Seseorang bertanya kepada saya, kenapa saya tertarik dengan sosialis? Tentu saja karena negara kita semula berkonsep sosialis. Para bapak bangsa itu pun tampaknya sepakat dengan konsep ini, bahkan menambahkan religius sehingga menjadi sosialisme religius.
Tampaknya saya selalu tertarik dengan ideologi yang jaman orba dulu selalu disebut ideologi kiri, begitu pula dengan tokoh dan pertentangan dengan pihak mainstream. Apakah saya tidak tertarik dengan agama? Hm,,,antara ya dan tidak. Namun memang lebih menarik membaca tentang sosialisme religius dibanding dengan konsep religius itu sendiri.
Umumnya perempuan seumur saya biasanya lebih tenang, tidak lagi bergulat dengan pikiran pikiran menyimpang apalagi yang berhubungan dengan masalah religiusitas sebagai Muslim. Banyak yang meng-update status dengan kata kata "Terima kasih Yesus", "Ya Rasulullah", atau bahkan memposting ayat ayat suci, yang membuat saya selalu cepat cepat melewatkan sesi itu. Entahlah, buat saya religiusitas adalah sesuatu yang privat, rikuh rasanya membaca statement statement religius yang diobral di jejaring sosial.
Agama yang baik menurut saya adalah yang menerapkan konsep sosialis dan bukan eksklusif. Saya tidak tertarik dengan agama dalam lingkup eksklusivitas kelembagaan atau yang disebarluaskan dengan jejaring sosial. Cukup banyak kisah busuk berkaitan dengan lembaga lembaga keagamaan. Cukup banyak buku buku sejarah yang mengupas kegilaan mengerikan yang dilakukan oleh pemimpin agama baik Muslim maupun Kristiani. Dogma dogma agama yang ditanamkan dengan penuh semangat oleh para Suster saat sekolah dan ceramah ceramah menggebu dari para ulama di Mesjid hanya membuat saya makin skeptis dengan agama yang dilembagakan. Alih alih menjadi wanita sholeh seperti yang diharapkan kedua agama itu, saya lebih tertarik dengan ideologi kiri.
Saya juga tidak tertarik untuk bergabung dengan JIL yang mengusung pluralisme agama. Menurut saya, tiap agama mempunyai perbedaan yang mustahil untuk digabungkan. Yang bisa kita lakukan adalah menghormati tiap agama, tidak saling mencela kitab suci. Saling bekerja sama antar pemeluk agama untuk membangun kondisi masyarakat yang ideal. Untuk masyarakat yang pluralis memang butuh toleransi yang tinggi dari setiap pemeluk agama.
Apakah sisi religius saya berkaitan dengan agama yang saya anut? saya hanya bisa mengangkat bahu. Yang jelas saya mempunyai percakapan pribadi dengan Tuhan saya.
Tuhan yang saya percayai Maha Mengetahui, yang mempunyai sistem penilaian berbeda dengan kita yang selalu melihat segala sesuatu dari dimensi manusia.
Lalu seperti apakah religiusitas saya? entahlah, mungkin saya lebih suka menggambarkan diri saya sebagai pengembara yang berusaha menemukan semangat religius untuk menghilangkan kegelisahan saya sebagai manusia
22 April 2011
RA Kartini
Seorang rekan memposting tulisan tentang RA Kartini di wall-nya, kaitan surat surat Kartini kepada pasangan Abbendanon dengan aliran Theosofi.
Aliran ini memang erat kaitannya dengan pluralisme agama. Dalam suratnya Kartini mengakui keragaman agama dan ia berpegang pada nuraninya sendiri.
Akibat tulisan tulisan inilah ia menggugat kesahihan Kartini sebagai figur emansipasi dan yang terutama pengaruhnya kepada umat muslim. Ia mengkuatirkan maraknya aliran semacam theosofi yang masuk secara terselubung memporak porandakan keimanan umat Islam.
Aliran theosofi ini memang diijinkan oleh pemerintah kolonial Belanda dan tentu saja mendapat tempat di kalangan bangsawan Keraton. Tidak susah bagi aliran ini untuk masuk ke kalangan aristokrat Jawa yang sudah dari sananya menganut paham katakanlah sinkretis atau mungkin abangan.
