Tampilkan postingan dengan label agama dan pernak perniknya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama dan pernak perniknya. Tampilkan semua postingan

10 Mei 2013

Agama sebagai Komoditas

Apa akibat dari tertukarnya hal yang seharusnya berada di ranah privat menjadi ranah publik?  Banyak, dan salah satunya adalah kerancuan tingkah laku.

Infotainment dapat dijadikan barometer seberapa jauh orang senang mengeksplorasi kehidupan pribadi yang dipoles sedemikian rupa sehingga menjadi konsumsi publik.  Baik yang dieksplorasi maupun yang menonton sama-sama merasa mendapat manfaat dan justru mendorong untuk kian intens mengaduk dan mengolah sedemikian rupa ranah privat tersebut. Ada barter ekonomi yang dilakukan.



03 September 2009

Farag Fouda - kebenaran Yang Hilang

Baru baru ini saya membaca buku karangan Farag Fouda, seorang intelektual Mesir. Sebelumnya saya belum pernah mendengar nama tersebut, namun setelah research singkat di Google ternyata nama ini cukup menghebohkan di kalangan agamawan. Buku ini direferensikan oleh beberapa orang seperti Goenawan Mohamad dan Ahmad Syafii Maarif tapi dihujat oleh beberapa kelompok Muslim yang lain.

Al Khulafa Al Rasyidun atau 4 khalifah pertama setelah Nabi Muhammad SAW adalah orang orang yang sangat dihormati di dunia Islam, dan jaman mereka dianggap sebagai jaman keemasan tapi dengan gamblang Fouda menuliskan kematian Khalifah ketiga Usman bin Affan yang tragis akibat dibunuh sesama muslim dimana jenazahnya bahkan sempat ditolak untuk dimakamkan di pemakaman Muslim. Hal ini sudah tentu menyulut kemarahan dunia Islam. Banyak hujatan terhadap Fouda karena apa yang dituliskan dianggap tidak berasal dari sumber yang sahih.

Jaman 4 Khalifah itupun menurut Fouda hanyalah jaman biasa saja bahkan penuh dengan peperangan diantara kaum muslimin yang merupakan para sahabat Nabi.

Saya pernah menulis bahwa jaman setelah keempat Khalifah tersebut tak lebih dari jaman dinasti turun temurun dimana para khalifah jatuh pada hedonisme. Namun Fouda dengan lebih rinci menguraikan Khalifah Yazid yang mempunyai ribuan gundik, Al Walid yang seorang homoseksual dan hobby membidik Al Qur'an dengan panahnya. Atau pendiri dinasti Abbasiyah yang dijuluki Al Saffah alias si penjagal. Keadaan yang sungguh membuat saya tercengang.

Tapi Fouda juga mengungkapkan dengan hedonisme tersebut justru dunia pengetahuan jaman dinasti Abbasiyah berkembang cemerlang. Bahwa pemimpin di bidang agama dan politik atau negarawan memang harus dibedakan. Mungkin Muhammad SAW memang dianugerahi kemampuan sebagai pemuka agama sekaligus pemimpin politik namun hal ini tidak berlaku terhadap pemimpin sesudahnya. Hal ini memang menimbulkan kebingungan jika orang mencampuradukkan antara kedudukan Khalifah sebagai pemimpin negara sekaligus pemuka agama. Karena hampir tidak ada satupun Khalifah baik dari dinasti Abbasiyah maupun Umayyah yang benar benar taat pada hukum hukum Islam.

Tiba tiba saya teringat kepada jaman Amangkurat 1 yang kabarnya telah membantai ribuan ulama justru dengan kedudukannya sebagai Sayyidin Panotogomo Khalifatulah tanah Jawi. Terasa sekali persamaannya.

Saya pribadi kurang menguasai sejarah Islam dan sama sekali tidak menguasai ilmu hadis. Apa yang saya baca dari berbagai buku termasuk dari Farag Fouda ini saya anggap sebagai alternatif pembelajaran. Tapi jika saja Fouda menulis ide idenya ini dengan bahasa yang sedikit lebih halus mungkin akibatnya tidak sefatal sehingga harus kehilangan nyawanya.

Latar belakang Fouda sebagai Doktor ekonomi pertanian dan bukan ahli hadis maupun fiqih bisa jadi turut memacu kemarahan dunia Islam di Mesir khususnya.

Saya juga tidak memungkiri jika masa perkembangan awal Islam memang sebrutal itu, tapi ada banyak orang yang tidak ingin romantisme mereka diganggu dengan pemaparan yang tidak sesuai dengan impian. Sejarah memang tidak sakral maka selalu terbuka kemungkinan penemuan fakta fakta yang bisa merubah pandangan terhadap masa lalu walaupun diperlukan perjuangan berat untuk itu.

Sejarah dan tokoh tokoh agama yang serba suci tak tercela memang lebih pantas untuk diperdengarkan sebagai dongeng untuk anak anak. Tidak mungkin menceritakan pembalasan dendam Al Saffah terhadap bani Umayyah dengan membakari mayat mayat mereka kepada anak anak seperti sama tidak mungkinnya bagi umat Kristiani menceritakan kepada anak anak mereka perihal Daud yang merebut Betsyeba dari tangan Uria.

