orang.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kita lebih tertarik membeli barang dengan harga murah, tidak peduli dari mana barang tersebut berasal. Harus saya akui saya sering bersungut sungut melihat baju mahal buatan Indonesia padahal itu handmade, jadi memang mahal. Seperti batik tulis misalnya, mahal karena butuh waktu berhari hari dalam pengerjaannya. Harus dihargai juga ketekunan mbok mbok yang mengerjakan dari proses pembuatan pola, melapisi dengan malam, pencelupan berkali kali. Saya sudah pernah membatik sebelumnya dan percayalah memang syuusaahhhhh.....!!!.

Batik dari Pekalongan yang diproduksi oleh keluarga Oei Soe Tjoen misalnya. Mereka hanya memproduksi 15 batik tulis setiap tahunnya. Hanya batik tulis, tidak ada batik cap. Hebatnya semua adalah pesanan orang dengan harga minimal 6.5 juta per lembar. Suatu karya yang dibuat dengan hati. Oei Soe Tjoen adalah mutu itu sendiri.

Memang lebih murah batik cap, asalkan dari Indonesia.

Belum lagi barang barang buatan Cina yang membanjiri pasar Indonesia dengan harga super murah. Sekali lagi saya sedang membangun kesadaran diri sendiri untuk setidaknya lebih memilih produk tekstil Indonesia dibanding produk Cina demi ekonomi kita sendiri. Kalau untuk makanan sudah pasti tidak akan memilih produk Cina, kan sudah banyak diberitakan banyak mengandung zat berbahaya.

Susahnya jika Indonesia keok dengan aturan WTO, semua barang dapat masuk, padahal bisa saja Indonesia menerapkan pelarangan impor bagi jenis barang tertentu jika itu membahayakan bagi warganya. Termasuk jaringan hypermart yang nampaknya bebas beroperasi di kota kota kecil. Depok yang sekecil itu sudah ada 3 hypermart dalam satu garis lurus jalan margonda. 1 Hypermart lagi di daerah cinere ditambah Indomaret besar di Depok Maharaja. Jika semuanya dikuasai pemodal besar, bagaimana yang tradisional dapat maju.

Bagaimana jika PemKot Depok juga menggalakkan pasar tradisional modern di Kemiri, Pasar Depok 1, Pasar Lama, Sawangan dan Parung?....pasti kita juga bersemangat belanja disana apalagi jika bisa menggunakan kartu debet dan credit. Makanan makanan tradisional unik juga harus dijual disana.

Tentu saja meremajakan pasar tradisional bukanlah pekerjaan makmur seperti halnya memberikan ijin pembukaan Carefour, tapi memang harus begitu jika benar benar mau menata ekonomi rakyat.

Kita bisa berpartisipasi dengan memilah milah mana yang harus dibeli di hypermart, mana yang bisa dibeli di warung milik pak Haji. Tidak usah membeli produk Cina. Tidak usah antri untuk discount sale sepatu merk Vincci dari Malaysia atau Charles & Keith Singapura, tapi beli buatan Bandung. Gitu kan?

Jangan beli mobil buatan luar tapi beli buatan nasional..seperti Timor?....hi,,hi ogah....itu mah mobil Korea ditempelin stiker mobnas.

Intinya mulai dari hal hal kecil dulu...liburan gak usah ke Singapura tapi cukup Yogya atau Bali saja jadi warga sana dapat pemasukan...masih banyak pulau di Indonesia yang belum dikunjungi...nampaknya Air Asia harus membuka line ke Ambon, Kalimantan, Sulawesi dll. jadi kita bisa dapat tiket murah. eh kenapa sih harus Air Asia?..itu kan punya Malaysia...Garuda kek yang buka penerbangan murah kayak Air Asia.




22 Maret 2009

Republik yang baru lahir

Saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diumumkan, Temon baru menerima kabar itu seminggu setelahnya. Ia bersama laskar tentara baru saja kembali dari hutan setelah berbulan bulan mengikuti Pak Dirman, Panglima tertinggi gerilyawan.
 
Sejenak ia tenggelam dalam haru, terbayang peperangan yang telah dilakukannya selama ini dan Irah kekasihnya yang ditinggalkan dalam tempat pengungsian jauh di Boyolali sana. 


Setelah sekian lama akhirnya tercapai juga kemerdekaan yang diimpi impikan. Ia akan memulai hidup baru bersama Irah, membangun rumah keluarganya yang hancur dibakar oleh Jepang.

