Tampilkan postingan dengan label Liburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liburan. Tampilkan semua postingan

08 Juli 2013

Kembali ke Situ Gunung



Kami bengong di tengah puncak bukit.  Di depan ada jalan tanah dengan batu dan lobang sebesar kepala kerbau, siap menghajar bagian bawah mobil. 

Mundur pun susah mengingat jalan yang sempit dengan jurang di sisi jalan, padahal pintu masuk Situ Gunung tinggal 3.5 km lagi.  Akhirnya mobil pun pelan-pelan merayap mundur mencari posisi sedikit lapang untuk berputar balik.

Sebenarnya jalan menuju Situ Gunung yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango tinggal lurus-lurus saga dari Polsek Cisaat, tapi entah mengapa kita yang sok pinter ini malah berbelok mengikuti jalan potong yang sebenarnya diperuntukkan untuk Jip dengan double gardan :(

22 Agustus 2009

Perjalanan

Pagi itu saya bersiap siap menuju Pulau Pari yang terletak di gugusan Kepulauan Seribu.

Dengan menggendong ransel yang cukup berat saya mengayun langkah menuju tempat pertemuan di sebuah kantin kecil di YTKI. Janji untuk berkumpul jam 9 pagi.

Terminal Blok M sudah mulai ramai, setelah melirik arloji ternyata masih jam 8 kurang, sempat termangu mangu sejenak akhirnya memutuskan untuk berkeliaran melihat lihat di sekitar terminal mumpung sempat.

Jam 9 kurang sedikit saya sampai di YTKI, celingak celinguk ternyata belum ada orang. Ya sudah minum dulu,,,,Belum habis minuman terlihat Erwin melambaikan tangan di parkiran kemudian Daniel juga datang. Sempat mengobrol sebentar sebelum akhirnya berjalan bareng menuju parkir lantai 8. Di sana sudah menunggu 4 teman lagi untuk bergabung.

Persinggahan pertama adalah pelabuhan Rawa Saban, Muara Cituis, di tangerang. Di sana ada kapal penyeberangan ke pulau Pari yang berangkat jam 12:00. Kami bertujuh menuju warung dekat pelabuhan untuk makan siang setelah menitipkan mobil di rumah penduduk. Hawa panas dan bau khas pelabuhan terasa menyengat.

Rawa Saban adalah pelabuhan kecil yang dangkal karena lumpur yang menimbuni dasar pantai. Tidak jarang kapal kandas sebelum masuk pelabuhan saking dangkalnya. Bayangkan hampir 100 meter dari pelabuhan kedalamannya masih setinggu pinggang. Kenek kapal seringkali harus mencebur karena dasar kapal tersangkut sesuatu.

Tidak terlalu banyak penumpang kapal, saya melongok ke atas atap kapal yang mengangkut juga motor motor dan hasil bumi.

Perjalanan ke Pulau Pari dengan kapal memakan waktu sekitar 1,5 jam, ombak pantai utara sangatlah tenang, tidak ada apa apanya dibanding pantai selatan yang saya kenal.

Perlahan lahan pulau Pari mulai terlihat, ternyata pulau ini dikelilingi palung sehingga perairan sekitarnya terlihat seperti kolam yang tenang. Lautnya dangkal berair jernih sehingga terlihat jelas rumput liar yang tumbuh dalam laut. Tidak ada resort di pulau ini yang justru terlihat makin alami.

Turun kapal kami menyusuri jalan pulau yang terbuat dari cornblock dan cukup teduh menuju rumah Pak Ujang, salah satu tokoh perlindungan biota laut di pulau itu untuk menginap. Ternyata Pak Ujang telah menyambut kami dan mengeluarkan makanan kecil berupa sukun goreng, dilanjutkan dengan makanan utama berupa ikan belanak goreng yang seperti ikan jaman purba, rajungan dan ikan lain yang entah apa namanya.

Tujuan kami ke pulau Pari adalah untuk melihat keramba ikan kakap putih milik Erwin dan Jaffry yang dikelola oleh Pak Ujang dan anak buahnya. Saya memang berminat mencoba merambah ke budidaya kakap putih. Tapi untuk itu memang harus melihat langsung lokasi pembiakan yang berada sedikit di tengah laut sehingga harus selalu menggunakan perahu.

Puas mengelilingi keramba dengan perahu kecil, kami segera kembali sambil membicarakan beberapa kemungkinan. Tentunya saya harus mengamati dulu perkembangan baru kemudian menentukan langkah selanjutnya seperti letak keramba, jumlah tenaga kerja, dsb.

Setelah mengobrol kesana kemari ternyata baru saya tahu bahwa sebelumnya penduduk pulau menanam rumput laut bertahun tahun yang lalu bahkan sempat menjadi primadona. Namun semuanya berakhir akibat polusi yang berasal dari industri yang membuang limbah di laut lepas,,,,,miris.!!! Singkatnya penduduk pulau membutuhkan dana untuk beralih produksi.

Karena perairannya yang jernih, kegiatan snorkeling sering diadakan di sini. Lagi menurut Pak Ujang, tanah di pulau Pari ternyata sempat dijual ke pengusaha non Pribumi dan sampai sekarang masih bersengketa.

Menghabiskan sore itu kami berkeliaran mengelilingi jalan jalan di pulau kecil tersebut, menyusuri pantai, melihat budidaya bakau dan mengunjungi balai penelitian LIPI sampai adzan Maghrib terdengar.

Mandi dengan menggunakan air pulau yang payau tentu kurang enak, tapi ternyata air di pulau ini berkualitas paling baik dibanding pulau pulau lainnya seperti Pulau Pramuka, pulau Lancang dsb.