Ada juga terbersit angan angan apakah sejarah Islam yang berdarah darah itu karena sifat bangsa Arab yang getas dan puritan, apakah tidak salah Tuhan menurunkan wahyu di tanah Arab. Mengapa Islam tidak bermula di Indonesia misalnya, bukankah pada abad ke 6 sudah ada kerajaan Hindu Tarumanegara. Islam yang berprinsip egaliter tentu sesuai dengan keadaan Umat Hindu yang berkasta kasta.

Tapi mungkin juga jika Islam diturunkan di Indonesia pertama kali perkembangannya tidak akan seekspansif sekarang. Mengingat watak kita yang cenderung permisif dan halus, sama sekali bukan tipe penyebar agama dan belum mapannya pelayaran antar negara. Lihat saja agama Hindu dan Budha yang telah datang lebih dulu toh tidak membuat para penganutnya di nusantara melanglang ke belahan dunia lain untuk menyebar ajaran itu.

Tentu berbeda dengan bangsa Arab yang agresif sesuai dengan asalnya di daerah gurun serta berjiwa pedagang dan pengembara dimana semua masalah diselesaikan dengan pedang.

Agama ini akhirnya bertemu dengan super soulmatenya yaitu Kristiani yang juga sangat agresif dalam menyebarkan kepercayaannya. Dua agama pedang bertemu saling memperebutkan tempat pertama sekali lagi atas nama Tuhan dan melupakan kedamaian yang merupakan prinsip dasar.

Sekali lagi buku karya Fouda ini tidaklah harus membuat kita membenci sejarah Islam tapi tidak juga harus ditolak mentah mentah. Buku ini adalah sebuah alternatif pemikiran yang coba meneropong masa lalu dengan lebih manusiawi.


26 Juni 2009

Siapakah Tuhan

Siapakah Tuhan....?

Dalam kata ganti bahasa Indonesia, disebut sebagai DIA (dengan huruf besar di awal). Dalam bahasa Inggris disebut sebagai HE yang berkonotasi lelaki.

Jika ingin mendapat sedikit gambaran tentang Tuhan, pandanglah bumi dan seisinya, lihatlah manusia yang menurut pandangan sebagian umat adalah gambaran dari citra-Nya. Tapi rasanya tidak terlalu tepat pula pendeskripsian tersebut, mengingat sifat manusia yang penuh dengan segala kemungkinan dan fana. Mungkin tetap di jalan lurus atau tersesat dalam pencariannya. Sedangkan sifat Tuhan adalah pasti dan wajib serta serba Maha.

Untuk manusia pertama yaitu Adam, tentu ia mengenal Tuhan karena Tuhan berbicara sendiri dengannya, begitu pula dengan para Nabi dan Rasul setelahnya. Tapi bagaimana dengan manusia lainnya yang hidup ratusan hingga ribuan tahun kemudianl Tentu Tuhan menjadi sesuatu yang abstrak, bisa dibayangkan melalui ciptaan Nya namun tetap tidak terlihat.

Bagi para teolog, Tuhan adalah sesuatu yang final, sedangkan bagi filosof Tuhan dapat diperbincangkan dan digali dari segala segi. Jika Aristoteles menyebut-Nya sebagai Penggerak Pertama, Ibnu Sina menyebutnya sebagai Al Wajib Al Wujud (yang pasti ada). Namun apapun itu kelihatannya para teolog dan filosof sudah mencapai satu titik persamaan mengenai Tuhan dari bahasa mereka masing-masing.

Jika penafsiran tentang Tuhan sudah mencapai titik temu, tidak demikian dengan penciptaan alam semesta.

Para filosof seperti Ibnu Sina dan Al Farabi mengatakan bahwa terbentuknya alam semesta adalah secara emanasi dengan perantaraan akal akal. Tuhan sebagai akal murni menciptakan akal pertama, akal pertama melahirkan akal kedua dan membentuk jiwa langit pertama dan seterusnya sampai terbentuknya planet planet dalam tata surya.

Saya sebagai orang awam dalam filsafat tentu saja bingung, karena akal akal tersebut hanya membentuk tata surya dalam galaksi bima sakti saja, padahal bima sakti adalah sebagian kecil dari alam semesta.

Begitu pula dalam kitab suci, secara teologi dikatakan alam semesta diciptakan dalam 6 hari, lagi lagi hanya menegaskan langit dan bumi. Apakah dalam langit tersebut telah tercakup alam raya di luar bumi? Demikian pula dengan Quran yang mengatakan langit dan bumi dulunya adalah satu kemudian dipisahkan dan berturut turut diciptakan isi bumi. Dalam Veda pun hampir sama dengan pernik yang berbeda.

Tentu akan berbeda lagi jika kita melihat teori Dentuman Besar dari Stephen Hawking, dimana alam semesta yang semula seukuran atom dengan kerapatan massa ratusan kali lipat massa air ini terus memuai membentuk galaksi, bintang dan planet.

Apakah isi kitab suci itu salah? Tidak ada yang salah dalam kitab suci, kitab suci bukanlah buku pengetahuan. Tuhan berbicara menurut bahasa jaman tersebut dimana ilmu pengetahuan belum seperti sekarang.

Satu lagi pertanyaan, apakah Tuhan hanya menciptakan manusia sebagai satu satunya mahluk berakal penghuni bumi? bagaimana dengan alam semesta, tidak adakah mahluk berakal budi lainnya?

Tampaknya mubazir jika dalam alam semesta yang luas ini hanya diciptakan satu komunitas manusia penghuni bumi.

Tentu Tuhan menyimpan rahasianya sendiri. Manusia hanya bisa berusaha menemukan jawaban yang paling mendekati.