Tapi bukan masalah Theosofi yang menarik perhatian saya. Bagi saya, di dunia yang carut marut seperti iniadalah suatu kewajaran jika manusia letih dengan agama agama formal dan mencari bentuk baru yang lebih sesuai. Walau formula baru itu kadang mempunyai penalaran yang kacau balau.
Saya lebih tergelitik dengan cara pandang rekan tersebut, buat saya persoalan Kartini sebagai salah satu figur emansipasi tidak lepas dari persoalan historis dan kultur masyarakat Jawa pada masa itu. Perempuan ningrat Jawa berbeda dengan bangsawan Aceh. Seorang Raden Ajeng mempunyai kehidupan yang bertolak belakang dengan Cut Nyak di abad 19. Jika Cut Meutia, seorang wanita bangsawan Aceh memimpin pasukan gerilya, Kartini harus terbelenggu di kamar menunggu lamaran di saat usianya menginjak 13 tahun.
Cut Meutia bebas laksana burung seperti halnya masyarakat Aceh yang egaliter, Kartini hanya bisa menatap cakrawala dari balik jendela feodal. Kesepian yang membuatnya gila membaca dan menulis. Korespondensi dengan sahabat dari negara Belanda yang membuatnya dapat menyerap suatu pandangan.
Kartini dibesarkan dalam kultur bangsawan Jawa, dimana agama bukanlah sesuatu yang penting dibandingkan tradisi. Adalah wajar jika Kartini mencari pengalaman spiritual-nya sendiri yang mungkin bersentuhan dengan aliran tertentu. Dan dengan rintangan adat yang rigid, cukup luar biasa jika seorang gadis yang tidak lulus SD dapat membaca dan berkorespondensi dengan bahasa Belanda.
Jika tulisan tulisannya dipublikasikan dan mendapat sambutan luar biasa tidaklah mengherankan melihat latar belakang budaya Jawa pada masa itu. Dan cita cita Kartini adalah mengusir kebodohan jauh jauh dari kalangan perempuan.
Sementara Cut Meutia sibuk keluar masuk hutan, tidak ada waktu untuk menulis selain para sastrawan Aceh di kemudian hari. Dalam kultur Aceh seorang perempuan memimpin gerilya bukan sesuatu yang mengherankan.
Mungkin itulah perbedaan cara pandang saya dengan rekan saya. Saya memandang dari sisi kultur dan budaya. Sementara ia memandang dari sisi agama, namun nampaknya ia tidak membaca utuh surat surat Kartini. Pada bagian bagian akhir Kartini menemukan kedamaian pada suatu agama setelah ia bertemu dengan seseorang yang membimbing menuju pendalaman agama tersebut.
Agama apa? silakan baca surat surat Kartini sampai habis...he..he
Aliran ini memang erat kaitannya dengan pluralisme agama. Dalam suratnya Kartini mengakui keragaman agama dan ia berpegang pada nuraninya sendiri.
Akibat tulisan tulisan inilah ia menggugat kesahihan Kartini sebagai figur emansipasi dan yang terutama pengaruhnya kepada umat muslim. Ia mengkuatirkan maraknya aliran semacam theosofi yang masuk secara terselubung memporak porandakan keimanan umat Islam.
Aliran theosofi ini memang diijinkan oleh pemerintah kolonial Belanda dan tentu saja mendapat tempat di kalangan bangsawan Keraton. Tidak susah bagi aliran ini untuk masuk ke kalangan aristokrat Jawa yang sudah dari sananya menganut paham katakanlah sinkretis atau mungkin abangan.
Tapi bukan masalah Theosofi yang menarik perhatian saya. Bagi saya, di dunia yang carut marut seperti iniadalah suatu kewajaran jika manusia letih dengan agama agama formal dan mencari bentuk baru yang lebih sesuai. Walau formula baru itu kadang mempunyai penalaran yang kacau balau.
Saya lebih tergelitik dengan cara pandang rekan tersebut, buat saya persoalan Kartini sebagai salah satu figur emansipasi tidak lepas dari persoalan historis dan kultur masyarakat Jawa pada masa itu. Perempuan ningrat Jawa berbeda dengan bangsawan Aceh. Seorang Raden Ajeng mempunyai kehidupan yang bertolak belakang dengan Cut Nyak di abad 19. Jika Cut Meutia, seorang wanita bangsawan Aceh memimpin pasukan gerilya, Kartini harus terbelenggu di kamar menunggu lamaran di saat usianya menginjak 13 tahun.