Namun ia tersentak, setelah ini apa yang bisa dikerjakan,,ia tidak mempunyai sawah sepetak pun, tidak ada simpanan harta benda; jika selama ini ia bersama laskarnya bisa makan dari hutan atau sumbangan para penduduk tidak demikian halnya setelah ia menikahi Irah dan membangun keluarga.
 
Temon adalah satu dari ribuan tentara yang gamang dalam menghadapi situasi baru. Di tingkat yang lebih tinggi para komandan batalyon tentara rakyat juga dicengkam oleh masalah yang sama, apakah yang dapat mereka lakukan setelah perang usai. Banyak di antara mereka yang hanya sempat mengecap pendidikan setingkat Kokumin Gakko atau Sekolah Dasar jaman Jepang.

 
Di negara yang baru memperoleh kemerdekaannya ini dimana seluruh infrastruktur hancur lebur, administrasi kacau balau dan tingkat keamanan yang rawan dimana peperangan masih sering terjadi semua orang merasa gamang akan masa depannya sementara Soekarno, Hatta, Syahrir dan para elit politik lainnya sibuk mempertahankan proklamasi melalui diplomasi.

 
Bagi para elit politik waktu itu hanya Jawa yang ada dalam pikiran mereka, luar Jawa masih ada dalam prioritas terakhir. Daud Beureuh, Kahar Muzakar mengangkat senjata untuk memisahkan diri.

 
Dengan tingkat kemelaratan dan buta huruf yang tinggi bagaimana bayi republik ini bisa berkembang. Dari bangsa jajahan yang hanya menerima perintah mendadak harus menentukan hidupnya sendiri. 


Selama berabad abad bangsa ini menjadi budak Portugis, Belanda dan Jepang sedangkan di abad sebelumnya giliran para Raja yang menentukan nasib rakyatnya tanpa menumbuhkan kesadaran akan haknya sebagai manusia.
 
Bagaimana ribuan tentara rakyat kebingungan mencari penghidupan setelah perang, sedangkan tentara profesional sendiri terbelah antara didikan Jepang (Heiho, PETA dll) dan ex didikan Belanda, masing masing berusaha berebut pengaruh, begitu pula dengan para politikus.

 
Mereka berlomba membentuk partai walau pada akhirnya hanya ada 4 partai besar : PNI, Masyumi, Murba dan PKI. Perebutan kekuasaan itu berimbas pada kabinet yang hampir selalu jatuh bangun.

 
Di sisi lain para politisi ini tidak cakap dalam administrasi negara, Soekarno selalu merasa dikejar kejar oleh revolusi yang dianggapnya belum selesai, Hatta seorang ekonom yang lebih realistis tapi tidak berdaya untuk mencegah partnernya. Tidak heran jika terjadi pengangkatan Presiden seumur hidup dimana TNI mendukung dengan harapan pengaruh PKI dapat dihambat. Nasution dan Ahmad Yani bersitegang mengenai kebijakan Angkatan Darat, sementara Marsekal Omar Dhani mulai dapat dipengaruhi oleh Aidit.

 
Para budayawan tidak mau kalah, LEKRA dan Manikebu saling caci di koran. Harian Rakjat sebagai koran LEKRA dan Indonesia Raja pendukung Manikebu.
Dengan UUD yang tidak menjelaskan secara khusus batas jangka waktu jabatan Presiden, label Presiden seumur hidup nyaris terjadi pada penerusnya Soeharto sehingga harus diturunkan paksa melalui peristiwa Mei 1998.

 
Peristiwa demi peristiwa nyaris meluluhlantakkan negeri ini, tidak dapat disangkal bangsa ini membutuhkan seorang administrator handal agar salah urus tidak berlarut larut.

21 Januari 2009

DIASPORA : India - Indonesia

Sanjay, seorang expatriate asal India yang bekerja di Indonesia berjalan memasuki ruangan. Ia memegang posisi Head of Marketing and Research untuk Astro Indonesia dan Malaysia. Caranya berbicara membuat kita ingin menggoyang goyangkan kepala ala bollywood.

Sanjay adalah satu dari orang India terdidik yang bekerja di luar negerinya.

Menurut kompas, ada sekitar 22 juta tenaga kerja asal India yang bekerja di Amerika, eropa, Australia dan Asia Tenggara dan 48% nya adalah tenaga ahli dan profesional seperti Dokter dan IT. Belum lagi yang bekerja sebagai dosen dan ilmuwan.