Alangkah susahnya menemukan jawaban tentang asal usul alam semesta yang merupakan ciptaan Tuhan. Apalagi jika kita mencoba menjawab tentang asal usul Tuhan.

16 Juni 2009

Islam dan Saya

Berbicara tentang intelektual Islam, ada beberapa orang yang sangat saya sukai tulisannya. Mereka diantaranya adalah Ulil Abhsar Abdala dan Lutfi Asyaukanie untuk Indonesia sedangkan untuk penulis luar salah satunya adalah Khaled Abou Al Fadl seorang guru besar hukum Islam.

Membaca tulisan tulisan Ulil terasa tersengat, mungkin karena jiwa mudanya yang meluap luap sedangkan tulisan mertuanya KH Mustofa Bisri terkesan arif sesuai dengan usianya. Sementara tulisan Khaled Abou lebih menitikberatkan pada pemahaman hukum Islam itu sendiri.

Sebut saja saya seorang Mualaf, karena walaupun saya menerima agama secara diwariskan yaitu Islam, tapi iman keislaman saya tidak pernah meningkat, sholat masih bolong bolong. Rasanya selalu ada guncangan kekecewaan dalam hati saya, entah karena melihat sebagian ulama yang sibuk menghimpun umat demi kepentingannya, menyitir ayat ayat tertentu demi tujuannya. Melihat mesjid mesjid megah dibangun di antara pemukiman kumuh, sementara tingkat korupsi malah meningkat. Islam yang semestinya merupakan Rahmatan Lil- 'Alamin menjadi agama tempat berkumpulnya orang orang berjubah, berjenggot dan bercadar yang beringas serta saling mengkafirkan satu sama lain.

Kekecewaan yang lambat laun berubah menjadi kemarahan terpendam dan berakhir kepada pembangkangan kecil kecilan, seperti malas sholat.

Mungkin itu pula yang dirasakan Ulil, dengan tulisannya yang tajam ia mengkritik kelakuan para peminta sumbangan mesjid yang hobby menyitir satu ayat dalam Quran, seolah olah dengan membangun mesjid maka ahlak umat akan beres dengan sendirinya. Sementara Kyai Bisri menyentil pelaksanaan ibadah haji yang mestinya menitikberatkan pada kedalaman rohani ternyata hanya menjadi sebatas kegiatan fisik melempar jumrah, tawaf dan Sa'i saja. Tidak jarang sesama jemaah haji saling sikut dan dorong hanya untuk mencium Ka'bah. Perbuatan yang tidak mencerminkan niatan untuk beribadah secara rohani.

Perbedaannya walaupun Ulil mengkritisi keadaan umat tapi ia tetap rajin sholat, mengkaji kitab dan ibadah sunnah lainnya, ia pun dibesarkan di lingkungan pesantren dan mempelajari Fiqih secara mendalam sementara saya malah patah arang.

Tapi dari tulisan tulisan mereka pula lantas muncul suatu kesadaran, tiap agama pasti ada kelemahan karena dibuat pada masa lalu dimana kebiasaan masa itu boleh jadi sangat berbeda dengan sekarang maka sudah menjadi tugas manusia untuk menelaah kembali ayat demi ayat untuk memperoleh pemahaman baru.

Saya sama sekali tidak berniat untuk pindah agama, karena kondisinya akan sama, tidak ada panggilan untuk memeluk agama yang tidak saya kenal dan sebagai seorang yang kadar pemahaman agamanya masih dalam tataran taman kanak kanak tentu tidak layak membuat suatu penilaian apapun karena akan sangat berbahaya bagi dirinya sendiri. Kegusaran yang saya rasakan tentu tidak pantas bila dibalas dengan pembangkangan terhadap kewajiban sebagai seorang Muslim.

Saya hanya bisa berdoa, tentunya sesuai kemampuan saya, semoga Tuhan dapat mengerti dan memaafkan umat-Nya ini, yang berjiwa kerdil dan selalu mempertanyakan ketentuan yang menjadi keputusan-Nya. Mungkin Ia pun akan bertanya, apakah hak saya seorang ciptaan yang terbuat dari lempung sehingga merasa berhak untuk ikut campur dalam setiap perkara.

08 Juni 2009

Kitab Kitab Suci

Beberapa waktu lalu saya sempat membaca liku liku penemuan Gospel of Judas di Mesir, dimana Injil ini merupakan penemuan penting yang menyamai penemuan dokumen Nag Hammadi yang berisi injil injil non kanonik atau apokrif lainnya

Injil Yudas mempunyai isi yang bertolak belakang dengan 4 kitab Kanonik dalam Perjanjian Baru, dimana di dalamnya peran Yudas bukanlah sebagai si pengkhianat melainkan sebagai orang yang diminta oleh Yesus sendiri untuk membebaskan jiwa dari tubuhnya. Dengan kata lain Yudaslah yang menerima pengetahuan rahasia (gnostik).

Sekilas membaca ajaran kaum gnostik, kok mengingatkan saya pada ajaran Tasawuf dengan Wihdatul Wujud-nya Mansyur al Hallaj atau Manunggaling Kawula Gusti-nya Siti Jenar. Keduanya disebut mengajarkan pengetahuan rahasia tentang bersatunya Manusia dengan Allah, sehingga hukum syariat yang susah payah dibangun oleh institusi Ulama tidak diperlukan lagi.