Cut Meutia bebas laksana burung seperti halnya masyarakat Aceh yang egaliter, Kartini hanya bisa menatap cakrawala dari balik jendela feodal. Kesepian yang membuatnya gila membaca dan menulis. Korespondensi dengan sahabat dari negara Belanda yang membuatnya dapat menyerap suatu pandangan.
Kartini dibesarkan dalam kultur bangsawan Jawa, dimana agama bukanlah sesuatu yang penting dibandingkan tradisi. Adalah wajar jika Kartini mencari pengalaman spiritual-nya sendiri yang mungkin bersentuhan dengan aliran tertentu. Dan dengan rintangan adat yang rigid, cukup luar biasa jika seorang gadis yang tidak lulus SD dapat membaca dan berkorespondensi dengan bahasa Belanda.
Jika tulisan tulisannya dipublikasikan dan mendapat sambutan luar biasa tidaklah mengherankan melihat latar belakang budaya Jawa pada masa itu. Dan cita cita Kartini adalah mengusir kebodohan jauh jauh dari kalangan perempuan.
Sementara Cut Meutia sibuk keluar masuk hutan, tidak ada waktu untuk menulis selain para sastrawan Aceh di kemudian hari. Dalam kultur Aceh seorang perempuan memimpin gerilya bukan sesuatu yang mengherankan.
Mungkin itulah perbedaan cara pandang saya dengan rekan saya. Saya memandang dari sisi kultur dan budaya. Sementara ia memandang dari sisi agama, namun nampaknya ia tidak membaca utuh surat surat Kartini. Pada bagian bagian akhir Kartini menemukan kedamaian pada suatu agama setelah ia bertemu dengan seseorang yang membimbing menuju pendalaman agama tersebut.
Agama apa? silakan baca surat surat Kartini sampai habis...he..he
31 Maret 2011
207 hari
Agresi Belanda 1948, kota Yogya porak poranda. Henky, nama kecil HB IX dengan geram bergegas menemui Bung Karno dan Bung Hatta. Panglima Soedirman yang tengah tergolek akibat sakit paru paru parah seperti mendapat kekuatan gaib dapat bangkit. Hanya dengan mengenakan piyama berselubung mantel coklat, mantan guru Muhammadiyah tersebut bergegas menuju gedung agung.
Pembicaraan serius tengah terjadi. dengan tergesa gesa kawat berita segera dilayangkan. Bung Karno menemui Soedirman. ajakan gerilya disambut gelengan kepala oleh Bung Karno. "Tempatku bukan gerilya" demikian kata Bung Karno. Soedirman terpaku, seolah tak percaya. Bung Karno pernah berjanji untuk memimpin gerilya jika Belanda kembali menyerang.
Sementara kawat yang dilayangkan tidak pernah sampai. Isi kawat yang melimpahkan wewenang pembentukan pemerintahan darurat jika para pemimpin negara sampai ditahan Belanda.
Nun jauh di Sumatera, Kuding tersentak, berita yang sempat ditangkap mengatakan bahwa Yogya telah jatuh. Berita yang membuat para pemimpin seperti Kuding, nama panggilan Syafrudin Prawiranegara yang menjabat Menteri Keuangan sekaligus Kemakmuran, Teuku Muhammad Rashid atau Residen Rashid dan lain lain segera berunding. Membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Sejak saat itu ibu kota pindah ke Bidar Alam, perkebunan teh Halaban. Mandat sebagai Presiden dipegang oleh Kuding dengan wakil
Teuku Rashid.
Selama 207 hari PDRI berdiri, mengumandangkan pada dunia bahwa Republik masih ada. Sementara Soekarno, Hatta dan pemimpin lain diasingkan ke Bangka. penghujung hari Kuding dan kawan kawan tersentak bahwa pemimpin yang diasingkan di Bangka berunding dengan Belanda. Ada rasa marah dan kecewa, bukankah dengan mandat yang ada PDRI harusnya Bung Karno, Hatta dan Syahrir tidak berhak mengadakan perundingan apa pun yang mengatasnamakan bangsa Indonesia.
Soedirman yang sedang bergerilya pun mengirimkan surat bernada keras mempertanyakan wewenang para tracee Bangka tersebut.
