06 April 2020

Kawasan Ekonomi Khusus - MANDALIKA

Apa itu Kek - kawasan ekonomi khusus?

Bila merujuk pada web https://kek.go.id/ itu adalah kawasan yang disiapkan untuk menarik investor dalam rangka mempercepat pencapaian pembangunan ekonomi nasional.  Pengembangan kek juga bertujuan mempercepat perkembangan daerah antara melalui industri pariwisata dan perdagangan sehingga dapat menciptakan lapangan kerja.

Mandalika

09 Maret 2020

GELIAT LENGGER LANANG

Bulan Februari kemarin mendatangi festival Ketandan di jalan Ketandan yang terletak nyempil di daerah Malioboro.


Ketandan merupakan daerah Pecinan lama.  Selama ini jika wara wiri di Malioboro hampir tidak menyadari ada jalan Ketandan, yang tidak jauh dari pasar Beringharjo.

05 Januari 2020

Sedikit oleh-oleh saat mengadakan workshop identifikasi bangunan tua Tionghoa di Madiun, Pasuruan dan Sumenep.

Para peserta memang masih muda-muda, mahasiswa dan penggiat sejarah dari komunitas di daerah yang tertarik dengan bangunan tua di wilayah mereka.

Peseta dibagi per kelompok untuk mengidentifikasi bangunan tua yang sudah ditentukan.  Dari langgam sampai kerusakan serta rekomendasi bagaimana bangunan itu sebaiknya difungsikan jika berupa bangunan kosong.

Pengusulan bangunan milik perorangan menjadi cagar budaya sudah tentu harus mempertimbangkan berbagai segi.  Terutama dari pihak pemilik.  Apa yang akan didapatkan oleh pemilik bila bangunannya dijadikan cagar budaya.

Berikut ini beberapa bangunan tua di tiga kota tersebut:

Rumah tinggal di Sumenep

Rumah pemilik Batik Gajah Mungkur di Gresik

Bagian samping dalam Bakso Solo, Madiun




01 Desember 2019

Di Latifui - Alor

Naik motor dari Kalabahi menyusur ke arah barat di sepanjang jalan yang dibatasi oleh teluk Mutiara dan sebelum kampung Takpala motor berbelok naik ke atas.  Terlihat rumah-rumah adat beratap daun. Motor berhenti, seorang laki-laki berambut putih yang ternyata kepala kampung menyambut kami.  Bapa Karel begitu beliau dipanggil.  Menurut pak Karel kampung Latifui ini sudah ada dari sebelum Indonesia merdeka.

Kami diajak duduk di balai-balai di bagian depan rumah. Di dalam rumah panggung yang terbuka itu adalah dapur yang tengah digunakan oleh ibu-ibu.  Sementara kain-kain tenun digantungkan di halaman depan beserta kalung manik-manik, agar para pengunjung kampung dapat melihat sekaligus membeli. Seorang ibu tampak sedang asyik menganyam keranjang.




03 Oktober 2019

Kelabunya Museum Keprajuritan

Pernah dengar nama Museum Keprajuritan?



Pasti banyak yang menggeleng. Letaknya yang berada dalam lingkup Taman Mini Indonesia Indah membuatnya tidak populer karena bersaing dengan sekian banyak anjungan dan museum yang berdekatan.  Museum ini adalah satu dari empat museum di Jakarta yang berada di bawah TNI



Museum ini diresmikan tahun 1980-an dan sempat menjadi yang termewah pada jamannya. Bangunan yang berbentuk benteng segilima dengan luas kurang lebih 5000 meter di atas tanah 4.5 ha.
Bila didekati akan terlihat kanal yang mengelilingi benteng tersebut.  Kanal kering dengan genangan berwarna hijau lumut di beberapa titik.


Di halaman depan nampak dua buah kapal, kapal Banten dan Phinisi.  Musim kemarau membuat danau tempat kapal tersebut berada mengering.  Menurut pengurus  museum ada kebocoran yang membuat air di danau tersebut lebih cepat surut.

Bergerak masuk ke dalam benteng terdapat lobby besar dengan beberapa kotak kaca berisi boneka peraga seukuran manusia dengan kostum prajurit tradisional dari beberapa daerah di Indonesia.  Di tengah terdapat taman dengan patung-patung pahlawan pra kemerdekaan.  Ada sekitar 23 patung yang terbuat dari perunggu.



Boneka dalam kaca tampak lebih banyak lagi di lantai dua.  Terdapat juga diorama yang mengisahkan perang-perang di daerah.

Dari atas atap benteng kita bisa melihat pemandangan ke sekeliling.

Sayangnya kondisi museum yang kurang terawat menjadi kekurangan dibalik megahnya gedung.  Koleksi yang berdebu, cahaya yang suram terutama di lantai dua terasa kurang nyaman di antara pandangan mata boneka prajurit.


Profil dan ekspresi boneka prajurit dalam kotak kaca itu benar-benar nyaris seperti manusia biasa.  Menurut yang saya baca, patung dan boneka prajurit dikerjakan oleh Edhi Sunarso, pematung terkenal dengan salah satu karyanya adalah Patung Pancoran.




Yang luput dari pandangan mata adalah fragmen batu yang berada di bawah benteng.  Pengunjung harus turun ke bawah,  ke kanal jika ingin mengamati dengan lebih jelas.  Sebenarnya fragmen ini dulunya dapat dilihat dengan menggunakan perahu mengelilingi benteng.  Air dalam kanal dahulu memang digunakan oleh para pengunjung untuk berperahu melihat fragmen yang mengilustrasikan peperangan di Indonesia.



Sebenarnya beberapa spot cukup bagus untuk pemotretan, halaman depannya yang luas sepertinya sering dipakai untuk pemotretan pre wedding.

Museum ini selalu terlihat sepi, Di dalamnya terlihat muram seperti warna dinding benteng yang kelabu.  Beberapa perbaikan mutlak diperlukan seperti pembersihan diorama, penambahan lampu dan perubahan penataan,



Koleksinya pun perlu ditambah, mengingat ruangan luas yang cenderung kosong.