Tapi terlepas dari benar salahnya ajaran tersebut, ada hal yang menarik yang dapat dipetik. Bahwa selalu ada pihak yang mengambil posisi berlainan dengan mainstream yang berlaku. Apakah itu disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap penafsiran atas ajaran agama itu sendiri atau sebab sebab lain.

Munculnya bermacam injil saat itu tentu hampir sama dengan keadaan umat Islam sepeninggal nabi dimana muncul bermacam dialek pembacaan Al Qur'an sehingga Khalifah ke tiga yaitu Utsman Bin Affan memutuskan untuk menyatukan mushaf mushaf tersebut dalam suatu standar tertentu.

Untuk kepentingan penyatuan iman pula Konsili Nicea diadakan pada tahun 325 guna menyelesaikan perselisihan dalam kalangan Gereja Aleksandrian dimana hasil keputusannya menjadi panutan seluruh umat Kristiani dunia sampai saat ini.

Beruntunglah ada orang orang seperti kaisar Constantine dan Utsman bin Affan yang prihatin melihat perselisihan umatnya sehingga mengambil inisiatif penting tersebut. Bagaimanapun Isa Al Masih dan Muhammad tidak mempunyai kesempatan dalam hidupnya untuk menuliskan sendiri wahyu wahyu yang mereka terima dikarenakan kondisi saat itu. Nabi Muhammad adalah seorang yang buta huruf sedangkan Al Masih sendiri disebut hanya mempunyai waktu 3 tahun untuk menyebarkan kabar gembira sehingga dalam masa sesingkat itu tidak dimungkinkan menuliskan semua wahyu yang diterimanya seorang diri.

Dengan banyaknya versi injil yang beredar pasca Yesus Kristus tentu saja dibutuhkan kesepakatan khusus mengenai injil injil mana saja yang dikanonkan sebagai pedoman umat dan mungkin itulah yang dilakukan sehingga muncullah apa yang disebut Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Menurut saya persoalan kitab suci adalah persoalan duniawi walaupun isinya membahas firman Tuhan. Manusia ingin agar wahyu disampaikan Tuhan secara verbal kepada rasul-Nya dapat dilaksanakan juga oleh para pengikut sehingga timbullah usaha penulisan kembali melalui kitab suci.

Tentu saja kemudian ada berbagai macam penafsiran tentang wahyu tersebut. Sebagian umat ingin mengikuti secara literal, sebagian lagi beranggapan bahwa harus ada pemahaman kontekstual terhadap wahyu tersebut, dan mungkin juga sebagian lain yang beranggapan kitab suci yang ada tidak sesuai dengan keimanannya, sehingga dibuatlah kitab suci menurut versinya.

Saya jadi teringat kembali sewaktu iseng menonton DVD dialog Islam-Kristen, dimana Islam diwakili oleh Ahmad Deedat. Yang terjadi adalah saling tuding mana ajaran salah dan benar, kitab suci mana yang palsu.

C'mon guys.., sementara bumi nyaris tenggelam oleh pemanasan global apakah perlu kita berdebat terus tentang kitab suci yang ditulis oleh manusia juga. Apakah yang kita cari dengan meributkan hal tersebut, kedudukan di Surga? Apakah kita yakin bahwa Surga dan Neraka itu kekal adanya?

Kitab Suci adalah pedoman, namun bukan berarti seluruh segi kehidupan telah tercakup di dalamnya, selalu ada hal hal baru yang membutuhkan penalaran lebih lanjut . Apabila wahyu verbal telah berhenti ribuan tahun yang lalu sepeninggal sang Rasul bukan berarti Tuhan berhenti menurunkan wahyu. Karunia tersebut tetap berlanjut melalui pemunculan berbagai macam ilmu pengetahuan hasil kerja keras segolongan umat.

Kitab suci yang telah ada biarkanlah sebagaimana adanya, yang lebih penting adalah bagaimana caranya agar wahyu wahyu ilmu pengetahuan yang turun pada masa berikutnya dapat dikembangkan bagi kemaslahatan bersama


22 Mei 2009

Hal tentang Bid'ah

Apa sih bid'ah itu. Banyak definisinya, salah satunya adalah cara baru yang belum ada di syariat. Dari situ bisa disimpulkan ada bid'ah baik ada yg kurang baik.

Dalam kehidupan sehari hari, makan dengan sendok garpu termasuk bid'ah yang berguna.

Bila ditarik garis lagi ke arah tradisi, bagaimana dengan orang orang yang masih menerapkan ajaran lokal seperti ziarah kubur, pembacaan kidung atau mantra rumeksa ing wengi, konsep sedulur papat atau kakang kawah adi ari ari atau acara salapanan dan lain lain. Apakah itu bid'ah baik atau buruk.

Secara logika, jika semua yang bukan tradisi Arab dipandang jelek buat apa diciptakan bangsa bangsa non Arab. Buat apa manusia dikaruniai akal dan daya cipta jika nantinya harus nurut dengan Arab dengan embel embel agama.

Kabarnya kidung Rumeksa ing Wengi diciptakan oleh Sunan Kalijaga, masa iya sih orang dengan spiritualitas setingkat wali tidak mengerti mana yang baik atau buruk. Bila dibaca kidung itu tidak menyajikan hal hal yang bertentangan dengan syariat. Kidung itu merupakan olah rasa dimana kalimat kalimat dalam mantra tersebut menunjukkan eratnya hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta.