Namun lagi lagi kebesaran jiwa para pemimpin yang menyelamatkan negara dari perpecahan. Kuding dengan jiwa besar mengembalikan mandat kepada Bung Karno. Soedirman akhirnya kembali dari gerilya dan disambut dengan segenap keharuan dari rakyat Yogya.
Benar benar 207 hari yang heroik.
Pembicaraan serius tengah terjadi. dengan tergesa gesa kawat berita segera dilayangkan. Bung Karno menemui Soedirman. ajakan gerilya disambut gelengan kepala oleh Bung Karno. "Tempatku bukan gerilya" demikian kata Bung Karno. Soedirman terpaku, seolah tak percaya. Bung Karno pernah berjanji untuk memimpin gerilya jika Belanda kembali menyerang.
Sementara kawat yang dilayangkan tidak pernah sampai. Isi kawat yang melimpahkan wewenang pembentukan pemerintahan darurat jika para pemimpin negara sampai ditahan Belanda.
Nun jauh di Sumatera, Kuding tersentak, berita yang sempat ditangkap mengatakan bahwa Yogya telah jatuh. Berita yang membuat para pemimpin seperti Kuding, nama panggilan Syafrudin Prawiranegara yang menjabat Menteri Keuangan sekaligus Kemakmuran, Teuku Muhammad Rashid atau Residen Rashid dan lain lain segera berunding. Membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Sejak saat itu ibu kota pindah ke Bidar Alam, perkebunan teh Halaban. Mandat sebagai Presiden dipegang oleh Kuding dengan wakil
Teuku Rashid.
Selama 207 hari PDRI berdiri, mengumandangkan pada dunia bahwa Republik masih ada. Sementara Soekarno, Hatta dan pemimpin lain diasingkan ke Bangka. penghujung hari Kuding dan kawan kawan tersentak bahwa pemimpin yang diasingkan di Bangka berunding dengan Belanda. Ada rasa marah dan kecewa, bukankah dengan mandat yang ada PDRI harusnya Bung Karno, Hatta dan Syahrir tidak berhak mengadakan perundingan apa pun yang mengatasnamakan bangsa Indonesia.
Soedirman yang sedang bergerilya pun mengirimkan surat bernada keras mempertanyakan wewenang para tracee Bangka tersebut.
Namun lagi lagi kebesaran jiwa para pemimpin yang menyelamatkan negara dari perpecahan. Kuding dengan jiwa besar mengembalikan mandat kepada Bung Karno. Soedirman akhirnya kembali dari gerilya dan disambut dengan segenap keharuan dari rakyat Yogya.
Benar benar 207 hari yang heroik.
27 Maret 2011
Maritime Security
Bagi yang kemarin sempat menyimak dialog tentang security defense dan national interest dengan narasumber Connie Rahakundini akan mendapat sedikit pencerahan tentang arah tujuan negara negara dunia dengan segala keterbatasan sumber daya alam yang ada.
Bahwa sebaiknya Indonesia mulai mengedepankan national interest, daripada menjadi anak manis di bawah selubung politik bebas aktif (ini sih kata kata saya). Harus diakui bahwa Indonesia belum punya visi yang jelas tentang konsep pertahanan untuk mengamankan perairan dan udaranya. Apalagi untuk bersifat agresif ke luar.
Sementara ada negara adidaya yang tanpa malu malu menginvasi negara lain, demi kepentingan nasional. Lihat Libya? terlepas dari apakah pemerintahan Qadafy tidak sesuai dengan ajaran demokrasi modern, cukup memalukan melihat gabungan negara Eropa dalam NATO serentak menyerbu Libya dengan alasan melindungi rakyat sipil. Banyak tudingan sinis diarahkan pada Amerika yang terlihat bernafsu menurunkan Qadafy. Tentu saja ada kepentingan yang lebih besar dibanding sekedar melindungi rakyat Libya,,dan itu adalah Minyak Bumi.
Kembali pada Indonesia, tentu saja Indonesia tidak akan mengalami situasi seperti Irak atau Libya. Bukan karena kita mempunyai kedaulatan penuh atas negara melainkan karena banyaknya perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Blok blok migas kita dikuasai oleh korporasi International seperti Freeport, Exon atau BP.
Libya atau Irak diacak acak oleh Barat karena penguasaan hasil bumi dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah Libya.