Indian diaspora masih kalah dari Chinese tapi devisa yang dihasilkan oleh perantau etnis India tujuh kali lipat lebih besar.

Pada tahun 1985-2000 tenaga profesional asal India mendominasi USA. Pendapatan per kapita etnis india di Amerika rata USD60,000/tahun atau dua kali lipat nya penduduk AS.

Berkat banyaknya orang India yang merantau pula menyebabkan pada tahun 2003 cadangan devisa negara ini menembus angka USD 100 milyar sehingga menjadi salah satu negara yang mempunyai cadangan devisa terkuat di dunia.

Bila dibandingkan dengan tenaga kerja Indonesia yang kebanyakan bekerja di sektor informal dan illegal tentu akan timpang. Tidak ada data yang jelas berapa jumlah buruh migran asal Indonesia. Menurut Antara sekitar 700 ribu orang yang terdaftar pada tahun 2008. Sedangkan devisa yang dihasilkan mencapai 5 trilyun rupiah sampai September 2008 ini.

India saat ini menjadi tujuan investasi perusahaan IT besar di dunia, dan ini semakin meningkatkan nilai jualnya. Banyak pula perusahaan besar yang menyerahkan outsourcing nya kepada India.

Begitu pula dengan industri filmnya...Bollywood sebagai pusat industri film India dapat bertahan dari gempuran film film asal Amerika. Penduduk India cukup fanatik dengan film film negerinya.

Saya teringat dengan film American Daylight yang mengisahkan sebuah perusahaan di India yang merupakan outsourcing sebuah bank besar Amerika, semua keluhan konsumen dari seluruh dunia disambungkan ke India dimana perusahaan itu berdomisili.

Tapi bukankah memang orang India sudah ada dimana mana sejak jaman dulu. Jika kita ingat, bukankah bahasa sanskrit yang tercantum pada prasasti kuno Indonesia berasal dari India.

Bukankah agama Islam yang tersebar ke Indonesia juga ada yang berasal dari pedagang asal Gujarat India.

Saat ini dengan tingkat pertumbuhan ekonomi (dihitung dengan GDP pada th 2007) sekitar 8.3% per tahun berkat hasil kerja otak dan bukan cuma mengeksploitasi sumber daya alam, India mampu menarik para tenaga ahlinya yang tersebar di berbagai negara untuk kembali dan membangun negaranya.

Bandingkan dengan Indonesia, dimana para profesor dan ilmuwannya masih tetap bertahan di luar negeri karena pemerintah tidak dapat mengakomodasi ilmu ilmu yang mereka punya. Tidak ada dana untuk riset dan tingkat kesejahteraan para pendidik yang rendah.

Seperti halnya Profesor Nelson Tansu asal Medan, Sumatera Utara yang meraih gelar profesor dalam bidang semi conductor dari University of Wisconsin of Madison pada usia 25 tahun dan kini mengajar S3 bahkan post doctoral di departemen teknik elektro dan komputer di Lehigh University, Pensylvania.

Ia tetap bertahan di tempatnya sekarang karena belum ada tempat di Indonesia yang dapat memakai keahliannya...bagaimana Ristek kita?...

28 November 2008

Teh Celup

Waktu saya masih SMA, Budiman Sujdjatmiko sedang harum namanya. Partai Rakyat Demokratik yang dipimpinnya menjadi satu satunya partai yang menentang mainstream waktu itu.

Sewaktu ia dipenjara, banyak orang menyamakan dirinya dengan Soekarno di waktu muda. Keluar masuk penjara demi memperjuangkan idealisme.

Waktu saya masih kuliah, nama Megawati mewangi, menegaskan legenda Soekarno yang tak lekang walau dipendam oleh rezim Soeharto. Sekali lagi Soekarno menjadi simbol kebangkitan angkatan muda pembaharu negeri ini.

Kontras sekali dengan keadaan lebih dari 40 tahun yang lalu dimana para mahasiswa berunjuk rasa menentang Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno. Hidupnya yang bergelimang kesenangan akan wanita membuat para pemuda muak.

Soekarno juga tidak lepas dari kesalahan, pertentangan dengan rekan-rekan seperjuangan menyeretnya ke kancah konflik. Tokoh seperti Sutan Sjahrir, Sjafrudin Prawiranegara dan Natsir pernah merasakan dinginnya penjara tanpa pengadilan.

Pun, Hatta sang partner turut mengundurkan diri karena merasa tidak lagi sejalan.

Ah, betapa cepatnya romantisme masa lalu mengalun, betapa mudahnya bangsa ini lupa dengan sejarah.