Sunan Kalijaga merupakan penghubung antara muslim tradisional dengan kaum islam mutihan sepeninggal Syech Siti Jenar. Beliau mengerti sekali jika di nusantara ini telah banyak penganut agama lain sebelum Islam datang. Dimana tradisi lokal dan agama yang datang setelahnya berpadu harmonis dan di dalamnya sudah terkandung nilai Islam itu sendiri.

Tidak heran jika banyak perpaduan antara budaya lokal dan Islam lahir dari tangannya.
Bila dilihat dari sosoknya, blangkon dengan beskap bukan jubah putih bersorban sangat berkarakter lokal. Semuanya tentu merupakan bid'ah budaya yang baik. Budaya memang selalu dinamis, jika ada budaya asing masuk maka tokoh tokoh di dalamnya akan menyaring, mengkombinasikan budaya asing tersebut dengan kebiasaan setempat sehingga lahirlah harmonisasi.

Agama memang bukan semata mata syariat, yang lebih penting adalah pemahaman terhadap ajaran di dalamnya. Dan itu dipahami betul oleh Kanjeng Sunan Kali sehingga dalam mendekati para bangsawan yang sudah mumpuni pemahamannya beliau tidak lagi melalui jalan syariat tapi hakikat, melalui pemaknaan ajaran itu sendiri.

Wahyu yang disampaikan mentah mentah melalui budaya padang pasir yang keras tidak akan mendapat sambutan dlm masyarakat yang hidup dalam kelembutan alam.

Bisa jadi jika wahyu tersebut jatuh di Jawa, maka mungkin sekali pakaian khas Islam adalah blangkon, lurik dan kain batik bukannya sorban dan jubah. Bisa jadi tulisan dalam Al Qur'an adalah huruf Jawa bukannya huruf Arab dan bahasa Jawa menjadi bahasa wajib dalam mengaji.

Jadi tidak masalah kan kalau kita membaca doa dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah lainnya, melafalkan kidung atau menjalankan upacara adat. Mungkin ada tradisi penghormatan untuk Ratu Pantai Selatan. Sebagian orang melihatnya sebagai musyrik alias menyembah mahluk selain Tuhan. Saya melihatnya hanya semata mata dari sudut budaya. Mungkin lebih kepada menjaga keharmonisan antara alam manusia dan alam gaib.

Manusia sebagai mahluk yang diberi wewenang untuk menjadi khalifah di bumi tentu tidak boleh bertindak sewenang wenang terhadap penghuni alam lain.

Saya setuju dengan istilah Islam warna warni yang melambangkan keindahan paduan budaya lokal dengan Islam. Saya bosan dengan teriakan teriakan bid'ah yang berkonotasi jelek yang dilontarkan orang orang bersorban setiap tradisi lokal ditampilkan.

08 Februari 2009

Antara Fremasonry dan Kabbalah

Menurut buku "Secret Societies", Freemasonry adalah salah satu perkumpulan rahasia yang paling tua dan terkuat.

Fremasonry mengambil bentuk bentuk ritus dan tradisi dari jaman Mesir kuno yang semula dikenal dengan nama Kabbalah. Semula kaum ksatria dari Ordo Templar lah yang menjalankan ritus ini. Kabbalah yang menyusup dalam ajaran Yahudi mengaburkan ajaran monotheisme. Kabbalah merupakan tradisi mistik kuno dimana para Rabbi menjalankan upacara yang dilandasi oleh sihir.

Mereka tidak mempercayai adanya Tuhan yang menciptakan dari ketiadaan dan selalu beranggapan adanya alam karena berasal dari kekacauan. Apakah gagasan ini yang membentuk atheisme modern?

Ordo Templar memperoleh kekayaan dari hasil mengamankan rute peziarah di Yerusalem. Dengan kekayaannya mereka menarik banyak pengikut dan bebas menjalankan ritual ritual pagan Kabbalah.

Ritual ritual pagan yang sarat dengan sihir tentu bertentangan dengan ajaran gereja sehingga pada awal abad 14 Raja Perancis, Philip Le Bel bekerja sama dengan Paus Clement V membubarkan ordo ini dan menangkapi pengikutnya.

"Imam" mereka yang disebut Grand Master yaitu Jacques de Molay dihukum mati. Para pengikut ordo Templar yang lolos bergabung dengan Raja Skotlandia yang tidak mengakui kekuasaan Gereja katolik, Robert de Bruce.

Dari sanalah mereka menggunakan nama Freemason.

Menarik sekali bahwa gagasan tentang humanisme erat kaitannya Fremason. Dimana paham humanisme sendiri jika kebablasan akan meletakkan manusia di atas Tuhan. Dengan kata lain manusia adalah Tuhan.

Manusia berbuat baik tidak karena takut dengan Tuhan dan mengharap ridha Nya tapi lebih dikarenakan sebagai penghargaan terhadap manusia. Agama tidaklah berperan dalam mengatur ahlak.

Cukup mengejutkan di beberapa buku disebutkan bahwa gerakan Boedi Oetomo disokong oleh Fremasonry, bahkan beberapa tokoh seperti Hamengku Buwono VIII, Radjiman Wedyodiningrat disebut sebut sebagai tokoh Fremasonry.

Membayangkan orang Jawa yang biasanya tunduk kepada Gusti Allah adalah seorang Fremasonry yang berarti seorang atheis sepertinya cukup sulit diterima oleh pikiran saya. Tapi entahlah....