Malamnya kami berniat memancing di tengah laut, jam 9 malam dengan tersaruk saruk hanya ditemani sinar bulan kami berjalan menyusuri hutan kecil menuju pantai dan susah payah mendorong perahu perahu ke laut. Laut yang tampak kehitaman sangatlah tenang. Malangnya perahu yang saya tumpangi tidak mendapat ikan sama sekali. Bosan, akhirnya kembali ke darat setelah 2 jam berputar putar dengan sia sia. Pemandu perahu kami tidak berani terlalu ke tengah, takut dengan bajak laut katanya. Ngeri juga dengan adanya perempuan di perahu bisa dipastikan tidak akan selamat jika bertemu bajak laut yang katanya kebanyakan berasal dari Sulawesi.

Dengan ditemani oleh salah satu anak buah Pak Ujang, saya mendengarkan kehidupan nelayan yang keras. Hampir semua nelayan yang juga menjadi penyelam mempunyai paru paru rusak akibat seringnya menyelam menggunakan udara dari kompresor yang tercemar CO2 karena mahalnya peralatan selam yang menggunakan oksigen murni.

Saya hanya bisa manggut manggut berusaha memahami di tengah angin laut yang menggigit tulang.

Setelah itu kita tidur karena keesokan harinya harus kembali ke Jakarta pagi pagi.
Paginya setelah sarapan kita bersiap ke dermaga, kali ini saya dan Daniel memilih duduk di atap kapal karena penasaran. Bersama beberapa unit motor dan kayu kayu yang diikat akhirnya saya memilih tempat di atap bagian tengah. Menarik juga berada di atas atap kapal yang melaju,,,melihat ombak yang landai, saya merasa jika terjadi sesuatu saya masih mampu berenang.

Mendekati Rawa Saban kapal sempat terhambat karena pendangkalan, was was juga takut kapal kandas. Melihat air laut yang kotor lebih mengerikan dibanding jika harus berenang di perairan lepas tadi.

Syukurlah kapal akhirnya bisa menghampiri dermaga. Sungguh perjalanan yang menarik. Namun buat saya belum selesai karena turun dari kapal saya harus segera bersiap menuju pegunungan.

(foto foto ada di facebook)

03 November 2008

KE MERAK



Sabtu kemarin..ada semacam reuni tempatnya di Pulo Rida, Merak...Akhirnya janjian ketemu di
McDonald Kemang...ternyata udh ada Adjie disana dengan pacarnya..ternyata rumah pacarnya cuma sepelemparan sandal dari McD..:)..pantesssss...
Akhirnya Iwuk dateng..tumben gak telat...tumben jg cuma bawa satu pembantu...he...he tetapi tetap bawa magic jar...
Memang Merak tidak seperti Anyer,,,,penginapan pun hanya 1 ya Pulo Rida Resort itulah....pantainya juga tenang nyaris tidak ada gelombang, beda dengan Anyer..
Menjelang malam Okky baru dateng dengan anak dan istrinya....
Seperti biasa kita ngobrol ngalor ngidul,,,tapi aku tidur duluan,,cape banget,,,
Paginya....sewa perahu utk ke pulau karang dekat situ,,,,eh ada kucing di pulau itu...kasian banget....akhirnya pas kita balik,,kucingnya kita bawa ke perahu...he..he...
Panasnya luar biasa,,,krn banyak kilang minyak disitu.....





12 Oktober 2008

Lebak


Sabtu, tgl 11 Oktober kemarin, akhirnya ritual tahunan setelah lebaran dilakukan juga,,,ziarah kubur ke Rangkas Bitung. Seperti biasa saya sibuk mencari ATM sbg persiapan logistik utk 8 orang.

Setelah terguncang2 di jalur Cikande, akhirnya tiba di kota tua Rangkas Bitung yang merupakan bagian dari Karesidenan Lebak.

Kota ini sepi..toko dan rumah makan masih banyak yang tutup..yah nafas Islam sangat terasa disini.

Setelah mondar mandir mencari restoran akhirnya ada juga resto yg buka. Setelah itu mobil diarahkan ke sebuah bukit kecil di tengah kota,,,disitulah kuburan keluarga, makam eyang dari pihak ibu.

Kali ini saya memperhatikan beberapa makam kuno, entah siapa yg dimakamkan disitu. Makam yg paling atas diisi oleh para bupati Lebak jaman dulu.


Dari makam, kunjungan diarahkan ke rumah kuno berhalaman luas yang letaknya dibawah bukit makam. Dari rumah inilah, keluarga Nitidiwiria beranak pinak.


Foto2 kuno masih terpajang di ruang tengah, tempat tidurnya pun msh ranjang besi dengan kelambu.

Lantai rumah masih menggunakan tegel jaman dulu. Ini adalah satu dari sedikit bangunan tua di kota Rangkas.

Sayang kita tidak menengok rumah eyang yang lain, tidak jauh dari situ..tepat dihadapan balong atau kolam besar.

Sekilas saya melayang ke masa lalu saat Eduard Douwes Dekker dg nama samaran Multatuli menulis kisah terkenal Max Havelaar.

Saat itu Douwes Dekker adalah asisten residen utk wilayah Lebak.

12 Juni 2008

Rumah Mertua - JoGJa




Hotel ini berada di daerah Sleman, menyempil jauh masuk kampung, dari luar kecil..tapi dalamnya cukup cozy dg 9 kamar.











Kamar deluxe, ruangannya luas dan nyaman. Ratenya murah, th 2007 Rp 350.000