PDI menjadi partai besar dengan Megawati sebagai pemimpinya…Budiman Soedjatmiko pun telah mapan dengan kehidupannya sebagai anggota partai besar tersebut.

PDI menjadi partai yang beruntung,nama Soekarno menjadi mesin iklan yang ampuh.

Bagaimana Indonesia 40 tahun lagi, akankan Soeharto yang kini dicaci maki berganti menjadi simbol pembaharuan ekonomi ?

Saat Budiman dan para singa parlemen jalanan lainnya sudah memasuki lahan konservasi birokrat yang bergelimang fasilitas,

Kemana idealismenya ? tanyakan kepada angin yang bertiup….

Apa prestasinya?, ,mengotori kota dengan menempelkan spanduk dan poster dimana dimana dan membuat iklan citra Megawati di TV yang habis ditertawakan orang saat muncul pertama kali.

Seperti kata Mas Iman Brotoseno…..Mereka bukanlah penerus Soekarno,,,,mereka cuma teh celup rasa Soekarno, ..sekedar essence yang bikin tenggorokan
seret.

13 Juni 2008

Kampung Minimarket



Indomaret, Alfamart..dan banyak mart mart lainnya yang bertaburan sepanjang jalan...penyebarannya sudah sampai daerah pinggiran, sehingga menggusur warung warung tradisional.

Depok merupakan salah satu kampung minimarket.

Bayangkan saja, dalam radius tidak sampai 1 kilometer, kadang kadang terdapat 2 atau 3 minimarket, bahkan kadang ada yang nyaris bersebelahan.

Dengan display yg menarik, lampu terang benderang, full AC..tentu saja lebih menarik perhatian, coba bandingkan dg display warung yang seadanya, terkesan lebih kumuh dan suram.

Sepertinya belum ada Perda yang mengatur penyebaran minimarket waralaba supaya tidak mengganggu keberadaan usaha yang lebih kecil.

Masalahnya apakah Pemda memperhatikan hal tersebut

08 Juni 2008

AYO SEKOLAH ....Bagi yang mampu


Sekolah : High Scope Indonesia.

MISSION:

To help Indonesian children develop totally – academic, intrapersonal, interpersonal, and physical – and be competitive internationally

"Misinya adalah membantu anak Indonesia secara total untuk membangun kemampuan akademis, hubungan antar personal dan fisik dan sanggup berkompetisi di lingkup internasional".

Begitulah kira kira, kalau untuk anak Indonesia haruskah misinya ditulis dlm bhs Inggris?

Tidak ada yang meragukan kualitas sekolah ini, ini hanyalah satu dari ratusan sekolah mahal yang tersebar di seantero Jakarta.

Jangan tanyakan biayanya, gaji saya 3 bulan pun masih berat untuk dibandingkan.

Sudah tentu anak2 didikan sekolah sekolah mahal tersebut tidak perlu diragukan kecerdasannya. dengan guru personal, fasilitas lengkap, bahasa Inggris sudah pasti cas cis cus, plus bahasa lain. Mereka terlahir dari bibit berkualitas, dengan gizi yang baik, orang tua yang berkecukupan. Sehingga sekolah mahal tersebut tidak perlu susah payah dalam menunaikan misinya....

Bagaimana dengan anak anak Indonesia yang berada di strata bawah?...dimana untuk makan sekali dengan kualitas rendah kelas nasi aking mereka harus bertaruh nyawa mengamen , memalak, melacur?

Jangan berharap melihat anak anak terbuang tersebut mempunyai kulit licin dan halus seperti anak anak terpilih. Kulit mereka hitam kering, tidak jarang berpanu dan berkurap dengan bau keringat menyengat. Dengan gizi yang menyedihkan jangan harap mereka punya setengah dari kualitas otak yang diharapkan.

Jangan berharap mereka ingat utk sekolah, hidup bagi mereka adalah bertarung utk mempertahankan hidup itu sendiri.

Apakah negara memelihara mereka, tidak...negara mengabaikan..mereka adalah warga yang terbuang, tidak ada hak dalam kamus mereka. hanya LSM dan sukarelawan yang sudi menyisihkan waktu utk mendidik mereka.

Lupakan UUD 45 pasal 31 ayat 1 "setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan" yang berarti pemerintah harus menyediakan pendidikan yang layak dan mampu diakses oleh tiap warganya.

Kita adalah orang tua yang selalu berjuang untuk mengejar biaya pendidikan yang semakin melangit.