20 Januari 2009

Freelance Monoteis


Karen Armstrong menyebut dirinya "a freelance monoteism". Penganut monoteis yang tidak terikat dalam suatu bungkus atau label tertentu. Seperti kita yang diberikan label Islam, Kristiani, Budha, dll.

Benar, Karen Armstrong adalah mantan biarawati yang akhirnya mengundurkan diri dari kaulnya. Semangat pencarian menuntunnya untuk mencari jalan diluar tembok biara.

Semangat itu menuntunnya untuk singgah di tiap pos agama guna mendapatkan jawaban. Seperti layaknya musafir, para pengem
bara yang singgah tidak perlu harus mendapatkan permanent resident bukan?

Jika saat ini Karen singgah di pos persinggahan umat Islam, maka tidak perlu berpindah keyakinan menjadi Islam untuk meyakini adanya Tuhan. Mungkin dari persinggahan ini ia akan melanjutkan pengembaraannya untuk bertemu dengan bermacam jalan dan persimpangan. Mungkin pula ia akan berhenti di pos tertentu jika ia merasa disitulah semua pencarian terjawab.

Saya rasa tidak penting mempertanyakan mengapa Karen yang sudah menulis buku tentang Muhammad tidak menjadi mualaf. Sama tidak pentingnya dengan menanyakan agama yang ia anut sekarang. Sebab bukankah ia dalam perjalanan mencari sumber "aku" dalam dirinya.

Bukankah jika kau mendekati Tuhan dengan selangkah, maka Tuhan akan mendekatimu 10 langkah. Jika kau berjalan mendekati-Nya, Tuhan akan mendekatimu dengan berlari.

Jika seorang Karen Armstrong begitu aktif dalam pencarian spiritualnya, bayangkan betapa dekat Tuhan dengannya. Betapa kayanya pengalaman batin seorang pengembara dibandingkan dengan kita yang pasif menerima label agama sedari lahir.

Jika kita tidak pernah mempertanyakan, maka tidak akan pernah ada jawaban. Jika kita tidak berani beranjak maka kebenaran tidak akan menyapa.

PAUS YOHANA, First woman in Vatican



Pope Joan atau Paus Yohana, sempat saya tertegun mendengar nama itu,,,rasanya tidak asing,,,somewhere and somehow, it’s sound familiar.

Memang sang penulis cenderung mengatakan buku ini adalah fiksi, namun nama Pope Joan diperoleh dari salinan kuno Liber pontificalis (kronik para Paus?). Entry itu disisipkan ke dalam teks kronik tersebut. Tentang siapa yang menyisipkan, dan kapan itu ditulis masih tetap menjadi pertanyaan.


Lagi, menurut sang penulis, selama beratus tahun sampai pertengahan abad 17, keberadaan Paus Yohana diakui secara universal. Diperkirakan Paus perempuan itu menduduki tahta Vatikan antara jaman Paus Leo IV dan Benediktus III. Sebelum ditahbiskan dengan nama Paus Yohanes VIII sekitar tahun 855, Joan menjadi biarawan di Fulda dengan nama John Anglicus.

Namun pada abad ke 17, Gereja Katolik mendapat serangan yang semakin gencar dari gerakan Protestanisme, mulai menjalankan upaya sistematis untuk menghancurkan berbagai catatan historis tentang Joan dengan penyitaan ratusan manuskrip dan buku oleh Vatikan.

Dalam buku itu disebutkan bahwa John Burcardt, Uskup Horta dan pembawa acara dalam upacara upacara Kepausan yang memberinya pengetahuan yang mendalam mengenai kehidupan dalam istana Kepausan menulis dalam jurnalnya alasan kenapa prosesi Kepausan tidak lagi mengunakan Via Sacra, Ia menyebutkan bahwa John Anglicus melahirkan anaknya saat arak arakan di jalan tersebut dan oleh karena itu rute prosesi Kepausan diubah.

Kisah Joan juga termuat di dalam buku petunjuk peziarah ke Roma yang resmi dan digunakan oleh para peziarah selama lebih dari 300 tahun. Hanya sayang tidak dijelaskan tahun berapa.

Mungkin buku ini mempunyai posisi sama dengan Da Vinci Code yaitu mengambil posisi berlawanan dengan apa yang sudah menjadi sikap resmi Gereja Katolik

Para sejarahwan yang harus mengambil inisiatif terbebas dari campur tangan berbagai pihak untuk meneliti. Dongeng atau cerita lisan bisa jadi berasal dari suatu kejadian

Buat saya sebagai non kristiani, keberadaan Pope Joan dengan segala kondisinya pada saat itu bukanlah sebuah aib. Jika memang keberadaan Pope Joan itu benar, maka mungkin itu merupakan sebuah teriakan dari suatu kaum yang pada dark age itu diperlakukan sebagai warga kelas dua. Walaupun salah satu pendahulunya dikenal sebagai The Holly Virgin.


Tidak kurang pula perempuan pendahulu yaitu Maria Magdalena dianggap sebagian orang sebagai salah satu murid terkasih Yesus Kristus
.

Pemahaman bahwa pada masa abad itu agama benar benar dipahami secara literal dan dimana Gereja menguasai seluruh sendi sendi kehidupan dalam masyarakat.

Sama seperti saudara kandungnya, Islam. Agama Katolik pun juga mengalami pasang surut dan tidak lepas dari kondisi sosial yang juga berpengaruh terhadap pemahaman ayat ayat dalam kitab suci.