Sedangkan Indonesia, dengan kekayaan darat dan laut yang luar biasa malah membiarkan pihak asing mengambil manfaat dari situ. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kapal kapal yang melintasi terusan Suez masih kalah dengan kapal asing yang melintas perairan Indonesia baik legal belum lagi yang ilegal.
Anehnya pemerintah Indonesia masih belum tergerak untuk memfokuskan perhatian kepada maritime security dan malah sibuk dengan terorism security. Angkatan Udara kita masih berkutat di wilayah Jawa dan Sumatera. Sementara angkatan laut tertatih tatih menjaga perairan yang begitu luas.
Malaysia dan Australia lebih serius dalam mengurus wilayah laut mereka. Begitu pula India. Indonesia akan terjepit di tengah 3 kekuatan.
Selama pemerintah tidak belajar dari beberapa pemerintahan sebelumnya dan tidak punya visi dalam mengusung national interest, maka tidak usah heran jika kita selamanya tetap menjadi mainan pihak barat.
Bahwa sebaiknya Indonesia mulai mengedepankan national interest, daripada menjadi anak manis di bawah selubung politik bebas aktif (ini sih kata kata saya). Harus diakui bahwa Indonesia belum punya visi yang jelas tentang konsep pertahanan untuk mengamankan perairan dan udaranya. Apalagi untuk bersifat agresif ke luar.
Sementara ada negara adidaya yang tanpa malu malu menginvasi negara lain, demi kepentingan nasional. Lihat Libya? terlepas dari apakah pemerintahan Qadafy tidak sesuai dengan ajaran demokrasi modern, cukup memalukan melihat gabungan negara Eropa dalam NATO serentak menyerbu Libya dengan alasan melindungi rakyat sipil. Banyak tudingan sinis diarahkan pada Amerika yang terlihat bernafsu menurunkan Qadafy. Tentu saja ada kepentingan yang lebih besar dibanding sekedar melindungi rakyat Libya,,dan itu adalah Minyak Bumi.
Kembali pada Indonesia, tentu saja Indonesia tidak akan mengalami situasi seperti Irak atau Libya. Bukan karena kita mempunyai kedaulatan penuh atas negara melainkan karena banyaknya perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Blok blok migas kita dikuasai oleh korporasi International seperti Freeport, Exon atau BP.
Libya atau Irak diacak acak oleh Barat karena penguasaan hasil bumi dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah Libya.
Sedangkan Indonesia, dengan kekayaan darat dan laut yang luar biasa malah membiarkan pihak asing mengambil manfaat dari situ. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kapal kapal yang melintasi terusan Suez masih kalah dengan kapal asing yang melintas perairan Indonesia baik legal belum lagi yang ilegal.
Anehnya pemerintah Indonesia masih belum tergerak untuk memfokuskan perhatian kepada maritime security dan malah sibuk dengan terorism security. Angkatan Udara kita masih berkutat di wilayah Jawa dan Sumatera. Sementara angkatan laut tertatih tatih menjaga perairan yang begitu luas.
Malaysia dan Australia lebih serius dalam mengurus wilayah laut mereka. Begitu pula India. Indonesia akan terjepit di tengah 3 kekuatan.
Selama pemerintah tidak belajar dari beberapa pemerintahan sebelumnya dan tidak punya visi dalam mengusung national interest, maka tidak usah heran jika kita selamanya tetap menjadi mainan pihak barat.
23 Maret 2011
HOY ,,,BANJAR



Saya tidak tahu kenapa timbul ide untuk ke Banjarmasin, semula hanya pembicaraan iseng berlanjut dengan pemesanan tiket on-line. Tak ada salahnya, pikir saya, mumpung ada kesempatan cuti.Pesawat mendarat di bandara Syamsudin Noor pukul 12:45 siang, Memasuki bandara saya mengedarkan pandangan, nyengir sekilas,,,tentu saja tidak ada mesin minuman otomatis seperti di bandara Soetta dimana saya cukup menyodorkan uang 5,000 perak dengan catatan uangnya masih layak, tidak lecek, sobek atau basah, pencet tombol,,keluarlah Milo panas.
Menyandang ransel lumayan berat, celingak celinguk dengan teman mencari penjemput, Kak Ijul
Langganan:
Postingan (Atom)