03 Januari 2009

Hakikat

Agama Hindu dan Budha pada perkembangan selanjutnya bersinkretis menjadi Syiwa Budha. Ajaran ini dasarnya sangat mirip dengan Islam seperti larangan memakan daging babi, minum minuman keras, dan membungakan uang.
Hakikat ajaran Syiwa Budha hanya berbeda dalam penamaan. Jika Syiwa sbg pangkal penciptaan mahluk yang diciptakan-Nya disebut dengan nama Brahma, maka dalam Islam Allah sbg pangkal penciptaan disebut dengan nama al-Khaliq.
Syiwa sebagai Maha Pemurah dan Maha Pengasih disebut dengan Sankara, Allah yang Maha Pengasih dan Pemurah disebut ar-Rahman ar-Rahim.
Lambang Lingga yang dijadikan sarana bantu bagi pemujaan terhadap Syiwa hampir sama dengan Ka'bah sebagai kiblat oleh orang Islam. Mungkin perbedaannya jika Ka'bah berada di satu tempat dimana kiblat umat Islam dunia diarahkan ke situ, sedangkan Lingga bisa berada di tiap tempat yang dijadikan pemujaan.
Surga dalam Syiwa Budha ada 7 tingkatan (Bhurloka, Bhuwarloka, Swarloka, Maharloka, Janarloka, Tapoloka dan Satyaloka) sama seperti dalam Islam (Ala'Iliyyin, al-Firdaus, al-'Adn, an-Na'im, al-Khuld, al-Ma'wah dan Darussalam).
Bahkan kalau diperhatikan tulisan Allah dalam huruf Arab mirip sekali dengan gambar trisula bercadik lambang Syiwa, Mahadewa yang bersenjatakan trisula.
Namun Syiwa Budha lebih banyak dianut oleh para pendeta dan kalangan elit istana, sedangkan penduduk asli saat itu banyak menganut Kapitayan, itupun telah campur baur dengan animisme.
Ajaran Kapitayan murni juga sangat mirip dengan Islam, yaitu memuja Sang Hyang Taya (hampa, suwung) tidak dilahirkan, tidak berawal tidak berakhir.
Istilah sholat pun dikenal dengan nama sembahyang.
Adapun tradisi peringatan kematian selama 7, 40, 100 dan 1000 hari yang umumnya dilakukan oleh orang di nusantara bukanlah berasal dari agama Hindu dan bukan juga merupakan adat kejawen. Tradisi ini dibawa oleh umat Islam yang mengungsi dari Campa yang beraliran Syiah. Tradisi Suro pun juga berasal dari Syiah dimana pada bulan tsb Sayyidina Husein cucu nabi Muhammad Saw terbunuh.
Agama Hindu hanya mengenal peringatan kematian 12 tahun sekali.


25 Desember 2008

Catatan 25 Desember

Saat perayaan hari raya keagamaan, saya selalu menikmati keberagaman cara pemeluk agama di Indonesia dalam merayakan hari besar dalam agama mereka.

Heterogenitas suku bangsa memberikan ciri unik dalam sentuhan rasa keberagamaan. Seorang salik (pencari Tuhan) mempunyai jalan ruhani sendiri yang berbeda dari orang lain dalam menemukan Dia yang maha menciptakan.

Semua agama mempunyai cara masing masing untuk mengajarkan ketauhidan. bahkan menurut buku yang pernah saya baca, kata Jawa mempunyai makna tauhid. Maka orang yang tidak bertauhid adalah bukan orang Jawa.

Tauhid adalah mengakui ke-esaan Tuhan sebagai maha Pencipta, maha Penyayang, maha Pengampun dan maha maha yang lainnya. Maha sendiri bisa berarti tidak tertandingi.
Tauhid bukan semata milik umat Islam. Agama Kristen baik Protestan, Bethany, Advent,dan Katolik, Hindu, Budha bahkan aliran seperti kejawen, sunda wiwitan, wetu telu dan lainnya mengajarkan Tauhid.

Semua tarekat dalam Islam baik Syathariah, Nasyaqbandiah, ahlus sunnah, sunni, syiah juga mengajarkan tauhid dengan jalan yang berbeda beda.

Tidak ada satupun jalan yang dapat mengikrarkan sebagai jalan yang terbaik dan terlurus dibanding jalan lainnya.

Dia yang maha Menciptakan sudah mengatur jalan menuju Nya dengan melalui bermacam jalur.
Tidak ada satupun mahluk yang boleh bertindak atas namanya dalam menentukan jalan mana yang paling benar. Semua sudah digariskan, tidak pernah meleset walau hanya sehelaan nafas.

Iblis pun telah Ia ciptakan jalan untuk senantiasa menggoda manusia dan nantinya pun akan kembali pada Nya.

Saya selalu tergila gila dengan heterogenitas dan keberagaman dalam kehidupan beragama. Tuhan telah menunjukkan kebesarannya melalui keberagaman ciptaan Nya.

Betapa Tuhan tersenyum saat menciptakan Nusantara. Alangkah sayangnya jika manusia sebagai mahluk ciptaan merasa diri sebagai Tuhan dan merasa berhak menentukan jalan yang dianut menuju Nya sebagai jalan yang paling lurus dan menista jalan lainnya sebagai sesat.

18 Desember 2008

Perjalanan Ruhani

Di negeri Caruban, pemuda San Ali putra angkat Raden Walangsungsang atau yang kelak dikenal dengan gelar Sri Mangana merupakan murid kesayangan Syaikh Datuk Kahfi dari padepokan Giri Amparan Jati.

San Ali gemar berkelana, bergaul dengan para pendeta, brahmin bertemu dengan penjudi, lintah darat dan penduduk desa lainnya. Semua itu menimbulkan gumpalan pertanyaan di benaknya.

Ketika ia bertanya kepada Guru Agungnya, semakin berjejallah tanda tanya dalam dirinya. Penjelasan yang diterimanya selalu bermuara ke alam akhirat yaitu neraka dan surga.

Misalnya tentang perbedaan antara kehidupan orang2 durhaka seperti penjudi, pemabuk, perampok dan pemuja berhala yang akan menempati neraka dan orang2 saleh yang akan jadi penghuni surga.

Kenapa Syaikh Datuk Kahfi melarang untuk membayangkan dan membandingkan Gusti Allah, bagaimana orang bisa mengenal Gusti Allah jika tidak boleh membayangkan?

Semakin ia merenung, semakin ia menyadari bahwa pada hakikatnya segala apa yang tergelar di alam semesta adalah perwujudan dari "aku". Dan masing masing"aku" itu pastilah memiliki pusat "Aku" semesta.

Kesadaran tentang hakikat "aku" pribadi dan "Aku" semesta membuatnya mempertanyakan segala ibadah yang dilakukannya. Gusti Allah yang bagaimana yang disembahnya selama ini? Apakah ketundukan "aku"-nya dalam sembahyang benar2 perwujudan ketundukan "aku" terhadap "Aku" ?

Syaikh Datuk Kahfi telah sadar bahwa San Ali kelak akan menjadi Guru Agung pembawa tatanan baru melebihi dirinya. Giri Amparan Jati terlalu sempit bagi San Ali yang membutuhkan cakrawala luas untuk menemukan asal nya.

Perjalanan ruhani San Ali membuatnya bertemu Rsi Samsitawratah dalam mengupas intisari Catur Viphala dengan urutan2 : Nihsprha, Nirbana, Niskala, Nirasraya.

Nihsprha adalah keadaan dimana tidak ada lagi sesuatu yang ingin dicapai manusia.
Nirbana berarti seseorang tidak lagi memiliki badan dan karenanya tidak ada lagi tujuan.
Niskala adalah bersatu dengan Dia Yang Hampa, Yang Tak Terbayangkan, Tak Terpikirkan.
Setelah Niskala adalah Nirasraya yaitu dimana jiwa meninggalkan Niskala dan melebur ke Parama Laukika yaitu dimensi tertinggi yang bebas dari segala bentuk keadaan, tak berciri dan mengatasi "Aku"

Didera oleh rasa haus akan pengetahuan tentang "Aku", langkahnya membawa bertemu dengan Ario Damar atau Ario Abdillah putra Dyah Kertawijaya atau Prabu Brawijaya V, penganut ajaran Bhairawa Tantra yang akhirnya memeluk Islam.

"O Anak" sahut Ario Damar "engkau tidak bisa menilai sesuatu ajaran sebagai sesuatu yang najis atau suci. Sebab semua itu berasal dari Nya. Semua milik Nya. Perbedaan yang engkau lihat sebenarnya hanya pada tingkat penampakan indriawai belaka; hakikatnya adalah sama, yakni menuju hanya kepada Nya. Yang gelap maupun terang semua menuju kepada Nya".

"Jika engkau sekarang ini berada dalam golongan orang beriman maka engkau berada dalam golongan yang tercerahkan oleh cahaya salah satu nama indah Nya : al Hadi (Yang Memberi Petunjuk)."

"Sementara jika engkau berada diluar orang beriman yang engkau nilai najis karena berlumur darah, maka engkau berada dalam golongan yang terbimbing oleh salah satu nama indah Nya yaitu al Mudhill (Yang Menyesatkan.)"

07 Juni 2008

AHMADIYAH

SKB tentang Ahmadiyah akan segera diterbitkan, setelah ricuh peristiwa Monas. Sebelumnya sudah santer pengrusakan tempat ibadah kaum Ahmadi dan kampus yang terletak di daerah Parung. Satu pertanyaan, lebih merugikan mana FPI atau Ahmadiyah. saya tanpa harus berpikir menjawab FPI. Ya, FPI lah yang harus dibubarkan bukan Ahmadiyah. Ahmadiyah mulai dikenal luas di Indonesia melalui Syarikat Dagang Islam, bahkan HOS Cokroaminoto disebut sebut sebagai yg bersimpati terhadap paham ini. Ir Soekarno pun memburu buku2 tentang pemikiran Ahmadiyah. Tentang Mirza Ghulam Ahmad yang dianggap nabi penerus ajaran Muhammad, apa bedanya dg Gus Dur yang dipuja dan disakralkan oleh kaum Nahdliyin. Apa bedanya dengan para Sunan yang dianggap orang suci sehingga makamnya diziarahi untuk meminta berkah. Ghulam Ahmad dianggap sebagai kolaborator Inggris saat menjajah India, ada yang berpendapat kelakuan Inggris lebih baik daripada bangsa India dari etnis tertentu yang membunuhi umat Muslim India. Umat Ahmadiyah di Indonesia tidak membuat keonaran. Sedangkan FPI, apa yang baik dari FPI selain segerombolan preman dan pengangguran yang diberi jubah dan simbol agama.